Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Tidak sanggup jika dibenci terus-terusan..


__ADS_3

"Tidak perlu mengatakan aku wanita murahan juga, aku kan tidak menggoda dia lebih dulu sehingga dia mau menikahi aku seperti sekarang ini,, kenapa bibirnya itu malah mengatakan bahwa aku ini wanita murahan,, dia juga mungkin malah meragukan anaknya sendiri,," ucap Nayla sambil memeluk janinnya,, Nayla merasa janinnya sungguh malang sekali mendapatkan Ayah seperti Devan.


"Nayla kalau memang dia meragukan janin mu,, dia tidak mungkin dengan mati-matian mempertahankan janin itu, kau tau Nayla,, dia mengabaikan Ibu Jessica demi kamu,, demi menjaga kamu dan demi kandungan kamu," ucap Reyna.


Kini terlihat bukan lagi Nayla yang emosi melainkan Reyna. Karena bagi Reyna,, Nayla dan Devan sama-sama memiliki perasaan hanya saja tidak ada yang mau mengakuinya.


"Jadi ayo cepat minum vitamin ini,, meskipun kamu tidak ingin meminumnya demi suami mu,, setidaknya kamu minum demi anakmu yang tidak salah apa-apa itu," ucap Reyna.


Reyna dengan segera menaruh beberapa butir obat di telapak tangan Nayla lalu segera mengambil air mineral sisa Nayla tadi.


Nayla masih diam dan terus memandang butiran obat itu.


"Tapi Reyna, aku benar-benar tidak rela jika nanti anakku di ambil oleh dia, kamu tau sendiri kan bagaimana perjuangan aku sekarang,, dan tidak ada seorang Ibu yang rela memberikan anaknya untuk di rawat oleh wanita lain, meskipun Ayahnya juga ikut merawatnya,, tapi aku menginginkan merawat anakku meskipun tanpa Ayahnya,, aku Ibu kandungnya," ucap Nayla.


"Minum obat itu sekarang hilangkan dulu pikiran buruk mu,, memangnya kamu tidak mencintainya?" ucap Reyna yang ingin melihat reaksi Nayla.


"Memangnya kamu pikir aku mau menjadi istri kedua selama sisa hidupku,, hidup ini butuh kebahagiaan Reyna,, pakai perasaan sih boleh,, tapi otak juga harus dipakai untuk berpikir tidak cukup jika hanya mengandalkan cinta doang,," ucap Nayla.


"Minum dulu obatnya atau kita tidak akan bersahabat lagi," ucap Reyna.


Nayla pun menurut,, tidak ingin lagi membantah Reyna,, karena dari dulu hingga sekarang,, Reyna adalah sahabat yang bisa membuat dirinya sedikit tenang dan kuat untuk menjalani hidup.


"Nah begini kan enak,, jangan lagi kamu bersedih hati Nay,, dia khilaf waktu itu dan sudah minta maaf padamu, aku mau keluar dulu,, aku juga butuh makan,, aku nggak mau mati muda hanya karena kelaparan,," ucap Reyna lalu membawa piring dan juga gelas kotor ke dapur.


"Cinta?" ucap Nayla sambil tersenyum miring menatap punggung Reyna yang perlahan menghilang di balik pintu.


Iya Reyna,, aku memang mencintai dia,, tapi aku tidak sudi jika terus-menerus jadi istri kedua,, istri siri nya,, kalau dia memang mau bersama aku maka tinggalkan istri pertamanya,, jika dia tidak mau maka aku yang akan mundur,, batin Nayla.


Setelah satu jam setengah,, Devan kembali masuk ke dalam kamar Nayla,, Devan ingin memastikan bahwa Nayla telah memakan sarapan pagi yang dibuatnya tadi.


Devan tidak melihat piring nasi goreng yang disimpannya di atas meja nakas tadi, sehingga membuat Devan bertanya-tanya.


"Kamu sudah makan nasi goreng nya?" tanya Devan.


Nayla tampak membuang pandangannya begitu melihat Devan.


"Nayla,, mas sedang bertanya padamu?" ucap Devan sambil berjalan mendekati Nayla.

__ADS_1


"Kamu juga belum menjawab pertanyaan ku,, apa kamu meragukan anak ini?" tanya Nayla tanpa memperdulikan pertanyaan Devan yang tadi.


"Aku tidak ragu sama sekali,, aku yakin hanya aku yang meniduri mu dan hanya aku yang boleh meniduri mu tidak boleh ada pria lain,," ucap Devan dengan tegas.


Blush!!


Jawaban Devan benar-benar membuat Nayla merasa malu,, pertanyaan yang serius malah di jawab dengan gila oleh Devan.


"Apa tidak ada kata-kata yang lebih baik untuk menjawab pertanyaan aku?" ucap Nayla.


"Aku tidak mau lagi ada salah paham diantara kita," ucap Devan.


