
"Biar aku yang beresin," Nayla seketika mengambil kain pel untuk membersihkan semuanya akan tetapi Devan tidak mengizinkan dirinya melakukan hal tersebut, Nayla istri dari pewaris kerajaan bisnis Bima tidak mungkin membersihkan semua itu.
"Mana ada majikan yang membersihkan semua ini,, kalau kamu yang membersihkan ini semua apa gunanya digaji orang yang bekerja di rumah ini," ucap Devan sambil melemparkan kain pel dari tangan Nayla, seketika menggendongnya pergi dari sana, baginya Nayla tidak boleh lecet sedikit pun.
Bahkan sampai di kamar langsung membawa masuk ke kamar mandi membersihkan langsung dengan tangannya sendiri sampai memastikan bahwa kaki istrinya bersih tanpa ada sisa terkena air kotor barusan.
"Mas, aku bisa sendiri," ucap Nayla.
"Diam!!!" ucap Devan kembali mengangkat tubuh istrinya kemudian mendudukkan di atas sofa sesaat kemudian mengambil handuk dan mengeringkannya.
"Jangan sampai ada pekerjaan yang dilakukan oleh tangan mulusmu itu!!! kalau sampai aku tahu atau tanganmu lecet!!! seisi rumah ini akan berhadapan denganku!!! kecuali atas perintahku!!! paham!!!" ucap Devan.
Memberikan peringatan yang tegas jauh lebih baik,, takut nantinya Nayla melakukan pekerjaan rumah seperti sebelum menjadi istrinya.
Devan pun takut jika ada ART yang berani menyindir istrinya,, baginya Nayla adalah harta paling berharga sampai tidak akan ada yang boleh menyentuh kecuali dirinya.
"Mas apa sih lebay banget," ucap Nayla.
"Berani membantah?" tanya Devan.
Nayla menggeleng.
"Mas Capek butuh pijitan," ucap Devan.
"Capek?" ucap Nayla.
"Banyak tanya,, cepat!!!" ucap Devan dan Nayla menurut,, dirinya naik ke atas ranjang setelah Devan merebahkan tubuhnya.
"Cepat pijat! ini sangat pegal!" Devan menunjuk pundaknya.
"Iya," perlahan Nayla mulai memijat pundak Devan, menurut lebih baik daripada berdebat.
"Kanan sayang," perintah Devan dan Nayla mengikuti setiap perintah dari Devan agar lebih cepat memijat dan dirinya ingin keluar kamar rasanya tidak enak pada mertuanya terus mengurung diri di sana bersama Devan.
Lebih baik menghirup udara segar di luar sana atau bermain bersama Rani, bocah cerewet itu lebih baik.
"Kurang tekan yang kuat dong,, duduk di punggung Mas biar lebih berasa tekanannya," ucap Devan dan Nayla pun menurut segera naik di atas Devan yang terlungkup,, dirinya memijat masih dengan sesuai perintah dari Devan.
"Menurut pada suami itu bagus, ganjarannya surga!" ucap Devan dengan bangga.
Ingin sekali Nayla muntah, merasa mual dengan kalimat Devan barusan.
Tiba-tiba Devan berbalik, tangan memegang pinggang Nayla agar tetap di sana.
"Sayang gaya seperti ini mantap yah," celetuk Devan sambil menggoyang pinggulnya Nayla.
Seketika Nayla tersadar ternyata Devan membicarakan masalah ranjang, bahkan saat ini dirinya duduk tepat di atas pisang keramat Devan.
"Apa sih nggak jelas," ucap Nayla.
Dirinya sudah mencoba turun tapi tangan Devan cukup kuat memegang tubuhnya, sesekali menggerakkan hingga terasa ada yang mengeras.
"Mas," ucap Nayla ingin menangis tak kuasa menahan godaan Devan.
"Apa enak yah?" ucap Devan.
__ADS_1
"Mas," rengek Nayla sambil berusaha turun.
"Besar kan kemarin saja kamu menjerit," ucap Devan semakin senang menggoda Nayla, melihat wajah istrinya menahan malu adalah kesenangan tersendiri baginya.
Tapi tidak ada yang boleh melakukan hal tersebut selain dirinya, jika ada yang tetap nekat tak segan tangannya yang memeras darah orang itu.
"Sayang kalau kayak begini lebih menusuk,, coba deh kalau tidak percaya," ucap Devan lagi.
"Mas," teriak Nayla semakin tidak kuasa.
"Iya sayang kamu sudah tidak kuat," ucap Devan sambil terkekeh geli melihat wajah Nayla.
Semakin lucu melihat istrinya yang menahan rasa malu di sana kelebihan istrinya itu selalu malu-malu membuatnya terus merasa penasaran sekalipun sudah memiliki dengan seutuhnya
"Ayo buka, tangan Mas juga sudah pasti nih," ucap Devan.
Devan mengarahkan tangannya pada dua benda kenyal milik Nayla.
"Besar,, tangan Mas sampai nggak muat," ucap Devan.
"Mama" teriak Nayla.
Pintu tidak tertutup rapat membuat suara Nayla melengking keluar, Ana sampai berlari menaiki anak tangga saat mendengar suara teriakan Nayla, bahkan Bima Putra pun ikut berlari panik setengah mati takut terjadi hal buruk menimpa Nayla. Apalagi keduanya takut ada pertengkaran antara Devan dan Nayla sekalipun Devan tidak suka memukuli wanita,, tapi cukup membuat panik.
"Oma kok lari?" Rani juga ikut menyusul Ana dan Bima Putra yang berlari masuk ke kamar Devan dan Nayla.
