
Devan pun membuang bantal dari tangan Nayla, dan memeluk istrinya dengan erat.
"Kamu tahu kenapa Indonesia itu dari Sabang sampai Merauke?" tanya Devan.
Nayla terdiam dan tak menyangka Devan bisa memberikannya tebak-tebakan, bukankah suaminya itu pendiam dan sedingin es balok?
"Kenapa?" tanya Nayla.
"Di tanya malah nanya balik!" ucap Devan.
"Yang ngasih pertanyaan nggak jelas!" ucap Nayla.
"Karena kalau dari nikah paksa sampai cinta beneran itu kita sayang," jawab Devan.
"Mas tahu kenapa bumi itu bentuknya bulat?" tanya Nayla balik.
"Kenapa?" tanya Devan.
"Kalau bentuknya love, hati aku buat Mas," jawab Nayla.
"Kamu itu sudah pandai rupanya yah," Devan pun menghimpit Nayla dengan eratnya.
Tidak menyangka jika istrinya yang suka malu-malu kucing itu malah membuatnya panas dingin bila bersama.
"Ahahahaha," tawa Nayla menggelegar saat melihat wajah kesal Devan.
"Mas juga aneh yang pengantin baru itu Reyna, kok malah kita yang pagi-pagi olahraga," ucap Nayla.
"Ya tapi nggak apa-apa, pasti kedua sahabatmu itu juga sedang olahraga pagi, maklum namanya pengantin baru," ucap Devan.
"Apa mungkin ya Mas?" ucap Nayla.
Rasanya Nayla belum yakin jika Reyna dan Nanda sudah melakukan ritual pengantin baru.
"Sudah tidak usah dipikirkan kalau kamu mau Mas masih kuat," tawar Devan.
"Hueekkkkkk," segera Nayla menuju kamar mandi dan muntah-muntah, pagi ini dirinya belum sarapan membuat tubuhnya terasa tak enak.
Devan pun segera menyusul istrinya memijat tengkuk Nayla agar lebih baik.
"Kamu udah sarapan?" tanya Devan.
"Belum Mas," jawab Nayla.
"Ini bisa diomelin sama Mama, ayo mandi abis itu Mas temani sarapan," ucap Devan lagi.
"Di suapin ya Mas," Nayla tersenyum sambil cengengesan.
"Iya, mandi dulu yah," ucap Devan.
############
Sedangkan Reyna kini tak lagi tinggal di rumah kedua orang tuanya, dirinya harus tinggal dengan Nanda.
"Kamar aku di mana?" tanya Reyna sambil mengedarkan pandangannya melihat sekeliling rumah Nanda.
"Di sana boleh," Nanda menunjuk kamar yang biasa digunakan oleh Arni jika sedang mengunjunginya, dan sekarang Arni sedang berada di kediaman Puput.
Rumah sederhana dengan dua kamar tidur, satu dapur, ruang televisi dan ruang tamu cukup layak untuk dihuni keduanya, walaupun mungkin terlalu kecil bagi Reyna jika dibandingkan dengan rumah kedua orang tuanya.
"Ini rumah kamu punya sendiri atau ngontrak?" tanya Reyna.
"Ngontrak," jawab Nanda.
__ADS_1
"Oke!" Reyna pun menarik kopernya menuju kamar yang ditunjukkan oleh Nanda.
"Tapi itu kamar bekas tempat pemilik rumah ini bunuh diri," kata Nanda lagi.
Reyna pun menghentikan langkah kakinya, urung membuka pintu kamar tersebut, sedangkan Nanda segera masuk ke dalam kamarnya, Reyna meneguk saliva dan segera menyusul Nanda.
"Nanda kamu serius nggak sih?" tanya Reyna.
"Kamu itu perawat tapi bisa takut juga yah," ucap Nanda.
"Perawat juga manusia Nanda, lagian kalau nggak pakai baju perawat aku itu cuma manusia biasa yang bisa takut juga," jelas Reyna.
