Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Pernikahan Reyna dan Nanda...


__ADS_3

Akhirnya hari ini tiba juga.


Hari pernikahan antara dua orang musuh bebuyutan, ada pepatah yang mengatakan bahwa jodoh kita memiliki banyak kesamaan dengan kita, tampaknya itu benar sekali, untuk sekali ini tidak bisa diragukan sebab Nanda dan Reyna memang hampir sama-sama jahil, sama-sama suka bertengkar, sama-sama suka menang sendiri, sama-sama tidak mau mengalah.


Semuanya sama!


"Ma aku nggak mau nikah sama Nanda," Reyna yang sudah cantik dengan gaun pengantin berwarna putih, dandanan ala-ala wanita bahagia yang akan di sunting oleh sang pujaan hati.


Hueekkkkkk...


Pujaan hati?


Bukan!


Ini adalah musibah yang terjadi tanpa diinginkan oleh wanita tersebut, akan tetapi tak mungkin lagi membatalkan acara pernikahan ini, para tamu undangan sudah hadir dari mempelai pria pun sudah mulai memadati lokasi pernikahan yang bertempat di hotel berbintang lima, tak terkecuali Nayla, Devan beserta anggota keluarga lainnya.


Hari ini Nayla pun tak kalah cantik memakai baju batik senada dengan baju milik Devan, si bocah menggemaskan Felix juga ikut, ketiganya memakai baju senada hingga terlihat sebuah keluarga kecil yang bahagia.


Nayla meletakkan sebuah kotak kado, kemudian memeluk Reyna yang kini sudah resmi menjadi istri.


"Selamat yah Reyna sekarang kamu udah nikah, Nayla tersenyum dengan begitu bahagia.


Akan tetapi Reyna malah menangis tersedu-sedu sambil memeluk Nayla dengan eratnya.


"Nayla aku nggak mau," kata Reyna.


Nayla hanya bisa mengusap punggung sahabatnya, semua sudah berlalu mau atau tidak Reyna sudah menikah dengan Nanda.


Selanjutnya Nayla mengucapkan selamat pada Nanda, ingin memeluk sebagai sahabat tapi Nayla menjaga harga diri suaminya.


Apalagi Devan cukup disegani oleh para tamu undangan yang cukup banyak.


"Selamat yah Nanda, kita kenal udah lama dan aku tahu gimana kamu, aku yakin kamu akan menjadi suami terbaik untuk sahabat aku juga Reyna," ucap Nayla.


Nanda pun mengangguk dan tidak menyangka jika kini sudah resmi menikahi Reyna musuh bebuyutannya sejak dulu, dari saat ini Nanda dapat menyimpulkan satu hal bahkan musuhmu sendiri bisa jadi jodohmu, benci seseorang dengan sewajarnya saja dan cintai juga dengan sewajarnya, karena sesuatu yang berlebihan sangat tidak baik, karena kita tak pernah tahu siapa kelak teman hidup kita, bisa jadi musuh kita sendiri.


Sementara itu Puput dan Arni juga begitu bahagia, persahabatan yang sempat putus kini terjalin kembali setelah pernikahan Nanda dan Reyna terjadi, siapa yang menyangka bahwa kini mereka akan jadi besan? ini sungguh di luar dugaan! hal luar biasa tak pernah sekalipun terpikirkan saat masih bersekolah dulu.


"Aku nggak nyangka banget kita bisa besanan," ujar Puput dengan senyuman.


"Aku juga nggak nyangka kalau persahabatan kita malah berubah menjadi keluarga, ya ampun ini luar biasa!" ucap Arni.


Arni sampai mengusap wajahnya berkali-kali berharap ini bukanlah mimpi, keduanya saling merangkul melihat ke depan di mana Nanda, Reyna dan teman-temannya yang sedang berfoto mengabadikan momen tersebut, bahkan banyak teman-teman Nanda maupun Reyna yang hadir.


"Menantu kamu mana Puput? siapa itu namanya?" Arni mencoba mengedarkan pandangan mencari seseorang.


"Jessica," jawab Puput.


"Iya, kok cuma Alex?" tanya Arni yang dari tadi hanya melihat Alex saja.


