Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Tidak boleh bertemu Jessica!


__ADS_3

Terasa sulit menapakkan kaki pada rumah yang seharusnya sudah tidak seharusnya didatangi, raut wajah kenangan indah bersama Jessica saat masih bersama dulu terlintas jelas, rumah itu menjadi saksi bisu di mana dirinya sering mengunjungi ataupun sekedar untuk menjemput sahabatnya, sebelum ada drama pernikahan ini. Pergi berdua, tertawa bersama, bernyanyi bersama, bertengkar dan akhirnya berdamai kembali dalam waktu yang sama.


Tiga orang sahabat yang biasanya saling merangkul pundak satu sama lainnya kini telah hancur begitu saja, hancurnya persahabatan meninggalkan kenangan yang begitu menyakitkan, semua kebersamaan yang indah kini hanya sebuah kenangan.


Dia penyebabnya.


Hati yang tidak bisa diajak bekerja sama, dada yang terus berdegup kencang saat dia menyapa bahkan tubuh yang berdesir saat sentuhan tangan sampai pada puncaknya.


Mengapa?


Mengapa harus ada cinta diantara mereka?


Mengapa tidak bisa bersahabat dengan murni tanpa campuran cinta segitiga yang begitu rumit?


Bukankah seharusnya kini masih baik-baik saja dalam jalinan persahabatan dihiasi dengan cinta persaudaraan?


Persahabatan yang membahagiakan hingga rambut mulai memutih.


Seharusnya begitu!


Tetapi semua berubah haluan saat cinta mulai tumbuh, rasa iri mulai menguasai diri, cemburu menjajah hati hingga ego mengalahkan segalanya terjebak dalam cinta yang rumit hingga sakit tanpa darah dan jejak yang akhirnya tanpa arah, itulah yang kini dirasakan oleh Alex.


Kacau!


Puas hanya memandangi kediaman keluarga Jessica, akhirnya Alex pun memutuskan untuk menemui langsung, duduk dia mengenang masa lalu pun tak lantas dapat merubah segalanya, mungkinkah ini akan terus menyiksa?


Sampai kapan?


Bukankah dari setiap kebahagiaan harus diakhiri dengan kebahagiaan?


Kakinya pelan berjalan menuju pintu utama, tangannya ragu untuk terangkat dan mengetuk pintu, walaupun begitu tapi dirinya harus tahu yang sebenarnya yang terjadi selama ini.


Benarkah Jessica sedang mengandung?


Anak siapa yang dikandung oleh mantan istrinya itu?


Apakah sah menceraikan istri saat sedang mengandung?


Rumit!


Semua harus segera terjawab, dengan menemui secara langsung berbicara dari hati ke hati walaupun sulit.


Tok... Tok... Tok...


Akhirnya dengan mata terpejam Alex pun mengetuk pintu rumah, tidak ada terdengar suara pintu terbuka. Sampai saat ini pun Alex pun mengetuk kembali sekalipun malam semakin larut Alex tak serta mundur, tekad sudah bulat, isi hati sudah padat, sekalipun sudah telat, Alex tetap kuat.

__ADS_1


Tidak sia-sia pintu itu terbuka seorang wanita membukanya, matanya memperhatikan siapa seseorang yang mengetuk pintu rumahnya di malam hari ini, luar biasa Inggit tampak tersentak melihat tamunya di malam ini.


"Pantas saja sejak pagi tadi mataku terus berkedip, ternyata ada tamu tak diundang datang ke rumahku saat ini, ada angin apa ini seperti kejutan luar biasa," satu sindiran keras terlepas dari mulut Inggit.


Inggit adalah wanita yang berjuang untuk melahirkan seorang wanita yang diberinya nama Jessica, hati Inggit sudah tertutup rapat untuk Alex, tidak ada lagi keramahan, keindahan senyum saat seperti dulu bertemu, semua sirna seiring dengan matanya yang menyaksikan sendiri saat anaknya disakiti, sakit yang dirasakan Jessica ikut dirasakan oleh Inggit, lantas mungkinkah Inggit masih bisa tersenyum pada Alex?


"Ma," ucapan Alex berhenti saat tangan Inggit mengarah padanya.


Meminta Alex untuk diam tanpa bicara.


"Jangan panggil aku Mama, aku tidak sudi," papar Inggit penuh kebencian.


