Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Sungguh hati Nayla benar-benar sakit,,,


__ADS_3

"Langit malam ini sangat indah yah,, banyak bintang juga," ucap Rian sambil menatap langit.


"Iya mas sangat indah," ucap Nayla yang menjawab seadanya saja.


Tidak lama kemudian terlihat sebuah bintang jatuh,, Nayla dengan segera mengangkat kedua tangannya untuk membuat suatu permohonan.


"Nayla,, kamu mau ngapain?" tanya Rian yang bingung melihat Nayla.


"Berdoa,, katanya kalau ada bintang jatuh terus kita membuat suatu permohonan,, maka permohonan itu akan terkabul," jawab Nayla sambil tersenyum cerah.


Rian langsung ikut tersenyum begitu mendengar penjelasan Nayla.


"Itu hanya mitos Nayla," ucap Rian sambil terus tersenyum.


"Iya,, tapi nggak apa-apa,, kan nggak ada salahnya mencoba,," ucap Nayla lagi yang sangat yakin.


"Iya,, Iya,, Nayla," ucap Rian sambil mengangguk lalu tersenyum menatap kagum pada kecantikan Nayla.


Namun,, tiba-tiba Nayla memegang perutnya,, Nayla tersadar sejak tadi sore Nayla belum makan apa-apa,, hingga perut Nayla terasa sangat sakit saat ini.


"Nayla,, kamu kenapa?" tanya Rian khawatir pada Nayla.


"Mas," ucap Nayla sambil meringis kesakitan,, karena saat ini perutnya semakin sakit bahkan saat ini wajah Nayla terlihat langsung berubah pucat.


"Nayla,, ayo katakan kamu kenapa?" tanya Rian lagi yang benar-benar panik begitu melihat Nayla keringat dingin dan juga tampak sangat pucat.


"Mas,, maag aku kambuh lagi,, aku mau masuk ke kamar ku mas,," ucap Nayla mencoba menahan sakit pada perutnya.


Nayla segera berdiri dengan sedikit menunduk,, sedangkan tangan Nayla tampak memegang perutnya terus.


Rian sangat tidak mungkin membiarkan Nayla pergi dengan keadaan yang begitu pucat,, Rian segera memapah tubuh Nayla tanpa meminta izin Nayla terlebih dahulu karena Rian sangat khawatir pada Nayla.


"Mas tidak perlu,, aku bisa sendiri kok mas," ucap Nayla menolak Rian memapah dirinya karena tidak ingin merepotkan Rian.


Namum Rian sama sekali tidak perduli dengan penolakan Nayla,, Rian tetap memapah tubuh Nayla yang saat ini sedang berjalan menuju kamar.

__ADS_1


"Nayla kamarmu letaknya dimana? atau sebaiknya aku membawa mu ke dokter saja yah?" ucap Rian memberikan tawaran pada Nayla. Karena semakin Nayla meringis kesakitan maka Rian menjadi semakin khawatir pada Nayla.


Nayla dengan cepat menggelengkan kepalanya,, karena ke dokter bersama dengan Rian sama saja bunuh diri.


Dokter sudah pasti akan memberitahukan mengenai keadaan janinnya saat ini,, secara otomatis Rian akan tau bahwa saat ini dirinya sedang mengandung, dan Rian pasti akan memberitahukan semuanya pada Ana. Nayla tidak mungkin membiarkan itu terjadi.


Karena jika itu terjadi maka habislah dirinya.


"Ke kamar saja mas,, aku punya obat yang biasa aku minum di dalam kamar kok,," ucap Nayla yang menolak tawaran Rian secara halus.


Rian pun menganggukan kepalanya mengerti lalu terus memapah Nayla agar segera sampai di kamar Nayla.


Setelah memastikan Nayla telah duduk di atas ranjang,, Rian segera pamit untuk keluar dari dalam kamar Nayla,, Rian merasa tidak enak dan juga takut apabila ada yang melihat mereka berduaan di dalam kamar lalu akan menimbulkan pikiran buruk orang-orang.


"Aku pamit dulu yah Nayla,, takutnya ada yang memergoki kita berdua di dalam kamar begini,, pasti mereka akan berpikiran macam-macam, jangan lupa yah minum obat," pamit Rian sambil terus menatap Nayla dengan perasaan khawatir.


"Iya mas,, terima kasih yah mas," ucap Nayla dengan suara lemah.


Rian menganggukkan kepalanya lalu segera keluar dari dalam kamar Nayla. Terlihat jelas Rian masih sangat mengkhawatirkan Nayla.


Rian tidak tau alasan pasti mengapa bisa Devan berada di depan pintu kamar Nayla,, namun Rian berpikir mungkin Devan hanya lewat saja. Rian tidak mau ambil pusing memikirkan alasan Devan mengapa ada di depan pintu kamar Nayla karena saat ini saja Rian sudah sangat takut karena kepergok oleh Devan keluar dari dalam kamar Nayla,,, Rian takut mereka dianggap telah melakukan sesuatu.


