
Nanda terbangun dari tidurnya melihat jam dinding yang menunjukkan pukul tiga Subuh, mungkin karena obat yang diberikan oleh Reyna membuatnya terlelap dan beruntung rasa mulesnya sudah hilang, tanpa sengaja matanya melihat Reyna yang terlelap di sampingnya.
Tiba-tiba mata Nanda melihat Reyna bangun dan mencium bibirnya, Nanda pun shock dan tersadar itu hanyalah khayalan saja, entah mengapa kini pikirannya semakin kacau semakin berdekatan dengan Reyna semakin membuatnya aneh, belum lagi Reyna yang tak suka memakai selimut saat terlelap membuat pakaiannya tersingkap hingga menampakkan pahanya yang mulus.
Otak Nanda kembali tidak dapat dikondisikan lagi dan lagi, demi mengendalikan diri Nanda turun dari ranjang dan menuju teras menghirup udara dingin, terlihat sudah sepi mungkin keluarga sudah pulang saat dirinya tertidur karena udara semakin dingin Nanda pun kembali masuk percuma saja berada di luar karena tidak dapat meredam getaran aneh saat melihat Reyna, akhirnya Nanda pun memutuskan untuk tidur di ruang televisi daripada terus penasaran dengan tubuh istrinya.
"Nanda kamu kok tidur di sini?" tanya Arni.
"Mama belum tidur?" tanya Nanda balik.
"Ditanya tapi kamu malah nanya balik, Mama barusan mau tidur tapi haus, Mama mertuamu juga baru saja pulang mau pamitan sama kamu tapi kami nggak enak mengganggu pengantin baru," goda Arni.
"Mama apa sih!" ucap Nanda.
"Mama sebenarnya membuatkan jamu tadi sore untuk kamu sebentar," Arni pun kembali dengan membawa segelas jamu.
"Ini anti masuk angin," belum juga Arni menjelaskan Nanda sudah meneguknya hingga tandas.
"Kebetulan Nanda sedang masuk angin, Ma," Nanda pun mengembalikan gelas kosong pada Arni.
"Iya itu bagus, apalagi mengandung obat kuat, bagus untuk pengantin baru," Arni pun tersenyum lalu pergi.
Apa?
Mengandung obat kuat?
Ah...
Ini sangat tidak bagus, tadinya berpikir hanyalah untuk menyegarkan badan dan menghilangkan angin yang hinggap di tubuhnya, masalahnya tanpa obat semacam itu pun sudah cukup membuat Nanda menjadi panas dingin melihat tubuh Reyna yang seksi berbaring di sampingnya.
Ah...
Nanda meninju udara meluapkan amarahnya tapi tampaknya obat itu tidak bekerja sama sekali pada tubuhnya.
Nanda tidak merasa aneh.
Satu menit...
Dua menit...
Lima menit...
"Kok rasanya beda yah," perasaan Nanda mulai tidak karuan, adiknya pun mulai berdiri dengan tegak.
Sebenarnya tidak sulit untuk membuatnya bangun bahkan mati-matian menahannya agar tetap tidur tapi sepertinya jamu kuat yang diberikan oleh Arni mulai bekerja, Nanda pun menuju kamar dan memandang Reyna perlahan dia naik ke atas ranjang dan memeluk Reyna dari belakang mungkin dapat meredam rasa aneh yang kian semakin terasa, mendekapnya tidak sanggup lagi menahan Nanda pun mencium bibir Reyna dengan pelan hingga membuat Reyna terbatuk-batuk karena tidak bisa bernapas.
Alangkah shock nya Reyna melihat Nanda tengah memeluknya.
"Nanda lepaskan!" Rena meronta-ronta ingin dilepaskan, dirinya tidak ingin disentuh sama sekali.
"Reyna apa salahnya aku ini suamimu!" kata Nanda dengan wajah memohon.
Aku udah bilang dari awal aku nggak mau nikah sama kamu," ucap Reyna.
__ADS_1
"Tapi sekarang kita udah nikah!" ucap Nanda.
"Kita cerai saja," Reyna meloncat dari atas ranjang dengan cepat berusaha menghindari Nanda.
