Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Sadar!!!


__ADS_3

Genap sudah satu bulan Devan koma, dan untuk yang kesekian kalinya Nayla menjenguk Devan dengan membawa Felix juga. Masih belum ada tanda-tanda Devan membuka matanya, Felix sering kali rewel karena ingin bermain dengan sang ayah. Untuk hari ini saja Nayla sangat kesulitan untuk bernafas karena Felix terus menangis memanggil ayahnya. Akhirnya Nayla marah dan kembali meletakkan Felix di atas ranjang brankar Devan.


"Mulai hari ini kamu tinggal sama ayah,, Oma dan Opa, Bunda mau menikah dengan Om Nanda, lagi pula kamu sekarang rewel banget,, Bunda stres!!!" ucap Nayla yang membuat Ana dan Bima Putra menatap Nayla dengan kebingungan, keduanya sesaat saling menatap bingung, sesaat kemudian mereka kembali menatap Nayla dengan penuh tanya.


"Dokter Devan aku sudah tidak sanggup lagi menjaga Felix,, aku akan menikah dengan Nanda, lagi pula sebenarnya Nanda tidak menyukai Felix,, jadi aku tidak bisa lagi mengasuh anakmu," ucap Nayla yang membuat Ana seketika terbangun dari duduknya menatap Nayla dengan penuh kemarahan, menurutnya Nayla saat ini sungguh sangat keterlaluan bahkan seperti sudah tidak memiliki perasaan.


"Kamu bicara apa? Ibu macam apa yang meninggalkan anaknya demi seorang pria?" ucap Ana,, jika saja bisa dilakukan maka Ana akan membenturkan kepala Nayla mungkin otak Nayla tergeser dan membutuhkan sedikit benturan supaya bisa bekerja dengan normal kembali. Apa mungkin dia meninggalkan anaknya hanya karena rewel dan stres. Bagaimanapun juga Felix adalah darah dagingnya yang masih kecil butuh dimengerti serta diperhatikan. Anggap saja Nayla benar-benar stres dan bosan menjenguk mantan suaminya tidak menjadi masalah untuk Ana, akan tetapi ini tentang Felix seakan menjadi beban untuk Nayla.


Sungguh sangat menjengkelkan!!!


"Aku butuh kebahagiaan Ma, dan aku juga masih muda, setelah dipikir-pikir untuk apa aku terus berada di sini membesarkan anak,, karena adanya Felix, pernikahanku dan Nanda ditunda dan alasannya karena Nanda tidak bisa menerima Felix!!!" ucap Nayla.


"Nayla!!!" ucap Ana yang shock bukan kepalang mendengar ucapan Nayla.


"Maaf Ma,, mulai hari ini dan seterusnya aku menyerahkan Felix pada Mama. Karena aku dan Nanda mau honeymoon, pastinya akan sangat terganggu jika Felix ikut,, bisa saja dia membuat Nanda kesal," ucap Nayla.


Ana melangkah mendekati Nayla dan ingin melayangkan tangannya, beruntung Bima Putra menahannya dan menarik Ana untuk kembali duduk di sofa. Bima Putra menunjukkan jari-jari Devan yang mulai bergerak, tampaknya Devan berusaha untuk melawan keadaan yang tengah menyulitkannya saat ini. Ana langsung menatap Nayla dengan penuh tanya seakan bingung, mungkinkah saat ini Nayla sedang bersandiwara dan membuat keadaan seakan memanas,, hingga bisa membuat Devan terpancing? Ana kembali yakin saat melihat Nayla menganggukkan kepalanya.


Ah hampir saja dirinya melayangkan tangan pada Nayla, ternyata saat ini adalah bagian dari usaha Nayla yang ingin membuat Devan terbangun dari tidur panjangnya. Mengapa Ana bisa melupakan Nayla yang baik dan tentu saja tidak mungkin tega meninggalkan anaknya, apalagi hanya untuk seorang pria. Saat masih bayi saja Nayla mati-matian mengurusnya serta mencari uang untuk membesarkan anaknya. Lantas apa mungkin saat ini meninggalkan anaknya begitu saja? baiklah sekarang Ana mengerti dan mengikuti alurnya saja, memulai perdebatan seakan benar-benar nyata.


"Apa kamu sudah gila? kamu pikir anak itu beban?" tanya Ana.


