
Reyna terdiam di tempatnya perlahan menarik kursi meja makan lalu duduk berselang satu kursi dengan Nanda.
Reyna hanya diam melihat Nanda yang memulai sarapannya, setelah itu bangun dari duduknya menuju kamar untuk memakai pakaian dinas dan segera pergi.
Reyna hanya melihat dari kejauhan, tidak ada satu kata-kata pun yang keluar dari mulut Nanda.
Rasanya mau berbicara duluan pun tidak ada keberanian, sebab rasa bersalah.
"Loh, Nanda sudah pergi lagi," Arni memberikan sayuran yang dibelinya barusan pada Reyna sambil menunjuk Nanda yang sudah mengemudikan sepeda motornya.
Lagi-lagi Reyna hanya bisa diam tanpa bicara, sikap dingin Nanda benar-benar mengasingkannya.
"Ma aku kerja dulu ya!" pamit Reyna dan segera pergi.
Di dalam taksi Reyna hanya memikirkan Nanda, entah bagaimana caranya meminta maaf atas perlakuannya semalam.
Entah Nanda akan memaafkannya atau tidak, Reyna menyandarkan kepalanya pada jok.
"Kok dia nggak marah atau balas mukul akunya?" Reyna benar-benar berdebat dengan dirinya sendiri.
Hampir setengah hari berlalu, Reyna hanya diam saat Felix mengajaknya untuk bermain sekalipun dirinya hanya diam.
"Reyna kamu kenapa?" Nayla menepuk pundak Reyna hingga membuatnya terkejut.
Reyna pun tersadar saat menyadari Felix yang memberikannya mainan.
"Halo cucu Oma," Ana yang baru pulang berbelanja langsung mengambil Felix dan membawanya bermain.
Nayla bingung dengan perubahan sikap sahabat nya, Reyna yang cerewet mendadak menjadi pendiam.
"Kamu ada masalah sama siapa?" Nayla mencoba bertanya mungkin Reyna butuh teman untuk bertukar pikiran.
Reyna pun mengangguk dan melihat Nayla dengan raut wajah bersedih.
__ADS_1
"Kamu ada masalah sama Nanda? butuh teman curhat nggak?" tawar Nayla lagi, mengingat Reyna adalah wanita hebat menopang keluh kesahnya saat tengah terpuruk.
Lama Reyna menatap Nayla hingga akhirnya memeluk sahabatnya itu dan menangis tersedu-sedu meluapkan emosi yang tertahan.
Nayla semakin bingung dan bertanya-tanya, apakah sebenarnya terjadi hingga akhirnya Reyna menangis seperti ini? sejenak Nayla terdiam membiarkan Reyna menangis di pelukannya agar membuat perasaan lebih baik, hingga akhirnya Reyna menjauh dan mengusap wajahnya.
"Kamu kenapa? coba ceritakan sama aku mungkin kamu bisa lebih lega," ucap Nayla.
Reyna menatap sekitarnya, ruang tamu itu tampak kosong selain mereka berdua.
"Nggak ada siapapun atau kita cerita di kamar aku aja," Nayla bangun dan menarik Reyna masuk ke kamarnya.
Tidak akan ada yang berani masuk kamarnya kecuali atas izinnya, sebab Devan tidak memperbolehkan sembarangan orang memasuki ruang privasinya itu.
"Duduk dulu dan kalau sudah lebih baik kamu mulai pelan-pelan cerita, kamu tahu segalanya tentang pahitnya rumah tangga aku, apa mungkin kamu masih malu bercerita tentang hal pribadi juga?" ucap Nayla.
Keduanya duduk bersebelahan di sofa dengan Nayla yang menggenggam erat tangan Reyna.
"Kamu minum dulu," Nayla memberikan segelas mineral membuat Reyna lebih baik.
"Sampai akhirnya pas dia pulang dari luar kota tadi malam, puncaknya dia maksa aku dan malah tanpa sengaja memukul kepalanya dengan vas bunga," ucap Reyna sambil terus menangis.
Nayla sampai lupa bagaimana caranya menarik nafas mendengar pengakuan Reyna membuatnya merasa bingung.
"Aku harus gimana Nayla? biasanya dia banyak bicara dan berusaha deketin aku, sekarang...?" ucap Reyna.
Reyna bersandar sambil mengusap wajahnya yang penuh air mata, tak menyangka dirinya bisa begitu jahat.
"Wajar kalau dia meminta haknya sebagai suami, aku akui di sini kamu salah, tapi aku juga nggak sepenuhnya menyalahkan kamu mengingat kalian memang belum lama kenal, bahkan terus bermusuhan jadi wajar, terus sekarang kamu maunya gimana?" ucap Nayla.
"Aku nggak tahu, tapi aku merasa bersalah banget," ucap Reyna.
"Ya udah kamu minta maaf ke dia, di sini aku nggak memihak ke kamu ataupun Nanda, cuman yang aku tahu Nanda tidak suka berpacaran, bahkan setahu aku dia nggak pernah pacaran, aku akui dia menghargai kamu sebagai istri mungkin juga dia udah tertarik sama kamu, kamu melihat kan dia berusaha menjadikan kamu istri yang sesungguhnya walaupun kamu sering menolak? artinya dia menghargai kamu jika suami tidak menghargai istrinya dia nggak akan mau menyentuh istrinya,!itu terhina banget bagi istri, Reyna," ucap Nayla.
__ADS_1
Nayla berusaha menjelaskan pada Reyna bahwa dalam hal tersebut tak semua orang hanya ingin memanfaatkan saja, tetapi ada makna dibalik sikap Nanda.
"Gitu yah?" tanya Reyna sambil terus menatap Nayla.
"Menurut aku lelaki baik itu menikah seperti Nanda, buat apa pacaran aja nggak nikah juga? bukannya kamu juga nggak mau pacaran kamu kan yang pengen pacaran setelah nikah?" ucap Nayla lagi.
"Iya sih," Reyna terdiam tapi lagi-lagi dirinya memikirkan Nanda dengan rasa bersalah.
"Dia mau nggak yah maafin aku?" ucap Reyna lagi.
"Kamu harus mencobanya, kalau perlu bicara baik-baik lagian kalian udah nikah nggak ada salahnya juga memberikan haknya, lagian enak loh Reyna, entar udah nyoba kamu yang nagih," ucap Nayla.
"Apaan sih!" Reyna memukul pundak Nayla, saat seperti ini sahabatnya itu masih bisa menggodanya.
"Aku serius nanti kamu yang minta kalau udah nyoba, sekarang aja jual mahal," ucap Nayla lagi.
"Nayla, kamu itu yah" ucap Reyna.
"Sekarang kamu pulang minta maaf sama Nanda, pakai lingerie, menggoda suami sendiri itu nggak dosa," Nayla menuju lemari dan mengambil sebuah lingerie berwarna pink.
"Ini masih baru kamu bawa aja," ucap Nayla lagi.
"Apaan sih Nayla," ucap Reyna.
"Kamu nggak pengen bahagia? kamu mau menderita dulu seperti aku? seperti Jessica? kamu mau," kali ini Nayla memasang wajah serius.
"Nggak gitu juga kali Nayla," ucap Reyna.
"Ya udah ambil," ucap Nayla.
"Iya," ucap Reyna.
"Kamu pulang sekarang, sambut dia dengan manis, pakai dulu lingerie itu," ucap Nayla.
__ADS_1