Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Apa dia baik-baik saja?


__ADS_3

Pakaian putih masih terpakai, selendang yang menutupi kepalanya pun masih ada. Jessica duduk di sisi ranjang. Ranjang milik mendiang sang Mama, sungguh rindu yang terberat adalah merindukan seseorang yang sudah tiada. Di kamar ini, kamar yang cukup luas dengan desain modern. Semua masih seperti dulu, semua letak barang-barangnya pun masih saja sama. Inggit sendiri yang menatanya.


Kenangan.


Semua tinggal kenangan, sisa-sisa bayangan pun kini menjadi sebuah penghibur dalam luka yang begitu dalam.


Bukan.


Bukan meratapi keadaan, hanya saja butuh waktu untuk berdamai dengan keadaan. Mata Jessica menatap bingkai foto yang terpajang pada dinding kamar, dimana ada dirinya, sang Kakak dan kedua orang tuanya. Semua sudah terbingkai rapi dengan penuh kenangan suka mau pun duka.


"Kamu kuat," Nayla duduk di samping Jessica, menepuk pundak wanita yang kini dilanda kerapuhan.


Entahlah.


Jessica bahkan tidak menyadari kehadiran Nayla di sekitarnya.


"Terima kasih," Jessica tersenyum, merasa bersyukur karena masih ada orang-orang di sekitarnya yang begitu perduli padanya.


Jessica sadar dirinya juga tidak akan bisa menghadapi semua ini tanpa kekuatan dari orang-orang di sekitarnya.


Sungguh Jessica sudah ikhlas dengan kepergian sang Mama yang menyusul mendiang sang Papa. Bersatu di alam sana dan di pertemukan dalam doa.


Pengobat rindu saat-saat ingin bertemu.


"Aku harap kamu tidak merasa sendiri, kami di sini ada untuk kamu," papar Nayla lagi.


Jessica pun tersenyum dan memeluk Nayla, lupakan masa lalu sambut masa depan yang penuh dengan kebahagiaan.


Anggap saja semua kejadian dulu adalah buah dari semua kesalahan yang pernah di buatanya. Anggap juga itu semua adalah pengalaman dari setiap perjalanan hidup ini.


Nayla pun memeluk Jessica dengan eratnya, sadar bahwa wanita yang kini tengah berduka memiliki hati yang begitu baik.


Meskipun rapuh tetapi tetap bertahan dalam segala keadaan, bahkan kini mereka bisa menjadi teman dekat layaknya saudara.

__ADS_1


"Aku boleh ikutan peluk nggak sih?" Reyna terharu dan ingin ikut bergabung.


"Aku gimana?" Tanya Rima juga.


"Mari berpelukan," Nayla pun membuka tangannya lebar-lebar.


Reyna dan Rima pun ikut berpelukan, berusaha memberikan kekuatan dan meyakinkan Jessica tidak sendirian, mereka akan selalu ada tanpa rasa lelah.


"Terima kasih, kalian semua baik banget. Padahal aku dulu jahat banget," Jessica tersenyum tetapi tangannya mengusap air mata haru yang menetes.


"Semua orang pernah salah, bahkan aku juga pernah melakukan kesalahan. Aku minta maaf dulu sudah menikah dengan Mas Devan diam-diam, jadi istri gelapnya sekaligus sebagai madu, aku minta maaf" Nayla pun tidak kalah merasa bersalah, apa lagi setelah sadar ternyata Jessica adalah wanita berhati emas.


Baik hati tanpa terkecuali, mungkin dulu Jessica terlalu terkejut dengan kehadirannya sebagai istri gelap Devan, sehingga otaknya tidak dapat berpikir jernih.


"Semua sudah ada jalannya, semua sudah masa lalu. Sekarang kita sambut masa depan yang penuh kebahagiaan," kata Jessica dengan senyuman tulus.


"Reyna, kamu kenapa?" Tanya Rima saat melihat wajah pucat Reyna. Reyna pun mencoba untuk berdiri, kemudian merasa sekitarnya berputar lebih cepat.


"Kok semua nya bergerak?" Reyna terus berusaha untuk membuka matanya walaupun keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya.


"Reyna, kamu baik-baik saja kan?" Nayla semakin panik dan mencoba menuntun Reyna untuk duduk di sisi ranjang.


Begitu pun dengan Jessica dan Rima yang ikut menuntut Reyna untuk duduk di sisi ranjang


"Aku........" Reyna merasa tubuhnya melayang, sesaat kemudian sudah tidak sadarkan diri.


"Reyna!" Nayla berseru sambil menahan tubuh Reyna yang semakin melemah, bahkan belum sampai duduk di sisi ranjang.


Jessica pun ikut membantu, merebahkan tubuh Reyna untuk berbaring di atas ranjang.


Wajah Reyna begitu pucat, hingga membuat Nayla, Jessica dam Rima ketakutan.


Nayla, mencoba untuk membuat Reyna kembali sadar. Namun, sulit sekali sampai saat ini pun Reyna belum sadarkan diri.

__ADS_1


"Aku panggil Mas Devan saja," kata Nayla kian semakin panik.


"Kamu di sini aja," Rima tidak ingin Nayla berjalan dengan terburu-buru, mengingat masih hamil muda dan takut malah terjadi hal lainnya.


"Aku saja," imbuh Rima.


Setelah Nayla mengangguk, Rima pun segera menuju lantai satu. Dimana di sana masih ada beberapa kerabat yang belum pulang setelah acara pemakaman sore hari tadi selesai.


Rima pun mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Devan ataupun Alex untuk memeriksa keadaan Reyna.


"Dokter Alex." Rima hanya melihat Alex, itupun tidak masalah.


Alex yang tengah berbicara dengan keluarga mendiang mertuanya pun menoleh pada Rima.


"Reyna, pingsan," kata Rima dengan suara terbata-bata karena panik.


"Pingsan? Kenapa bisa?" Tanya Alex panik.


"Saya nggak tau Dok, tiba-tiba saja dia merasa pusing dan pingsan," jelas Rima lagi masih dengan penuh kepanikan.


"Tolong ambilkan peralatan medis saya di mobil," titah Alex.


Alex pun berpamitan sesaat, kemudian segera menuju lantai dua dengan langkah kaki yang lebar dan terburu-buru.


Rima menyusul masuk ke dalam kamar setelah membawa peralatan yang diperintahkan oleh Alex.


Mata Alex menatap adik bungsunya yang tidak sadarkan diri dengan tubuh terbaring di atas ranjang.


Alex pun segera memeriksanya, sedangkan yang lainnya menunggu dengan penuh kepanikan. Menantikan hasil pemeriksaan yang dilakukan Alex.


"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Jessica tidak sabaran.


"Kita bawa ke rumah sakit saja," Alex pun mengangkat tubuh Reyna dan segera melarikannya ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2