Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Tidak baik jika memaksa sebuah hubungan...


__ADS_3

Malam harinya acara pertunangan pun benar dilaksanakan,, Pian pun segera kembali dari luar kota saat mengetahui berita tidak menyenangkan itu. Ada kemarahan di matanya atas perbuatan putrinya yang ditangkap warga, akan tetapi sudah terlanjur terjadi menikahkan putrinya adalah keputusan terbaik.


"Jessica aku nggak ngapa-ngapain sama dia," Reyna memeluk kakak iparnya dengan sekencang mungkin.


Kakak iparnya itu langsung datang ke rumah mertuanya,, saat Puput sendiri yang memintanya. Puput adalah ibu mertua atau ibu kandung dari Alex, dirinya cukup menyayangi serta menghargai Jessica sebagai bagian dari anggota keluarga.


Jessica pun hanya bisa memeluk Reyna memberikan kekuatan pada adik iparnya tersebut, sesekali tangannya mengusap punggung Reyna.


Begitu juga dengan Nayla bahkan dirinya terus menunggui istrinya sejak siang tadi.


"Nayla, kamu percaya kan aku nggak ngapa-ngapain?" ucap Reyna dan Nayla pun mengangguk, bagaimana bisa mereka melakukan hal itu, sedangkan akur saja tak pernah bisa.


"Tante Puput punya penyakit jantung,dia sudah sangat shock saat memergoki kalian sedang di kerumunan warga, apalagi warga membenarkan semua itu," ucap Nayla.


"Nayla tapi aku..."


Puput masuk ke dalam kamar melihat Reyna yang masih memakai kemeja putih berpadu dengan celana hitam.


Bukankah sudah meminta memakai kebaya yang barusan diberikannya tapi mengapa tak memakainya juga.


"Dasar memalukan!!!" Puput terus saja memegang dada yang terasa sakit, dirinya sangat malu merasa gagal mendidik putrinya.


"Ma,, aku nggak..."


Nayla menggeleng meminta Reyna tak lagi membantah, tahu Puput sedang tidak baik-baik saja. Lagi pula suasana sedang memanas, takut akan memperkeruh keadaan, Reyna pun terpaksa diam walaupun masih terus menangis.


"Mama duduk dan minum dulu," Jessica menuntun Puput untuk duduk di sisi ranjang, memberikan mineral mungkin dapat membuat wanita tersebut lebih baik.


"Alex mana?" Jessica menegang saat Puput menanyakan suaminya yang entah dimana rimbanya,, tak ada kontak sama sekali, keduanya seakan asing dan sibuk dengan urusan masing-masing.


"Jessica" Puput menepuk pundak Jessica, menyadarkan dari lamunannya.


Jessica meneguk saliva sambil beralih menatap Reyna kemudian Nayla.


"Kamu telepon Alex," ucap Puput dan Jessica mengangguk, perlahan mengambil ponselnya dan mencari nama kontak Alex.


Dengan rasa ragu Jessica menghubungi Alex dan sesaat kemudian terdengar suara seseorang di seberang sana. Jessica bernapas lega Alex menerima panggilannya, sayangnya yang terdengar bukan suara Alex melainkan suara wanita.


"Halo maaf Bu Jessica, Dokter Alex sedang di toilet," kata wanita di sebelah sana, tentunya tahu siapa yang menghubungi Alex, melihat namanya sudah tertera pada layar ponsel.


Jessica terdiam dengan keringat bercucuran akan tetapi, tubuh terasa lebih dingin padahal udara sedang baik-baik saja. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepalanya, siapa wanita tersebut? apa hubungannya dengan Alex?


"Jessica kamu kok diam?" Puput melihat kejanggalan yang mengundang tanya.


"Iya Ma, Alex...."


"Halo," kini terdengar suara Alex pada sambungan telepon.


Jessica pun berhenti menjelaskan sebuah alasan yang hanyalah kebohongan belaka pada mertuanya demi menutupi keadaan rumah tangganya sebenarnya tanpa tahu arah dan tujuan.

__ADS_1


"Halo kamu di mana?" Jessica merasa tegang,, mungkin saja Alex akan memakinya pikir Jessica.


Merasa terganggu karena telepon darinya, untuk kali ini saja Jessica memohon pengertian Alex, pun melakukan hal ini karena perintah mertuanya.


"Aku di apartemen, ada apa?" tanya Alex dengan dingin.


Di apartemen?


Sama wanita?


Lagi!!!


Apa haknya untuk melarang itu semua,, tidak ada!!!


Meskipun menikah karena sebuah tujuan kebahagiaan Devan dan Nayla, apakah harus Alex melakukan hal sesakit ini padanya?


Tidak! Jessica harus bersabar, awalnya menikah karena satu hal, lalu kenapa tiba-tiba mengharapkan lebih?


"Aku di rumah Mama,, Reyna dan Nanda akan bertunangan malam ini, Mama minta kamu pulang," akhirnya Jessica mengutarakan tujuannya menghubungi Alex.


Meskipun bibir terasa berat.


Panggilan pun terputus begitu saja entah Alex akan pulang atau tidak belum ada jawaban pasti.


"Apa dia pulang?" tanya Puput tidak sabaran.


