
Nayla meneguk saliva, bukan pertama kali tapi menurutnya tak perlu juga dikatakan dengan jelas.
"Ya ampun sayang,, kok kamu tambah menggemaskan," bisik Devan lagi di saat banyaknya tamu yang tengah menatap ke arah mereka berdua.
"Mas aku nangis yah,," ucap Nayla.
"Jangan! belum juga diapa-apain," ucap Devan.
Nayla seketika mencubit lengan bagian atas Devan,, hingga Devan mengadu kesakitan sekalipun Devan hanya berakting agar membuat Nayla bahagia merasa dirinya kesakitan. Sejujurnya cubitan Nayla bukan masalah, rasa sakit pun bisa jadi rasa cinta.
"Sayang ke kamar sekarang yuk!" ajak Devan.
"Ngapain?" tanya Nayla yang entah polos atau tolol,, Nayla malah dengan bodohnya bertanya.
"Kita tangkap nyamuk atau apa gitu," Devan tau Nayla belum menyadari pembahasan mereka, dalam hati terkekeh geli bila nanti tahu dirinya sedang membahas ranjang yang panas.
"Emang di kamar banyak nyamuk Mas?" tanya Nayla lagi sambil berpikir keras.
Seketika Nayla menatap atap gedung yang rasanya tidak mungkin jika gedung tersebut banyak nyamuk seperti yang dikatakan oleh Devan barusan. Nayla kembali menatap Devan bingung.
"Banyak sayang, di sini banyak nyamuk, lihat saja ini saja sampai cendol, pasti karena digigit nyamuk" Devan menatap dua benda kenyal Nayla yang tertutup gaun, walaupun tidak menampakkan bentuknya dengan jelas tapi cukup terlihat bentuknya yang sedikit menonjol.
"Mas" ucap Nayla.
"Hehehe," Devan terkekeh,, melihat wajah Nayla yang menahan malu.
Sampai akhirnya seseorang mendekati keduanya ingin mengucapkan selamat.
"Dokter Devan selamat," Dokter Aditya menjabat tangan Devan, berpelukan ala-ala sahabat sejati dengan penuh bahagia.
"Terima kasih Dok," balas Devan.
"Kamu sudah dua kali, saya sekali juga belum pernah," Dokter Aditya mendesus lesu mengingat nasib percintaan yang tak pernah mulus.
__ADS_1
"Sabar semua ada jalannya," ucap Devan.
"Coba saya lebih cepat sedikit saja saat itu, mungkin yang menjabat tangan Ayah Nayla barusan adalah saya," bisik Dokter Aditya membuat Devan menatap dengan bertanya-tanya.
Ada kemarahan yang ingin meluap, bahkan ingin sekali tangannya melayangkan bogem mentah di wajah Dokter Aditya.
"Ya,, sebelumnya saya sudah cukup tertarik pada waktu dia bekerja di rumah sakit,, tapi setelah saya tahu saingan saya ternyata anda, tentu saya memilih mundur," ucap Dokter Aditya lagi.
Devan menatap Nayla tengah tersenyum pada teman-temannya yang berjalan ke arahnya,, senyum istrinya tersebut memang sangat menawan. Apakah Nayla begitu memiliki daya tarik yang tinggi sehingga siapa saja begitu mudah jatuh hati padanya.
Seketika Devan kembali menatap Dokter Aditya.
"Jangan macam-macam," Devan merapikan kerah jas Dokter Aditya, tapi bisa juga tangan itu berubah kasar menghantam.
"Aku terlambat," Dokter Aditya mendesus dan segera mendekati Nayla yang berdiri tepat di samping Devan.
Ingin memberikan salam dan ucapan selamat bahagia atas pernikahan, sayangnya saat Nayla akan menerima uluran tangan Dokter Aditya,, Devan malah menarik Nayla agar mendekat padanya menjauh dari Dokter Aditya. Membuat Nayla bingung bahkan sedikit terkejut, dalam hati bertanya-tanya apakah yang terjadi pada suaminya. Menyadari Devan tidak memberikan izin memegang tangan Nayla walaupun hanya untuk ucapan selamat,, Dokter Aditya tersadar betapa posesifnya Devan.
"Mas kenapa?" tanya Nayla.
Sampai akhirnya teman-teman sesama perawat datang mengucapkan selamat.
"Selamat yah Nayla," ucap Zaskia.
"Terima kasih," ucap Nayla.
"Nayla, ayang bebebnya aku," Rima seketika memeluk Nayla dengan eratnya,, tidak menyangka kini Nayla menjadi istri dari pemilik rumah sakit dirinya bekerja.
Nayla pun memeluk Rima tidak kalah eratnya,, Rima memang baik hingga Nayla sangat suka berteman dengannya.
"Cie... kamu udah jadi Nyonya dan aku jadi karyawan,, minta gaji dinaikin boleh lah yah?" ucap Rima dengan kocaknya.
"Kamu ini ada-ada saja," Nayla tahu Rima hanya bercanda saja, tapi jika serius juga tidak masalah sebab tahu temannya itu tulus berteman dengannya.
__ADS_1
"Kalau kamu nikah aku gimana? ya ampun," Rima sampai menepuk dahinya sambil mulai menatap Dokter Aditya.
Nayla tersenyum melihat tatapan mata Rima memandang kagum Dokter Aditya.
"Ehem.... Ehem....,," Nayla berdehem mengejek Rima.
"Ganteng yah!" ucap Nayla.
"Ganteng banget Dokter Aditya," Rima tersenyum sambil tertawa.
Mendengar namanya disebutkan,, Dokter Aditya menatap Rima dengan wajah datarnya.
"Dia liatin kamu tuh," bisik Nayla.
"Ya ampun Dok, aku tahu aku cantik, udah lamar aku aja ke rumah orang tuaku," ucap Rima,, seketika berlari pergi secepat mungkin.
Tatapan mata Dokter Aditya yang tajam dan dingin membuatnya merasa sangat horor.
"Kamu yah," Devan menarik telinga Nayla kesal karena istrinya tersebut menatap pria lain cukup lama.
"Mas sakit," rengek Nayla dengan suara pelan,, agar tidak ada yang mendengar selain Devan.
"Makanya jangan nakal!!!" ucap Devan.
"Saya permisi Dok," pamit Dokter Aditya.
"Iya terima kasih,"
"Sayang kamu tidak boleh berbicara pada Dokter Aditya" ucap Devan.
"Kenapa?" tanya Nayla bingung.
"Bukan mahrom," ucap Devan.
__ADS_1
Devan tidak suka ada yang menatap istrinya apalagi Nayla yang tersenyum pada pria lain,, Nayla hanya untuknya seorang.