
Di tempat lainnya, seorang wanita juga tengah membersihkan tubuhnya. Jessica juga merasa lelah setelah perjalanan panjang, hari yang mulai gelap membuatnya ingin mengistirahatkan tubuh lelahnya. Setelah selesai dengan ritual mandi, tubuhnya terasa lebih segar. Segera memakai piyama dan memoles wajahnya dengan beberapa peralatan kecantikan malam. Setelah itu Jessica membuka tasnya dan mengambil benda kecil, tidak lupa segelas air yang tersedia di meja dan meneguk sebuah pil.
Alex terdiam di ambang pintu kamar yang terbuka lebar, dirinya mendadak mematung setelah melihat Jessica meminum pil KB. Alex tidak mungkin salah melihat, obat itu sudah menjadi bagian dari hidupnya sebagai seorang Dokter kandungan. Dalam hati Alex bertanya-tanya, apakah Jessica tidak mau mengandung anaknya lagi? Beberapa saat kemudian mata Alex melihat Jessica menyimpan kembali pil tersebut ke dalam laci meja rias. Artinya kemana saja Jessica membawa dan tidak lupa untuk menelannya, buktinya sebelumnya mengambil dari dalam tas, tapi selama di desa terus bersama dan tidak pernah satu kali pun Alex melihatnya. Kepala Alex benar-benar pusing memikirkan semua itu.
"Kok, kamu nggak masuk?" Jessica pun baru menyadari Alex yang berdiri di ambang pintu.
Alex pun tersadar dari pikiran-pikiran nya kemudian menatap wajah Jessica. Tidak ada yang terlihat aneh, bahkan Jessica hanya biasa saja. Memang Jessica tidak berniat untuk menyembunyikan apapun dari Alex, jika pun Alex melihatnya dan bertanya Jessica akan menjelaskan tentang dirinya. Sedang dalam hati Alex sangat kesal sebab, Jessica ternyata masih saja tidak mau mengandung anaknya.
Mungkinkah Jessica masih mencinta Devan?
"Alex!" Panggil Jessica yang kini berdiri di tempatnya.
Alex pun tersadar untuk kedua kalinya, pikirannya benar-benar kacau setelah tahu Jessica menggunakan pil KB.
"Kamu kenapa?" Tanya Jessica lagi, dirinya bingung dengan sikap Alex saat ini.
Tapi pandangan mata Alex yang dingin membuatnya merasa takut, selangkah Jessica pun mundur dan melepaskan tangannya yang memegang tangan Alex. Dirinya tidak ingin ada pertengkaran, atau mungkin sikap kasar seperti dulu. Jika itu terulang lagi Jessica akan pergi dan tidak akan pernah kembali. Karena tidak ada sejarahnya kesempatan ketiga, Jessica hanya manusia biasa yang ingin bahagia.
__ADS_1
Alex pun cepat-cepat mengusir pikirannya, tidak ada Devan lagi dalam hidup mereka. Jessica pun mengatakan tidak ada cinta untuk Devan lagi, selain cinta sebagai sahabat. Terbukti saat di desa tatapan Jessica pada Devan hanya biasa, tanpa ada hal terpendam lainnya.
"Aku sedang lelah, boleh siapkan handuk?" Alex menyadari ada rasa takut di wajah Jessica saat ini, dirinya pun berusaha untuk mengendalikan diri berharap tidak lagi terbakar api cemburu buta.
"Ingat Alex, jangan sampai dia pergi lagi, kau tidak bisa hidup tanpa dia. Jangan sampai lepas kendali," batin Alex berusaha untuk tetap tenang, sungguh cinta yang begitu besar kadang bisa membuatnya kehilangan akal sehat.
"Iya," Jessica mengangguk dan mengambil sebuah handuk.
"Makasih," Alex mengecup kening Jessica, dirinya berusaha untuk tetap tenang dan mengendalikan diri.
"Iya, aku siapin pakaian ganti," kata Jessica lagi.
"lya" Jessica pun mengangguk mengerti.
Alex segera memasuki kamar mandi, menutup pintu dan mengguyur tubuhnya di bawah shower. Berusaha mendinginkan otak panas yang sedang kebakaran. Lama Alex terdiam berusaha untuk membuat dirinya tenang, membasahi tubuhnya tanpa henti.
"Apa dia belum yakin pada ku?" Alex bertanya pada dirinya sendiri, memecahkan segala macam perdebatan di kepalanya
__ADS_1
Mungkin itu adalah jawaban yang tepat, Alex kini menyimpulkan bukan cinta Jessica pada Devan yang masih ada hingga meminum pil KB. Melainkan keraguan di hati Jessica terhadap cinta Alex, artinya saat ini harus berusaha untuk membuat Jessica percaya bahwa dirinya benar-benar mencintai sejak dulu sampai kini dan seterusnya. Alex sudah mendapatkan sebuah kesimpulan, sehingga menyelesaikan mandinya dengan secepat mungkin. Setelah itu keluar dari kamar mandi, dan ternyata Jessica sudah menyiapkan pakaian untuknya. Secangkir kopi hangat berada di atas meja nakas.
"Aku lihat Cahaya dulu, apakah dia sudah minum susu," kata Jessica selesai menyiapkan keperluan Alex.
"Cepat kembali," kata Alex sambil tersenyum.
"Tidak lama," Jessica pun segera menuju kamar tidur putrinya.
Selesai memakai pakaian Alex pun duduk di sisi ranjang, menyeruput kopi hangat buatan Jessica. Sesaat kemudian matanya mengarah pada laci meja rias, dimana di sanalah Jessica meletakkan sebuah pil KB. Alex pun bangun dari duduknya, membuka laci tersebut kemudian mengambilnya. Sesaat kemudian mengambil sebuah obat dari dalam laci lainnya dan menggantinya dengan milik Jessica. Obat sama persis dari segi bentuk, tetapi dengan manfaat yang berbeda. Alex tidak ingin kehilangan Jessica lagi, tidak ingin bertanya pula, takut malah menjadi beban bagi istrinya. Alex pun tidak ingin kehilangan Jessica, dengan kehamilan kedua akan mengikat Jessica untuk tetap bersama dengannya untuk selamanya.
"Ternyata Cahaya sudah tidur, kayaknya dia lelah banget," kata Jessica sambil melangkah masuk kembali ke dalam kamar.
Alex yang sudah kembali duduk di sisi ranjang pun melihat kearah Jessica.
"Biarka saja, dia memang sangat bahagia selama di desa bersama mertua Reyna," jelas Alex membenarkan.
"Iya, sih. Kayaknya Mama Arni pengen banget punya cucu. Sampai-sampai menangis waktu Cahaya berpamitan pulang," Jessica naik ke atas ranjang dan menarik selimut.
__ADS_1
"Itu wajar, lagi pula Nanda sudah lama menikah tapi belum memiliki anak," Alex pun ikut berbaring di samping Jessica.