Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Tidak sanggup lagi menahan,,,


__ADS_3

Setelah mengetahui keadaan anaknya, Inggit pun segera menuju rumah sakit untuk melihat keadaan anaknya, tangis Inggit tak terbendung saat melihat wajah pucat putri bungsunya, baru saja kemarin hari mereka bertemu dan bersenda gurau, akan tetapi hari ini sudah melihat anaknya terbaring lemah di atas brankar rumah sakit.


"Kemarin pas ketemu Mama kamu masih baik-baik saja, kenapa malah begini?" tanya Inggit.


"Nggak apa-apa Ma, aku kecapean aja," jawab Jessica menyembunyikan penyebab utama dirinya menjadi pasien di rumah sakit stay healthy.


"Kamu harus sembuh!" ucap Inggit.


"Iya Ma," ucap Jessica.


"Jeng, malam ini kita nginep di sini saja bagaimana?" tanya Puput.


"Iya sepertinya begitu lebih baik," Inggit pun memilih setuju tanpa menolak, lagi pula dirinya tidak akan bisa tenang sebelum anaknya pulang ke rumah.


Malam harinya Puput dan Inggit menemani Jessica menginap di rumah sakit, Jessica sudah terlelap sedangkan Puput dan Inggit masih duduk di sofa sambil bercerita tentang hal-hal yang menurut mereka menarik.


"Jeng, saya kok nggak ngelihat Alex dari tadi, Alex bekerja di rumah sakit ini juga kan?" tanya Inggit.


Benar sekali! sore hari hingga malam hari menjelang, dirinya pun tidak melihat kehadiran Alex, bukankah seorang suami seharusnya menemani istrinya? apalagi saat sedang sakit tentunya membutuhkan banyak perhatian, lalu bagaimana dengan Alex?


Sungguh membuat Inggit bertanya-tanya, apakah tidak ada tanggung jawab Alex sebagai seorang suami.


"Iya tadi sebelum Jeng Inggit datang dia di sini kemudian pergi, katanya ada pasien, dia akan kembali lagi," jawab Puput sedikit bingung.


Salahkah jika dirinya menutup apa yang sebenarnya terjadi di antara Jessica dan Alex? Puput takut jika Inggit tahu kebenarannya, maka Jessica akan dibawa pulang, dirinya masih ingin rumah tangga anaknya tetap utuh, berharap akan ada kebahagiaan setelah perselisihan di antara keduanya, walaupun dirinya juga bingung entah sampai kapan perselisihan tersebut akan berakhir.


"Em,, begitu," Inggit manggut-manggu walaupun masih merasa bingung.


Walaupun sedikit bingung tapi Inggit pun mencoba untuk mengerti, lagi pula selama Alex tak ada di sana, ada Puput yang menggantikannya, sedangkan dalam hati Puput berdoa semoga Alex akan segera datang, entah apa yang akan dikatakan olehnya lagi jika Inggit kembali mempertanyakan Alex, baiklah Puput pun mencoba mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada Alex, setelah pesan terkirim Alex pun muncul.


Alex masuk dan melihat adanya Inggit ataupun Mama mertuanya.


"Ini dia anaknya," Puput melebarkan matanya dan menarik Alex untuk ikut duduk di sofa, ternyata Puput menipunya habis-habisan, mengirim pesan berisi ingin diantarkan mineral untuk Puput yang sedang merasa kerongkongannya kering malah berakhir dengan penipuan, mungkin jika saja Puput tidak berbohong, Alex tidak akan datang ke kamar rawat inap Jessica.

__ADS_1


Kesal bukan main bahkan hanya untuk Jessica saja, Puput rela membohongi dirinya.


"Kamu dari mana? Mama dari tadi menunggu kamu," ucapin Inggit.


Alex mengangguk tanpa menjawab, ingin sekali segera pergi dan tak ingin lebih lama berada di tempat tersebut.


Muak dan rasanya bosan.


"Ma, haus," kerongkongan yang terasa begitu kering ingin meneguk mineral, mungkin bisa membuatnya sedikit membaik.


"Alex, istri mu minta minum itu," kata Puput menunjuk Jessica, sepertinya Puput ingin membuat Alex berdekatan dengan Jessica, sehingga kesempatan seperti ini mungkin bisa dimanfaatkan, mungkin sedikit demi sedikit bisa membuat kerasnya pendirian Alex runtuh seiring dengan kedekatan yang tercipta diantara keduanya.


"Jangan menjatuhkan harga diri Mama di hadapan jeng Inggit," Puput berbisik dengan suara pelan sambil mengeratkan giginya.


Tangannya mencubit perut Alex, berharap anaknya itu bisa menjaga harga dirinya di hadapan besannya, tak lama berselang Pian pun masuk membuat Alex tidak dapat menolak.


Baiklah untuk kali ini saja tidak masalah sekalipun berat.


"Ma, tolong ambilkan baju ganti," ucap Jessica pada Inggit, Jessica takut masuk angin dan malah memperparah keadaannya, Jessica tidak betah lebih lama berada di rumah sakit untuk dirawat inap.


