Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Keluar tanpa izin!


__ADS_3

Gelap gulita kini berganti dengan terang, cahaya masuk melalui celah-celah kecil, Reyna membuka mata saat mentari menyentuh wajahnya, betapa shock dirinya melihat Nanda yang begitu dekat di sampingnya, dengan cepat dirinya duduk dan menatap di sekitarnya, ternyata bantal guling sudah jatuh di lantai apalagi barusan dirinya yang memeluk Nanda, tentunya malu sekali jika saja Nanda tahu, Nanda pun bergerak membuat Reyna khawatir, berdoa semoga saja Nanda tidak tahu jika dirinya semalam memeluk suami sialannya itu.


Tunggu!


Memeluk?


Semalam?


Apa semalaman memeluk Nanda?


Reyna menepuk jidat, berharap tidak benar dan kalaupun iya semoga Nanda tak menyadarinya.


"Puas memelukku semalam?" terdengar suara Nanda yang parau khas baru bangun tidur.


Reyna menutup mata mendesus lesu ternyata Nanda menyadarinya, tapi bukan Reyna namanya jika tidak mau mengelak, karena pada kenyataannya tak berniat sama sekali memeluk Nanda.


"Aku nggak meluk kamu, kalaupun iya aku pasti nggak sadar, mungkin juga karena aku pikir guling," ucap Reyna.


"Nggak sadar apanya, aku udah menjauhkan kamu tapi kamu masih saja memeluk lagi," jawab Nanda tak mau kalah.


Benarkah?


Oh tidak mungkin!


"Aku nggak berniat meluk kamu dan jangan mikir aneh-aneh atau kamu yang udah melecehkan aku?" wajah Reyna merah padam menahan amarah yang akan meluap.


Tidak merasa memeluk Nanda semalaman, lagi pula dirinya pun tak akan sudi untuk memeluk Nanda.


Nanda bangkit dan berdiri menatap Reynal sambil meregangkan otot-otot yang terasa kaku.


"Melecehkan? dasar wanita gila!" ucap Nanda.


"Kamu ngatain aku gila?" ucap Reyna.


"Kamu tahu semalam bagaimana baju kamu itu tersingkap, pasti kamu juga sengaja kan?" Nanda tersenyum miring.


"Enak aja!" Reyna meloncat dari atas ranjang, jika Nanda sudah mengibarkan bendera perang kenapa hanya diam!


Reyna siap melayani walaupun pagi-pagi begini.


"Aku nggak tahu kenapa bisa aku meluk kamu," ucap Reyna.


"Ya kan aku yang membuat kamu seakan memeluk aku, daripada udah pagi ketahuan aku yang meluk kamu," Nanda pun menjawab hanya di dalam hati.


"Jangan mikir aneh-aneh, aku nggak ada niatan berdekatan sama kamu, lagian kamu juga ngomong nggak selera sama aku," Reyna masih belum puas selama Nanda belum mengakuinya tak pernah berkeinginan memeluk suaminya itu.


Nanda pun mengangkat bahu dengan santai seakan dirinya tak percaya pada apapun yang akan dikatakan oleh istrinya itu.


"Atau mungkin kamu yang nafsu sama aku?" kini Reyna ingin menyudutkan Nanda, tak boleh membiarkan dirinya dipermalukan.


"Aku?" Nanda tertawa terbahak-bahak dalam hatinya bersorak gembira karena tebakan Reyna benar, hanya saja dirinya memilih memutar balikkan fakta hingga Reyna merasa diledek oleh Nanda.


"Ishhh," Reyna pun menghentakkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.


Biarkan saja Nanda melihat dirinya, bukankah tidak selera padanya, Reyna melepaskan pakaiannya dan masuk ke dalam bathtub agar lebih segar, sedangkan Nanda hanya melihat saja, kamar mandi yang transparan membuat matanya bisa melihat dengan langsung.


