Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Kalau dikasih tidak nolak,,,


__ADS_3

Nayla sedang memasak makanan untuk dibawa ke rumah sakit, entah mengapa pagi-pagi sekali Devan sudah menghubungi dirinya dan ingin dimasakan sambal tempe dan rendang daging.


"Selesai,, nasi,, tempe sambal dan rendang," ucap Nayla sambil tersenyum ketika tiga buah rantang telah tersusun rapi.


Setelah selesai Nayla segera menuju kamar,, ternyata Felix sudah bangun,, dengan senang hati Nayla menggendongnya.


"Yah!!!" ucap Felix.


"Ya ampun pagi-pagi sekali sudah memanggil ayahnya," ucap Nayla kesal rasanya, Felix yang terus memanggil ayahnya, kapan bocah itu memanggil dirinya yang selalu bersama.


"Bunda," ucap Nayla seakan mengajarkan pada Felix untuk memanggilnya juga, tapi yang dikatakan bocah itu hanya ayahnya saja.


Akhirnya Nayla memutuskan untuk memandikan anaknya,, memakaikan pakaian yang bagus, berlanjut dengan Nayla yang bersiap-siap.


"Rey,, kamu hari ini dinas pagi atau malam?" tanya Nayla.


"Malam Nay,, hari ini aku tidur aja di rumah," jawab Reyna.


"Oke aku pergi yah," pamit Nayla.


"Iya hati-hati," ucap Reyna.


Nayla pergi dengan menumpangi taksi, bisa saja dirinya meminta Nanda untuk mengantarkan mereka tapi untuk hari ini Nayla tidak mau merepotkan Nanda. Sudah seringkali Nayla merepotkan Nanda hingga rasanya tidak enak hati pada Nanda, sekalipun Nanda tidak pernah mempermasalahkan sama sekali jika direpotkan oleh sahabatnya Nayla.


Sampai di rumah sakit Nayla bergegas masuk menuju ruang rawat Devan, sepanjang perjalanan menuju rumah sakit mulut Felix terus memanggil ayahnya tanpa henti. Seakan sudah rindu ingin bermain bersama, apalagi setelah kemarin Devan telah sadar.


"Yah!!!" teriak bocah itu padahal baru saja Nayla mendorong pintu belum juga dirinya melangkah masuk,, tangannya sudah mengarah pada Devan yang setengah duduk di atas brankar.


"Sini," ucap Devan sambil menggerakkan tangannya yang membuat Felix semakin meronta-ronta ingin duduk di pangkuan sang ayah dan benar saja setelah duduk di pangkuan sang ayah, Felix sangat bahagia seakan bangga.


"Felix kangen Ayah nggak?" tanya Devan yang membuat Felix mengoceh tidak jelas,, mungkin yang dari dalam sudah benar tapi sampai di mulutnya hanya terdengar ocehan yang tidak dimengerti sama sekali. Akhirnya Devan hanya mengatakan iya dalam setiap ocehan Felix, seketika Felix tertawa terbahak-bahak menganggap Devan mendukungnya.


"Ini Mas makanannya,, kamu sudah makan?" tanya Nayla.


"Belum,, nungguin kamu..." jawab Devan yang tidak perduli sama sekali biarpun Nayla menganggapnya gila sebab itu memang kenyataannya. Dia sangat tergila-gila pada mantan istrinya.


"Kok nungguin aku?" tanya Nayla dan di dalam hati Nayla mengatakan bahwa dirinya tidak ada kewajiban merawat Devan,, jadi kenapa harus menunggu dirinya.


Sungguh aneh tapi nyata.


"Kenapa? nunggu orang tersayang namanya," jawab Devan yang membuat Nayla hampir saja muntah mendengar perkataan Devan,, mungkin sejak setelah tersadar dari koma membuat otak mantan suaminya itu koslet dan semoga saja cepat kembali seperti semula.


Dengan segera Nayla menyajikan makanan dan membawanya mendekati Devan.


"Tangan Mas sakit," ucap Devan yang merintih seolah sedang menahan sakit.


"Coba aku lihat,, ini megang Felix bisa, aku nggak bodoh yah Mas,, aku juga sarjana kesehatan," ucap Nayla.


Devan sempat melupakan itu,, dengan terpaksa dirinya makan dengan tangan sendiri tanpa suapan dari Nayla seperti yang dia harapkan tadi.


"Cu....cu" teriak Felix.