"Kamu mau jadi janda?" tanya Nanda.
Ah... kenapa Reyna lupa dengan status tersebut, tentunya dirinya akan mendapatkan gelar janda tapi mungkin lebih baik menjanda daripada menikah dengan musuh bebuyutan.
"Aku nggak peduli pokoknya aku nggak mau disentuh kamu, lagian kamu juga bilang kalau aku bukan selera kamu, kalaupun aku telanjang bulat kamu nggak akan sulit menyentuhku, kamu kan yang bilang begitu?" seru Reyna.
Dirinya sangat kesal saat mengetahui Nanda menyentuhnya, memegang dua benda kenyalnya bahkan mencium bibirnya.
Menjijikan...
"Kamu mau cerai?" tanya Nanda.
"Iya," jawab Reyna.
"Kalaupun bercerai, kau harus memberikan hak aku terlebih dahulu," tegas Nanda.
Reyna meneguk salivanya, alasannya bercerai agar tak disentuh oleh Nanda, tapi bagaimana jika itu keinginan Nanda saat ini, tentu saja menjadi pilihan sulit bagi Reyna, Nanda pun keluar dari kamar menutup pintu dengan membantingnya begitu keras, hingga Reyna tersentak di dalam kamar, tangannya menyilang di dada sesaat kemudian duduk di sofa dan mengusap wajahnya hingga beberapa kali, memikirkan pernikahan yang sulit sekali untuk dijalani tidak pernah terpikirkan bahwa Nanda bisa melakukan itu, malam ini bahkan Nanda berani menyentuhnya Reyna tak ingin disentuh oleh suaminya itu sama sekali!
Pagi harinya Arni sudah menyajikan makanan di atas meja, hari pertama Reyna sarapan bersama dengan Nanda dan juga Arni di rumah Nanda semuanya terlihat hening, hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring sesekali.
"Reyna ayo tambah, ini Mama masakan sarapan kesukaan Nanda," Arni yang tak tahu apa-apa mencoba memecahkan keheningan pagi ini.
Sebenarnya bingung mengapa Nanda dan Reyna hanya diam bahkan tidak saling menyapa seharusnya pengantin baru sangatlah romantis dan masih hangat tetapi Arni pun tak ingin ambil pusing, apalagi ikut campur urusan rumah tangga anak dan menantunya.
"Aku yang akan mengantarmu!" suara Nanda yang dingin terdengar di telinga Reyna hingga membuatnya urung melangkah.
"Aku bisa pergi sendiri," ucap Reyna.
Reyna pun masih mengibarkan bendera perang pada Nanda, dirinya masih dengan kerasnya pendirian, hanya sekedar memberi peringatan bahwa dirinya tidak suka pada Nanda yang sudah berani menyentuhnya.
"Reyna,"
"Kalian kok berantem? baru dua hari menikah itu harusnya romantis, kalau ada masalah diselesaikan secepatnya, duduk berdua!" Arni memberikan saran pada Nanda dan Reyna.
"Nanda ke kantor dulu ya, Ma. Sekalian nganterin Reyna kerja juga," pamit Nanda dan mencium punggung tangan Arni sebelum pergi.
Arni mengangguk lemah, beruntung dirinya melihat pertengkaran Reyna dan Nanda membuatnya yakin untuk tetap di Jakarta untuk sementara waktu iniz mengurungkan niatnya pulang kampung.
"Ayo naik," ucap Nanda.
Reyna berdiri dan menatap sepeda motor milik Nanda.
"Aku nggak mau naik motor panas kulit aku bisa hitam, lagian aku punya mobil aku bisa naik taksi ke rumah Mama untuk mengambil mobilku," tolak Reyna.
"Mobil itu siapa yang membelikan?" tanya Nanda.
"Papa," jawab Reyna.
"Kalau Papa yang membelikan artinya itu bukan milikmu, setelah menikah denganku dilarang keras memakai barang milik orang tua," tegas Nanda.
__ADS_1
"Aku nggak mau naik motor," Reyna tidak ingin berdamai dengan Nanda setelah kejadian subuh tadi, saat Nanda mencoba untuk menyentuhnya.
