Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Pada buaya saja tidak takut!


__ADS_3

Reyna duduk bersebelahan dengan Nanda, bercerita bahwa Zaskia adalah wanita jahat yang berada di balik semua kejadian itu, Nanda memang tak pernah tahu apapun dengan kehidupan Reyna hanya diam dan mendengarkan apapun penjelasan.


"Nanda sebenarnya kamu dengar aku nggak sih?" tanya Reyna.


Nanda pun mengangguk, diamnya membuat Reyna bingung dan bertanya-tanya apakah sebenarnya yang dipikirkan oleh Nanda.


Apa mungkin Nanda masih marah padanya yang suka bersikap sesukanya dalam sekejap saja? Reyna benar-benar merasa bersalah sudah seringkali melakukan kesalahan.


"Iya kami sedang menyelidikinya, kamu masih demam?" tanya Nanda.


"Nggak aku udah baikan, makasih buat semalam," Reyna mengingat semalaman Nanda sudah bersusah payah dalam merawatnya.


"Aku minta maaf," ucap Nanda tanpa menatap wajah Reyna.


"Maaf? bertanya dan bingung perihal kesalahan apa yang sudah dilakukan oleh Nanda.


"Maaf untuk?" tanya Reyna.


"Untuk kemarin siang," jawab Nanda.


Peristiwa itu seakan terkenang kembali di mana Nanda memaksa Reyna untuk bercinta, padahal saat itu keadaan Reyna tidak baik-baik saja, rasa bersalah di hati Nanda begitu dalam tidak pernah kasar pada seorang wanita, akan tetapi siapa sangka justru kasar pada istrinya sendiri, andai saja waktu bisa diulangi mungkin Nanda tak akan melakukannya dengan paksa dan kasar tetapi percayalah bahwa semua itu karena ada tujuannya.


Reyna menggenggam erat tangan Nanda, dirinya tak marah sama sekali.


"Itu bukan masalah, mungkin kalau misalnya kamu tidak melakukannya aku masih saja keras kepala masih berpikir aku sudah kotor," ucap Reyna.


Nanda mengangguk melihat tangannya yang digenggam erat oleh Reyna ada rasa aneh juga.


"Kenapa pagi tadi kamu ngusir aku? lalu tiba-tiba kamu balik?" tanya Nanda.


"Nggak apa-apa sih, emang nggak boleh pulang ke rumah suami sendiri?" Reyna tersenyum dan menunjukkan dua baris gigi rapinya.


"Boleh! tapi kau itu seperti bocah yang masih labil saja, istirahat dulu aku harus pergi," pamit Nanda.


Nanda berdiri tapi Reyna memegang tangannya hingga Nanda pun kebingungan.


"Kenapa?" tanya Nanda.


"Nggak apa-apa," Reyna pun melepaskan dengan kesal.


Nanda pun langsung pergi bahkan tanpa berbicara walaupun sekedar basa-basi.


"Sebenarnya dia gimana sih?" tanya Reyna bingung.

__ADS_1


Sore harinya Nanda pun kembali, Nanda langsung masuk ke kamar untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian dinasnya, Reyna pun menyusul ke kamar dan membawakan secangkir kopi.


Baiklah ini adalah awal yang bagus untuk memperbaiki, kedepannya Reyna benar-benar belajar dari setiap kejadian yang menimpanya.


"Terima kasih, kamu sudah makan?" tanya Nanda.


"Belum, aku nunggu kamu," Reyna melingkarkan tangannya pada tengkuk Nanda, mendongak menatap suaminya yang sangat tinggi itu.


Sedangkan dirinya hanya sebahu dan terbilang pendek, bahkan Nayla saja jauh lebih tinggi darinya, Nanda pun melepaskan tangan Reyna kemudian berjalan keluar, Reyna menyusul dengan berjalan di belakang Nanda ikut duduk bersampingan.


"Kita makan yah, hari ini aku udah masak sebagai permintaan maaf aku," ujar Reyna.


"Kenapa memasak? bukannya kamu belum sembuh betul" ucap Nanda.


