Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Tegangan tinggi,,


__ADS_3

Nayla benar-benar menyetujui usulan sahabat nya Reyna, membenarkan memberikan pelajaran kepada Devan tanpa ada rasa iba seperti apa yang telah dilakukan Devan pada dirinya selama ini.


"Serius aku pakai ini?" tanya Nayla sambil menatap Reyna.


Nayla menatap tubuhnya di depan cermin, gaun tidur yang cukup terbuka itu sangat pas di tubuh indahnya meskipun saat ini Nayla sedang hamil.


"Serius dong Nay,, namanya juga balas dendam jadi harus totalitas Nay,," ucap Reyna sambil tersenyum penuh kemenangan.


Nayla pun mengangguk setuju saja,, kemudian pintu kamar terbuka,,, Devan saat ini terlihat berdiri di depan pintu kamar.


"Nay, aku tidur dulu yah," ucap Reyna sambil menunjukkan jam dinding yang sudah hampir subuh dan dia rasanya memang sudah sangat mengantuk.


Nayla pun lagi-lagi mengangguk lalu Reyna segera keluar dari dalam kamar Nayla.


Sementara Devan masih betah berdiri disana memandang Nayla yang tengah memakai baju yang sangat pas di tubuhnya dan terlihat sangat menggoda dengan perut membuncit, kapan terakhir kali menyentuh tubuh itu? Ah! Devan sudah tidak tau kapan yang jelasnya dia menginginkan nya lagi.


"Keluar!!" usir Nayla, saat ini Reyna sudah tidak ada.


Nayla menunjuk pintu,, Nayla menyuruh Devan keluar dari kamarnya.


"Nayla, Mas ingin tidur memeluk mu," ucap Devan dengan ekspresi wajah memelas.


Nayla memandang tubuh lusuh Devan, bibirnya tersenyum miring mengejek penampilan Devan.


"Apa istri tercinta mu itu mengabaikan dirimu juga? aku tidak mau tidur satu ranjang dengan mu,, apalagi dengan tubuh yang bau," ejek Nayla.


Katakan saja saat ini Nayla sombong dan itu benar sekali tidak ada yang salah. Tapi itu semua karena Devan sendiri yang membuatnya begitu terluka sangat dalam hingga saat ini dia tidak mengenal kata belas kasih lagi.


"Mas akan ganti baju dulu," ucap Devan lalu keluar dari dalam kamar dan mengambil pakaian ganti yang selalu tersedia di dalam mobilnya.

__ADS_1


Saat sudah mengganti pakaiannya begitu dia kembali pintu kamar Nayla sudah terkunci,, Devan pun dengan terpaksa tidur di kamar tamu.


Devan memilih mengalah daripada nantinya dia diusir dan meminta Bima Putra untuk menyembunyikan nya lagi. Devan tidak ingin itu terjadi.


##########


Pagi harinya Devan terbangun dan segera menuju kamar Nayla tapi sayangnya kamar itu kosong tidak ada siapapun. Devan benar-benar sangat ketakutan,,, takut jika Nayla benar-benar pergi dan minta disembunyikan oleh Bima Putra.


"Nayla," panggil Devan sambil berjalan cepat menuju kamar mandi.


Hati Devan benar-benar tidak tenang jika belum melihat Nayla, dia benar-benar takut Nayla pergi lagi.


"Kenapa kamu malah masuk?" ucap Nayla dengan geram saat Devan tiba-tiba masuk ke dalam kamar mandi disaat dirinya tengah mengguyur tubuhnya di bawah shower.


Nayla benar-benar menyesal lupa kunci pintu setelah dirinya keluar minum tadi.


Devan tersadar dari ketakutannya ternyata Nayla berada di dalam kamar mandi, Devan merasa sangat lega sekali karena pikiran buruknya tidak menjadi kenyataan. Tapi tunggu dulu,, Devan menyadari saat ini dihadapannya Nayla dengan tubuh basah dan perut terlihat besar serta begitu bulat.


"Mas cuma mau pegang," ucap Devan.


"Nggak, pergi sana, aku mau mandi,," ucap Nayla mengusir Devan.


"Sebentar saja," ucap Devan.


Nayla terdiam dan tampak menimbang permintaan Devan, sedetik kemudian mengangguk menyetujui keinginan Devan untuk menyentuh perutnya. Devan tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung memegang perut Nayla dan mengelusnya dengan lembut, seketika itu rasanya ada yang berbeda. Devan malah berjongkok dan mencium perut buncit Nayla. Seketika itu dia bangun dan menarik dagu Nayla lalu mencium bibir Nayla tanpa izin. Devan tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan disaat istri keduanya itu sedang jinak,, Devan sangat merindukan bibir manis yang telah mengerjai dirinya semalam menyuruh dirinya memasak dan malah diberikan kepada Art.


