
Devan hanya melihat Jessica tanpa berbicara sedikit pun tapi tangannya semakin liar di bawah sana membuat Nayla benar-benar terasa meremang.
"Ayo kita ke sekolah Rani,, Raka," ucap Nayla yang sengaja bersuara agar Devan memberhentikan tangannya yang sejak tadi bergerak liar di bawah sana.
Setelah tangan Devan terlepas ada perasaan lega luar biasa yang dirasakan Nayla,, andai saja Devan tau,, Nayla sejak tadi menahan diri agar tidak mendesah,, merintih,, menjerit dengan sekerasnya karena tangan kekar itu sangat aktif di bawah sana.
"Rani,, Raka hari ini berangkat sama Tante aja yah,, biar perban Nayla dilepas dulu dengan Ayah Devan,," ucap Jessica sambil melihat kedua anak menggemaskan itu.
Nayla seketika bingung dan berpikir,, dia yang salah mendengar atau Jessica yang salah berucap tadi.
Tapi jika yang didengarnya tadi salah,, maka Nayla ingin sekali itu menjadi benar,, dan kalau itu benar,, Nayla akan merasa sangat bahagia.
Biarkan saat ini dia menjadi wanita yang egois dan jahat karena menjadi orang ketiga,, tapi dia hanya ingin menikmati waktu bersama suami sementaranya,, ayah dari anaknya,, tapi percayalah setelah dirinya melahirkan,, dirinya akan pergi meninggalkan Devan tidak akan menggangu kehidupan rumah tangga Devan dan Jessica,, dirinya akan fokus untuk mengurus anaknya dan hidup bahagia bersama anaknya, yah hanya mereka berdua tanpa ayah kandung anaknya.
Jessica terlalu baik untuk disakiti,, sebagai sesama wanita Nayla tidak ingin menyakiti hati wanita lainnya.
"Nayla,, biar Rani dan Raka aku saja yang antar hari ini,, kamu lebih baik lepas perban dulu yah,, karena besok kami akan liburan,, aku tidak mau terus kepikiran kamu,, jadi aku harus memastikan kamu benar-benar sudah baik-baik saja sekarang,, barulah aku bisa tenang liburannya,," ucap Jessica sambil tersenyum pada Nayla.
Hah liburan? mas Devan dan Nyonya Jessica akan liburan? batin Nayla.
Nayla tidak apa-apa jika Devan dan Jessica akan pergi liburan tapi jika boleh memohon,, bisakah Devan pergi hanya sebentar saja,, Nayla juga membutuhkan Devan. Karena kehamilannya Nayla tidak mengerti mengapa dirinya benar-benar sangat membutuhkan Devan. Membutuhkan kehangatan perlakuan Devan padanya.
"Devan,, kamu bisa kan buka perban Nayla dulu? barulah kamu ke rumah sakit," tanya Jessica lagi-lagi pada Devan.
"Dokter lain saja yang buka perbannya," tolak Devan dengan ekspresi wajah dinginnya.
Mendengar penolakan mentah-mentah dari Devan,, hati Nayla benar-benar sakit,, segala pikiran-pikiran buruk mulai menghantui Nayla lagi.
"Sayang tolonglah,, kan besok kita sudah pergi berlibur,, kasihan Nayla,, aku ingin memastikan dia baik-baik saja,," ucap Jessica lagi sambil melihat Devan dengan tatapan mata penuh harap.
Devan hanya diam sambil melihat wajah Jessica yang sedang memohon itu,, entah apa yang ada di dalam pikiran Devan saat ini dengan ekspresi wajah yang sangat dingin itu.
"Sayang, aku mohon mau yah?" rayu Jessica lagi-lagi sambil melihat Devan yang masih diam.
"Ya sudah,, aku tunggu di rumah sakit kalau gitu," ucap Devan lalu segera berdiri dan berjalan menuju mobilnya tanpa menoleh ke Nayla sedikit pun.
__ADS_1
Melihat ekspresi ketidakpedulian Devan pada dirinya,, Nayla langsung menatap Jessica.
"Nyonya tidak apa-apa,, aku akan buka perban kepada dokter lain saja Nyonya," ucap Nayla sambil melihat Jessica.
"Tidak,, tidak Nayla,, kamu buka perban pada suamiku saja,, dia memang selalu seperti itu kepada orang asing,, tapi sebenarnya dia itu baik kok," ucap Jessica.
Degh!!!
Mendengar kata orang asing seakan mengiris hati Nayla.
Aku juga istrinya,, tapi istri disembunyikan,, yah mungkin memang benar aku hanya dianggap orang asing oleh dia,, batin Nayla yang ingin menangis sekencang-kencangnya entah mengapa Nayla saat ini benar-benar sangat sensitif.
"Tapi Nyonya...," ucap Nayla tidak selesai karena sudah dipotong oleh Jessica duluan.
"Sudahlah,, kamu tunggu dikamar mu saja yah,, aku akan menyusul suamiku dulu,," ucap Jessica dengan senyuman yang benar-benar tulus pada Nayla,, sikap Jessica pada Nayla benar-benar berubah total begitu Nayla menolong dirinya waktu itu.
