Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Permainan!


__ADS_3

"Rima?" Nayla tersenyum saat melihat kedatangan seorang sahabatnya lagi, tentu saja liburan ini akan sangat menyenangkan.


Rima pun begitu bahagia sampai melepaskan tas di tangannya dan ingin memeluk Nayla.


Namun, siapa sangka ternyata tas itu jatuh tepat di atas kaki Aditya.


"Nayla," Rima menghambur memeluk Nayla dengan rasa bahagia.


"Aduh," Aditya meringis menahan sakit, rasanya luar biasa.


Andai saja yang melakukan Devan pasti sudah di hajar habis-habisan, sayangnya ini kecerobohan Rima.


Tentu Aditya tidak ada keberanian untuk membalasnya, marah saja tidak bisa.


"Ahahahaha," Devan dan Alex menertawakan Aditya, menurut keduanya hal yang seperti ini jarang terjadi hingga menjadi hiburan di malam ini.


"Dasar kurang ajar!" Seru Aditya kesal pada Devan dan Alex.


"Siapa yang menjatuhkan benda itu di atas kaki mu?" Tanya Alex.


"Istri mu sendiri!" Jawab Alex lagi.


"Jadi kau mengatakan bahwa istri mu sendiri kurang ajar?" Tanya Alex lagi.


Rima pun menatap Alex dan Aditya gantian, dirinya mendengar namanya di sebutkan membuat pertanyaan saja.


"Ada apa?" Tanya Rima belum menyadari apa yang terjadi.


"Dia mengatakan bahwa kau kurang ajar!" Jelas Alex.


Rima pun kesal dan menatap Aditya penuh tanya, benarkah Aditya mengatakan apa yang dikatakan oleh Alex.


"Kau jangan jadi kompor meleduk! Jangan berbicara asal!! Elak Aditya.


"Udah, kamu pasti lelah. Ayo minum dulu," Nayla berusaha menengahi, mereka di sana berlibur bukan bertengkar.


"Kamu pasti lelah kan?"


"Asik banget, kita bisa ngumpul bareng di sini," Reyna tersenyum penuh kebahagiaan, melihat mereka yang kini berkumpul bersama seperti keluarga.


"Gimana perjalanan ke sini?"

__ADS_1


"Aman dan nyaman, udara di sini itu segar sekali," jawab Rima dengan rasa bahagia.


Dari pada dirinya sendirian di rumah besar itu tentunya lebih memilih ikut liburan di desa.


"Ayo kita main!" Reyna pun mendekati Nayla, meletakan sebuah meja di tengah-tengah mereka dan meletakkan sebuah botol di atasnya.


"Peraturannya, saat botol ini mengarah pada salah satu dari kita maka harus memilih antara tantangan atau kejujuran, nggak boleh bohong, kalau milih kejujuran!" Tegas Reyna.


"Kamu juga termasuk ya!" Ujar Jessica sambil tertawa kecil.


"Siapa yang memutar botol ini duluan?"


"Aku saja!" Reyna langsung menawarkan dirinya saat Nayla bertanya.


"Silahkan."


Reyna pun memegang botol dan mulai memutarnya.


Sejenak semua terdiam, fokus pada botol yang terus berputar. Sampai akhirnya botol berhenti menunjuk Devan.


"Waaaaaaa......." semua bersorak sambil menatap Devan, seakan ketegangan berubah menjadi tawa.


"Aku yang bertanya!" Jessica mengajukan dirinya.


"Hal aneh apa yang pernah kamu lakukan selama menikah diam-diam dengan Nayla?" Tanya Jessica.


Semua meneguk saliva, mendengar pertanyaan Jessica yang mungkin saja cukup sensitif. Tetapi, kembali lagi pada peraturan awalnya, harus menjawab dengan jujur.


Devan pun menatap Nayla, dan tersenyum mengingat masa lalunya bersama Nayla.


"Tidak ada pertengkaran ya," Reyna was-was takut liburan mereka berantakan karena malam ini.


"Tidak, ini hanya permainan. Tidak ada pakai perasaan," jelas Jessica sambil tersenyum membuat yang lainnya merasa lega.


"Jawab Mas," Nayla menunjuk Jessica, artinya dirinya meminta Devan segera menjawabnya.


"Ada, dulu kami selalu bertemu di dapur. Mengendap-endap seperti maling, pernah juga kami mencuri buah mangga," jelas Devan sambil terkekeh geli.


"Di mana?" Tanya Rima penasaran.


"Di rumah sendiri, hampir ketahuan satpam dan kami bersembunyi," lanjut Nayla di iringi tawa yang menggelegar luar biasa, bahkan beberapa butir air matanya sampai menetes karena terlalu banyak tertawa.

__ADS_1


"Gila nyuri di rumah sendiri," Rima sampai melongo mendengar nya.


"Ada lagi yang lebih gila," ujar Devan.


"Mas," Nayla tidak ingin mendengar Devan melanjutkan cerita, rasanya malu sekali mengingat masa lalu tersebut.


"Nggak apa-apa, seru tahu. Itu cuman masa lalu!" Ujar Jessica.


"Di dapur Nayla ngidam malam-malam pengen di bikinin nasi goreng, setelah aku buat dia malah nggak mau makan. Eh, ternyata bumil pengen disuapin tapi nggak berani ngomong," lanjut Devan sambil tertawa.


"Apaan sih," kesal Nayla.


"Caelah bumil masih malu-malu aja," kata Devan lagi.


"Kamu hamil lagi?" Tanya Jessica dengan antusias.


"lya," Nayla mengangguk membenarkan apa yang di katakan oleh suaminya.


"Wah, selamat," Jessica pun dengan bahagia memeluk Nayla, begitu pun Rima, Reyna yang ikut memberikan ucapan selamat.


"Kamu nggak ada rencana nambah lagi?" Tanya Nayla sambil tertawa kecil.


"Nambah lah, masa enggak," kata Alex dengan cepat.


"Wah, ada yang sedang proses nih," ujar Nayla dengan bahagia.


Jessica tersenyum kecut sambil menatap Devan, hanya mantan suaminya tersebut yang mengetahui keadaan sebenarnya tentang dirinya.


Malah kini Jessica tidak tega menyampaikan keadaannya yang buruk pada Alex, melihat begitu besar harapan Alex untuk memiliki anak lagi.


"Sekarang, giliran Dokter Devan yang memutar botol," Reyna pun memberikan botol pada Devan.


Botol pun kembali di putar, semuanya kembali diam sampai akhirnya botol berhenti dan mengarah pada Nanda.


"Wah, ini seru!" Ujar Nayla dengan bahagia.


Nanda menggaruk kepalanya karena takut pada pertanyaan yang akan datang padanya.


"Aku aja yang nanya," Reyna mengajukan dirinya.


"Masa istri nanya ke suaminya sendiri," Rima pun merasa lucu dengan sikap Reyna yang sedikit aneh.

__ADS_1


"Hehehe," Reyna tersadar dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


__ADS_2