
Pagi-pagi sekali rumah Nayla sudah digedor, bahkan sampai membuat Felix menangis karena mendengar suara keributan.
"Siapa sih kok nggak sopan banget?" ucap Reyna kesal.
Nayla berusaha menenangkan Felix, tidur bocah itu terganggu karena suara gedoran pintu yang sangat kencang. Sesekali terdengar suara wanita berteriak meminta untuk dibukakan pintu, Reyna membuka pintu dan melihat dua orang wanita, satunya sudah cukup berumur dan satunya lagi mungkin sebaya dengan dirinya.
"Ada apa yah, Bu?" tanya Reyna yang masih berusaha untuk tetap tenang, menimbang orang tersebut lebih tua darinya jadi harus dihormati.
Andai saja wanita itu seumuran dengan dirinya, mungkin saat membuka pintu barusan langsung membenturkan kepala wanita tersebut pada sudut pintu.
"Saya Dina ibunya Denis dan ini Nina calon istri Denis," ucap wanita paruh baya tersebut dengan penuh kemarahan dan nafas yang naik turun.
Reyna mengangguk sambil berpikir keras,, bingung pada ibu yang kini berdiri di hadapannya.
"Ya,, ada apa Bu?" tanya Reyna lagi.
"Ibu! Ibu! aku bukan Ibumu! kamu pasti Nayla! wanita janda yang merayu putraku," ucap Dina sekalipun belum tau pasti siapa wanita yang sedang berada di depannya saat ini.
"Hah tapi saya bu...." ucap Reyna,, belum juga Reyna selesai bicara lagi-lagi Dina sudah memotong ucapannya.
"Heh,, dengar baik-baik, anakku itu aku sekolah kan tinggi-tinggi agar menjadi orang yang sukses dan mendapatkan calon istri yang baik-baik,, bukan janda gatal sepertimu!!!" ucap Dina yang nafasnya naik turun terbakar amarah. Bobot wanita itu cukup besar hingga terlihat begitu menyeramkan saat marah.
"Bu,, saya ini bukan Nayla!" ucap Reyna.
"Lalu? Nayla yang mana?" tanya Dina yang merasa sedikit malu padahal tadi dia sudah menebak bahwa yang membuka pintu itu pasti janda anak satu dan ingin dijadikan istri oleh anaknya Denis.
__ADS_1
Setelah mendengar namanya terus disebutkan, Nayla membaringkan Felix di ranjang yang kembali terlelap walaupun sempat terganggu karena suara teriakan seorang wanita.
"Saya Nayla, Bu. Ada apa yah?" tanya Nayla sambil berdiri di samping Reyna,, menatap wanita berbobot mungkin sekitar sembilan puluh dua kilogram dihadapannya saat ini.
Untuk jalan saja dia terlihat cukup sulit ditambah lagi mengomel membuatnya terlihat aneh dan mengerikan. Jangan lupakan alis matanya seperti kartun sinchan yang begitu tebal dan lebar, mungkin juga bisa disebut jalan tol.
"Jadi kamu Nayla?" tanya wanita itu.
"Silahkan masuk Bu," ucap Nayla yang begitu sopan mempersilahkan Dina untuk masuk.
"Saya tidak sudi masuk ke rumahmu ini, saya hanya mau memperingatkan jangan dekati anak saya, apalagi merayunya,, saya tidak sudi kamu menjadi menantu saya," ucap Dina.
"Maaf sebelumnya,, Ibu siapa?" tanya Nayla.
Nayla menatap wanita yang berdiri di samping Dina,, lipstik yang berwarna ungu dan pakaian yang begitu sempit di tubuhnya. Bukan bermaksud meremehkan akan tetapi rasanya seperti tidak sesuai dengan penampilan dan tubuhnya.
"Hei,, Ibu Dina yang terhormat,, sahabat saya Nayla tidak mungkin mengejar-ngejar putra anda, justru putra anda yang ke sini untuk memohon kembali dengan sahabat saya," ucap Reyna.