"Lalu kenapa kamu malah menyebut diriku wanita murahan?" ucap Nayla.


"Aku hanya salah paham,, ada hal yang tidak bisa aku ceritakan Nayla, sehingga aku sulit untuk percaya pada seorang wanita,, sedikit saja aku salah paham,, aku pasti akan langsung menyimpulkannya dengan cepat tanpa tahu kebenaran yang sesungguhnya, ini karena masa lalu yang aku alami,, tidak perlu membahas itu," ucap Devan lagi.


Entahlah kenapa membayangkan Nayla bersama pria lain aku rasanya seperti akan gila,, rasanya baru sama Nayla aku seperti ini,,, sepertinya sebentar lagi aku beneran akan gila,, batin Devan.


Nayla masih melihat ekspresi wajah Devan yang saat ini memang sudah terlihat berbeda dari hari-hari sebelumnya.


"Apa kamu akan mengambil anakku?" tanya Nayla.


"Kamu bohong,,, kamu yang mengatakan sendiri bahwa kamu akan mengambil anakku setelah anak ini lahir," ucap Nayla.


"Iya awalnya memang seperti itu tapi sekarang tidak," ucap Devan.


"Kenapa?" tanya Nayla.


"Karena kamu dan dia tidak melakukan apa-apa malam itu,, jadi aku tidak akan mengambil anak itu," ucap Devan.


Nayla masih diam sambil menimbang-nimbang ucapan Devan,, Nayla masih merasa kurang yakin pada Devan.


"Kenapa kamu malah menatap aku seperti itu? sebenarnya mau mu apa,, kamu mau anak itu atau tidak?" tanya Devan begitu melihat Nayla sepertinya masih tidak yakin pada ucapannya.


"Yah mau lah,,, aku ini Ibunya mana mungkin aku akan memberikan anakku pada orang lain,, dasar gila!" ucap Nayla cepat yang membuat Devan tersenyum tipis tanpa disadari Nayla.


"Kamu sudah makan?" tanya Devan yang memilih mengalihkan pembicaraan karena takut pembahasan mereka malah membuat janin Nayla stress nantinya.

__ADS_1


"Udah," jawab Nayla masih ketus sambil membuang wajahnya ke tempat lain.


Devan pun mengangguk dan merasa sangat lega.


"Enak?" tanya Devan.


"Tidak!" jawab Nayla.


Devan tidak perduli sama sekali dengan jawaban Nayla,,, karena baginya istrinya itu sudah mau minum obat dan juga makan.


"Apa kamu mau sesuatu?" tanya Devan lagi.


"Keluar dari sini," ucap Nayla.


Devan pun pasrah sambil mengangguk,, karena takut Nayla akan marah jika keinginannya tidak dituruti.


Begitu pintu tertutup rapat Nayla pun segera turun dari ranjang,, perlahan tangannya mengambil botol cairan infus lalu berjalan menuju kamar mandi.


"Ya ampun sakit banget," ringis Nayla. Nayla saat ini masih berdiri di depan kamar mandi.


Tiba-tiba pintu terbuka kembali,, Devan ingin mengambil ponselnya yang tertinggal namun matanya malah melihat Nayla yang sedang berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Astaga,, kamu kenapa?" ucap Devan sambil berjalan cepat-cepat ke dekat Nayla lalu memegang Nayla.


"Lepasin," ucap Nayla menepis tangan Devan,, Nayla tidak ingin disentuh oleh Devan meskipun Devan berniat membantu dirinya.


"Nayla aku sadar aku salah,, aku minta maaf,, apa kamu tidak mau memaafkan aku,,, aku benar-benar menyesal," ucap Devan lirih.


"Nggak,, nggak ada kata maaf untuk kamu,, aku ini hanya wanita murahan,, tidak usah minta maaf pada wanita murahan seperti aku,," ucap Nayla yang tentu hatinya masih terluka.


Devan berjalan menuju ke meja nakas, mengambil pisau lalu membawa pisau itu kepada Nayla,, diletakkan pisau itu di tangan Nayla.


"Ayo lakukan,, agar kamu puas dan bisa memaafkan kesalahan aku," ucap Devan sambil menatap Nayla.


Nayla pun menatap pisau yang ada ditangannya.


"Ayo tusuk aku Nayla,, agar aku bisa mendapatkan maaf darimu,," ucap Devan lagi.

__ADS_1


Devan benar-benar menyesali perbuatannya,, Devan ingin sekali memutar waktu kembali agar dia bisa memperbaiki hubungannya dengan Nayla seperti sebelumnya.


Devan benar-benar tidak sanggup jika harus dibenci oleh Nayla terus,, bahkan Devan tidak tau sampai kapan Nayla akan membenci dirinya,, dibenci Nayla merupakan suatu siksaan untuknya.


__ADS_2