Alex putus asa, bagaimana bisa berbicara selanjutnya jika untuk panggilan saja sudah tidak bisa sama.


"Dan aku rasa kita tak ada hubungan keluarga atau lainnya, aku rasa kehadiranmu juga sama sekali tidak diharapkan di rumahku ini," ucap Inggit lagi.


Lagi-lagi tak ada waktu untuk Alex berbicara, mungkinkah dirinya hanya diam saja dan larut dalam rasa penasaran yang kian tak memiliki jawaban.


Tidak mungkin!


"Ma, bisa aku bertemu Jessica?" ucap Alex.


Tidak peduli sekalipun Inggit menghina, membenci maupun mengusirnya, tujuan adalah tujuan tidak bisa diubah, pergi dengan membawa pertanyaan maka pulang harus dengan membawa jawaban.


"Tidak bisa!" jawab Inggit dengan cepat.


Ya!


Jessica berteriak memanggil Inggit membuat Alex semakin penasaran dan ingin masuk, apa daya Inggit berdiri di depan pintu dan tak ingin mengizinkan anaknya bertemu dengan Alex.


"Ma aku ingin bertemu Jessica, sebentar saja aku mohon!" ucap Alex.


Inggit mendorong dada Alex setelah mengunci pintu dari luar, mengantongi kuncinya dan keduanya berdiri di teras depan saling melihat satu sama lainnya, Inggit tak ingin sampai tiba-tiba Jessica keluar, tidak ada kesempatan sekecil apapun untuk keduanya bisa bertemu.


Cukup sudah!


"Aku sudah mengatakan bahwa Jessica tidak boleh bertemu denganmu," Inggit kembali menegaskan untuk yang kedua kalinya.


"Ma aku mohon, apa Jessica sedang mengandung anakku?" tanya Alex.


Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Alex, jika tidak dapat bertemu dengan Jessica mungkin saja Inggit mau mengatakan kebenarannya.


Degh!!!


Wajah Inggit memucat, dirinya melihat arah lainnya tak ingin menatap wajah Alex.

__ADS_1


Hal itu membuat Alex makin penasaran dari yang dilihatnya tampak ada raut wajah gelisah yang semakin mengundang tanya.


"Ma?" kembali bertanya berharap segera mendapatkan jawaban pasti.


Inggit kembali menatap Alex dengan tatapan penuh kebencian.


"Ya," jawab Inggit dengan lantang.


Alex seketika terkejut dan semakin penasaran saat ingin bertanya kembali, Inggit sudah terlebih dahulu memotong.


"Tetapi sudah mati, anakmu sudah tidak ada, Jessica sudah keguguran!" ucap Inggit.


Hati Alex sebelumnya sudah bahagia walau bersamaan dengan rasa terkejut, namun siapa sangka ternyata Inggit memberikan penjelasan yang sungguh luar biasa.


Kedua tangan Alex terkepal erat menahan sesak di dada yang tak terhingga.


Tubuhnya yang semula akan melayang dihempaskan dengan cepat ke bumi kembali.


Sakit!


"Bukankah kau penyebabnya?" tanya Inggit lagi.


Alex tercengang mendengar pertanyaan Inggit.


Dirinya?


Mengapa?


Apakah Inggit sedang berusaha untuk semakin membuatnya tersudut? jika Inggit tahu rasa menyayangi anak maka tidak seharusnya pertanyaan itu terucapkan.


"Aku?" tanya Alex dengan suara parau putus asa dengan segala tuduhan yang kian semakin menusuk.


"Iya kau penyebabnya, jangan lupa sudah pernah menyiksa anakku saat dia mengandung anakmu, kau pembunuh!" ucap Inggit.


Alex tersentak saat Inggit mengatakan bahwa dirinya pembunuh dengan lantangnya, mungkinkah itu benar? mungkinkah anaknya tiada karena dirinya sendiri?


Tidak itu tidak mungkin!


Bukankah pada kenyataannya kandungan Jessica yang bermasalah sejak awal, bukankah saat mengandung anak Devan juga Jessica keguguran?


Apakah Devan tertuduh atas segalanya?


Tidak!


Lantas mengapa kini bisa berbeda?

__ADS_1


"Aku tidak mungkin tega membunuh anakku sendiri, Ma. Ini hanya salah paham dan tolong izinkan aku bertemu dengannya, aku ingin melihat dan bertanya langsung padanya, aku mohon!" ucap Alex.


__ADS_2