"Biar Alex saja, sekalian Alex yang menggantikan," Puput menimpali sambil melebarkan matanya memberi ancaman pada Alex.


Untuk hal ini pun Alex menurut dan menggantikan pakaian Jessica, mata tidak luput melihat tubuh Jessica membiru karena gigitan darinya, tapi apa mungkin dirinya begitu bernafsu sehingga banyak warna merah keunguan yang menempel di tubuh Jessica, Alex menepis pikirannya, tidak mungkin semua itu bisa terjadi, dirinya hanya sekedar saja, bukan bernafsu.


"Tidak usah sok manja!" kesal Alex bersuara pelan di telinga Jessica sambil menggantikan pakaian Jessica.


Jessica pun hanya diam tanpa peduli sedikitpun, dirinya sedang butuh istirahat, rugi sekali jika dia mati hanya karena suami gilanya, tentu Mamanya akan menangisi setengah mati, sedangkan Alex pasti akan mencari istri yang baru lagi.


Tidak akan mau mati konyol, betapa sulitnya orang tuanya membesarkan dirinya hingga hidupnya masih sangat berharga.


"Alex kamu tidur di sini juga kan ya?" tanya Inggit saat melihat Alex akan keluar.


"Iya tentu Jeng," Puput masih saja menjadi orang ketiga, dirinya menaikkan sebelah alisnya untuk membuat Alex agar tetap berada di sana.

__ADS_1


Terpaksa Alex urung untuk keluar, masuk kembali dan menetap Jessica.


"Kamu tidur sama Jessica, biar Mama dan Mama mertua kamu tidur di ranjang khusus untuk penjaga pasien," usul Puput.


Tidak mungkin Puput memilih pulang, bisa saja Alex pergi dan meninggalkan Jessica di sana.


Apa yang akan terjadi nanti, Jessica sedang sakit dan membutuhkan bantuan untuk segala sesuatunya.


"Alex," Puput menegur anaknya berharap menurut dan tak membuatnya malu.


"Mama pulang saja, ada Alex yang menunggu Jessica," ucap Alex


Benar saja?


Puput tidak akan mau pulang seperti pikiran awalnya, Alex pun akan meninggalkan Jessica sendirian, itu pasti.


"Tidak! kami juga akan menginap di sini," tolak Puput.


"Mama juga tidak akan bisa tenang kalau di rumah," Inggit ikut menimpali.


Tidak lagi dapat menolak untuk malam ini Alex menurut saja.


Dengan hati kesal Alex pun ikut berbaring di atas brankar milik Jessica. Jessica tidak mengetahui sama sekali, sebelum Alex naik dirinya sudah terlelap, rasa lelah dan dibantu obat membuatnya terlelap tanpa bisa menahannya lagi, begitupun dengan malam yang semakin larut, akan tetapi Alex belum bisa memejamkan matanya, dirinya berbaring miring memunggungi Jessica, sesaat kemudian terdengar suara tangisan.


Alex pun berbalik dan menatap wajah Jessica dengan mata tertutup, tampak wanita itu menangis tersedu-sedu, entah apa yang telah dimimpikannya. Sesaat kemudian tangisan Jessica berhenti dan kembali terlelap, bahkan merasa tangan Jessica yang memeluk dirinya seakan menganggap dirinya bantal guling, ada rasa aneh yang dirasakan oleh Alex, tanpa sadar dia membalikkan badannya dan mengusap wajah Jessica yang pucat, sesaat kemudian merasakan hawa mulai panas entah kenapa dirinya menginginkan Jessica saat ini.


Matanya terus menatap bibir Jessica, sekalipun begitu pucat tapi mampu membangkitkan gairahnya malam hari begini.


Ah! ada yang boleh menyesakkan seiring dengan sentuhan bagian tubuh Jessica di bawah sana, pada bagian adiknya, sejenak Alex terdiam sambil berusaha untuk mengendalikan diri, sulit sekali rasanya tanpa sadar dirinya semakin mendekati bibir Jessica dan mencium kecil, akan tetapi itu saja tidak cukup tampaknya Alex menginginkan yang lainnya sehingga dirinya langsung mencium penuh damba bibir Jessica tanpa sadar. Jessica pun menggeliat dan membuat Alex tersadar, seketika itu membalikkan badannya dengan memunggungi Jessica. Jessica membuka mata setelah merasa keanehan, tapi apa? begitu bertanya-tanya dalam hati hingga dirinya merasa basah pada bibir, mengusap dengan tangan.


Sesaat kemudian Jessica kembali terlelap, dirinya terlalu mengantuk untuk memikirkan hal tersebut. Sedangkan Alex lebih memilih turun dari atas brankar, semakin lama berdekatan dengan Jessica membuatnya semakin tegang saja.


Sampai akhirnya karena tidak sanggup lagi menahan, Alex mencoba untuk bermain Solo di kamar mandi, beruntung bisa membuatnya lega hingga akhirnya bisa tidur lelap, kali ini Alex memilih keluar dan tidur di ruang kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2