
"Kenapa dia menjadi laki-laki kurang ajar seperti itu," Puput memeluk Reyna dengan erat, menangis tersedu-sedu merasakan kekecewaan yang begitu dalam.
Sesaat kemudian Reyna melihat kelopak mata Jessica terbuka, dirinya merasa kini berada di tempat berbeda.
Mengingat sebelumnya berada di rumah, dirinya mencoba bangun dari atas ranjang untuk membersihkan diri sayangnya belum sampai di kamar mandi, dirinya terjatuh dan sudah tak mengingat apapun.
Mungkinkah dirinya jatuh pingsan, lalu kini berada di rumah sakit, matanya pun melihat tangan yang menggunakan selang infus, tampaknya memang benar dirinya sudah berada di rumah sakit.
Siapa yang membawanya?
Apakah Alex?
Seketika matanya melihat Puput yang tengah menangis tersedu-sedu, kini Jessica yakin Puput yang membawanya menuju rumah sakit, akan tetapi Jessica tak menyangka bahwa Puput menangis hanya untuk dirinya, apakah mertuanya itu sebenarnya memiliki hati yang baik? hanya saja memang mulutnya yang suka berbicara dengan bahasa kasar, bahkan suka mengomel jika seseorang melakukan kesalahan, tampaknya begitu.
"Kamu mau apa? kamu kenapa tidak makan seharian ini?" tanya Puput dengan beberapa pertanyaan sekaligus, tangannya menyeka air mata yang terus saja membasahi pipinya, merasa iba pada Jessica, bersalah karena gagal mendidik putranya selama ini.
"Atau kamu mau minum?" Puput pun mengambil mineral dan membantu Jessica untuk minum, tanpa sengaja Puput memegang lengan Jessica, seharusnya baik-baik saja namun siapa sangka ternyata Jessica meringis menahan sakit, ternyata lengannya membiru bekas cengkraman tangan yang begitu kuat. Air mata Puput semakin bercucuran membasahi pipinya.
"Maafkan Mama, Mama udah gagal membesarkan dia," suara Puput terdengar pilu dengan air mata yang kembali menetes, andai saja Reyna tidak memasuki kamar Alex, mungkin sampai saat ini pun Jessica masih terkapar belum sadarkan diri, bahkan bisa saja keadaannya lebih buruk dari saat ini, sungguh Puput tidak bisa membayangkannya.
"Jangan nangis terus, kasihan Jessica dia tambah tertekan," kata Reyna, Reyna pun ikut merasa kesal pada Alex, akan tetapi saat ini Jessica membutuhkan kekuatan bukan tangisan yang bisa membuat keadaannya menjadi lebih buruk.
Bahkan saat dirinya kembali, Alex terlihat santai menonton televisi tanpa peduli pada istri yang baru saja menerima kekasaran tangannya.
###############
Apa yang telah terjadi malam tadi sampai di telinga Pian, Puput sendiri yang mengadu pada suaminya tentang apa yang sudah dilakukan oleh Alex pada Jessica. Pian tidak tinggal diam, dirinya menunggu Alex di ruang tamu, sebentar lagi Alex akan keluar dari kamarnya dan berangkat ke rumah sakit seperti biasanya, tidak berselang lama terlihat Alex berjalan melewatinya, Pian pun meminta Alex untuk duduk terlebih dahulu, Alex menolak hingga beberapa kali dirinya harus segera menuju rumah sakit untuk menangani pasien, akan tetapi Pian memilih bangun dan menghajar wajah Alex dengan kuatnya.
Wajah Alex terbawa ke samping, kemudian tangannya mengusap sudut bibirnya ternyata ada sedikit darah yang keluar.
__ADS_1
"Jika kau butuh teman untuk bermain tinju cari lawan yang seimbang, Papamu ini mantan petinju yang pernah memenangkan beberapa pertandingan. Jangan melawan wanita itu artinya kamu lemah," dengan menarik kerah kemeja Alex, Pian kembali menendangnya.
Alex terjatuh di lantai, entah apa yang terjadi kini semua keluarganya malah membela Jessica dengan mati-matian, rasa benci semakin membara ternyata dalam sekejap saja Jessica mampu membalikan keadaan seakan benar-benar menjadikannya asing di mata keluarganya sendiri.
"Kalian semua aneh! mengapa semua malah membela dia? kenapa tidak ada yang bertanya penyebabnya?" tanya Alex ingin membela diri, Pian pun tersenyum dan kembali menghajar Alex hingga beberapa kali.
"Mungkin otakmu itu sedang tergeser, jadi kalau Papa hajar mungkin bisa kembali lagi," ucap Pian.
"Apa yang akan Papa lakukan kalau Mama pergi dengan laki-laki lain? apa Papa akan diam saja?" Alex bangun kembali sambil merapikan kemejanya, melawan rasanya tak mungkin akan tetapi apa yang dilakukan oleh Pian membuatnya babak belur.
Sampai di sini Alex semakin merasa diasingkan.
