
"Mas, turunin, udah jauh!" Nayla melihat ke belakang, tidak terlihat Mimi sama sekali. Bahkan mereka sudah berlari begitu jauh.
"Apa benar?" Devan pun berhenti dengan napas yang terengah-engah.
Nayla pun turun dari punggung Devan, tidak tega melihat suaminya dengan napas yang terengah-engah merasakan lelah.
"Sayang, apakah banyak yang seperti itu di desa ini? Kalau banyak sebaiknya kita pulang secepatnya, atau tetap berada di dalam rumah saja," kata Devan masih melihat ke belakang, memastikan bahwa benar-benar tidak ada wanita tua dan tidak waras barusan mengejar mereka, sedangkan di depan sana, Alex, Jessica, Reyna, Nanda, Aditya dan Rima juga berhenti berlari.
Devan dan Nayla pun bergabung bersama yang lainnya.
Semua masih mengatur napas, mencari udara sebanyak-banyaknya agar bisa menjadi normal kembali.
Terkecuali Nayla, sebab dirinya di gendong oleh Devan.
Tiba-tiba saja Nayla tertawa terbahak-bahak, hingga yang lainnya bingung.
"Sayang, apa kau sedang kesurupan?" Devan pun melontarkan pertanyaan samabil memegang dahi Nayla, mungkin saja setelah melihat gigi Mimi yang terbuang membuat otak Nayla sedikit tergeser.
Nayla menggelegar, memegang perutnya yang terasa tidak nyaman saat terus tertawa tanpa henti.
"Ahahahaha," Nayla benar-benar tidak bisa menjelaskan, tawanya sulit sekali dihentikan.
"Nayla!" Jessica melempar kayu kecil hingga mengenai wajah Nayla, mungkin saja bisa segera tersadar dari kesurupan.
"Sayang, kau kenapa?" Tanya Devan lagi.
"Apa kau rela di madu?" Akhirnya Nayla berhasil bertanya kepada Jessica, setelah melepaskan tawanya yang luar biasa hebatnya.
Kini semua beralih menatap Jessica penuh tanya, sedangkan Jessica menatap Alex.
"Ahahahaha," Jessica pun ikut tertawa terbahak-bahak, tidak lama kemudian yang lainnya juga ikut tertawa.
"Ahahahhaha."
Tawa benar-benar menggelegar, kecuali Aditya yang hanya diam saja.
Sedangkan Alex kesal bukan main saat yang lainnya menertawakan dirinya.
"Sial!" Umpat Alex.
"Nayla, aku rela di madu. Kalau Alex sama Nek Mimi memang sudah kebelet menikah," jawab Jessica diselingi tawa.
__ADS_1
"Ahahahhaha," Nayla pun tertawa kencang sambil terus memegangi perutnya yang masih rata.
"Sepertinya, kau akan menjadi manusia paling bahagia," Devan pun menimpali.
"Maksud mu?" Tanya Alex dengan pandangan mata tajam dan siap adu kekuatan dengan Devan.
"Hari-hari mu akan lebih indah, dengan bertambahnya wanita tadi," celetuk Devan.
"Kurang ajar!" Alex kesal sekali, hari ini benar-benar hancur.
Entah mimpi apa dirinya semalam, sehingga bisa merasakan hari ini.
"Alex, apakah kamu akan adil setelah menikahi Nek Mimi?" Jessica masih tertawa terbahak-bahak saat bertanya pada Alex.
"Sepertinya tidak," Rima pun menimpali
"Karena goyangan Nek Mimi jauh lebil hot," tambah Reyna di selingi tawa.
"Adik kurang ajar?" Alex pun mengetuk kepala adik kesayangannya itu, kesal sekali mendapatkan ejekan gila seperti saat ini.
"Ahahahhaha," Reyna bukannya marah malah tertawa terbahak-bahak melihat wajah Kakaknya yang masih menyimpan kekesalan.
"Nek Mimi!" Seru Nayla.
Setelah Alex berlari Nayla pun tertawa, Devan melihat kebelakang tidak ada siapa-siapa.
Pletak!
Devan menyentil dahi Nayla, hingga tawa pun terhenti.
"Kamu bohong ya!"
"Hehehe," Nayla cengengesan menunjukkan giginya pada Devan.
"Nayla?" Jessica menunjuk ke bawah, ada cairan yang keluar.
Devan pun melihat arah yang di tunjuk Jessica.
"Sayang, kamu kencing?"
"He'um," Nayla mengangguk lemah sambil tersenyum kecut, dirinya pun tidak merasa apa-apa sampai akhirnya cairan yang keluar dan ternyata air kencing.
__ADS_1
"Ahahahhaha," kini yang lainnya malah menertawakan Nayla, tawa wanita-wanita tersebut benar-benar menggelegar sempurna tanpa bisa ditahan lagi.
"Hehe," Nayla pun merasa malu, dengan cengengesan menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.
"Kualat itu namanya," kata Alex yang sudah kembali, saat tahu Nayla membohonginya.
"Maaf," Nayla tersenyum melihat Alex.
"Ayo kita kembali," tidak mungkin rasanya Nayla jalan-jalan dengan pakaiannya yang bau pesing, walaupun tidak terlalu banyak tetapi tetap juga tidak nyaman di tubuhnya.
"Apa? Kembali?" Alex menunjuk arah kembali dengan kepalanya yang menggeleng.
"Aku tidak mau!" Alex masih trauma dengan Mimi, nenek tua yang sudah lanjut usia tetapi ingin menjadi istri keduanya.
"Lalu bagaimana? Tidak mungkin aku memakai pakaian ini?" Nayla pun menunjuk pakaiannya.
"Kualat! Karena, kau sudah menipu aku!" Kesal Alex.
"Tapi aku setuju kalau di madu sama Nek Mimi, aku panggil dia Mbak. Tidak, aku istri tua, jadi dia yang memanggil ku Mbak," seloroh Jessica.
"Dan dia Maminya kamu," tambah Jessica dengan menahan tawa.
"Ya ampun, Mama pasti senang sekali. Karena punya banyak anak perempuan, bahkan yang ini udah senior, Masih lebih muda Mama dari pada calon istri kedua Kak Alex," Ejek Reyna.
"Diam!" Alex benar-benar tidak ingin mendengar nama Mimi di sebut-sebut, belum lagi tangannya yang di peluk rasanya seperti terkena kotoran hewan saja.
"Ini bekas tangannya Mami Mimi, ya Pi," goda Jessica.
"Ahahahhaha," Nayla kembali tertawa tanpa henti, melihat Jessica dan Alex yang lucu dan menggemaskan.
"Sayang cukup! Nanti ada yang keluar lagi," Devan pun mengingatkan Nayla.
"Hehe," Nayla pun terpaksa menghentikan tawanya, walaupun masih cukup sulit. Takut malah ada air yang keluar berbau pesing.
"Ayo pulang!"
"Nanda, minta supir saja untuk menjemput kita," titah Alex.
"Ide bagus, atau aku bisa buang air lagi," Nayla pun mendudukkan dirinya di sisi jalan, merasa lelah yang luar biasa karena terlalu banyak tertawa.
"Sayang!"
__ADS_1
"Capek Mas."