Terdengar suara pintu didorong keras, hingga benturan keras pada dinding pun terjadi, Nayla dan Devan menatap arah pintu, ada Ana,, Bima Putra dan juga Rani.
Glekkk....
"Mbak Nayla sama Ayah ngapain main kuda-kudaan? wah asik Rani ikut dong," Rani dengan bahagia berjalan ke arah ranjang,, dia ingin bergabung bersama Devan dan Nayla.
Lama sekali bocah itu tidak bermain bersama Devan ataupun Nayla, hingga terlihat antusias tanpa tahu dengan ketegangan yang terjadi.
"Rani," Ana menarik Rani hingga langkah bocah tersebut berhenti.
Nayla pun meloncat dari atas ranjang begitu juga dengan Devan. Ini lebih menyeramkan dari menjelajahi rumah hantu, bahkan keduanya seperti pasangan kekasih yang tengah mesum dan dipergoki warga.
Terdengar gila bukan?
Bima Putra segera keluar ikut kaget dengan apa yang barusan dilihatnya.
"Besok-besok kalau adegan yang berbahaya, tolong perhatikan pintu," Ana menunjuk pintu.
"Pintunya dikunci, pastikan itu, kunci pintu kamar ini masih bagus kan?" tanya Ana dengan tubuh bergetar.
Bagaimana tidak bergetar hebat, awalnya dirinya berpikir ada kejadian buruk yang terjadi hingga berlari sekencang mungkin tapi sampai di sana malah ada yang lebih menyeramkan, melihat adegan ranjang antara Devan dan Nayla beruntung tidak dalam keadaan benar-benar sedang bercinta.
Nayla menunduk sambil meremas ujung bajunya, menunduk malu tidak terkira.
"Ayo main! Rani juga sering main kuda-kudaan, tapi nggak di depan biasanya Rani naiknya di belakang ayah!" ucap Rani si bocah polos.
"Aduh!!!" Nayla menarik nafas panjang, berharap masalah ini tak tersebar sampai ke seluruh isi rumah.
"Tapi nanti Rani bakalan bilang ke guru di sekolah, kalau ada cara main kuda-kudaan yang baru kayak gini, lebih seru," ucap Rani.
__ADS_1
"JANGAN!!!" teriak Devan dan Nayla bersamaan.
"Jangan Rani, jangan dibilang yah," ucap Ana.
Ana langsung pergi merasa dirinya harus melepaskan tawa yang tertahan, melihat wajah panik Devan dan Nayla dirinya sudah sangat mengerti seperti apa menjadi pengantin baru dan tidak merasa aneh dengan apa yang barusan dilihatnya, hanya saja semoga tidak terlihat oleh anak-anak seperti Rani.
"Ayah sama Mbak Nayla kenapa?" gigi ompongnya terlihat sambil berpikir keras,, seakan dirinya yang mengatur sepuluh negara sekaligus.
Terserah padanya saja asalkan dia bahagia.
"Kamu keluar," Devan mengangkat Rani keluar dan mengunci pintu dari dalam dengan segera.
"Ayah bukain!!! Rani mau ikut main!!!" teriak Rani dari luar.
Devan kemudian menatap Nayla begitupun sebaliknya.
"Ya ampun Mas malu banget, Papa liat tadi," Nayla ingin menangis,, tertawa,, berteriak secara bersamaan.
Memang gila sekali rasanya, tak pernah berpikir bahwa dirinya bisa malu begini, entah bagaimana menunjukkan wajahnya nanti di hadapan mertuanya.
"Rasanya nano-nano yah sayang," ucap Devan.
"He'um," Nayla mangguk-mangguk merasa malu sampai di ubun-ubun.
"Mereka juga pernah muda, tapi nggak untuk lagi mantap-mantap beneran yah," ucap Devan.
Nayla mencubit lengan Devan dirinya masih sangat malu dan itu karena suaminya yang mesum tingkat dewa.
"Sayang Mas *****," ucap Devan.
"Nggak! nanti Felix nggak dapat ASI," ucap Nayla.
Devan mengacak rambutnya dengan kesal.
"Temani Mas tidur siang," ucap Devan.
"Iya," keluar dari kamar juga dirinya masih merasa malu apalagi jika bertemu dengan mertuanya mungkin tidur adalah pilihan terbaik.
Baru saja Nayla ingin memejamkan matanya, tapi dirinya sudah menerima panggilan telepon.
"Siapa?" tanya Devan mengambil alih ponsel Nayla, dirinya butuh waktu bersama istrinya apalagi ini adalah hari-hari indah mereka menjadi pasangan suami istri yang normal.
Tidak ingin melewatkan waktu satu detik saja bersama Nayla, bahkan setelah ini dirinya akan meminta Reyna sebagai pengasuh Felix.
"Mas itu Reyna, mana tahu ada yang penting," ucap Nayla dan Devan pun mengembalikan ponsel Nayla Dengan segera mengingat Reyna adalah sahabat terbaik Nayla.
Nayla seketika menerima panggilan dari Reyna, belum juga dirinya berbicara sudah terdengar suara tangisan Reyna dari seberang sana, apa yang terjadi? Reyna tidak pernah menangis tampaknya masalah yang dihadapinya sangat serius.
Nayla panik seketika, dirinya duduk bersila tidak sabar mendengar penjelasan lainnya dari balik sambungan telepon.
"Reyna, kamu kenapa? apa yang terjadi?" Nayla semakin panik takut terjadi hal buruk pada sahabatnya tersebut.
"Aku...." Reyna kembali menangis tersedu-sedu merasa kesal atas apa yang terjadi.
"Reyna ada apa?" perasaan Nayla semakin tidak tenang sebelum Reyna menjelaskan padanya, apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1