Bahkan saat pemotretan anggota keluarga pun tanpa Jessica, Arni yang tak tahu apa-apa langsung bertanya-tanya.


"Jessica dan Alex udah cerai Arni, aku sedih banget pas Jessica keluar dari rumah dia sedang hamil tapi semingguan dia pergi, tiba-tiba kakaknya nelpon aku dan bilang Jessica udah keguguran, akhirnya Alex bercerai dengan Jessica," raut wajah Puput kini berubah murung setelah mengingat calon cucunya yang sudah tidak ada.


Arni merasa tak enak hati sudah membuat Puput bersedih.


"Maaf ya Puput, aku nggak maksud apa-apa," ucap Arni.


"Nggak apa-apa kok," ucap Puput.


Arni mengusap punggung Puput tahu sahabatnya yang kini menjadi besannya itu tengah bersedih hati.

__ADS_1


"Tante, foto bareng Rima yuk," Rima yang baru saja datang langsung saja meminta foto, dirinya harus ikut dalam mengabadikan momen tersebut tentunya.


Puput dan Arni pun tersenyum dan kembali berfoto melupakan kesedihan yang sempat datang begitu saja, tapi sebenarnya Puput ingin Jessica juga ikut merayakan pesta ini meskipun bukan lagi menantu di keluarganya, tak ada salahnya untuk tetap menjalin hubungan dekat layaknya keluarga.


"Cie tante Reyna, Rani kapan ya jadi pengantin?" ucap Rani.


"Hush! dasar bocah," omel Reyna.


"Hehehe" Rani cengengesan.


"Dipikir enak apa jadi pengantin," gerutu Reyna.


"Enak kali Reyna, entar malam unboxing," Rima cekikikan melihat raut wajah Reyna yang mungkin sebenarnya ingin mencekik dirinya saat ini juga, beruntunglah banyak tamu hingga dia terbebas, tapi jika sedang berdua saja dengan Reyna, Rima pun tak berani, jadi ini adalah kesempatan yang terbaik.


"Dasar gila!" ucap Reyna.


Hehehe...


"Mbak tolong Masnya dipegang dan satu... dua... tiga..."


Juru kamera melihat hasilnya, dari sekian banyak gambar yang diambil mungkin lebih banyak yang rusak karena wajah Reyna banyak yang tak tersenyum.


"Nggak usah bangga, aku pegang cuma formalitas doang," bisik Reyna sambil tersenyum pada tamu undangan.


"Aku juga jijik dipegang sama kamu," jawab Nanda dengan suara pelan, membalas hinaan yang baru saja dilontarkan Reyna padanya.


Siapa bilang lelaki harus mengalah?


Lelaki boleh mengalah hanya pada dua wanita, Ibunya dan wanita yang dicintainya sedangkan Reyna bukan dari salah satunya, jadi tak akan ada kata mengalah.


"Kamu bilang jijik sama aku?" mata Reyna berapi-api seketika kakinya menginjak sepatu kulit Nanda.


"Emmm," Nanda meringis menahan sakit, ingin menjerit tidak mungkin, di mana harga dirinya saat ini. Akan tetapi rasa sakitnya sungguh luar biasa akhirnya Nanda pun mencoba membalas dengan kata-kata.


Dirinya bukan lelaki yang pandai membalas dengan kekerasan pada wanita, hingga lebih memilih mengancam namun benar saja Reyna langsung menurunkan kakinya, kenapa dirinya tak berpikir akan hal tersebut. Ya ampun artinya...


Oh tidak! Reyna belum siap sama sekali, mata indahnya mencoba untuk mengintip Nanda dan ternyata Nanda dengan tersenyum penuh kemenangan melihat dirinya.


Huffftt...


Reyna pun menarik nafas sebanyak-banyaknya, malam ini dan seterusnya dirinya akan melindungi diri dari buasnya biawak kehausan seperti Nanda.


"Takut yah?" goda Nanda.


Oh tidak bisa!


Reyna tidak bisa membiarkan Nanda tersenyum penuh kemenangan tentunya, Nayla yang melihat dari kejauhan dapat menebak bahwa Nanda dan Reyna tengah terlibat perang dingin, dirinya mencoba untuk menengahi, takut tamu ataupun keluarga tahu.