"Pulang Ma, tapi agak lama ada pekerjaan mendadak," untuk yang kesepian kalinya Jessica berbohong.


"Kamu baik-baik saja?" Nayla rasa ada yang tidak beres pada pernikahan Alex dan Jessica.


Acara pertunangan pun segera dimulai,, Alex tepat datang sebelum acara tukar cincin dilangsungkan.


Semua duduk di ruang keluarga untuk menyaksikan pertunangan tersebut, tak terkecuali Ana yang juga ikut datang bersama Bima Putra.


"Jessica, suami kamu datang kok nggak disambut?" tanya Puput.


"Senyum gitu,, ditanya minum apa? gimana sih," ucap Puput lagi.


Entah karena kepala Puput sedang pusing memikirkan Reyna hingga membuat darah tingginya terus saja mendidih, atau memang Puput tidak suka istri yang tidak menyambut kedatangan suaminya.


Entahlah!!!


Jessica memang tidak menyadari kedatangan Alex, lagi pula jika pun ada dirinya harus menyambut seperti apa?


"Iya kok kalian..."


"Nayla," Devan pun melayangkan tatapan dingin pada istrinya, meminta diam tanpa ikut campur. Nayla pun mengangguk memilih diam apalagi banyak orang.


Selesai acara tukar cincin pun dilanjutkan dengan makan malam bersama, Reyna merasa tidak nafsu makan atas apa yang terjadi. Dengan segera bahkan tanpa pamit, dirinya meninggalkan yang lainnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun terutama pada lelaki yang kini berstatus sebagai calon suaminya.

__ADS_1


"Arni, maaf yah! maklum Reyna masih butuh banyak belajar," kata Puput dengan tidak enak hati.


"Aku mengerti," Arni tersenyum lembut.


"Dia masih anak-anak," ucap Arni lagi.


Makan malam pun berlangsung dengan baik, sesekali terdengar suara candaan untuk memecah keheningan.


Nanda pun hanya diam pasrah menerima keadaan,, sesaat kemudian ponsel Nanda berdering, dengan segera menerimanya kemudian pamit undur diri sebab dirinya ada tugas mendadak.


"Kamu pamit sama Reyna dulu," kata Arni.


"Iya ke kamarnya aja langsung,, tidak apa-apa," ucap Puput.


Ke kamar langsung?


Bisa saja Nanda menerima bogeman mentah.


"Aku sedang buru-buru Tante, Mama,, semua saya permisi!" pamit Nanda dan segera pergi.


"Semoga mereka cepat menikah yah Arni,, aku takut Reyna keburu hamil," Puput tak bisa membayangkan betapa malunya jika itu terjadi.


"Pasti tidak usah takut,," Arni meyakinkan Puput bahwa putranya akan bertanggung jawab.


"Alex, kamu kenapa nggak makan? Jessica piring suamimu masih kosong,," Puput kesal bukan kepalang, mengapa menantunya itu malah makan terlebih dahulu sebelum memperhatikan suaminya.


Ingin sekali Puput meremas wajah Jessica, kesal sekali tak bisa melayani suaminya.


"Apa di apartemen juga kalian begini? suami apa-apa nggak diurus? memalukan!!! Arni kalau nanti Reyna melakukan ini pada Nanda, tidak usah segan memarahinya, aku tidak suka wanita yang tidak bisa mengurus suami," tegas Puput tanpa ampun.


Jessica hanya bisa mengusap dada menerima apapun yang kini dipikirkan mertuanya terhadap dirinya.


"Lihat Nayla bertanya pada suaminya, makan ini,, itu, yang mana? dan mengisi piring suaminya," ucap Puput lagi.


"Tante sudah," Nayla tidak ingin dibandingkan setiap orang memiliki cara masing-masing.


Mungkin begitu juga dengan Jessica.


"Mulai hari ini kamu dan Alex harus tinggal di rumah Mama,, agar Mama ajarkan cara mengurus suami," ucap Puput dengan dada naik turun.


Pahit sekali rasa nasi yang kini berada di dalam mulut Jessica, ingin bangun dari duduknya rasanya tak sopan, dengan menahan air mata Jessica hanya tertunduk sambil mendengarkan setiap kata yang menyudutkannya,, Jessica sadar ini adalah hukuman yang belum seberapa untuknya dibandingkan atas apa yang pernah dilakukannya pada Devan dan Nayla, baiklah lagi-lagi Jessica mencoba menahan sesak di dada.


"Alex kita perlu bicara," Devan berdiri dari duduknya, kaki Devan berjalan menuju teras.


Alex bangun dari duduknya dan menyusul Devan yang sudah menunggunya di teras.


"Aku tahu pernikahan yang kalian jalani, jika tidak sanggup jangan paksakan tak perlu berkorban jika memang kalian berdua tidak bisa bahagia," Devan berbalik dan menatap Alex.


Tidak ada kata yang keluar dari mulut Alex, dirinya hanya diam dan tidak menyangka ternyata Devan tahu tentang sandiwara pernikahan dirinya dan Jessica.

__ADS_1


Devan berjalan ke arah Alex menepuk pundak sahabatnya tersebut hingga beberapa kali, dirinya berharap ada keputusan tepat, lepaskan atau bahagiakan! tidak baik jika memaksa sebuah hubungan.


__ADS_2