
Hari ini Nayla dan Devan mengunjungi kediaman Ratih, untuk meminta restu sekaligus Nayla ingin sang Ibu menghadiri acara pernikahannya dengan Devan nantinya. Sayangnya sampai di sana bukan Ratih yang ditemui Nayla, melainkan seorang tetangga yang mengatakan bahwa Ratih sudah cukup lama tidak tinggal di sana lagi. Entah apa yang terjadi pada Ratih selama ini, semua semakin mengejutkan saat mengetahui perceraian sang ibu dengan suami keduanya tersebut. Rumah pun sudah terjual, padahal banyak sekali kenangan kecilnya di sana. Sebab rumah itu dibangun Ratih saat masih berstatus istri Bobby atau ayah kandung Nayla sendiri.
Dengan perasaan kecewa Nayla pergi, kini dirinya memutuskan untuk menemui sang ayah. Cukup lama waktu yang ditempuh untuk sampai di desa tersebut, letaknya yang berada di pinggiran kota membuat jalanan pun tidak bersahabat. Akan tetapi Devan tetap memacu laju kendaraannya hingga mereka sampai di kediaman Bobby. Kebetulan juga saat turun dari mobil Bobby sedang berada di halaman, membersihkan halaman bersama istrinya Santi. Bobby terkejut melihat kedatangan Nayla, bahkan tidak percaya dikunjungi oleh anaknya tersebut.
Tidak terasa air matanya menetes, terharu melihat putri sulungnya tersebut. Tapi, mata Bobby beralih pada balita di gendongan Nayla. Bobby yakin itu adalah cucunya, tidak menyangka ternyata dirinya sudah menjadi seorang Kakek. Seketika Nayla memeluk Bobby dengan erat,, meluapkan rasa rindu yang sudah lama terpendam.
"Ayah kangen sekali," ucap Bobby.
"Aku juga Ayah," ucap Nayla.
Lama keduanya saling berpelukan, melepaskan kerinduan setelah sekian lama tidak bertemu.
"Ayah pikir kamu sudah lupa sama ayah," ucap Bobby.
Bobby memang sangat merindukan Nayla tapi tidak tahu di mana keberadaan putrinya itu sendiri. Kadang juga malu pada dirinya sendiri karena, tidak dapat membahagiakan anaknya seperti anak orang lain.
"Aku juga kangen Ayah," ucap Nayla.
"Ini pasti cucu Ayah," ucap Bobby lalu seketika mengambil alih Felix, walaupun akhirnya tidak lama sebab Felix menangis mungkin karena belum pernah melihat Bobby sebelumnya. Dengan terpaksa Bobby memberikan Felix kembali pada Nayla, walaupun dengan perasaan sedikit bersedih.
"Bu," sapa Nayla sambil mencium punggung tangan Santi.
__ADS_1
Sekalipun ibu tirinya itu terlihat angkuh, dan tidak menyukai Nayla, tapi Nayla tetap mencoba menghargainya. Santi menerima uluran tangan Nayla, sekalipun mulutnya komat-kamit karena menggerutu.
"Ayo kita masuk dulu," dengan senang hati Bobby mempersilahkan Nayla dan Devan masuk ke dalam rumah sederhananya.
Devan sudah pernah datang ke rumah itu, bahkan pernikahannya dengan Nayla terjadi di rumah sederhana tersebut. Sejenak Devan mengenangnya,, tersenyum tidak menyangka bisa kembali mengunjungi rumah tersebut. Rumah itu saksi bisu awal kisah bersama dengan Nayla. Tidak lama kemudian Devan mengatakan tujuan utamanya menemui Bobby. Hingga akhirnya Bobby menyetujui untuk menikahkan kembali Nayla dan Devan tujuh hari ke depan yang akan dilaksanakan di sebuah hotel mewah di Jakarta. Akhirnya Nayla dan Devan pun segera berpamitan pulang.