"Hanya karena orang asing Papa lupa siapa anak kandung Papa, hanya karena wanita itu Papa memukul aku untuk pertama kalinya," ucap Alex tak terima.
"Dia bukan orang asing, kau yang membawanya ke rumah ini sebagai istri," ucap Pian.
"Tetap saja dia itu orang asing," ucap Alex.
"Dia itu sudah bermain gila, di mana harga diri Alex sebagai laki-laki jika hanya diam saja," ucap Alex.
"Ceraikan jika memang sudah tak sanggup lagi, kembalikan dia pada orang tuanya, tidak ada hak mu untuk kasar," ucap Pian.
"Kenapa Papa membelanya?" ucap Alex.
"Papa tidak membelanya, apalagi membelamu! di sini Papa mengatakan kecewa padamu, apakah pernikahanmu dengan Jessica kami paksa? tidak! kamu yang memutuskan menikah dengannya bahkan kami pun bingung mengapa harus terburu-buru, akan tetapi kami sebagai orang tua mencoba mengerti, takutnya ada hal yang kalian lakukan di luar batas, hingga kami pun menyetujuinya, lalu kenapa sekarang ini kamu bersikap sesukamu, mana tanggung jawab mu?" mungkin dengan begitu bisa membuat otak Alex menjadi lebih cerah.
Pian pun sudah cukup menahan emosi selama beberapa jam saat Puput menceritakan kelakuan kasar putranya selama ini terhadap istrinya.
"Kamu itu bodoh atau bagaimana? apa kamu bahagia setelah memukulinya lalu menidurinya? menjijikan!!!" geram Pian yang belum bisa di redam, rasanya apa yang dilakukan oleh Alex cukup di luar akal sehat.
__ADS_1
Alex menunduk memegang wajahnya yang terasa sakit.
"Ingat ya kalau kamu masih berani menyakiti istrimu, lawanmu bukan lagi Jessica tapi Papa," ucap Pian. Bahkan sebelum pergi pun masih sempat menendang Alex, entah berapa kali pukulan dan tendangan yang dilakukan olehnya.
Padahal tak pernah Pian mengajarkan untuk memukuli ataupun kasar pada wanita, akan tetapi Alex malah melakukan hal tersebut, sungguh lelaki tidak berperikemanusiaan, yang tidak patut untuk dijadikan sebagai seorang suami bertanggung jawab atas istrinya.
"Kurang ajar!" Alex pun tetap melanjutkan tujuannya menuju rumah sakit, pagi ini benar-benar mengesalkan sekali.
Sampai di rumah sakit Zaskia shock melihat wajah Alex yang babak belur, dengan perhatian yang manis dirinya langsung bertanya.
"Dok wajah anda kenapa?" tak segan Zaskia memegang wajah Alex, kemudian mengobatinya saat itu Puput menuju ruangan Alex ingin menemui putranya tersebut, tapi malah dirinya melihat Zaskia begitu dekat dengan Alex, tangan Puput menepis tangan Zaskia kemudian menatap Alex, beberapa saat kemudian dirinya kembali menatap Zaskia.
"Kamu itu yang sopan, Alex sudah memiliki istri," Puput menunjuk wajah Zaskia dengan geram.
"Maaf bu saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Dokter Alex, saya hanya melakukan pekerjaan saya untuk mengobati lebam di wajah Dokter Alex tidak lebih, permisi!" Zaskia segera pergi menyelamatkan diri, setelah keluar dari ruangan Alex dirinya tersenyum bahagia, mungkin saja sedang ada keributan antara keluarga Alex.
Mungkin bisa saja menguntungkan baginya!
Tampaknya sebentar lagi posisinya akan segera naik menggantikan posisi Jessica, ini sangat menarik, dirinya mengintip dari cela pintu terlihat jelas ada keributan yang tengah terjadi di dalam sana, dalam hatinya berdoa semoga saja secepat mungkin Jessica dan Alex bercerai.
"Hei tidak sopan!" Reyna yang menyusul Puput geram melihat Zaskia mengintip.
Zaskia pun berbalik dan menatap Reyna tak kalah kesal kesal.
"Jangan pernah berpikir untuk menghancurkan pernikahan kakakku, paham?" ucap Reyna.
"Kita lihat saja nanti," Zaskia tersenyum melihat wajah Reyna, kemudian pergi sambil menyenggol lengan Reyna.
"Kurang ajar," Reyna ingin mengejar Zaskia tapi Nayla menahannya, andai saja tidak ditahan mungkin dirinya sudah menyeret wanita biadab itu keluar dari rumah sakit ini.
__ADS_1
"Kita punya banyak cara cantik untuk menyingkirkannya, jangan pakai tanganmu, nantinya kau bisa dipertontonkan oleh orang-orang di sini, ini keramaian tampaknya dia pandai bersandiwara," bisik Nayla, apa yang dikatakan Nayla sangat benar sekali, sampai di sini Reyna tahu bahwa Zaskia sangat busuk. Menyesal sekali selama ini pernah berteman baik ternyata tidak lebih dari wanita jahat yang suka menghancurkan hubungan orang lain.