"Kan aku bilang sebagai permintaan maaf," Reyna pun semakin mendekati Nanda, siapa sangka Nanda malah bergeser duduk.


Reyna tak masalah lagi pula jika kini dirinya sama sekali tidak tersinggung, sebab Nanda sudah menidurinya dengan paksa artinya Nanda tidak jijik padanya semakin Nanda bergeser maka semakin Reyna pun bergeser hingga Nanda terjungkal di lantai.


"Hahaha," Reyna tertawa terbahak-bahak melihat Nanda yang terjatuh.


Nanda pun segera bangun dengan cepat.


"Lagian kamu aneh, di dekati nggak mau," kata Reyna sambil cekikikan.


Takut khilaf dan akhirnya memaksa Reyna, belum tentu juga Reyna mau memberikan dirinya tanpa harus memaksa, makan malam pun dimulai semua masakan yang tersaji adalah hasil kerja keras Reyna sendiri.


"Mama di mana?" Nanda tidak melihat keberadaan Arni hingga dia bertanya.


"Kata Mama ke acara syukuran di rumah tetangga sebelah, tadi aku disuruh mengunci pintu, sebetulnya Mama nolak tapi Ibu kompleks sini terus menerus mengajaknya dan Mama pergi karena nggak enak, aku juga nggak apa-apa sendirian," jelas Reyna.


Nanda mangguk-mangguk sambil kembali menikmati makan malamnya.


"Nan, kamu punya pacar nggak sih?" tanya Reyna.


Uhuk... Uhuk...


Pertanyaan Reyna membuat Nanda terbatuk-batuk, apakah istrinya itu benar-benar sudah gila pikir Nanda.


"Minum dulu," Reyna memberikan mineral pada Nanda sambil menunggu jawaban dari suaminya itu.


"Kamu makan habis ini minum obat dan tidur yah, biar cepat pulih," Nanda mengalihkan pembicaraan agar tidak ada pertanyaan gila lagi yang diutarakan oleh Reyna.


"Nanda aku nanya loh, kamu kebiasaan deh," Reyna memanyunkan bibirnya kesal pada Nanda.

__ADS_1


"Tidur udah malam," ucap Nanda.


Keduanya berjalan menuju kamar, setelah Reyna berbaring Nanda pun menyelimuti Reyna tapi Nanda tak ikut berbaring juga.


"Kamu nggak tidur?" tanya Reyna.


"Aku tidur di luar aja," jawab Nanda.


Reyna pun mengangguk lemah.


"Selamat malam,"


Setelah beberapa saat duduk di ruang televisi, Arni pun kembali melihat Nanda yang berbaring di sofa membuatnya bertanya-tanya.


"Kok tidur di luar? kalian nggak berantem lagi kan?" tanya Arni.


"Nggak Ma, cuma biar Reyna nyaman aja istirahatnya," jelas Nanda.


"Ya tapi..."


"Nggak apa-apa Ma, ini rumah tangga Nanda, tolong ngerti ya, Ma" ucap Nanda.


"Ya sudah asal kalian tidak berantem saja sudah cukup, Mama ambilkan selimut sebentar," Arni menuju kamarnya berniat mengambilkan selimut.


"Aaaaaaaa..." teriak Reyna dari dalam kamar membuat Nanda bergegas masuk.


"Ada apa?" tanya Nanda.


"Kecoa," Reyna menunjuk kecoa di lantai.


"Kamu takut?" tanya Nanda.


"Hu'um,"


Segera Nanda menyingkirkan kecoa tersebut agar Reyna bisa beristirahat.


"Sudah tidak ada, kamu istirahat saja" ucap Nanda.


"Nanda kamu di sini aja," ucap Reyna.


"Tidak apa! kecoa nya sudah aku buang," ucap Nanda.


Nanda pun keluar membuat Reyna kesal bukan main, lagi pula dirinya hanya pura-pura takut pada kecoa, pada buaya saja tidak takut mungkinkah hanya kecoak saja?

__ADS_1


__ADS_2