"Apa maunya wanita itu? apa dia sedang menguji aku, aku harap harga diriku tidak jatuh karena sudah pasti jika aku goyah maka dia akan menertawakan aku, mengejekku habis-habisan dan juga menolak dengan terang-terangan," Nanda memijat kepalanya yang semakin pusing, bagaimanapun dia adalah lelaki normal.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Reyna keluar dari bathtub dan membilas dirinya di bawah guyuran air shower, Nanda seakan ingin menjadi air shower tersebut agar mampu menyentuh tubuh Reyna dengan bebas.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan pintu kamar membuat otak Nanda kembali berfungsi dengan baik, andai saja tak ada yang datang mungkin suasana akan menegang sempurna, lagi pula kemana dirinya bisa bermain solo dengan kamar mandi seperti itu, saat membuka pintu ternyata Nayla yang membawa koper, sudah pasti itu koper milik Reyna.


"Ini koper istrimu, jangan bertengkar terus ya, aku udah susah payah untuk memilihkan kamar ini, menguncinya, belum lagi aku harus berusaha untuk menyembunyikan koper ini dan hanya untukmu," ujar Nayla.


Kalau saja suaminya tahu dirinya melakukan itu semua, sudah pasti dia akan kena marah karena menarik koper pun juga dianggap sebagai pekerjaan berat, Devan tidak ingin Nayla kembali merasakan hal serupa seperti mengandung Felix dahulunya.


"Kalau kamu yang mengunci ngapain masih mengetuk pintu?" tanya Nanda.


"Mana tahu kalian lagi kikuk-kikuk sekarang, Reyna di mana?" tanya Nayla.


"Lagi mandi," jawab Nanda.


"Wah, kayaknya udah nih," seloroh Nayla.


"Berisik," Nanda pun menarik koper Reyna masuk dan menutup pintu kembali.


"Wah, parah nih anak, benar-benar nggak tahu terima kasih," gerutu Nayla.


Segera Nayla kembali menuju rumah, saat pergi menuju hotel tempat Reyna dan Nanda menginap, Devan masih tertidur dan ternyata saat dia kembali Devan sudah bangun duduk di sebuah kamar dengan tampannya.


"Dari mana?" tanya Devan dengan wajah datarnya.


"Hehehe," Nayla cengengesan saat disuguhkan pertanyaan, sudah pasti suaminya itu marah saat keluar rumah tidak berpamitan.


"Awas kalau berani mengulanginya lagi, berani keluar rumah tidak izin suami itu sangat tidak baik," ucap Devan.


"Maaf Mas lagian tadi aku dari hotel nganterin koper Reyna," ucap Nayla.


Mulutnya malah tidak pandai berbohong, malah mengatakannya.


"Sejak kapan dia menjadi majikan mu?" tanya Devan.


"Hehehe," Nayla tidak ingin Devan marah-marah, dirinya perlahan duduk di atas pangkuan Devan.


Sedikit membujuk Tuan arrogant itu mungkin lebih baik, karena Devan adalah pria yang tak banyak bicara dan suka bersikap dingin.


Sedangkan Devan merasa bingung dengan sikap Nayla, untuk pertama kalinya duduk di pangkuannya tanpa diminta apalagi di pinta seperti biasanya, tapi tidak apa-apa Devan tersenyum samar menikmati pagi ini yang mungkin bisa dimanfaatkan.


"Maaf deh kalau aku pergi nggak izin dulu, tapi aku betul-betul cuma ke tempat Reyna ngantar koper, habis itu langsung pulang, janji besok-besok nggak mengulangi lagi," tangan Nayla memainkan kancing piyama Devan berharap suaminya itu luluh.


Devan memejamkan matanya jika tidak menimbang melahirkan adalah hal yang tidak mudah, mungkin dirinya akan terus membuat istrinya itu hamil, karena apa? karena jika istrinya tersebut hamil maka akan sangat membutuhkan dirinya seperti dulu saat hamil anak pertama, Nayla tak sanggup jauh darinya, keinginan untuk terus bersama dan dipeluk tanpa jeda.


