
"Sebentar yah," Jessica meminta pramuniaga toko untuk mencarikannya sebuah gaun berwarna pink sesuai keinginan Cahaya.
Setelah mendapatkan Jessica pun menunjukkan pada Cahaya.
"Berarti udah sama," Cahaya tersenyum melihat gaun Jessica yang kini dalam paperbag.
"Iya dong," Jessica memeluk Cahaya dan menciumi kening Cahaya hingga berulang kali.
"Kita ambil fotonya sekarang yah Mom," pinta Cahaya dengan tidak sabaran.
"Sayang kaki kamu kan masih belum bisa berdiri lama, ulang tahunnya dua hari lagi jadi Mom minta kamu untuk istirahat dulu, kalau di kursi roda begini nggak bisa berdiri gimana?" tanya Jessica dengan senyuman manis agar putrinya mengerti.
"Ya udah Mom gaunnya simpan dulu, Aya kan mau foto sambil berdiri," ucap Cahaya.
"Anak Mom pintar sekali," Jessica mengacungkan jempol pada Cahaya.
"Dad, kita pulang yah," ucap Cahaya lagi.
"Ya," Alex mengangguk setuju.
"Aditya" panggil Jessica.
Aditya pun berbalik, tersenyum setelah melihat orang yang dicarinya.
"Ternyata kamu di sini, aku nyariin dari tadi," ucap Aditya.
Jessica sendiri yang mengirimkan pesan meminta Aditya menjemputnya karena dirinya harus segera menuju salah satu perusahaan cabang menangani beberapa karyawannya yang korupsi.
__ADS_1
"Aku bicara sama anak ku dulu yah?" Jessica pun berjongkok dan menatap Cahaya.
"Aya sama Daddy pulang duluan yah, Mom ada urusan sama Om Aditya," ucap Jessica.
"Iya Mom," Cahaya menurut dan tersenyum pada Alex.
"Bye sayang," Jessica pun melambaikan tangannya dan berjalan terlebih dahulu bersama Aditya.
Alex menatap Jessica yang semakin jauh dari pandangan matanya, hatinya terasa begitu sakit melihat Jessica pergi bersama laki-laki lain.
"Daddy," Cahaya menyadarkan Alex dari lamunannya.
"Iya," Alex kembali menatap Cahaya.
"Itu om Aditya sama Mom mau ke mana?" tanya Alex penasaran.
"Urusan?" ucap Alex.
"He'um! kata Oma waktu itu Mom sama Om Aditya mau menikah, menikah itu apa yah Dad?" tanya Cahaya.
"Menikah?" tanya Alex dengan kaki yang bergetar.
"Daddy kenapa?" tanya Cahaya.
Alex menggelang dengan cepat berusaha menormalkan detak jantung.
Menikah?
__ADS_1
Benarkah demikian?
Ataukah urusan yang dimaksud Jessica adalah pernikahannya dan Aditya.
"Daddy?" lagi-lagi Cahaya berteriak menyadarkan Alex dari lamunannya.
"Kita pulang," Alex pun segera mendorong kursi roda Cahaya dengan perasaan kacau.
Kenapa hatinya begitu takut jika Jessica menikah dengan orang lain?
#########
"Iya kenapa tidak?" ucap Aditya.
Alex terdiam mendengar jawaban Aditya.
Di sore hari Alex, memutuskan untuk menemui Aditya di rumah sakit di mana keduanya bekerja.
Sejak mendengar Cahaya mengatakan bahwa Jessica dan Aditya akan menikah membuat perasaan Alex tidak karuan.
Mungkin selama ini dirinya hanya diam tanpa melakukan apapun, namun percayalah dirinya sedang tidak baik-baik saja, ada perasaan rindu dan juga malu saat bertemu sehingga memilih diam memberikan sebuah kenyamanan bagi Jessica.
Namun untuk menikah lagi dengan orang lain Alex belum bisa melepaskan Jessica, sebab dirinya bukan memberikan kebebasan melainkan waktu untuk Jessica siap kembali padanya.
Kini di dalam ruangan yang tidak terlalu luas ini, Alex dan Aditya saling bertatapan, duduk di kursi dengan meja sebagai pembatas, tatapan mata yang masih mengarah pada Aditya seorang Dokter jiwa yang mampu membaca sedikit banyaknya pikiran Alex.
Lama keduanya diam sampai akhirnya Alex kembali bersuara.
__ADS_1
"Aku masih suaminya Aditya, kami belum bercerai sampai saat ini pun, lantas bagaimana bisa kamu berpikir menikahinya?" ucap Alex.