
"Kamu ingin aku menjadi pembunuh?" ucap Nayla sambil menatap Devan.
"Aku sangat ingin mendapatkan maaf dari kamu,, aku sudah mendengarkan penjelasan dari Rian," ucap Devan.
"Aku tidak perduli sama sekali," ucap Nayla.
Kerasnya hati Nayla tidak dapat diruntuhkan begitu saja oleh Devan,, rasa sakitnya sungguh terlalu hingga tidak akan mudah berdamai dengan Devan.
"Jangan terlalu lama berdiri," ucap Devan sambil memegang lengan Nayla,, Devan takut tubuh lemah itu jatuh kalau terlalu lama berdiri.
"Tidak usah pegang-pegang," ucap Nayla.
"Aku hanya ingin membantu kamu,, dan hanya ingin kandungan mu itu baik-baik saja,, janinmu masih bisa diselamatkan,, setelah itu terserah padamu,, aku tidak akan mengambil anak itu dari kamu," ucap Devan untuk kesekian kalinya,, berharap Nayla akan percaya padanya,, tidak menganggap dirinya orang yang pembohong.
"Kamu janji?" tanya Nayla.
"Iya," ucap Devan.
Nayla lalu menjatuhkan pisau itu di lantai,, biarpun dia seperti itu tapi belum ada juga kata maaf untuk Devan.
"Sebenarnya jika aku disuruh memilih memaafkan mu atau membunuh mu,, maka aku lebih memilih membunuh mu, tapi aku masih waras dan aku masih ingin membesarkan anakku," ucap Nayla.
"Ayo mas bantu,, jangan terlalu lama berdiri," ucap Devan yang langsung mengangkat tubuh Nayla meskipun Nayla belum mengizinkan nya.
Sedangkan Nayla sendiri tidak menolak karena Devan memang harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada dirinya saat ini,, semua ini terjadi karena Devan.
"Aku bisa sendiri,, anda sebaiknya keluar saja," ucap Nayla begitu berada di dalam kamar mandi.
"Mas tunggu di depan pintu yah," ucap Devan lalu keluar menunggu Nayla di depan pintu kamar mandi.
Mulut Nayla terus komat-kamit menghina Devan, rasa benci Nayla belum kurang sedikit pun,, bahkan seujung kuku pun belum berkurang.
"Apa sudah selesai?" tanya Devan dan langsung masuk ke dalam kamar mandi tanpa izin dari Nayla.
Devan yang menunggu beberapa menit di luar benar-benar merasa sangat khawatir karena kondisi Nayla yang masih lemah.
Nayla menatap horor pada Devan sekaligus merasa bersyukur karena telah selesai dengan ritual paginya ketika Devan masuk,, karena kalau belum selesai akan sangat memalukan jika Devan melihatnya. Meskipun Devan adalah suaminya,, hah lebih tepatnya suami gilanya.
"Bisa tidak anda sedikit sopan?" ucap Nayla.
__ADS_1
"Maaf mas hanya sangat takut kamu jatuh atau malah pingsan," ucap Devan dengan sangat lembut.
Nayla benar-benar merasa sangat sial,,, kenapa suami gilanya ini tidak marah sama sekali,, apa penjelasan dari Rian benar-benar membuat Devan mengerti bahwa dirinya bukan seperti apa yang dituduhkan oleh Devan.
"Ayo," ucap Devan lalu segera mengangkat tubuh Nayla kembali menuju ke ranjang.
"Aku juga masih bisa jalan," ucap Nayla.
Devan tidak perduli sama sekali,, Devan tetap meletakkan Nayla di tempat tidur dengan sangat hati-hati,, lalu segera menggantungkan infus pada tempatnya semula.
Setelah itu Devan segera menuju ke lemari,, mengambilkan baju ganti ternyaman untuk Nayla.
"Ayo mas bantu ganti baju mu," ucap Devan sambil mendekati Nayla,, dengan tangan yang sudah mau membuka kancing piyama Nayla.
"Hei,, anda lancang sekali," ucap Nayla sambil menepis tangan Devan.
"Kita ini sudah suami istri,, aku bahkan sudah hafal semua lekuk tubuh mu,, apa lagi yang membuat kamu tidak mengizinkan aku?" tanya Devan yang seakan tidak percaya dengan penolakan Nayla
Nayla meneguk salivanya kasar sambil melihat ke arah pintu.