"Mas nggak marah kan sama aku?" tanya Nayla.


Bagaimana bisa marah jika Nayla begitu manja, pagi-pagi sudah membuat adiknya juga ingin dimanja, Devan menunjuk bibirnya.


"Ishh apa sih," Nayla menolak keinginan suaminya tersebut.


Devan pun menunjukkan wajah masamnya dan melihat arah lainnya.


"Ya udah deh," dengan terpaksa Nayla memberikan apa yang diminta Devan.


Sebuah ciuman kecil mendarat di bibir Devan, tapi sayang Devan memilih menahan tengkuknya dan mencium bibirnya lama.

__ADS_1


"Mas," desah Nayla tak tertahan saat tangan Devan kembali menjalar dengan liar.


"Kenapa istriku ini selalu mampu membuatku bergairah," ujar Devan.


Nayla terkejut saat Devan mulai mendaratkan ciuman pada tengkuknya.


"Mas... ahhh," desah Nayla dengan suara yang sedikit tertahan, tapi sentuhan tangan Devan mampu membuatnya melayang seketika, sejak kapan Devan tidak pandai memanjakan tubuhnya, bagian favorit Devan adalah dua benda kenyal yang besar tersebut, sungguh terasa nikmat saat dua benda kenyal itu masih mengeluarkan ASI.


Selama Felix tak lagi meminum ASI, kini dirinya yang menguasai istrinya bertugas untuk menyedotnya agar Nayla tak menahan sakit.


"Uhuk... Uhuk," Devan sampai tersedak karena tidak sabaran.


"Pelan-pelan Mas," ucap Nayla.


"Mas sangat haus," ucap Devan.


Nayla mendesah sambil menekankan kepala Devan, rasanya sangat berbeda saat Devan yang menyusui bisa membuatnya basah ingin dimasuki.


"Mas udah nggak tahan sayang," ucap Devan.


"Mas geli," jerit Nayla.


Devan sangat suka yang berbau geli tentunya dengan sekejap keduanya tanpa sehelai benang, bermain olahraga ranjang di pagi hari seperti pengantin baru, Nayla semakin menggila saat lidah Devan bermain di area intinya, sesaat kemudian masuk dan bergerak dengan kecepatan sesuai dengan keinginan Devan sendiri.


"Mas," desah Nayla yang terdengar manja di telinga Devan, melihat tubuh Nayla yang semakin berisi membuat Devan semakin bersemangat untuk bergerak dengan liarnya.


"Mas pelan-pelan," ucap Nayla.


"Maaf sayang tidak bisa! kau terlalu nikmat!" ucap Devan.


"Mas,"


"Sayang," Devan menjatuhkan dirinya di samping Nayla setelah mendapatkan kepuasan.


"Kamu memang istri terbaik," Devan menarik hidung Nayla.


"Apa sih," Nayla menarik selimut dan malu menyadari dirinya barusan berteriak minta Devan lebih cepat memasukinya.


"Istri Mas masih malu-malu padahal tadi saja tidak malu," goda Devan.


"Mana ada," Nayla menyimpan wajahnya di balik selimut, menahan malu tak terkira.


Tapi Devan ikut masuk juga untuk menggoda Nayla.


"Cilup ba,"


"Mas,"


"Hehehe kamu sangat menggemaskan cintaku!" ucap Devan.


"Mas,"


"Iya sayang,"


"Nggak mau,"


"Nggak mau nolak! mandi bareng yuk mana tahu..."

__ADS_1


"Buk!" Nayla memukul Devan dengan bantal karena terlalu kesal.


"Ahahahaha ampun bos," Devan melindungi diri dengan tangannya, tak lupa dengan tawa yang menggelegar.


__ADS_2