"Sedikit aku ceritakan, dulu rumah ini tempat tinggal sebuah keluarga dan salah satunya bunuh diri di kamar tadi, gantung diri, talinya juga masih ada di situ," bohong Nanda.
Semakin Reyna merinding, semakin membuatnya tersenyum bahagia dan bersemangat untuk menakut-nakuti Reyna.
"Dan kadang malam hari aku mendengar tangisan, kadang tawa dari kamar itu," ucap Nanda lagi.
"Nanda anterin aku pulang ke rumah Mama yah," Reyna merasa tempat tersebut tak layak untuk ditempati, pulang ke rumah kedua orang tuanya adalah pilihan terbaik.
"Mau tensi Mama kamu naik?" tanya Nanda.
Reyna pun menggeleng, sudah pasti Puput akan marah besar jika dirinya tidak menurut pada suaminya.
"Ya udah kembali ke kamarmu," ucap Nanda.
Reyna pun menggeleng dengan cepat, mana mungkin dirinya ke kamar mengerikan itu.
"Gimana kalau kita tukaran kamar?" tawar Reyna.
"Ini kamar aku, rumah aku, jangan coba-coba mengatur ku!" ucap Nanda.
Huuufffftt....
Nanda berpura-pura tidak mau tapi saat melihat mata Reyna yang menatapnya penuh harap membuatnya mengangguk lemah.
"Nggak usah geer, kalau bukan terpaksa aku juga nggak akan mau," ucap Reyna.
Ya ampun sampai di sini saja, masih saja keduanya terlibat pertengkaran yang amat panas, tak lama kemudian terdengar suara perut Reyna bahkan Nanda pun mendengar dengan jelas.
"Hehehe lapar, Nanda makan yuk!" ajak Reyna.
Nanda segera keluar dari kamar diikuti Reyna di belakangnya, menuju dapur dan memasak makanan seadanya, walaupun hanya nasi goreng dan juga telur dadar tapi cukup membuat nafsu makan Reyna bertambah.
"Enak, aku nggak nyangka kamu bisa masak," Reyna mengambil alih nasi goreng milik Nanda setelah nasi goreng miliknya habis.
Nanda hanya menatap tapi Reyna malah cengengesan, berlanjut menghabiskan milik Nanda.
"Hehehe enak! makasih ya Nanda," Reyna bersandar setelah kekenyangan, walaupun Nanda tidak memakan apapun asal perutnya kenyang.
"Aku harus dinas! kamu di rumah saja," ucap Nanda.
"Aku nggak berani," ucap Reyna cepat.
"Aku nggak lama, cuma sebentar saja! lagi pula masih siang begini," ucap Nanda.
"Tapi jangan lama yah Nanda, janji!" ucap Reyna.
"Kenapa kalau lama? kangen?" seloroh Nanda.
"Apaan sih!" ucap Reyna.
Reyna memilih masuk ke dalam kamar kembali, berisitirahat di sana sambil memainkan ponselnya, begitupun dengan Nanda setelah memakai baju dinas dirinya segera berangkat, ada kasus yang harus diselesaikan dengan segera sehingga meninggalkan Reyna di rumah sendirian, Reyna menatap dari jendela kamar melihat sepeda motor Nanda yang mulai keluar dari gerbang rumah.
__ADS_1
"Aku ditinggal pergi, aku tidur aja kali yah?" ucap Reyna.
Reyna pun memilih merebahkan tubuhnya hingga terlalu, beberapa jam kemudian dirinya terbangun ternyata hari sudah sore.
"Nanda kamu udah pulang?" Reyna terkejut melihat Nanda sudah duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Kamu nyenyak sekali tidurnya, sampai-sampai suami pulang pun tidak disambut," ucap Nanda.
Suami pulang?
Hueekkkkkk....
Ingin sekali Reyna muntah saat ini juga!
"Reyna aku ingin bicara serius padamu," Nanda meletakkan ponselnya dan melihat wajah Reyna dengan serius.