"Biar Reyna saja yang menggantikan baju ku," ucap Nayla.
Nayla berdoa semoga saja Reyna segera masuk ke dalam kamar nya,, apa juga yang Reyna urus diluar hingga sampai saat ini batang hidungnya belum terlihat juga.
"Ya sudah tunggu sampai Reyna pulang saja kalau begitu," ucap Nayla.
Devan terdiam sejenak hingga tiba-tiba ponselnya berdering,, tertulis nama Jessica di ponselnya yang menandakan Jessica yang menelepon dirinya.
"Angkat! kenapa kamu malah diam," ucap Nayla.
Devan pun segera mengambil ponselnya lalu mengangkat panggilan telepon dari Jessica.
"Sayang kamu dimana? sejak tadi malam aku menelepon mu tapi tidak ada satu pun yang kamu angkat," ucap Jessica.
Devan sejenak menatap Nayla yang saat ini sedang tersenyum miring padanya,, lalu Devan keluar dari dalam kamar Nayla memilih berbicara di luar.
"Devan,, kamu dengar aku atau tidak? sebenarnya kamu ini kenapa?" tanya Jessica lagi.
Jessica masih terus mengutarakan pertanyaan demi pertanyaan karena saat ini Devan hanya diam saja.
__ADS_1
"Jessica sekarang aku sedang berada di luar kota,, nanti saja kita bicara ketika aku pulang," ucap Devan.
Devan langsung mematikan panggilan telepon secara sepihak tanpa menunggu ucapan dari Jessica terlebih dahulu.
Setelah itu Devan dengan segera masuk ke dalam kamar Nayla lagi,, Devan melihat jelas Nayla tengah menatap dirinya dengan sangat sinis saat ini.
"Pulang sana Tuan,, istrimu sedang menunggu mu di rumah," ucap Nayla.
Devan menarik nafasnya berat sungguh sangat sulit bisa berdamai dengan istri keduanya ini.
"Ayo sini mas bantu ganti baju mu," ucap Devan yang ingin mengalihkan pembicaraan agar mereka tidak terlibat terus dalam pembahasan yang mengundang ketegangan.
"Aku bisa sendiri," ucap Nayla.
"Nayla," ucap Devan.
"APA?" ucap Nayla sambil menatap Devan.
Sungguh Devan sudah tidak berani lagi berbicara,, dengan perlahan Devan meletakkan piyama ditangannya pada ranjang,, sungguh wajah istri keduanya ini lebih menyeramkan ketika marah dibandingkan dengan Jessica yang marah.
"Kamu lebih baik pergi dari sini tidak perlu terus menerus menjaga aku, aku tidak mengharapkan tanggung jawab darimu,, bahkan aku mau kamu menceraikan aku saat ini juga, aku bersumpah akan menutup rapat-rapat bahwa kamu adalah pria bajingan yang sudah memperkosa aku,, dan aku juga akan menutup rapat-rapat bahwa kamu adalah ayah biologis dari anakku," ucap Nayla lagi sambil menatap Devan dengan tatapan penuh kekesalan.
Terlihat jelas Nayla saat ini sangat ingin diceraikan oleh Devan.
Sedangkan Devan benar-benar sangat takut saat ini,, takut Nayla akan benar-benar pergi dari hidup nya.
"Kita tidak akan pernah bercerai Nayla,, sampai anak itu sudah kamu lahirkan pun kita tidak akan bercerai,, aku tidak akan pernah menceraikan kamu,, ingat itu!" ucap Devan.
Nayla langsung terperangah begitu mendengar ucapan Devan,, karena itu tentu tidak sama dengan perjanjian awal mereka. Kenapa semua sudah berpindah dari jalur yang sudah ditentukan sebelumnya.
"Apa maksud kamu?" tanya Nayla.
"Maksud ku,, aku menginginkan kamu dan anak kita,, itu saja," ucap Devan.
"Ceraikan istri pertama mu," ucap Nayla.
Degh!!!
Jantung Devan langsung berdetak kencang,, tidak menyangka Nayla akan mengucapkan hal seperti itu. Sungguh itu diluar dugaan Devan.
__ADS_1
"Aku tidak akan menceraikan salah satu dari kalian," ucap Devan lagi.
"Kamu sangat serakah Tuan," ucap Nayla sinis.