Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Sudah mulai pandai dalam bercanda...


__ADS_3

Aditya pun benar-benar membiarkan Rima untuk beristirahat di kamar sendirian, memilih memberikan waktu untuk mencerna setiap kata yang barusan disampaikannya


Aditya bukan seorang pria romantis, apa lagi pandai dalam merangkai kata. Setiap kata yang di ucapannya hanya sebuah keseriusan, kebenaran yang nyata, walaupun kadang menyakitkan bagi sebagian orang yang mendengarnya. Namun, itulah dirinya Hidup serius tanpa ada gurauan jenaka. Sadar dirinya sudah salah, namun lebih baik mengakuinya sebelum Rima mengetahui dengan sendirinya. Semua hanya rekayasa saja, sejak awal Aditya sudah merencanakan semua dengan matang. Mengingat Arini begitu memaksanya menikahi Jessica.


Aditya tahu keadaan Jessica yang terguncang, sebagai Dokter yang menangani Jessica dalam memulihkan mentalnya sudah pasti Aditya tahu segalanya.


Melihat kerasnya Arini tidak mungkin membantah dengan keras, sadar Mamanya itu baru saja pulih dari kanker payudara yang hampir merenggut nyawa.


Harta paling berharga adalah Arini, Aditya sudah lama kehilangan sang Papa. Sehingga dirinya juga takut kehilangan Arini. Menolak secara tidak langsung akhirnya Aditya pun memutuskan untuk mencari cara cepat untuk bisa menikahi Rima.


Selama ini secara diam-diam Aditya menyelidiki wanita itu, sedikit banyaknya Rima mampu mengalihkan dunianya.


Sadar Rima sudah memiliki kekasih Aditya pun memutuskan untuk menikahi secara langsung tanpa persetujuan Rima sekalipun, sebab sudah pasti Rima tidak akan mau menikah dengan nya. Selain keduanya asing, Rima pun pasti tidak tertarik padanya. Aditya tahu itu, dapat membaca dari setiap gerak-gerik Rima.


Aditya tidak ingin berpacaran, usianya sudah tidak lagi muda. Dirinya juga lelaki normal memiliki hasrat dewasa yang menggebu-gebu disaat merasa tertarik pada seorang wanita.


Hanya menikah jalan terbaik nya, biar saja saling mengenal setelah menikah. Saling belajar dalam mengetahui karakter masing-masing


Aditya juga lelaki yang sulit untuk tertarik pada wanita, sehingga saat dirinya sudah merasa cocok tidak ada niatan untuk banyak berbasa-basi. Termasuk saat melihat Rima yang cerewet dan apa adanya.


"Kenapa lesu sekali?" Tanya Devan saat melihat Aditya.


Aditya tersadar ternyata dirinya sudah berada di gazebo taman belakang, dari tadi dirinya terus berjalan sambil memikirkan Rima.


Mengakui kesalahannya dan juga merasa was-was jika istrinya itu marah besar setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Hingga akhirnya Aditya pun duduk di gazebo, mungkin dengan sedikit bercerita tentang kegundahannya pada Devan bisa meringankan sedikit bebannya.


Aneh tapi begitu adanya, sekalipun dirinya terus memasang wajah dinginnya sebenarnya tanpa diketahui Rima, dirinya sudah membuat Aditya bertekuk lutut di hadapan nya.

__ADS_1


Itulah satu hal yang belum disadari nya sama sekali.


"Apa aku salah?" Tanya Aditya tiba-tiba dibenaknya hanya ada perdebatan-perdebatan yang belum juga menemukan sebuah titik terang.


Devan yang menatap ke depan kini beralih menatap Aditya, ada kegundahan yang terlihat.


Sekalipun Devan adalah seorang Dokter kandungan tentunya tahu bahwa sepupunya tengah memikirkan masalah yang cukup berat.


"Aku takut dia marah pada ku, setelah mengetahui semua. Tetapi, aku juga tidak bisa diam terus. Karena, dia merasa tertekan saat ini. Bahkan, merasa dirinya bukan siapa-siapa," imbuh Aditya.


