
Setelah jalan-jalan seharian penuh akhirnya Cahaya pun terlelap di pangkuan Jessica, mungkin tidak semua keinginannya terpenuhi tetapi mungkin sebagian besarnya sudah dirasakan olehnya, setiap teman-teman yang bercerita keseruan saat liburan bersama kedua orang tuanya kini dirasakan oleh Cahaya, berjalan sambil memegang tangan kedua orang tuanya, berbelanja boneka kesukaannya, bermain bersama di pusat perbelanjaan.
Satu kilometer lagi sudah sampai di rumah, tapi Alex malah menepikan mobilnya, Jessica beralih menatap ke arah Alex bertanya-tanya mungkinkah mobil itu mogok.
"Aku ingin bicara!" ujar Alex menatap Jessica.
Jessica mengangguk menunggu hal yang akan dikatakan oleh Alex.
"Apa kamu belum memaafkan aku?" tanya Alex dengan penuh hati-hati.
Jessica diam tanpa kata, hanya bulu matanya bergerak beberapa kali, itu bukan jawaban membuat Alex semakin merasa bersalah.
Kini Jessica jauh berbeda dari dahulunya yang selalu periang dengan banyaknya ocehan dari mulutnya.
Alex merindukan masa-masa itu, di mana Jessica yang selalu marah dan merajuk jika tidak sesuai keinginannya.
Diamnya Jessica benar-benar membuat Alex semakin menyesali apa yang sudah dilakukannya.
"Aku nggak tahu apakah masih pantas meminta maaf, aku mengakui semua yang terjadi akulah penyebabnya, aku masih mencintaimu seperti dulu menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan mu..."
__ADS_1
"Setelah kau dapatkan kau sia-siakan, aku sudah tidak bisa seperti dulu lagi," jawab Jessica memotong sebelum Alex berbicara sampai selesai.
Dengan terpaksa Alex diam dan mengganggu, air matanya menetes begitu saja, luka itu memang terlalu dalam sehingga sulit untuk disembuhkan.
"Aku sudah bahagia dengan kehidupanku saat ini, silahkan jika mau mengunjungi anakmu kapanpun! tapi untuk lebih dari itu aku tidak bisa," ucap Jessica lagi.
Jessica pun membuka pintu berniat ingin turun tetapi Alex menghalanginya.
"Aku yang akan mengantarkan mu pulang," pinta Alex dengan refleks memegang tangan Jessica.
Jessica mengurungkan niatnya untuk turun, tetap pada tempatnya hingga akhirnya Alex kembali menjalankan mesin mobilnya.
Sampai akhirnya mobil berhenti di depan rumah megah milik Jessica.
"Kita belum bercerai," ucap Alex.
Jessica terdiam dan menghentikan tangan yang akan membuka pintu mobil kembali melihat Alex yang juga menatapnya.
"Kita belum bercerai Jessica, kamu masih istriku!" ucap Alex lagi.
__ADS_1
Jessica masih terdiam menatap wajah Cahaya yang terlelap di pangkuannya.
"Aku masih suamimu, kita masih suami istri!" untuk yang kesekian kalinya Alex mengingatkan hal tersebut.
"Iya aku tahu!" jawab Jessica membuat Alex mengerutkan dahinya.
Pernyataan Jessica sungguh luar biasa, artinya masih mengakuinya sebagai suami.
Lantas mengapa ada pernikahan yang direncanakan untuk Jessica dan Aditya.
"Lalu kenapa kamu dan Aditya akan menikah?" tanya Alex kebingungan.
Mata Alex menatap Jessica penuh tanya, hati dan perasaan benar-benar tidak bisa dibohongi cinta tidak dapat berubah sampai saat ini sekalipun bertepuk sebelah tangan tidak lantas hilang begitu saja.
"Kamu tahu kamu masih istriku kenapa bisa ada rencana pernikahan dengan pria lainnya?" tanya Alex untuk kesekian kalinya.
"Tolong bicara Jessica jangan diam saja, aku mohon kembali padaku!" pinta Alex dengan berlinang air mata.
"Tolong ceraikan aku saat ini juga!" ucap Jessica dengan hati yang hambar.
__ADS_1
Tidak ada iba, kecewa maupun penyesalan, rasanya sudah mati rasa tanpa ingin membina rumah tangga.