Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Dunianya begitu indah!!!


__ADS_3

Berkorban?


Nayla tidak sengaja mendengar apa yang dikatakan oleh Devan.


"Maksudnya bagaimana? berkorban..." Nayla menutup mulut mengingat saat itu Jessica mendatangi rumahnya dan mengatakan sudah bahagia bersama Alex.


Flashback on


"Aku mohon kembali pada Devan, dia bisa gila tanpamu Nayla," ucap Jessica.


Sudah berulang kali memohon tetapi hati Nayla masih sekeras batu, sampai saat ini pun belum ada keinginan kembali pada Devan, sedangkan Devan semakin terpuruk membuat Jessica semakin merasa bersalah.


"Aku tidak akan kembali padanya," ucap Nayla.


"Kenapa?" tanya Jessica.


"Aku tidak akan bisa bahagia di atas penderitaan wanita lain," jawab Nayla.


"Bagaimana dengan Devan?" tanya Jessica.


"Kalau kamu bahagia, mungkin aku akan kembali padanya," ucap Nayla.


Flashback off


Nayla tersadar atas apa yang terjadi, tak lama setelah itu Jessica kembali datang dan memberitahu tentang pernikahannya dengan Alex.


Terbilang cukup dadakan sehingga seperti sebuah bom waktu yang meledak hingga membuat seakan tidak bisa di percaya, tapi pada kenyataannya Reyna juga menjadi saksi atas pernikahan tersebut.


Dan itu semua bohong?


Semua itu terpaksa dilakukan karena ingin Devan bahagia?


Tidak!!! Nayla tidak akan bisa bahagia dengan cara seperti ini, ada pengorbanan wanita lain di dalamnya, Nayla tahu betapa sakitnya berada di posisi Jessica saat ini.


Berkorban adalah suatu luka. Ada tapi tak dianggap, disalahkan tanpa tahu kebenarannya, itulah posisi Jessica.


"Nayla, kamu sudah lama di sini?" tanya Devan menyadari istrinya dan Nayla pun langsung mengangguk lemah.


Devan yakin istrinya sudah mendengar segalanya,, tapi itulah kenyataan sebenarnya. Sepanjang perjalanan pulang Nayla hanya diam tanpa kata dirinya masih tak menyangka bahwa Jessica begitu baik.


"Kamu mikirin apa?" tanya Devan.


"Mas aku nggak bisa lanjutkan pernikahan kita," ucap Nayla.


Devan diam membiarkan istrinya mengeluarkan emosi yang ada di dalam hati, mungkin setelahnya akan lebih baik selanjutnya barulah Devan akan berbicara.


"Jessica pura-pura bahagia sedangkan dia menderita dan bodohnya kita bisa bahagia, aku seakan manusia paling jahat," ucap Nayla memijat pelipisnya, sulit dimengerti olehnya nyatanya itulah yang terjadi.


Devan menarik Nayla untuk bersandar padanya, mencium dahi Nayla hingga beberapa kali sekalipun beberapa kali ditolak Devan tak lantas putus asa.


"Mas kamu bisa bahagia saat orang lain menderita, dia menderita karena kamu! kita!" ucap Nayla.


"Terus kamu mau cerai?" tanya Devan.


Nayla menatap Devan tanpa menjawab apa-apa.


"Kemarin kita baru menikah, Mama susah payah mengurus semuanya demi pernikahan kita bisa sempurna agar kita bahagia, Felix juga baru satu hari merasakan keutuhan keluarga, kamu mau menyakiti hati mereka, bukan hanya mereka, kamu juga menyakitiku lalu apa kabar dengan perasaanmu?" tanya Devan.


"Terus gimana dengan Jessica? awalnya kamu suaminya!" ucap Nayla.


"Dulu iya, apa kamu pikir setelah kita bercerai semua akan baik-baik saja, bahkan Jessica akan bahagia? tidak!" ucap Devan.


Sejenak keduanya hening. Nayla menatap ke luar jendela mobil sedangkan Devan terus menatap wajah Nayla dari samping.


"Itu bukan penyelesaian, tetapi masalah sebelum masalah selesai sudah menambah masalah baru," ucap Devan.


"Tapi..."


"Jangan pikir kalau kita cerai Jessica tidak menderita, justru seharusnya kamu berusaha menguatkan dia kalau kamu merasa bersalah karena menikah denganku saat ini sebelum dia bahagia," ucap Devan.


Nayla menatap Devan kembali penuh tanya, sebab tidak mengerti.