"Dari dulu aku tidak pernah bahagia, sejak kecil kedua orang tua ku sudah menelantarkan ku, Ma. Apa mungkin sekarang juga harus menderita, saat ada laki-laki yang berjanji membahagiakanku, jadi kenapa tidak?" jawab Nayla.


"Kamu sudah gila? memikirkan kebahagiaan kamu sendiri saja dan menelantarkan anakmu!!!" ucap Ana yang seakan-akan emosinya semakin membuncah seiring dengan kalimat kekesalannya, sesekali matanya melihat jari-jari Devan yang semakin bergerak.


Nayla sengaja membuat suasana menjadi panas, sesuai dengan saran Dokter mengajak pasien untuk bicara. Kali ini Nayla memancing emosi Devan, anggap saja Devan tidak menginginkan dirinya, tapi tidak untuk anaknya. Devan pasti kesal pada Nayla yang ingin menelantarkan anaknya hanya demi seorang lelaki, tentunya Devan akan berusaha membela dan itu semua butuh usaha. Dia harus terbangun dari lelapnya dan berbicara langsung, tentu butuh perjuangan yang keras.


Sesaat kemudian Nanda datang, dirinya sebenarnya disuruh Nayla untuk datang ke sana dan entah untuk apa.


"Nayla!!!" ucap Nanda memanggil Nayla, yang langsung membuat Nayla, Ana, Bima Putra menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Nanda sebentar yah, mungkin ini juga untuk yang terakhir kalinya sebelum menikah dengan kamu," ucap Nayla lalu kembali menatap Felix.


"Felix sekarang kamu sama Oma dan Opa sampai Ayah sadar. Atau kalau sampai ayahmu juga tidak sadar, Bunda titipkan kamu sama Oma dan Opa," ucap Nayla lagi yang seakan sedang berbicara pada bocah ingusan itu yang belum tahu apa-apa,, padahal Felix tidak menatapnya sedikitpun. Felix terlalu sibuk memukuli wajah sang Ayah, berharap sang Ayah bangun dan membalasnya.


"Ma, Pa mulai hari ini aku sudah tidak sanggup mengasuh Felix,, aku kembalikan pada Mama dan Papa," ucap Nayla.


"Dasar gila!!!" ucap Ana.


"Mama tidak mau? tidak masalah,, aku bisa titipkan di panti asuhan,, asal aku bisa terbebas dari semua ini," ucap Nayla lagi.


"Nayla?" ucap Nanda yang semakin dibuat bingung apa sebenarnya yang terjadi saat ini. Membawa-bawa namanya bahkan sampai detik ini Nanda tidak paham topik pembahasan dua wanita dengan perdebatan yang terlihat menegangkan ini. Mungkin dengan diam dan hanya mendengarkan saja sudah cukup, saat ini Nanda hanya mengikuti apa yang diperintahkan oleh Nayla. Sebagai sahabat setia tentunya akan membantu dengan suka rela.


"Kamu gila, kamu mau masukin Felix ke panti asuhan? kamu itu mikir nggak sih? otakmu itu kamu taruh di mana? Felix itu butuh kasih sayang dari ibunya, ayahnya sekarang sedang koma dia sedih, tapi apa yang kamu lakukan? kamu sungguh keterlaluan!!!" ucap Ana.


"Maaf Ma itu masalah Dokter Devan sendiri, dia memilih tidur saja di sini dan membiarkan anaknya terlantar, masalah anak itu urusan laki-laki lagian aku butuh hiburan dan kebahagiaan,, aku pamit Ma dan...."


Mata Nayla langsung menatap mata Devan yang kini sudah terbuka dan menatapnya dengan penuh kemarahan. Begitu juga dengan Ana seketika dia berhambur memeluk Devan dengan perasaan penuh haru, menangis tersedu-seru meluapkan rasa rindu setelah beberapa lama tidak menatap manik mata elang putra bungsunya. Felix tertawa melihat mata Devan yang sudah terbuka, berpikir dirinya bisa bermain lagi dengan sang ayah yang selama ini terus tidur.


"Devan akhirnya kamu sadar juga,, kamu bikin Mama ketakutan," ucap Ana.


"Kamu ingin pergi bersama dia dan menelantarkan anak kamu sendiri?" tanya Devan.


Nayla, Ana dan Bima Putra seketika menatap ke arah Nanda.


"Aku?" tanya Nanda kebingungan sendiri.


