Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Keyakinan Devan!!!


__ADS_3

Devan benar-benar kehilangan semangat hidupnya, hatinya sudah benar-benar sangat yakin bahwa dia telah mencintai Nayla, tidak ada lagi cinta yang tersisa untuk Jessica, Devan mengakui itu. Ada rasa kecewa begitu dalam bahkan hatinya bertanya-tanya, mengapa ketika seorang malaikat kecil hadir di rahim Jessica? cintanya justru hilang untuk Jessica?


Bukankah kehamilan Jessica adalah sumber kebahagiaannya? iya memang itu sumber kebahagiaannya tapi itu dulu.


Dulu sekali,, jauh sebelum Nayla hadir dan memperkenalkan pada Devan apa itu cinta yang sesungguhnya. Karma seakan datang begitu cepat, dalam hitungan hari saja setelah Nayla keluar dari hidupnya, rasa kehilangan itu langsung muncul,, tapi sayang semuanya sudah terlambat.


Dulu mencaci, menghina, memaki,, bahkan sempat meragukan anaknya sendiri yang dikandung oleh Nayla. Kini semuanya benar-benar berbeda,, ada yang hilang bersama dengan perpisahan di hari itu. Lalu mengapa wajah Nayla tidak ikut menghilang juga?


Cinta Devan terlalu menyiksa diri, entah sampai kapan dirinya bisa bertahan dalam rindu yang tidak kesampaian. Menatap dari kejauhan tanpa bisa menyentuh,, merangkul dalam mimpinya, seakan menjadi racun pembunuh secara perlahan namun sangat pasti.


Malam yang semakin larut tidak lantas membuat Devan larut juga dalam mimpi, Devan turun dari ranjang dan menuju ruang tengah. Devan duduk diam di sana sambil terus menatap gambar Nayla.


"Ishh malu tau Mas, perutku masih rata begini," ucap Nayla.


"Ayo pegang saja perutmu, Mas mau ambil gambar kamu," ucap Devan.


"Mas apa sih," ucap Nayla.


Devan mengusap wajahnya,, mengenang kebersamaannya dengan Nayla.


Semua foto saat mereka berada di kebun teh satu tahun yang lalu, masih disimpan rapi oleh Devan,, dengan adanya gambar tersebut bisa membuat perasaan rindu Devan pada Nayla sedikit terobati. Hingga kembali bayangan wajah Nayla menghantui dirinya.


"Mas mangga nya yang itu,, nah itu juga, yang sana juga Mas," tunjuk Nayla.


"Itu tinggi sekali bumil," ucap Devan.


"Aku mau yang itu Mas, nggak mau yang lain," ucap Nayla sambil cemberut,, meskipun mereka bisik-bisik ketika berbicara tapi tetap mereka masih saling dengar.


Devan memijit dahinya dengan tangannya, air mata Devan kembali menetes tidak kuat melihat foto Nayla lagi.


Hingga tidak terasa pagi pun menjelma, larut dalam bayang-bayang Nayla membuatnya lupa waktu. Jessica terbangun dan tidak melihat Devan berada di sampingnya, seketika Jessica terbangun dan ternyata Devan berada di ruang tengah,, Devan terlihat terlelap di ruang tengah.


Devan baru saja terlelap, dia terlelap dalam bayang-bayang masa lalu, hingga Jessica melihat ponsel Devan yang diletakkannya di atas dada. Jessica penasaran dan mengambilnya secara perlahan.


Kaki Jessica langsung bergetar, air matanya menetes menatap foto Nayla, yang ternyata menjadi teman tidur Devan.


Jessica benar-benar merasa sangat sesak, begitu Jessica mengetahui ternyata Devan belum bisa terlepas dari bayang-bayang masa lalunya bersama dengan Nayla. Tidak ada yang bisa dikatakan Jessica selain air mata yang keluar, sampai kapan dia akan bertahan dalam rumah tangga palsunya ini.