"Alex sangat mencintai Jessica sedangkan tidak dengan Jessica, dulu Jessica hanya menjadikan Alex pelarian semata, setelah aku kembali Alex dilupakan, tapi Alex tetap mencintai Jessica," ucap Devan.


"Lalu kenapa rumah tangga mereka berantakan?" tanya Nayla.

__ADS_1


"Alex masih kecewa merasa Jessica masih mencintai aku," ucap Devan.


Nayla menelan salivanya, rasanya sulit untuk dipercaya lagi-lagi semua itu ada hubungannya dengan mereka berdua.


"Apa Mas mau kembali pada Jessica?" tanya Nayla.


"Pertanyaan gila!!" jawab Devan yang langsung buang pandangannya, tak terasa sudah sampai di rumah, Devan pun segera turun dari mobil disusul oleh Nayla.


"Mas," Nayla mengejar Devan.


Devan berhenti melangkah dan berbalik menatap Nayla.


"Tidak usah berdebat! apa lagi soal Jessica!!! jangan rusak kebahagiaan kita!!! Felix, kita tidak ada hubungannya dengan Jessica maupun Alex!!! jangan menguji suamimu ini! paham?" ucap Devan.


Nayla pun hanya bisa mengangguk saja, Devan yang dingin membuatnya bergidik ngeri.


Lagi pula Nayla bersyukur paling tidak Alex mencintai Jessica, mungkin dirinya bisa membuat keduanya menjadi lebih baik.


"Masuk!!!" Devan merangkul pundak Nayla, keduanya berjalan masuk.


Sampai di depan pintu, keduanya mendengar suara dari arah dapur, suara seperti ledakan yang cukup menggemparkan, segera Nayla dan Devan berlari ke arah dapur ternyata yang terjadi adalah ledakan pada panci hingga membuat wajah Santi berwarna hitam.


"Ahahahaha..." Bik Ina tertawa terbahak-bahak,, melihat itu semua, menurutnya ibu tiri Nayla tersebut sangat lucu.


"Ibu," Nayla terperangah melihat wajah Santi.


Sedangkan Devan hanya diam dengan wajah datarnya.


"Mas tolongin Ibu," ucap Nayla.


Devan mengangkat bahunya seakan tidak perduli sesaat kemudian dirinya memilih pergi.


"Ya ampun! kenapa dia begitu!" Nayla pun tidak mengerti mengapa suaminya itu berubah-ubah.


Bahkan orang cukup penasaran mendengar suaranya saja termasuk Santi.


"Nayla, sebenarnya suamimu itu bisa senyum nggak? bicaranya jelas nggak? Ibu perhatikan dia sulit sekali mengeluarkan suara, bahkan tersenyum juga Ibu tak pernah melihat," Santi menatap punggung Devan yang sudah menjauh itu.


"Sudahlah! ibu mandi sana lain kali Ibu kalau nggak bisa gunain alat masak coba tanya sama Bik Ina, jangan asal pencet aja," ucap Nayla.


"Ibu sudah tanya dan dia mengajarinya tapi tahunya dia mengerjai aku," Santi menatap Bik Ina penuh kemarahan.


"Mmmmfffppppp," Bik Ina menutup mulutnya menahan tawa, kemudian segera pergi dari dapur.


"Kamu lihatkan? kamu itu udah jadi Nyonya di sini harusnya kamu pecat itu orang, dia nggak sopan sama ibu kamu," omel Santi ikut kesal juga pada Nayla.


"Nggak bisa Bu, Nayla juga cuman numpang di sini," ucap Nayla.


"Gimana sih kamu itu istri pewaris rumah ini jangan goblok!" geram Santi.


Nayla hanya geleng-geleng, tak mengerti mengapa Santi tak pernah berubah padahal Ana sudah cukup baik.


Ponselnya berdering dan Devan yang menghubungi, segera Nayla menjawabnya.


"Ngapain masih di dapur, mau masak? cepat ke kamar Felix nangis!!" Devan memutuskan panggilan sepihak dan Nayla segera bergegas menuju lantai dua karena ingin sampai lebih cepat Nayla segera memasuki lift.


Santi terkejut rumah itu ternyata memiliki lift.


"Ternyata rumah ini sangat canggih, Nayla tunggu ibu," Santi segera berlari ingin ikut menaikinya.


Hingga kepala Santi terbentur pintu lift yang sudah tertutup rapat, terlambat beberapa detik saja, Nayla pun sudah sampai di lantai dua.


"Ya ampun sakit sekali," Santi menggosok dahinya, terasa seperti bergerak.


"Kenapa aku sial sekali," ucap Santi.