Reyna duduk bersila dan membalas tatapan mata Nanda.
"Aku juga mau ngomong serius, ini masalah pernikahan kita, kamu bilang rumah ini cuma ngontrak, oke! aku bakalan ikut bayar kontrakan ini, kedua masalah dapur aku akan mengeluarkan uangku juga dan ketiga kita tidak ada kontak fisik," tegas Reyna.
Nanda terdiam sejenak mencerna kata-kata Reyna barusan.
"Kamu udah paham dong atau kalau perlu kita buat surat kontrak perjanjian," ucap Reyna lagi.
"Yang pertama menikah denganku tidak semudah menikah dengan pria lain di luar sana, karena kamu tahu profesiku apa, kedua bercerai pun tidak akan mudah dan yang ketiga pernikahan ini tidak main-main, yang keempat kamu adalah tanggung jawabku! ingat pernikahan ini tidak main-main! tidak ada surat perjanjian sama sekali!" tegas Nanda.
"Apa?" Reyna menggeleng dengan cepat, bagaimana mungkin hidup selamanya dengan Nanda?
"Aku nggak mau nurut! lagian bukankah kamu seharusnya beruntung? kamu bisa tinggal gratis di sini ke depannya bahkan aku nggak akan membebankan kamu," ucap Nanda.
"Aku tidak suka membebankan wanita, kau harus menghargai aku sebagai suamimu, suka atau tidak!" tegas Nanda lagi.
Menikah bukan permainan hingga bisa bercerai kapan saja sehingga Nanda lebih memilih untuk menjalani dengan serius, bagaimana jika kedua orang tua mereka tahu jika mereka hanya pura-pura? tentu akan sangat kecewa.
"Aku nggak mau yah," Reyna mengambil kopernya dan membereskan semua barang-barangnya.
"Aku mau pulang ke rumah Mama," ucap Reyna lagi.
Reyna menarik kopernya dengan kasar, dan segera menuju pintu utama.
Belum sempat Reyna membuka pintu, sudah ada yang terlebih dulu mendorong pintu.
Puput, Pian dan juga Arni yang ternyata mengunjungi dirinya.
"Kamu bawa koper mau ke mana?" tanya Puput.
Nanda keluar dari kamar saat mendengar suara samar-samar dan ternyata mertuanya dan juga Mamanya Arni.
"Masuk Ma," Nanda mempersilahkan mertuanya untuk masuk.
"Iya," Puput mengangguk tapi masih bingung pada Reyna, dan Reyna hanya bisa menahan kesal padahal dirinya ingin pergi namun kalau sudah begini apa masih mungkin?
"Reyna kopernya kok dipegang terus?" tanya Puput.
"Iya Ma! baru saja diturunkan dari mobil tadi kecapean dan langsung istirahat, sekarang sudah lebih baik dan mungkin Reyna mau menyusun bajunya di lemari," jawab Nanda agar melindungi Reyna dari amukan Puput.
"Harusnya kamu dong yang mengambilnya," omel Arni sambil mengambil koper dari tangan Reyna dan memberikannya pada Nanda.
Nanda pun menerimanya dan membawanya masuk ke dalam kamar, Reyna ikut menyusul Nanda ke dalam kamar seketika mengibarkan bendera perang.
"Nggak usah sok jadi pahlawan kesiangan, aku nggak akan luluh," ucap Reyna.
Nanda hanya diam saja tanpa menjawab, menurutnya jika membalas dengan keras maka Reyna akan semakin keras, cukup sudah dirinya tersiksa saat malam tadi, ditambah lagi dengan pagi hari Reyna mandi dengan tubuh basah di bawah guyuran air shower, Nanda menyerah untuk menahannya, dirinya ingin menyentuh Reyna layaknya seorang istri.
__ADS_1
"Kenapa diam? kamu pikir aku mau nikah sungguhan sama kamu? nggak mungkin! pokoknya harus ada jarak diantara kita, paham!" tegas Reyna.