"Ya," ucap Nayla sambil membawa Felix duduk di sofa, dengan memunggungi Devan seperti yang dilakukannya kemarin. Dia memberikan ASI dengan memunggungi Devan.


Pintu terbuka Ana,, Rani dan Bima Putra, mereka tersenyum melihat ada cucu kesayangannya di sana.


"Hai cucu Oma,, udah lama datangnya?" ucap Ana sambil tersenyum.


"Yah!!!" ucap Felix sambil melihat sang ayah,, mungkin ingin mengatakan sesuatu tentang sang ayah namun hanya bisa berkata yah dan menunjuk Devan.

__ADS_1


"Iya," ucap Ana.


"Felix,, apa kabal?" ucap Rani juga dengan suara cadelnya.


"Kabar ompong bukan kabal," ejek Devan pada Rani.


Rani mengibaskan tangannya seakan tidak perduli pada Devan.


"Sombong sekali," ucap Devan sambil mendesus dan tersenyum geli melihat keponakan kesayangannya tersebut.


"Cu...cu,, Yah!!!" ucap Felix lagi.


Devan seketika melihat Felix,, mendengar ucapan Felix barusan membuatnya juga ingin menjadi bayi dadakan.


"Felix," ucap Nayla yang ingin menarik anaknya agar baring di pangkuannya dan memberikan ASI. Tetapi Felix ingin berdiri sambil memeluk dirinya dan memanggil Devan.


"Yah!!! cu...cu...," teriak Felix lagi.


Devan mengangguk sekalipun ajakan Felix membuatnya juga merasa haus dadakan.


"Cuma ayah saja yang diajak? Kakak Rani tidak diajak minum susu?" tanya Rani.


Ana dan Bima Putra saling pandang sambil menahan tawa, keduanya baru mengerti maksud Felix setelah Rani menjelaskan.


"Felix haus kan? kalau haus ayo cepat," ucap Nayla yang ingin segera memberikan ASI pada Felix,, karena kalau tidak mulut Felix malah memanggil ayahnya dan mengajak minum ASI juga.


Sungguh konyol sekali!!!


"Yah!!! cu...cu," teriak Felix lagi.


"Ayah mau minum susu,, Mbak Nayla? Ayah emang bayi? tapi kalau memang mau,, ayo Yah, menyusu sama Mbak Nayla, kayak Felix," ucap Rani seperti jerami yang sedikit dilemparkan api seketika terbakar api. Bahkan dengan polosnya Rani mampu menjelaskan apa yang dimaksud dengan Felix. Wajah Nayla langsung memerah menahan malu,, apalagi di sana ada Ana dan Bima Putra yang sedang menahan tawa mereka.


Apa yang sedang Devan pikirkan? menjadi duda sangat menyiksa sekali,, apalagi bukan hanya ingin dua benda kenyal itu tapi juga ingin yang lainnya.


"Yah,, itu nasinya dimakan kok malah diam saja," ucap Rani yang menyadari bahwa Devan hanya diam saja dan tidak tahu sedang memikirkan apa di otaknya.


"Ckkk," Devan kembali melanjutkan makannya hingga akhirnya selesai juga.


"Ayah mikirin apa?" tanya Rani.


"Mikirin tawaran Rani menjadi adik bayi," ucap Alex yang kebetulan tidak sengaja mendengar percakapan mereka tadi.


Devan seketika menatap Alex melemparkan sebuah kotak tisu yang hampir saja mendarat di wajah pria itu. Alex meletakkan kembali pada tempatnya, lalu tersenyum lucu pada Devan.


"Sudah masuk tidak pakai salam, malah bicara sembarangan," ucap Devan.


"Om Alex aja yah Felix, di ajak," ucap Alex sambil terkekeh geli.


"Yah!!! cu...cu," ucap Felix yang tidak mau menawarkan pada Alex yang dia inginkan sang ayah ikut menyusu seperti dirinya.


"Felix aja dulu,, kalau Ayah tunggu nanti kalau Felix sudah bobo," ucap Alex lagi lalu tertawa lebar.


Wajah Nayla sudah sangat memerah, mengapa bisa Felix dan Alex malah membahas hal aneh, jika Felix murni karena kepolosannya,, maka lain halnya dengan Alex yang ingin membuat suasana semakin menegang.


"Dasar gila!!!" ucap Devan yang yang sayangnya tidak ada benda di sekitarnya yang bisa dilayangkan ke dekat Alex, jika ada maka sudah pasti akan melayang ke udara dan mendarat ke wajah Alex.