Padahal Reyna pun sering menggunakan sepeda motor matic akan tetapi kali ini dirinya sedang kesal dan membuat seribu alasan untuk menjauhi Nanda.
"Aku akan membelikan mu mobil setelah pulang kerja kamu bebas memilihnya?" papar Nanda.
Reyna melirik Nanda, melihat sepeda motor Nanda yang sederhana membuatnya tidak yakin sama sekali sehingga dirinya tersenyum meremehkan Nanda.
"Rumah ngontrak tapi sok mau beliin mobil," Reyna tertawa mengejek Nanda.
"Tapi aku akan menagihnya nanti," Reyna segera naik ke atas sepeda motor Nanda yang mengantarkannya menuju rumah Nayla, sampai di depan pintu gerbang Reyna pun turun, dirinya melihat Nanda dan tersenyum.
"Jangan lupa untuk membelikan ku mobil, aku juga ikut memilihnya nanti malah kamu memilih mobil butut untuk ku," Reyna tersenyum miring lalu melengos pergi.
Kakinya terus berjalan memasuki rumah besar milik Devanz sampai di teras Nayla pun menyambutnya dengan senyuman.
"Kok kusut banget, semalam juga cepat banget masuk kamar?" goda Nayla.
"Sayang mas berangkat yah!" pamit Devan.
Nayla memeluk Devan dan mencium punggung tangan Devan.
"Hati-hati ya Mas," ucap Nayla.
Setelah mobil Devan keluar dari pintu gerbang Nayla kembali mendekati Reyna.
"Aku mau curhat sama kamu," Reyna melihat sekitarnya tak tampak siapa-siapa hingga dirinya memutuskan untuk bercerita.
Hanya Nayla yang tahu pahit beratnya pernikahan yang dialami Reyna jadi tempat curhat terbaik adalah Nayla sendiri.
"Kamu kan tahu aku dan Nanda menikah karena terpaksa," ucap Reyna.
"Terus?" tanya Nayla.
"Pas malam awal kami satu kamar, dia bilang nggak sudi dan nggak tertarik sama tubuh aku yang kerempeng, terus kamu tahu subuh tadi dia malah cium aku dan meminta haknya, ini gila!" Reyna berbicara dengan suara pelan agar tak ada yang mendengarnya.
"Bagus dong berarti dia sebenarnya udah punya perasaan ke kamu, karena setahu aku dia nggak pernah pacaran kami udah kenal dari SMP dan dia jomblo terus," jelas Nayla.
"Nggak mungkin lah, kalian kan sempat putus pertemanan," ucap Reyna.
"Iya juga sih, tapi kamu nggak nolak?" tanya Nayla.
"Aku nolak lah," Reyna meremas udara membayangkan itu adalah wajah Nanda.
"Aku nggak cinta sama dia, aku nggak akan mau!" ucap Reyna.
"Todak boleh begitu, dia udah jadi suami kamu kalau dia minta kamu harus nurut," ucap Nayla, padahal ini adalah awal yang bagus untuk hubungan Nanda dan Reyna.
Karena Nayla tahu seperti apa Nanda, dirinya tak pernah jatuh cinta tiba-tiba menikah dengan Reyna rasanya cukup mustahil jika Nanda setuju begitu saja menikah dengan Reyna, jika tak memiliki perasaan sedikitpun.
"Terus dia sok-sokan mau beliin aku mobil, berapa sih gaji dia, lihat aja aku bakalan beli mobil yang paling mahal," ucap Reyna.
Nayla diam sambil menarik nafas panjang mendengarkan curhatan hati sahabatnya itu, walaupun dia sebenarnya tak setuju pada Reyna yang menolak keinginan Nanda yang notabenenya adalah suaminya sendiri, tapi percuma menasehati Reyna saat ini, amarah Reyna masih meluap-luap, yang ada dirinya ikut menjadi sasaran empuk juga, mungkin setelah keadaan lebih baik Nayla bisa sedikit memberikan nasehat sebisanya.
__ADS_1