Reyna kesal pada Dina yang menganggap seorang janda itu hina, padahal ucapannya jauh lebih hina dan menjanjikan.
"Udah nggak enak kalau didengar orang," ucap Nayla yang berusaha meredam keadaan yang semakin memanas.
Reyna tentu mau kalah begitu saja ketika berdebat, pantang baginya direndahkan tanpa membalas.
"Bu jika memang anda ingin saya tidak berhubungan lagi dengan anak anda, karena saya seorang janda maka saya akan memutuskan hubungan kami, Ibu tidak perlu khawatir," ucap Nayla yang tidak mau memiliki hubungan dengan seseorang jika memang orang tuanya tidak akan merestui,, lagi pula sejujurnya Nayla belum siap untuk menjalin hubungan baru.
__ADS_1
"Bagus!!! awas saja kalau kamu masih berani mengganggu anakku,, dasar janda," ucap Dina.
"Heh.... pergi dari sini," usir Reyna yang sudah tidak tahan lagi, apalagi saat mendengarkan kalimat hinaan kembali keluar dari mulut Dina.
Dina langsung menatap sinis pada Reyna, baginya wanita seperti Reyna tidak pantas mengucapkan kalimat kasar padanya.
"Sombong!!! tinggal di rumah begini saja, anak saya Denis sudah membeli rumah dari hasil kerja kerasnya sendiri. Dan lebih bagus daripada rumah ini, tapi sepertinya rumah ini juga hanya rumah kontrakan," ucap Dina sambil tersenyum miring sangat puas menghina Nayla dan juga Reyna.
"Ya ampun ini lampir pengen banget gue timpuk," ucap Reyna yang sudah sangat kesal.
"Udah!!!" ucap Nayla segera berdiri di depan Reyna karena takut apa yang diucapkan Reyna akan menjadi kenyataan.
"Ibu mohon maaf kalau memang sudah selesai bicara,, boleh pergi? saya berjanji tidak akan pernah berhubungan lagi dengan putra Anda," ucap Nayla lagi.
"Baiklah saya pegang janji kamu atau...,"
"Atau apa?" tanya Reyna yang berdiri di belakang Nayla.
"Udah Ibu!!! saya berjanji dan tolong pergi dari rumah saya," ucap Nayla cepat karena melihat Reyna sepertinya sudah sangat naik darah takutnya Reyna akan membuat ibu itu menjadi terkejut dengan apa yang akan dilakukan oleh Reyna selanjutnya itu seperti apa,, bisa-bisa Ibu itu langsung kena mental.
Dina langsung tersenyum sinis lalu segera pergi membawa menantu yang menurutnya sangat cocok untuk Denis itu,, padahal wanita itu benar-benar sangat tidak cocok untuk Denis apalagi begitu melihat dandanan wanita itu,, sungguh Reyna benar-benar bingung seperti apa penglihatan Ibu Denis,, jelas-jelas Denis sangat tidak cocok dengan wanita itu. Reyna kasihan pada Denis jika dijodohkan dengan wanita seperti itu.
Reyna ingin sekali meremas mulut Dina dan juga sangat kesal pada Nayla yang terus menghalangi niatnya itu,, Reyna sangat ingin memberi pelajaran pada ibu-ibu itu,, Reyna tidak peduli sama sekali kalau ibu-ibu itu jauh lebih tua dari dirinya,, karena dia pantas untuk mendapatkan hal seperti itu karena mulutnya terlalu kurang ajar,, seenaknya saja menghina orang lain,, mentang-mentang Nayla janda lalu dia seenaknya menghinanya.
Sedangkan Nayla segera menghubungi Denis untuk menemui dirinya, mengembalikan cincin yang diberikan padanya. Memutuskan hubungan mereka sekalipun membuat Denis begitu kecewa sangat dalam. Nayla tentu tidak ingin lagi gagal dalam pernikahan, lebih baik dia mengakhiri sejak saat ini daripada nanti, kasihan putranya jika nanti merasakan kesedihan jika dia menikah tanpa restu dari orang tua laki-laki tersebut.
__ADS_1