Nayla diam dan menerima bahkan membalas ciuman Devan dengan senang hati, membuka mulutnya dengan lebar membiarkan Devan melakukan hal yang dia inginkan.


Kemudian bibir Devan mulai turun menyentuh tengkuk Nayla, air masih terus turun tapi hawa panas begitu terasa diantara mereka.

__ADS_1


Sesaat kemudian Nayla mulai sadar bahwa Devan mulai menyentuh kedua gunung kembarnya yang kini kian membesar, bahkan sudah mengeluarkan ASI padahal kandungannya masih ada di trimester kedua. Tidak masalah Nayla pun masih diam dan membiarkan Devan melakukan nya sampai puas,, menyusu seperti bayi yang sangat kehausan,,, menyedot ASI itu dengan penuh nafsu.


Desah Nayla terdengar tanpa ditahan, itupun dengan sengaja, Nayla menikmati nya dengan suka rela.


Semenjak mengandung memang tuntutan ranjang sangat penting untuknya, mungkin karena hormon kehamilannya,, Nayla juga benci ini karena suaminya Devan yang artinya hanya Devan lah yang bisa memenuhi hal itu.


Lagipula sentuhan Devan yang kasar tapi disukainya memang cukup membuatnya rindu, tapi percayalah saat ini Nayla tidak sama lagi seperti dulu. Saat ini Nayla hanya menikmati sentuhan Devan karena kebutuhannya semata, bukan karena cinta seperti dulu,, sekalipun cinta itu memang ada tapi sekarang sudah berubah menjadi benci.


"Nayla,, Mas rindu sekali," ucap Devan sambil tangannya mulai memasuki lubang surga Nayla,, itupun Nayla masih diam membiarkan Devan bahkan Nayla menikmatinya.


Desah Nayla semakin menjadi-jadi saat tangan Devan bergerak semakin cepat. Sedetik kemudian Devan mulai melepaskan pakaiannya sendiri, Nayla langsung tersenyum penuh kemenangan begitu melihat pisang keramat Devan menegang dengan sangat sempurna.


Nayla yang tidak menggunakan sehelai benang pun segera mengambil handuk lalu melilitkan di tubuhnya,, Nayla langsung berjalan keluar dari dalam kamar mandi tanpa perduli pada Devan sedikit pun,, Nayla sudah cukup puas dengan permainan tangan Devan,, tidak perduli sama sekali pada Devan yang belum mendapatkan kepuasannya.


"Nayla mau kemana? ayo kita selesaikan dulu,, Mas belum puas," ucap Devan frustrasi melihat Nayla yang meninggalkan dirinya disaat tegangan tinggi.


Nayla berdiri di depan pintu kamar mandi lalu berbalik tersenyum sinis pada Devan.


"Boleh sih dilanjutkan tapi setelah itu Mas pergi dan aku tidak akan menerima kamu kembali lagi untuk masuk ke dalam rumah ini, aku juga akan pastikan kalau Papa akan menyembunyikan aku dan anak kita tanpa kamu bisa melihatnya," ucap Nayla.


Nayla tersenyum penuh kemenangan,, silahkan saja jika Devan ingin pergi,, itulah yang dia inginkan Devan pergi sendiri dari rumah ini tanpa perlu dia suruh,, saat ini Nayla benar-benar sedang menghukum suami yang kerjanya datang kalau lagi ingin saja.


"Satu langkah saja kamu keluar dari rumah ini jangan pernah kembali lagi,, sekalipun anak ini sudah lahir," ucap Nayla,, dia ingin melihat sampai kapan Devan akan bertahan. Nayla sangat yakin Devan akan pergi menemui istri pertamanya itu,, jika itu terjadi Nayla tidak perlu repot-repot lagi mengusir Devan karena Devan tentu tidak akan bisa datang lagi jika sudah keluar dari rumah ini.


Nayla pun benar-benar keluar dari dalam kamar mandi sambil tersenyum bahagia melihat wajah putus asa dari Devan.


"Nayla tolong selesaikan ini dulu,, Mas benar-benar tersiksa Nayla," teriak Devan.


Nayla tidak perduli sama sekali,, selesai Nayla pakaian,, dirinya langsung keluar dari dalam kamar meninggalkan Devan yang sedang tersiksa.

__ADS_1


"Nayla ini sungguh menyiksa ku," teriak Devan lagi sambil mencoba bermain solo membayangkan lekuk tubuh istri keduanya tadi.


Devan meninju tembok hingga membuat tangannya membiru.


__ADS_2