"Monster!!!" seru Rani ketakutan saat melihat tubuh Santi yang gosong.


"Monster? di rumah ini? ada monster!!" Santi pun panik dan segera berlari mencari tempat persembunyian.


Rani segera menuju kamar Raka menceritakan bahwa ada monster di rumah mereka, dengan ide cemerlang Raka berinisiatif menangkap monster tersebut, meminta satpam memasang perangkap besi, Santi keluar dari persembunyiannya dirinya berjalan di dekat kolam renang dengan mengendap-endap seperti maling.


Sedangkan dari arah lainnya Raka dan satpam membawa karung besar.


"Satu....dua...tiga..."

__ADS_1


Monster tersebut berhasil dimasukkan ke dalam karung dan dipindahkan ke dalam sebuah perangkap besi, lalu menguncinya. Santi berteriak dengan suara menjerit hingga membuat Raka dan Rani merasa ngeri, segera monster tersebut dibawa ke gudang sebelum akhirnya nanti akan diserahkan pada kepolisian untuk penanganan selanjutnya.


"Setelah ini kita bilangin sama Oma, ini monster berbahaya," Raka dengan bangganya bisa ikut menangkap monster di rumahnya.


###############


Nayla membuka pintu kamar kemudian masuk dengan buru-buru tapi dirinya tidak melihat Felix di atas ranjang.


"Mas," Nayla pun tak melihat keberadaan Devan, kemudian dia berbalik betapa shock nya Nayla melihat Devan, jantungnya hampir meloncat akibat ulah suaminya tersebut.


"Mas Felix di mana katanya nangis?" tanya Nayla sambil menunjuk ke arah ranjang, tidak ada putranya di sana bahkan di tangan Devan pun kosong tanpa menggendong Felix.


"Emang nangis," ucap Devan.


"Mana?" tanya Nayla.


"Tapi bohong!" Devan tersenyum dan memilih mengangkat tubuh Nayla lalu merebahkan di atas ranjang.


"Mas kangen," ucap Devan.


Apa?


Kangen?


Nayla memegang dahi Devan tapi semuanya terlihat normal.


"Dasar gila," ucap Nayla.


"Tergila-gila sama kamu," ucap Devan.


"Aku tadi lari sekencang-kencangnya untuk melihat Felix, kakiku sampai sakit," omel Nayla yang membuat Devan gemas.


Semakin bibir istrinya tersebut komat-kamit, semakin membuatnya bahagia.


"Ya udah mana sakitnya?" Devan duduk dengan benar sedangkan Nayla masih berbaring.


"Ini," Nayla menunjukkan kakinya, Devan pun segera memijatnya, berpindah ke tangan masih memijat dengan baik.


"Sayang Mas punya tebakan," ucap Devan.


"Apa?" tanya Nayla.


"Makin dimasukin makin enak, apa?" Devan menatap Nayla dengan menggerakkan kedua alisnya, menggoda istrinya adalah sesuatu yang menyenangkan baginya.


"Mas apa sih," Nayla memukul tangan Devan, kesal sekali dengan tebak-tebakan nyeleneh suaminya.


"Jawab dong," ucap Devan.


"Nggak tahu," ucap Nayla.


"Apa yah?" tanya Devan mengedipkan matanya.


"Buah apa yang suka ngobrol?" kali ini Nayla yang bertanya.


"Apa yah?" Devan berpikir keras untuk memikirkannya, setelah itu dirinya merasa memiliki jawaban tapi sebelum menjawab dirinya harus memencet tombol agar seperti kuis di televisi.


"Tetttt!!! seru Devan seakan menirukan suara sambil menekan benda kenyal istrinya.


"Mas," Nayla memukul tangan Devan.


"Ahahahaha..." tawa Devan menggelegar melihat wajah kesal Nayla, tapi kesenangan luar biasa baginya.


"Itu tombol harus ditekan kalau mau jawab pertanyaan seperti kuis di televisi itu loh," ucap Devan.


"Tangan Mas emang nakal," ucap Nayla.


"Ahahahah... ayo tanya lagi, ayo Mas pasti bisa jawab," Devan cekikikan merasa dunianya begitu indah setelah menikah kembali dengan Nayla.


"Nggak," ucap Nayla.


"Ahahahaha..."


"Apa sih!!!" ucap Nayla kesal.


"Cepat! Mas akan pencet tombol lagi," ucap Devan.

__ADS_1


"Ma..." teriak Nayla.


"Diam!!! nanti Mama datang lagi," ucap Devan cepat.


__ADS_2