
"Nanda" Reyna mencoba untuk membangunkan Nanda, suara anjing menggonggong di luar sana membuatnya semakin merasa horor.
"Em," jawab Nanda masih dengan menutup matanya.
"Aku takut," ucap Reyna.
"Lalu?" Nanda pun memunggungi Reyna, tak ingin merasakan tubuh Reyna yang begitu dekat dengannya.
Memeluk demi membuat Reyna bisa tenang pun tak mungkin mengingat istrinya itu sangat membencinya, lagi pula Nanda pun takut khilaf dan nantinya malah memaksakan Reyna, lebih baik dirinya menghindari, siapa sangka Reyna malah berpindah ke hadapannya dan kembali masuk ke bawah selimut.
Ya ampun Nanda benar-benar tak sanggup lagi begini terus.
"Nanda aku takut," ucap Reyna.
"Lalu bagaimana?" Nanda sudah berada pada tegangan tinggi, hingga ingin marah besar kecuali Reyna bisa memberikan keinginannya.
"Kamu kok bentak aku sih?" ucap Reyna.
"Aku nggak bentak, aku bertanya," ucap Nanda.
"Tapi cara kamu," ucap Reyna.
Nanda pun segera turun dari ranjang demi menghindari Reyna, saat mendengar suara Reyna yang menangis, Nanda pun kembali naik ke atas ranjang.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Nanda lagi bingung dengan Reyna, andai dimengerti mungkin Nanda bisa berbicara dengan nada lebih baik.
"Aku takut," jawab Reyna.
"Lalu?" tanya Nanda.
"Aku nggak berani," ucap Reyna lagi.
Nanda pun kembali naik ke atas ranjang dan berbaring, satu jam kemudian Reyna semakin mendekati Nanda merasa takut dengan keringat yang bercucuran, entah mengapa anjing terus mengaung di luar sana.
Benarkah ada hantu? Reyna pun memilih untuk memeluk Nanda.
Nanda hanya diam saja, menahan diri untuk tidak menyentuh Reyna sampai akhirnya Nanda tak sanggup lagi dan dengan cepat menindih Reyna.
"Aku ini lelaki normal Reyna, aku juga berhak atas tubuhmu," ucap Nanda.
"Aku nggak mau," teriak Reyna sambil berusaha menjauhkan dirinya dari Nanda.
"Nanda aku nggak mau, kamu tuli ya, aku bilangin nggak mau," ucap Reyna lagi.
Nanda pun turun dari atas tubuh Reyna dan segera pergi.
"Nanda kamu mau ke mana?" tanya Reyna takut ditinggalkan sendiri.
__ADS_1
"Mau mencari wanita murahan," jawab Nanda asal.
Glek! Reyna meneguk saliva mendengar jawaban Nanda.
"Nanda aku nggak berani," ucap Reyna.
"Terserah padamu," ucap Nanda.
"Nanda, Mama dengar suara kalian, apa kalian bertengkar," Arni cepat-cepat berlari menuju kamar Nanda, sampai di depan pintu melihat Nanda sudah keluar dari kamar.
"Nggak Ma," bohong Nanda.
"Kalau begitu kamu mau ke mana, ayo tidur tidak baik bertengkar bagi pengantin baru, lagi pula Reyna baru kamu bawa ke sini, dia pasti butuh penyesuaian sebagai suami kamu harus bisa mengerti," Arni pun sedikit memaksa Nanda untuk kembali masuk ke dalam kamar.
Dengan terpaksa Nanda kembali masuk, Reyna pun turun dari ranjang demi melindungi diri, awalnya Reyna ingin meminta tidur di kamar mertuanya tapi mengingat ada orang yang dulu bunuh diri di sana urung dilakukan, tentunya malah tak akan membuatnya bisa terlelap.
Pagi harinya tubuhnya terasa sakit, sofa yang kecil tak mampu untuk menampung tubuhnya hingga harus tidur dengan keadaan melengkung, merenggangkan otot-ototnya sejenak dan melihat ada sarapan di atas meja, tapi Reyna lebih tertarik pada selembaran kertas di sampingnya.
"Jangan lupa makan, jaga kesehatan, aku akan pulang setelah beberapa hari ke depan,"
Suami mu.
Hueekkkkkk...
__ADS_1