Nanda tidak mengerti sama sekali, sejak sampai di rumah sakit dirinya hanya diam saja sekalipun namanya terus saja dikait-kaitkan dengan semua masalah yang ada. Ana tersenyum begitupun dengan Nayla yang langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mana mungkin dirinya memberikan anaknya pada Ana sedangkan dirinya pergi mencari kebahagiaan di luar sana. Kebahagiaan Nayla adalah anaknya.


"Yah!!!" teriak Felix.


Devan mencoba mengangkat tangannya lalu mengusap punggung anaknya dengan lembut sambil tersenyum penuh kerinduan pada anaknya. Felix tersenyum melihat sang ayah sudah kembali menatapnya,, seakan ingin diajak bermain Felix terus memukuli wajah Devan sambil terus mengoceh tanpa henti,, mungkin juga bocah itu sedang memarahi ayahnya yang nakal tidur terlalu lama.

__ADS_1


"Nayla apa kamu sudah kehilangan akal? kamu ingin meninggalkan anakmu?" ucap Devan lagi.


"Tidak begitu Devan tadi Nayla hanya bersandiwara sedikit, karena Felix sudah sangat merindukan kamu, dan bersyukur kamu sudah sadar karena terpancing emosi," ucap Ana memberikan penjelasan.


Devan langsung bernafas lega,, bayangkan saja jika Nayla benar-benar menelantarkan anaknya sendiri,, tetapi sebenarnya Devan pun sangat tidak mau Nayla dimiliki oleh pria lain. Nayla hanya tersenyum kikuk melihat raut wajah Devan yang menatapnya penuh tanya.


Seorang Dokter masuk memeriksa keadaan Devan,, semuanya baik dan tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan,, begitu penjelasan Dokter sehingga semuanya benar-benar merasa lega.


"Pa,, Mama keluar sebentar yah," ucap Ana segera keluar.


"Papa juga lapar, Papa ikut Ma," ucap Bima Putra yang ikut keluar sambil menarik Nanda dan menutup pintu. Saat ini tinggal Nayla,, Felix dan Devan yang kini sudah setengah duduk, beberapa hari tidak bergerak membuat tubuh terasa letih dan lemah.


"Maaf Dokter saya juga permisi," pamit Nayla.


"Nayla tunggu!!!" ucap Devan.


Nayla yang sudah setengah memutar tubuhnya kembali menatap pada Devan.


"Iya Dok?" ucap Nayla.


"Aku sangat merindukan kamu, tolong tetaplah disini untuk aku!!!" ucap Devan kemudian mata Devan menatap kalung yang terpasang di leher indah Nayla, itu adalah kalung penyebab dirinya kecelakaan karena tidak fokus mengemudi.


"Ini mau diambil lagi?" tanya Nayla yang sadar ke arah tatapan mata Devan, mungkin dirinya tidak tahu malu setelah mengembalikan kemudian mengambilnya lagi.


"Tidak!!! pakai saja itu memang milikmu," ucap Devan yang membuat Nayla mengangguk sesaat kemudian Felix meminta ASI, Nayla mengajak Felix untuk keluar dari ruangan tersebut tetapi Felix menolak, saat Nayla membuka pintu dia langsung menangis sambil menggeleng. Felix menunjuk Devan mungkin masih sangat rindu pada sang ayah.


"Yah!!!" ucap Felix.


"Iya!!! nanti main lagi sama ayah,, sekarang haus kan?" ucap Nayla.


Felix terus mengoceh menolak untuk dibawa keluar, akhirnya Nayla terpaksa memberikan ASI di ruangan Devan, duduk miring di sofa dengan membelakangi Devan. Sebenarnya tidak perlu malu pada Devan, toh selama ini Devan sudah menjamah tubuh itu dan masih mengingat jelas setiap lekuknya.

__ADS_1


Akan tetapi bagi Nayla setelah perceraian keduanya kembali menjadi asing, tidak lama kemudian Felix terlelap, setelah mulutnya kenyang bocah mungil itu melepaskan mulutnya.


Nayla mengancing bajunya kembali dan membersihkan mulut Felix yang belepotan karena ASI. Devan tersenyum melihat ini semua, jika bagi mereka kecelakaan adalah musibah maka baginya adalah anugerah, karena bisa bertemu sedekat ini tanpa perdebatan apalagi waktu terbatas seperti biasanya.


__ADS_2