Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Sakit tiada terkira.


__ADS_3

"Permisi Dok," Rima masuk ke ruangan Alex dengan terburu-buru, bahkan dengan napas yang terengah-engah.


Sekalipun tersadar apa yang dilakukannya tidaklah sopan, masuk tanpa ijin dari pemilik ruangan tentunya tidak baik.


"Maaf, saya langsung masuk, Tante Inggit sudah sadar dan ingin bertemu dengan anda," kata Rima dengan suara bergetar.


Alex merasa bersyukur karena artinya keadaan mertuanya lebih baik, akan tetapi untuk Inggit ingin bertemu dengan dirinya.


"Iya, saya bangunkan istri saya dulu," jawab Alex kemudian Rima pun keluar dari ruangan tersebut.


Alex melihat tidur Jessica masih begitu lelap, ada rasa tidak tega untuk membangunkannya. Tetapi, ini juga kabar gembira yang harus di dengar istrinya.


"Jessica, bangun," dengan perlahan dan hati-hati Alex pun membangunkan Jessica.


Mata Jessica pun perlahan terbuka, dan menatap Alex. Bangkit dari tidurnya dan duduk di samping Alex.


"Aku ketiduran ya," Jessica tidak menyadarinya ternyata sudah terlelap dalam sekejap saja.


Alex mengangguk sambil merapikan rambut Jessica yang berantakan.


"Mama udah sadar," ujar Alex.


Jessica pun terkejut mendengar berita baik tersebut, air matanya menetes penuh bahagia. Berita ini sungguh luar biasa.


"Mama sadar? Kamu serius? Aku nggak salah dengar?" Tanya Jessica dengan bertubi-tubi, tidak ingin salah mendengar.


"Kita lihat Mama sekarang "


Jessica pun mengangguk seraya bangkit dari duduknya, dengan tidak sabaran segera menuju ruang ICU untuk melihat keadaan Inggit.


Bibir Jessica semakin tertarik pada masing-masing sudutnya, ternyata mata Inggit sudah terbuka menatap dirinya yang berjalan semakin mendekati.


"Mama, udah sadar," Jessica memeluk Inggit dengan erat, penuh rasa syukur betapa ini adalah hal yang begitu membahagiakan untuknya.


Akhirnya kembali menatap bola mata Mamanya yang indah.


Inggit menggenggam erat tangan Jessica, matanya mengarah pada Alex yang berdiri di belakang tubuh anaknya.

__ADS_1


Sebelah tangan Inggit mencoba menggapai tangan Alex dengan susah payahnya.


Jessica memutar leher melihat kearah Alex, hingga akhirnya suaminya tersebut berpindah berdiri di samping Jessica dan mengulurkan tangannya pada Inggit yang langsung menggenggamnya.


Sejenak semua diam, larut dalam pikiran yang mungkin begitu penuh tanya, apa yang akan terjadi selanjutnya. Hingga suara lemah Inggit pun terdengar.


"Mama, sudah merestui kalian berdua. Tolong bahagiakan Jessica. Berjanjilah untuk tidak lagi menyakitinya, dia sudah sangat tersakiti," kata Inggit dengan suara bergetar dan hampir menghilang.


Air mata Jessica terjatuh, perkataan Inggit membuat hatinya terasa penuh haru.


Alex mengangguk, dirinya hanya menggenggam erat tangan Inggit yang semakin dingin.


"Katakan kamu akan menjaganya dengan baik, mencintainya tanpa melukainya," pinta Inggit lagi.


"Kita akan menjaganya bersama-sama, Ma," jawab Alex.


Jessica menatap Alex penuh tanya, mengapa jawaban Alex seakan tidak bisa meyakinkan Inggit untuk mencintai dan menjaganya.


"Mama, sudah memilih untuk bersama Papa dan kami akan melihat kalian dari dunia lainnya, sambutlah kami dalam doa," jelas Inggit lagi penuh air mata dan suara lemahnya.


"Berjanjilah untuk Mama, yakinkan bahwa kamu akan menjaganya dengan tulus," Inggit tidak memperdulikan Jessica, dirinya hanya ingin berbicara pada Alex.


"Iya, Ma," Alex mengangguk dengan cepat.


"Terima kasih," Inggit pun tersenyum dan meminta Alex untuk memeluknya.


Dengan perlahan Alex mendekati Inggit dan memeluknya, sesaat kemudian tangan Inggit terjatuh.


Alex pun merasa ada yang berbeda, air matanya menetes dari mata menebak bahwa mertuanya sudah tidak ada.


Perlahan Alex pun menjauh, menatap wajah Inggit yang pucat.


"Alex, mata Mama kenapa tidak terbuka lagi?" Tanya Jessica bingung.


Alex tersenyum sambil menggeleng, sesaat kemudian memeluk Jessica dengan eratnya.


"Alex, Mama kenapa?" Tanya Jessica semakin ketakutan.

__ADS_1


Alex memeluk Jessica dengan eratnya, bibirnya tidak bisa berucap apa-apa. Tidak tega mendengar tangisan yang akan segera pecah.


"Alex, jawab aku. Mama kenapa?" Jessica semakin panik saat mata Inggit tidak lagi terbuka.


"Mama, sudah tidak ada," jawab Alex dengan suara bergetar tanpa melepaskan Jessica dari dalam dekapannya.


Jessica terdiam, tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Alex.


Melepaskan diri dari pelukan Alex, mendekati Inggit dengan kaki yang bergetar. Perasaan cemas kian melanda. Betapa sakitnya hati mengetahui Inggit sudah tiada.


"Mama!" Seru Jessica dengan sekencang-kencangnya, memeluk Inggit dengan eratnya.


Menangis tanpa henti, tanpa bisa di cegah lagi.


Tau apa itu kehilangan orang yang di cintai?


Sakit tiada terkira.


Selama ini hanya malaikat bergelar Mama yang selalu ada untuknya, dalam kesakitan, dalam luka, dalam air mata.


Tau seperti apa hati seorang wanita yang di panggil Mama?


Dia adalah wanita satu-satunya yang selalu menerima anaknya dalam keadaan apapun. Tanpa syarat, tanpa imbalan dan tanpa membutuhkan balasan.


Begitu pun dengan Jessica yang kini kehilangan tempat bermanja, lembutnya sentuhan tangan Mama sudah tinggal kenangan


Inilah saat-saat terakhir mendengar suara Mama yang memangilnya.


Jessica.


"Ma, jangan tinggalkan aku," seru Jessica penuh dengan air mata.


"Mama, sudah bahagia di sana bersama Papa, kamu tahukan mereka saling mencintai? Saat ini pun sama, Kak Rara sudah bahagia dengan suaminya, kamu juga dengan aku yang akan membahagiakan mu. Lalu bagaimana dengan Mama? Biarkan Mama bahagia di sana bersama Papa," kata Alex dengan perasaan tulus.


Jessica pun mengangguk dan memeluk Alex dengan eratnya, mungkin apa yang dikatakan Alex adalah benar.


Jessica sudah mengikhlaskan kepergian Inggit dengan penuh air mata.

__ADS_1


__ADS_2