Langkah kaki Jessica benar-benar cepat menyusul Devan,, Jessica segera menahan Devan begitu Devan akan masuk ke dalam mobil.
"Sayang aku mohon yah,,, kamu segera membuka perban Nayla,, aku tidak bisa tenang liburan besok kalau Nayla belum sembuh,, kamu mau yah,, Nayla sudah menyelamatkan nyawa istri mu sayang,, mau yah?" ucap Jessica sambil melihat Devan.
"Ya udah kamu ke kamarnya yah,, aku yang akan mengantar Rani dan Raka ke sekolah,," ucap Jessica.
"Hati-hati yah sayang,, jangan ceroboh lagi yah, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa,,," ucap Devan sambil mengecup kening Jessica.
Nayla yang baru keluar dari pintu mengantar Rani dan Raka menyaksikan kejadian itu.
Cemburu? Nayla tidak cemburu sama sekali, hanya saja Nayla juga ingin diperlakukan seperti itu oleh suaminya,, dulu Nayla selalu berkhayal seperti itu bersama suaminya namun yang terjadi pada dirinya saat ini tidak sesuai keinginannya,, dirinya hanya istri yang disembunyikan semata,, jadi tidak mungkin bisa seperti itu.
"Rani,, Raka ayo naik ke mobil Tante,, aku akan mengantar kalian,," ucap Jessica. Kedua bocah itu pun segera masuk ke dalam mobil Jessica.
Setelah Jessica pergi,, Nayla kembali ke kamarnya,, ada perasaan bimbang yang dirasakannya,, mengapa Devan tiba-tiba sangat dingin melebihi dinginnya kulkas?
Masih sibuk dengan pikirannya,, Devan tiba-tiba memasuki kamar Nayla,, berjalan semakin dekat pada Nayla,, meletakkan tasnya yang berisi alat medis,, lalu duduk di ranjang Nayla.
Tanpa berbicara apapun Devan langsung membuka perlahan perban di lengan Nayla hingga selesai tanpa berucap sepatah kata pun.
__ADS_1
Tetapi setelah selesai membuka perban pada lengan Nayla,, Devan langsung mengelus lembut perut Nayla,, lalu mencium perut Nayla dengan penuh kasih sayang.
Perlakuan Devan semakin membuat Nayla tidak karuan,, Nayla menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara sedikitpun,, Nayla sangat membenci dirinya yang seperti ini yang sangat mudah merasa aneh pada tubuhnya,, padahal sebelum hamil Nayla tidak pernah merasakan seperti ini.
"Kenapa?" tanya Devan sambil melihat Nayla.
Nayla perlahan membuka matanya lalu melihat Devan.
"Mas,, a..a," belum selesai Nayla berbicara,, Devan sudah lebih dulu mencium bibir Nayla. Perlahan namun pasti ciuman Devan berubah menjadi *******,, Nayla langsung terdiam menikmati sentuhan lembut tangan Devan,, Nayla membuka mulutnya hingga Devan semakin leluasa.
Nayla masih menginginkan ciuman itu namun Devan malah berpindah ke bagian leher Nayla, menambah tanda-tanda yang telah dibuatnya semalam tentu ditempat tersembunyi agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Nayla benar-benar tidak polos lagi setelah Devan menyentuhnya dua kali.
"Mas,," rintih Nayla yang ingin mengingatkan Devan bahwa saat ini pintu kamar Nayla tidak terkunci,, karena Devan tidak mungkin menguncinya itu pasti akan menimbulkan kecurigaan.
Tapi Devan benar-benar tidak memberikan kesempatan Nayla berbicara banyak.
"Mas tunggu di rumah kita,," bisik Devan yang tersadar jika saat ini sedang di dalam kamar Nayla tanpa mengunci pintu. Sulit sekali buat Devan menahan diri.
Nayla pun menganggukan kepalanya pertanda mengerti dengan maksud Devan.
Devan bangun dari duduknya menenangkan dirinya sejenak yang sudah panas lalu mengambil tasnya.
"Sayang,," suara Jessica yang tiba-tiba membuat suasana menjadi sangat tegang.
Keputusan yang Devan ambil tadi memang sudah sangat tepat,, andai saja Devan tidak menyudahi nya tadi pasti saat ini Jessica akan langsung melihat di depan mata kelakuan Devan dan Nayla di dalam kamar. Semuanya pasti akan terbongkar saat ini juga. Bahwa Nayla istri kedua Devan.
"Apa perban Nayla sudah dibuka?" tanya Jessica sambil berjalan masuk ke dalam kamar untuk melihat lengan Nayla.
"Sudah Nyonya,," ucap Nayla dengan perasaan deg-degan luar biasa.
"Emm baguslah,, ayo sayang aku jadi tidak khawatir lagi pada Nayla jika besok kita pergi liburan,," ucap Jessica merasa lega sambil bergelayut manja di lengan Devan.
Nayla hanya terdiam dan menundukkan kepalanya.
__ADS_1