"Kalian berdua jangan berantem mulu, nanti ada yang dengar, keluarga bisa malu!" kata Nayla dengan suara pelan.


"Si gila ini yang mulai," kata Reyna.


"Kau yang memulainya goblok!" Nanda pun membalas dengan sebisanya.


"Kamu ngatain aku goblok?" ucap Reyna.


"Iya," ucap Nanda.


Brak!!!


Reyna menginjak sepatu Nanda dengan kuatnya hingga Nanda meringis kesakitan mendapat serangan mendadak dari Reyna.

__ADS_1


Hingga Nanda kehilangan keseimbangan, tak ingin terjatuh sendiri Nanda pun menarik Reyna.


Keduanya terjatuh di lantai dengan Nanda yang berada di bawah tubuh kecil Reyna.


"Ya ampun," Nayla mendesus sambil menutup wajahnya.


Reyna dan Nanda melihat sekitarnya, para tamu undangan melihat mereka dengan bingung.


"Oh ternyata pengantinnya sudah tidak sabar yah," seloroh seorang tamu.


Para tamu lainnya tertawa mendengarnya dan ikut menimpali.


"Ya kalau sudah tidak tahan, silahkan ke kamar saja, kami tidak apa-apa di sini," ucap salah seorang tamu juga.


Nanda dan Reyna saling menatap satu sama lainnya, cepat-cepat keduanya berdiri dengan rasa malu yang sudah sampai di ubun-ubun.


Tersenyum canggung pada para tamu undangan, menyesali apa yang sudah terjadi barusan.


"Semuanya maaf ya atas yang terjadi barusan," ujar Puput merasa tak enak hati.


"Nggak apa-apa Jeng, namanya pengantin baru, kayak kita nggak pernah muda aja!" jawab salah seorang tamu yang malah merasa lucu dengan kejadian barusan.


"Jeng seperti tidak paham saja, namanya sudah tidak tahan," ucap salah seorang wanita lagi yang tak mau kalah.


Apa?


Tidak tahan?


Ya ampun Reyna ingin menjerit dan minta tolong sekarang juga, semua yang dipikirkan oleh para tamu undangan itu salah besar.


"Nggak tahan masuk ke kamar gih Reyna," Rima mencolek Reyna dengan cekikikan.


Tatapan mata Reyna ingin menelan Rima hidup-hidup saat ini juga.


"Hehe santai kali Reyna, kan biar cepat dapat adik bayi," Rima masih saja bersemangat menggoda Reyna.


"Apa hubungannya tante Reyna dan om Nanda masuk kamar bisa dapat adik bayi tante?" tanya Rani.


"Ada dong," Rima tersenyum mengejek Reyna.


"Tunggu acara ini selesai, kamu orang pertama yang akan aku cari," ancam Reyna.


"Kabur!" Rima langsung pergi dengan berjalan cepat


Bruk!!!


Dirinya malah menabrak seorang pria dengan wajah tembok yang selalu digodanya.


"Hehehe maaf Dok, maharnya udah terkumpul belum? kalau belum dengan bismillah juga boleh," setelah mengatakan itu, Rima langsung pergi sebelum Reyna menghajar dirinya, sedangkan Reyna hanya bisa meremas kedua tangannya menahan amarah pada Rima, ditambah lagi para tamu undangan yang masih tersenyum padanya mungkin berpikir kejadian barusan adalah hal lucu.


"Reyna apa kamu mau ke kamar? kalau iya juga tidak apa-apa, tamunya ada Mama dan Mama kamu," kata Arni yang memberikan solusi pada menantunya.


"OMG" wajah Reyna memerah bagaikan udang rebus.


Cukup!


Ini tidaklah lucu sama sekali!


"Nanda bawa istri mu ke kamar, mungkin lelah!" pinta Arni.


"Iya lelah tuh, lelah menunggu," kali ini Nayla yang menggoda sahabatnya tersebut.

__ADS_1


Sial! mereka semua benar-benar membuat Reyna malu sampai ke langit ketujuh.


__ADS_2