Devan mencintainya dalam kepalsuan, perhatian Devan pun hanya kepalsuan semata, dia memang memiliki raga Devan,, tapi hati Devan sudah dimiliki oleh wanita lain. Hancur sudah perasaan Jessica.


Sesaat kemudian Jessica tersadar begitu melihat tangan Devan yang bergerak,, dia langsung mengembalikan ponsel Devan di tempat sebelumnya. Lalu mengusap air matanya seakan tidak tahu apa-apa.


"Kamu sudah bangun?" tanya Devan setelah jelas melihat Jessica yang kini tengah berdiri di depannya.


"Udah dong," jawab Jessica memaksa tersenyum sambil duduk di samping Devan, memeluk dada bidang Devan dengan penuh kehangatan seakan tengah bahagia saat ini.


Tanpa Devan tau sebenarnya Jessica ingin sekali menangis dan menjerit sekencang-kencangnya,, begitu mengetahui bahwa Devan sudah tidak mencintai dia lagi seperti dulu waktu mereka pacaran.


Tapi bagaimana dengan janinnya? Jessica kini memutuskan tetap bertahan,, bagaimanapun anaknya tidak boleh kehilangan sosok seorang Ayah. Mungkin masih memiliki waktu untuk menyusun kepingan-kepingan hati yang sudah rusak total itu, mengembalikan cinta Devan seperti dulu tanpa ada kepalsuan lagi.


"Aku mandi dulu setelah itu kita sarapan pagi," ucap Devan lalu bangkit dari duduknya bergegas masuk ke dalam kamar mandi, sampai akhirnya dia tersadar tidak ada handuk di sana.


Jessica pun bergegas masuk,, berniat untuk ikut mandi bersama tetapi tiba-tiba Jessica lagi-lagi mendengar hal yang cukup mengejutkan.

__ADS_1


"Nayla!!! ambilkan handuk," teriak Devan dari dalam kamar mandi.


Jessica tidak jadi memutar gagang pintu kamar mandi, begitu mendengar nama Nayla yang disebutkan oleh Devan dengan sangat jelas. Hatinya sungguh kembali menjerit, merasakan sesak hingga air matanya kembali tumpah.


Gagang pintu bergerak,, ternyata Devan yang lebih dulu memutar gagang pintu dari dalam sana. Jessica langsung mengusap air matanya seakan tidak mendengar apa-apa. Berusaha tetap tenang dalam sejuta luka cinta yang kini semakin menyiksa dirinya. Sesaat kemudian terlihat wajah Devan dari cela pintu yang sedikit di buka.


"Kamu di sini Jessica?" ucap Devan.


"Iya baru saja,, ada apa?" tanya Jessica.


Jessica berusaha berpura-pura tenang seakan tidak mendengar bahwa Devan tadi memanggil nama Nayla dengan sangat jelas. Jessica tidak ingin bertengkar dan membuat rumah tangganya hancur, keputusan Jessica lebih memilih diam saja, seakan tidak tahu apa-apa mengenai Devan yang masih sangat mencintai Nayla.


"Tolong ambilkan aku handuk," ucap Devan.


"Iya," ucap Jessica yang segera mengambilkan handuk untuk Devan, lalu memberikannya pada Devan.


Beberapa saat kemudian keduanya sudah berpakaian rapi, Jessica menemani Devan berangkat ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit keduanya berjalan dengan Jessica yang memeluk lengan Devan.


Begitu juga dengan Nayla yang berjalan di depan Devan saat ini, secara kebetulan bertemu tanpa sapaan. Nayla dan Alex berjalan secara beriringan,,, sesekali keduanya tersenyum membahas hal-hal sepele yang membuat terdengar tawa dari bibir keduanya. Kadang juga keduanya berbicara serius mengenai keadaan pasien yang aneh.