Tarikan napas panjang dan berat akhirnya memperkuat kegundahannya, tidak ingin menutup dari Devan tentang suasana hatinya. Tidak pula untuk bersandiwara seakan baik-baik saja.


"Aku mengerti, aku yakin dia juga akan sangat marah pada mu. Tetapi, ada pertimbangan juga di dalamnya, aku tahu tujuan mu baik. Aku akui kehebatan mu dalam menghalalkan wanita yang kan cintai," Devan menepuk pundak Aditya.


Apa yang dilakukan Aditya memang sangat tidak baik, namun melihat cinta yang dipendam tentunya tidak akan pernah menyia-nyiakan wanita yang sudah di dapatkan dengan cara tidak mudah tersebut.


"Aku yakin bisa, apa lagi jikalau kau memberikan perhatian pada nya. Aku dengar kau sudah mengobok-obok dia," celetuk Devan yang ingin membuat Aditya merasa terhibur.


Rasanya seperti aneh saja jika seorang Aditya yang tidak pernah merasakan patah hati kini terlihat tidak berdaya. Pertama kalinya Devan menyaksikan Aditya lemah dihadapan wanita, selama ini wanita bukanlah segalanya untuk Aditya.


"Dia itu memang unik, maka dari itu aku menikahi nya. Agar aku awet muda," jawab Aditya di iringi tawa kecil.


"Iya, mungkin kau benar. Usia mu memang sudah tua, tapi kau kalah dengan ku."


Aditya memutar lehernya beberapa derajat, belum mengerti dengan perkataan Devan.


"Usia mu sudah empat puluh tahun, dan kau belum memiliki anak. Aku sudah memiliki anak dua bahkan kemungkinan istri ku sedang mengandung anak ke tiga," papar Devan.

__ADS_1


"Wah benarkah?" Aditya tersenyum sambil bertanya serius.


"Iya, dari gelagat istri ku sepertinya begitu. Lagi pula aku lebih suka saat dia mengandung"


"Kenapa begitu?" Aditya penasaran, mungkin saja bisa berlaku bagi dirinya Juga pikir Aditya.


"Karena, dia lebih manja, lebih menggebu gebu, dan kadang suka menggoda ku dengan pakaian seksi nya. Yang pasti sikapnya dua ratus derajat lebih manis," Devan membayangkan wajah Nayla yang begitu manis saat sedang merayu dirinya dalam menginginkan sesuatu.


Di saat itulah dirinya bisa mengajukan syarat apa saja tanpa ada rasa ragu, begitupun Nayla pasti langsung mengabulkannya tanpa pikir panjang apa lagi mengomel.


"Benarkah?" Aditya tersenyum sambil mendengarkan jawaban Devan yang lebih meyakinkan.


"Tentu, coba saja. Nanti kau pasti tahu rasanya seperti singa yang mendadak jadi kupu-kupu mengemaskan."


"Wah, sepertinya ini harus di coba," Aditya berdiri dengan semangat, lupakan kesedihannya, ada sebuah misi yang jauh lebih menarik minatnya, menjadi lebih bahagia.


"Apanya yang di coba?"


"Membuatnya menggelembung, caranya yah di pompa dulu. Mana tahu bisa jadi imut," jawab Aditya sambil terkekeh geli.


"Dasar gila! Ternyata kau juga sangat parah. Kau juga butuh psikiater!" Devan tertawa terbahak-bahak melihat wajah Aditya.


"Psikiater juga manusia, kami juga butuh kehangatan istri."


"Sombong, mentang-mentang sudah punya istri!"


"Aku ke kamar dulu, mau kejar target. Mana tahu bisa dapat kembar tiga, kita imbang!" Aditya pun melenggang pergi dengan rasa bahagia.

__ADS_1


Sedangkan Devan geleng-geleng kepala melihat tingkah Aditya yang aneh, kini sepupu itu sudah mulai pandai dalam bercanda.


__ADS_2