"Aku permisi dulu," ucap Rian yang memilih pergi karena tidak mau ditanya macam-macam oleh Devan,, Rian yakin saat ini Nayla mungkin sudah baikan setelah minum obat.


Karena jika Rian masih lama-lama disana terus ditanya-tanya oleh Devan,, apa mungkin penjelasan Rian akan diterima?


Devan memastikan jika Rian sudah benar-benar pergi lalu dengan segera Devan masuk ke dalam kamar Nayla,, Devan kembali menutup pintu kamar Nayla lalu menguncinya kemudian melihat Nayla yang saat ini sedang berdiri di samping meja rias dan tampak sedang mencari sesuatu dari dalam tasnya.


Devan berjalan semakin mendekati Nayla yang saat ini masih belum menyadari kehadiran Devan di dalam kamarnya,, Nayla saat ini masih fokus mencari ponsel di dalam tasnya. Dan juga sedang memunggungi Devan.


Setelah melihat ponselnya dengan tangan yang bergetar dan juga menahan rasa sakit yang luar biasa,, Nayla segera mencari kontak seseorang.


Nayla melihat ada banyak panggilan tak terjawab dari Devan dan juga chat yang sangat banyak dari Devan,, hingga tiba-tiba Nayla tersentak kaget begitu ponselnya tiba-tiba berpindah dari tangannya.


Nayla kini tersadar jika ada orang lain di dalam kamarnya. Matanya segera melihat orang yang berada di dalam kamarnya,, dan ternyata Devan yang saat ini berdiri di depannya.

__ADS_1


"Mas,," ucap Nayla yang ingin mengatakan bahwa saat ini perutnya sangat sakit sekali.


Tapi melihat ekspresi wajah Devan yang begitu dingin ketika melihatnya membuat Nayla mengurungkan niatnya untuk memberitahukan Devan,, Nayla memilih menahan rasa sakit di perutnya yang semakin sakit karena takut melihat ekspresi wajah Devan saat ini.


Brakkk!!!


Devan mendorong tubuh Nayla di atas ranjang dengan sangat kasar. Nayla yang mendapatkan perlakuan seperti itu benar-benar merasa sangat kaget bahkan saat ini perutnya semakin sakit karena ulah Devan.


"Mas,," ringis Nayla dengan ekspresi wajah memohon karena perutnya semakin sakit.


"Nayla,, apa kamu tidak punya harga diri? apa kamu sangat tidak puas dengan kepuasan yang aku berikan padamu"? ucap Devan dengan pertanyaan,, membuat Nayla seketika menjadi bingung dengan maksud pertanyaan Devan pada dirinya.


"Kenapa kamu harus mengurung diri dengan pria tadi? apa kamu sangat menginginkan belaian?" ucap Devan lagi.


Degh!!!!


Air mata Nayla benar-benar sudah tidak bisa Nayla tahan lagi,, pertanyaan Devan pada dirinya benar-benar menyakiti hati Nayla,, padahal Rian tadi hanya menolong dirinya yang tengah kesakitan.


Tidak bisakah Devan bertanya baik-baik dulu pada dirinya agar dirinya bisa menjelaskan semuanya, tidak mesti Devan langsung mengambil kesimpulan.


"Nayla,, kamu itu memang wanita murahan,," ucap Devan.


Bagai petir yang menyambar diiringi dengan hujan deras,, dimana hati nurani Devan mengatakan hal itu pada istrinya sendiri sebagai wanita murahan.


"Wanita murahan?" ucap Nayla,, bibir Nayla bergetar mengatakan itu dengan air mata yang semakin membasahi pipinya.


Setelah diperkosa oleh Devan,, dinikahi secara diam-diam oleh Devan tanpa ada yang tau dan saat ini Devan malah menyebut dirinya wanita murahan.


"Wanita murahan?" ucap Nayla lagi-lagi mengatakan hal itu,,, sungguh ucapan Devan tadi mengalahkan rasa sakit pada perutnya.


Dengan perlahan Nayla bangun dari tidurnya lalu berjalan perlahan menuju pintu kamarnya dan segera keluar dari dalam kamar. Nayla meninggalkan Devan begitu saja yang masih terdiam di atas ranjang.


Kata-kata Devan yang keluar tadi benar-benar menjadi belatih tajam untuk Nayla.


"Wanita murahan?," Nayla berjalan tanpa tau harus kemana sambil mengulangi kata-kata Devan tadi.

__ADS_1


Nayla tidak menyangka Devan akan menyebut dirinya sebagai wanita murahan,, sungguh hati Nayla benar-benar sakit,,, tidak ada yang lebih sakit daripada kata-kata tadi.


__ADS_2