"Kemarin yah Dok,, massa suami pasien bilang," ucap Nayla yang mau menirukan bagaimana suami pasien yang mereka tangani berbicara.


"Suaminya bilang gini,, suster tolong bilangkan pada Dokter untuk tidak menjahit semua lubang istri saya, tinggalkan sedikit untuk saya," ucap Nayla sambil terkekeh.


"Apa benar ada begitu?" ucap Alex sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tertawa begitu mendengar cerita lucu Nayla.


"Iya Dok," ucap Nayla yang langsung mengangguk cepat.


"Ada-ada saja," ucap Alex sambil tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kelucuan Nayla.


"Tidak ada Dok," jawab Nayla.


"Kita jalan-jalan sama Felix gimana?" tawar Alex.


"Boleh Dok," jawab Nayla tanpa pikir panjang.


Keduanya terus berbicara dan tertawa,, tanpa sadar Devan terasa semakin hancur. Diam tanpa bicara,, tanpa kata hanya telinganya saja yang mendengar dengan kedua mata yang menyaksikan senyum Nayla hanya tertuju pada Alex.


Jessica menyadari itu semua segera menarik Devan berjalan cepat mendahului Nayla yang sebelumnya berada di depan mereka. Nayla dan Alex terlalu asik berbicara sehingga tidak menyadari itu sama sekali.


##############


Jam istirahat akhirnya tiba, Nayla diminta oleh Alex untuk membelikannya kopi. Nayla segera keluar,, dia ingin juga makan siang terlebih dahulu, seketika dia masuk ke dalam lift. Ruangan dokter Alex ada di lantai lima dan dia sedang malas berjalan di anak tangga. Saat pintu lift terbuka Nayla langsung masuk saja tanpa menyadari di sekelilingnya, setelah pintu lift tertutup Nayla mundur selangkah hingga punggungnya menabrak dada seseorang.


"Maaf," ucap Nayla cepat-cepat menjauh dan merasa tidak enak.


Sesaat kemudian Nayla menatap wajah pria itu,, wajah Devan yang menatap dirinya dengan begitu dingin.


"Maaf Dok," ucap Nayla yang memposisikan dirinya hanya sebagai bawahan, ataupun seorang perawat yang bekerja di rumah sakit Devan.


Devan hanya menatap wanita yang dirindukannya itu tanpa kata, andai saja wanita itu tahu bahwa saat ini Devan benar-benar merindukan dekapan hangat dari wanita itu. Tetapi Devan hanya bisa menahan,, tanpa bisa melakukan apapun.


Wajah Nayla terlihat lebih segar membuat Devan semakin merasa tersiksa, berbeda sekali dengan Devan. Rambutnya terlihat kusut, jambang tipis kini mulai memanjang, dengan ekspresi wajah yang semakin dingin tak tersentuh.

__ADS_1


Setelah pintu lift terbuka,, Nayla dengan buru-buru keluar, Devan hanya menatap punggung Nayla yang semakin menjauh dari pandangan matanya.


Sesaat kemudian Devan pun keluar dari dalam lift,,,, dia diminta oleh Jessica membelikan makan siang di restoran tepat berada di depan rumah sakit. Sebenarnya Devan tentu saja bisa menyuruh siapapun, tetapi Jessica ingin menyuruh Devan yang turun tangan sendiri. Devan tidak menolak tahu Jessica sedang mengidam.


Hanya saja hati Devan yang tidak bisa diajak berkompromi, lagi-lagi hanya bisa menahan kerinduan untuk memeluk Nayla yang kini duduk bersebelahan dengan kursi yang dia duduki.


Nayla tidak menyadari itu dan tampak masih asik dengan ponselnya hingga tiba-tiba ada yang duduk di depannya.


"Hei apa kabar?" tanya pria itu.


Nayla langsung menyimpan ponselnya pada saku dan beralih menatap pria yang menegurnya. Nayla benar-benar shock begitu melihat pria di hadapannya yaitu pria yang dulu mengisi hatinya.