"Tapi kalau dikasih nggak apa-apa sih," ucap Devan.


"Devan" ucap Ana.

__ADS_1


"Ampun Ma," ucap Devan sambil menangkup kedua tangannya,, takut pada sang Mama yang nantinya akan mengamuk.


"Ma,, Nayla pulang yah," ucap Nayla yang bangkit namun Rani memegang tangannya.


"Mbak Nayla, Rani masih ingin main dengan Felix," ucap Rani dengan senyum manisnya.


Hati Nayla ingin sekali berkeras,, tapi tidak bisa senyuman Rani membuatnya luluh seketika.


"Nayla,, kalau kamu pulang secepat ini,, Devan bisa tidak mau makan,, tidak mau minum obat," ejek Ana.


"Mama," ucap Devan sambil membulatkan matanya menatap Ana.


"Memang iya,, semalam ayah bilang begini," ucap Rani sambil naik ke atas meja agar semua melihat dirinya yang mempraktekkan gaya Devan berbicara.


"Makanan ini nggak seenak masakan Nayla,, aku tidak mau makan, gitu Mbak Nayla," ucap Rani.


"Kamu tidak usah mengarang," ucap Devan.


"Mengarang apanya ini bukan pelajaran bahasa Indonesia seperti di sekolah,, itu benar,," ucap Rani sambil menatap Ana.


"Betulkan Oma?" ucap Rani.


Semua beralih menatap Ana.


"Iya" jawab Ana.


"Nah kan?" ucap Rani yang merasa bangga karena semua yang dikatakan memang benar.


"Udah sekarang kita makan buah dulu,, Oma barusan membeli buah," ucap Ana sambil memotong buah.


"Ayo Ayah dimakan atau harus disuapin Mbak Nayla?" ucap Rani yang sering dipanggil oleh Devan ompong itu sangat suka membuat Devan marah, kali ini pun rasanya dia puas mengejek ayahnya tersebut.


Devan mengusap wajahnya,, ingin menghajar tetapi dia terlalu menyayangi keponakan nakalnya itu, akan tetapi apa yang dilakukannya membuat Devan jengkel.


"Caelah malu-malu," ejek Rani lagi yang tidak ada habis-habisnya mengejek Devan dan Nayla.


"Cie main tetap-tatapan mata juga," ucap Rani lagi.


Devan melemparkan sepotong buah apel pada Rani,, tapi buah apel itu meleset membuat Rani tersenyum bahagia, bahkan hingga menjulurkan lidahnya pada Devan.


"Nggak kena," ejek Rani.


"Ma, itu Rani ngeselin," adu Devan pada Ana.


"Itu kan hasil didikan kan kamu sendiri,, makanya dia jadi begitu, kamu kan jail juga," ucap Ana membuat Devan hanya bisa meneguk salivanya kasar.


Felix merasa perutnya kenyang,, seketika menatap Devan dan ingin berpindah duduk di atas pangkuan Devan


"Yah!!! cu...cu," ucap Felix sambil menunjuk Nayla, ingin mengatakan bahwa dirinya sudah kenyang.


"Iya, Ayah juga minum susu," bisik Alex.


Devan meninju perut Alex cukup kuat,, walaupun begitu tetap saja Alex tertawa melihat wajah Devan. Tapi yang lain tidak tahu apa yang menjadi pembahasan mereka berdua, Devan menarik kepala Alex agar mendekat kepadanya.


"Kalau dikasih nggak nolak sih," bisik Devan.


"Kurang ajar!!!" ucap Alex sambil keduanya tertawa lebar.


Sedangkan yang lainnya hanya melihat tanpa tahu apa yang tengah dibicarakan oleh dua sahabat yang sudah kembali akrab seperti dulu lagi. Nayla hanya diam seperti patung,, dirinya sendiri bingung apa gunanya dia berada di sana, menjenguk Devan seharusnya hanya sebentar saja sudah cukup, tapi tidak masalah Nayla bahagia dengan kedekatan Felix dan Devan, paling tidak Felix tidak merasakan penderitaan yang pernah dia rasakan, impian terbesar Nayla adalah membuat Felix bahagia, merasakan kasih sayang seperti anak lain pada umumnya. Lihat saja saat ini pun Felix tertawa saat Devan menggigit tangannya dengan gemas.

__ADS_1


__ADS_2