
"Nayla?"
Dari sisi lainnya terdengar suara seseorang menyebutkan namanya, Nayla pun menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah suara.
Nayla tersenyum melihat wajah orang tersebut, tentu tidak asing lagi di matanya.
"Mas Denis, apa kabar?" Sapa Nayla dengan ramahnya.
Masa lalu biarlah berlalu, mari menata masa depan yang jauh lebih baik.
Denis pun berjalan mendekati Nayla dan mengulurkan tangannya dan langsung dibalas oleh Nayla.
"Aku baik Mas, kalau Mas?"
"Aku juga baik," Denis beralih menatap dua anak kecil yang berdiri di samping Nayla.
"Ini anak-anak kamu?"
"Iya," Nayla tersenyum melihat kedua anaknya.
"Felix, Adnan, ayo salim sama Om Denis," titah Nayla, mengajarkan kedua anaknya untuk sopan pada orang tua
Adnan dan Felix pun menurut, mencium punggung tangan Denis.
"Sekarang, duluan ke mobil ya. Ada Pak supir yang menunggu."
"Iya Bunda," seru keduanya dan langsung berlari menuju mobil sesuai dengan perintah Nayla.
"Anak kamu udah besar ya?" Denis bisa melihat kebahagiaan Nayla yang begitu natural tanpa di buat-buat.
Nayla mengangguk cepat, kedua anaknya itu memang lucu. Menjadi obat lelah sekaligus semangat dalam segala hal.
"Kamu ngapain di sini? Mengantar istri atau?
"Ibu aku sakit, kalau istri," Denis menggeleng.
"Aku sudah bercerai," jelas Denis dengan wajah murungnya.
Nayla merasa tidak enak setelah bertanya perihal istri membuat wajah Denis berubah dengan seketika, mungkin bersedih mengenang rumah tangga yang hancur.
"Maaf, aku nggak maksud bikin kamu sedih," kata Nayla dengan tidak enak hati.
"Tidak masalah, santai saja."
__ADS_1
"Ehem," terdengar suara deheman dari arah lainnya, ternyata Devan yang berdiri di sana dengan wajah sangarnya.
"Mas?" Nayla terkejut saat melihat kedatangan Devan yang tiba-tiba, sudah pasti ini akan menjadi masalah pikir Nayla.
"Apa kabar Dok?" Denis mengulurkan tangannya pada Devan.
Sayangnya tidak di sambut sama sekali, Devan hanya melihat tanpa berniat membalasnya. Bahkan kedua tangannya masih pada masing-masing saku celananya.
Nayla menarik napas berat, lihat saja pria dengan jas putih. Suaminya itu pasti begitu jika sedang dalam mode dingin.
Mungkin Devan bisa bertingkah gila bila di hadapannya, tetapi tidak saat dihadapkan orang lain.
"Mas," Nayla memegang lengan Devan, tidak ingin suaminya itu malah menghajar Denis.
Mengingat Denis adalah orang yang pernah dekat dengan nya, bahkan sempat melamarnya saat itu.
"Baiklah aku permisi," Denis pun berpamitan melihat wajah Devan yang begitu dingin, tidak ingin membuat pertengkaran di tengah keramaian rumah sakit yang nantinya malah menjadi tontonan.
"Iya Mas," Nayla tersenyum canggung benar-benar menjaga perasaan Devan. Tetapi, juga berusaha menghargai Denis.
Kini Nayla mulai menarik napas dengan lega, beruntung tidak ada perkelahian.
Nayla pun mendongkak menatap Devan.
"Bukanya Mas sedang banyak pasien?"
Melihat Devan hanya diam Nayla jadi kebingungan, apakah dirinya melakukan kesalahan?
Sudah pasti jawabannya iya, Devan pasti kesal karena dirinya bertegur sapa dengan Denis.
Nayla pun berjalan di samping Devan, berusaha mengimbangi setiap langkah kaki Devan yang semakin berjalan keluar.