"Hai," Denis kembali mengulangi sapaannya pada Nayla


"I...iya," ucap Nayla yang mendadak gagu karena terlalu shock begitu melihat mantan kekasihnya tersebut.


"Kamu kenapa? ke mana saja?" tanya Denis sambil memperhatikan pakaian Nayla.


"Mas kamu di sini?" tanya Nayla balik yang tidak menjawab pertanyaan Denis, dia terlalu terkejut dan memilih bertanya.


"Iya aku baru dua hari kerja di rumah sakit depan," jawab Denis.


Nayla mengangguk mengerti.


"Kamu kerja di rumah sakit mana?" tanya Denis balik.


"Sama aku juga kerja di rumah sakit depan,, cuma sebagai asisten Dokter," jawab Nayla.


Denis mengerti artinya kini mereka kerja di rumah sakit yang sama,, betapa bahagianya hati Denis.


"Kamu sudah melahirkan?" tanya Denis karena alasan perpisahan mereka waktu itu adalah Nayla yang sedang hamil, padahal Denis sangat bersedia menikahi Nayla meskipun Nayla hamil anak pria lain.


Sayangnya saat itu Devan tidak mau menceraikan Nayla dan akhirnya keduanya kehilangan komunikasi,, hingga hari ini keduanya bertemu lagi tanpa sengaja.


"Udah Mas,, anakku laki-laki dan aku udah cerai juga, kamu gimana Mas? dan aku minta maaf karena buat kamu kecewa waktu itu," ucap Nayla dengan perasaan yang benar-benar tidak enak.


"Tidak masalah sama sekali!! kita masih bisa berteman kan?" tanya Denis sambil tersenyum.


"Iya tentu saja," jawab Nayla sambil tersenyum juga.


Devan lagi-lagi hanya bisa memijit kepalanya, menahan perasaan sesak yang kini semakin menyiksa dirinya.


#############


Jessica sudah tidak tahan menanti pesanan makanan yang belum juga datang sampai sekarang,, Devan pergi cukup lama dan belum juga kembali sampai dirinya sudah merasakan lapar.


Jessica memutuskan untuk menghubungi Devan tetapi ternyata ponsel Devan tertinggal, Jessica mendengar suara ponsel Devan berdering dari dalam laci begitu Jessica menelepon nomor ponsel Devan.


Tiba-tiba Jessica berjalan ke arah meja kerja Devan dan membuka laci, tubuh Jessica kembali menegang menatap sebuah bingkai foto. Gambar Nayla dengan perut membuncit tersimpan rapi di dalam laci tersebut, bahkan layar ponsel Devan pun adalah foto Nayla dan juga Felix. Hati Jessica semakin sakit mengetahui kini cinta Devan hanyalah sebuah sandiwara semata.


Tidak!!! Jessica mengusap air matanya dan seketika menyusul Devan menuju restoran, setelah sampai di pintu masuk Jessica mengedarkan pandangan matanya mencari Devan. Hingga matanya melihat Devan sedang duduk di salah satu kursi,, tetapi Jessica pun menyadari arah tatapan mata Devan.


Nayla!!! yah Nayla duduk di kursi lainnya dan mata Devan tidak ada hentinya menatap Nayla. Jessica benar-benar bingung dengan dirinya, tatapan mata Devan sangat penuh cinta pada Nayla tetapi tidak pada dirinya sama sekali,, tatapan itu tidak ada untuk dirinya.

__ADS_1


Tatapan mata itu terlihat sungguh berbeda, di manakah laki-laki dulu yang mencintainya tanpa jeda,, dulu sekali sewaktu mereka masih pacaran.


Tampaknya semua sirna terkikis oleh waktu, mungkin juga sudah tidak tersisa untuk dirinya sedikitpun,, Jessica ingin sekali menangis,, menjerit sekencang-kencangnya sebab terluka cinta.


__ADS_2