Sampai di parkiran Devan pun segera masuk ke dalam mobil, di ikuti Nayla dengan perasaan was-was.
"Ayah, nggak kerja?" Felix langsung bertanya karena baru saja Devan menyuruhnya pulang, dengan alasan Ayahnya akan bekerja.
Lalu mengapa kini malah berada di dalam mobil, selain untuk ikut pulang, lalu untuk apa lagi?
"Ayah, hanya ingin mengantarkan kalian pulang, takutnya Bunda lupa jalan pulang," jelas Devan menyindir Nayla.
Nayla terkejut mendengar jawaban Devan, tetapi memilih diam dan menatap keluar.
"Pak, jalan. Bapak juga masih ingat jalan pulang? Atau perlu saya arahkan?!" Tanya Devan pada supir yang ikut menjadi sasarannya.
__ADS_1
Glek! Nayla hanya bisa meneguk saliva, benar sesuai tebakan.
Suaminya itu sedang dalam mode kesal dan cemburu tingkat dewa, sudah jelas dirinya sedang mengandung anak Devan, mana mungkin masih mencari laki-laki lain.
"Ayah, Pak supir kan udah biasa ngaterin kita, kemana aja. Ke mall, ke sekolah, ke mana aja! Ayah aneh," Felix pun dengan cepat menjelaskan dirinya yang duduk di samping supir sambil melihat kebelakang.
Di mana kedua orang tuanya duduk dengan Adnan yang berada di tengah-tengah.
Devan yang duduk di samping Adnan melihat ke arah Nayla dengan tajam.
"Bagus kalau begitu, lain kali kalau mau pulang langsung pulang. Jangan menyeleweng!" Sindir Devan lagi.
"Mas, apaan sih!" Nayla pun kesal dan menatap Devan dengan tajam.
Dirinya tidak mungkin berbicara panjang lebar saat ini, mengingat kedua anaknya menyaksikan.
"Cuci tangan mu itu!" Titah Devan saat mobil terparkir di depan rumah.
"Iya," Nayla pun segera turun, memilih menurut dari pada pertengkaran semakin berlanjut lebih jauh lagi.
"Pakai sabun, awas kalau berani mengulanginya lagi, ini peringatan pertama dan terakhir!" Pungkas Devan.
Nayla pun mengangguk mengerti, sepertinya suaminya itu benar-benar tidak ingin ada yang menyapanya, untuk bersalaman saja tidak boleh. Selain Nanda, hanya Nanda yang boleh bersalaman dengan dirinya, tanpa terkecuali.
Devan kembali ke rumah sakit, Nayla pun sadar ternyata Devan pulang hanya untuk mengantarkan dirinya saja.
Sampai di depan pintu utama dirinya melihat Rima dan juga Aditya, sejenak Nayla menghentikan langkah kakinya dan menyaksikan dua orang yang tengah terlibat pertengkaran.
"Dok, aku tidak mau hamil!" Seru Rima sambil melemparkan sebuah alat uji kehamilan pada wajah Aditya.
"Kamu hamil?" Nayla terkejut mendengarnya, Rima pun memutar lehernya melihat Nayla.
Rima sejenak terdiam, tidak menyangka bahwa ada yang mendengar perkataannya.
"Rima, kamu hamil?" Nayla pun mengulangi pertanyaannya sambil melangkah semakin dekat.
Rima mengangguk lemah, kemudian mengusap air matanya.
"Ini karena Anda! Kenapa anda sangat menjengkelkan!" Kata Rima penuh kemarahan.
Aditya hanya diam tanpa bicara, entah apa yang dipikirkan pria itu.
Sekalipun sejak pulang bekerja Rima terus marah-marah dirinya hanya diam dan mendengarkan.
__ADS_1
"Huus! Jangan kencang-kencang, tidak enak ada yang mendengarnya," kata Nayla tidak ingin mertuanya mendengar pertengkaran Aditya dan Rima.
"Nayla, aku harus gimana?" Rima pun menangis dan memeluk Nayla begitu eratnya.