Sepanjang perjalanan pulang Felix terlelap dalam pelukan Nayla, dan Devan yang mengemudi. Hampir saja Nayla ikut terlelap tapi Devan malah tidak mengizinkannya untuk tidur.
"Kamu itu yah, bukannya temenin Mas yang sedang mengemudi malah tidur," ucap Devan.
"Ngantuk," ucap Nayla.
"Itu musik dinyalakan,, ajak Mas cerita biar Mas nggak ikutan mengantuk," ucap Devan.
Waktu sudah tengah malam akhirnya sampai di kontrakan. Dengan segera Devan membangunkan Nayla dengan perlahan. Karena terlalu terlelap Nayla sama sekali tidak terusik sedikitpun,, seketika Devan mendekati wajah Nayla. Menatap wajah itu dengan lekat, bibir yang indah tersebut pernah dirasakan oleh Devan. Merasa Nayla masih terlelap Devan semakin mendekati bibir Nayla, ingin menyentuh bibir tersebut dengan bibirnya. Semakin mendekati serasa semakin menantang, aliran darah terasa lebih cepat mengalir dari biasanya. Jiwa kelakian nya meronta-ronta ingin dimanja oleh seorang wanita, dan hanya Nayla yang diinginkan olehnya. Sedikit lagi akan mendekati,, yakin sekali bibir tersebut sangatlah manis tiada duanya.
"Yah!!!" seru Felix.
Devan menarik nafas panjang matanya membulat sempurna, dengan otak bertanya-tanya.
Apakah Felix sudah lama terbangun?
__ADS_1
Kurang ajar sekali bocah itu! tak tahu apa yang kini diinginkan oleh Devan. Bersamaan dengan suara Felix yang berteriak Nayla pun terjaga, kaget melihat wajah Devan yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
"Mas ngapain?" tanya Nayla sedikit panik dan segera mendorong Devan agar menjauh dari dirinya karena posisi mereka saat ini benar-benar dekat.
"Jangan bilang Mas mau ngapa-ngapain aku lagi ya? Mas apaan sih!!! aku ini masih punya harga diri yah Mas," kesal Nayla sambil melihat Devan.
Devan menutup matanya sambil menjauh dengan perlahan, wajahnya seperti kucing yang tersiram air saja, kesal, benci, malu kini bercampur menjadi satu. Dan itu karena Felix yang terlalu ribut. Padahal tidak lama lagi yang dia inginkan akan terwujud tapi gagal sudah,, malah sekarang dia ditatap horor lagi sama Nayla.
"Mas ngapain dekat-dekat?" tanya Nayla lagi dengan kesal sambil terus melihat Devan.
"Emm.. i..itu..a...anu...apa?" ucap Devan yang sangat gelagapan dan tidak tahu harus beralasan apa lagi,, karena dari tadi dia belum sempat memikirkan alasan tapi Felix malah sudah ribut duluan membuat semuanya hancur berantakan.
Nayla mengibaskan tangannya dan memperhatikan sekitarnya,, sadar sudah sampai di depan kontrakannya ternyata.
"Sudah sampai ternyata,, kok nggak bangunin aku?" ucap Nayla sambil melihat Devan.
"Mas tadi udah bangunin kamu, tapi kamu nggak bangun-bangun makanya Mas deketin wajah kamu mau teriak mungkin kamu bakalan dengar, eh kamu malah nuduh Mas yang aneh-aneh,, padahal Mas nggak ada niat aneh-aneh sedikitpun sama kamu,, Mas akan sabar menunggu sampai kamu benar-benar menjadi istri Mas," ucap Devan.
Devan berusaha memberi alibi sebisa mungkin agar Nayla tidak curiga sedikitpun, mencoba mengelabui Nayla dengan alasan recehannya itu, Devan pun tidak mau dianggap remeh oleh Nayla, harga diri masih dijaganya walaupun sering juga kelepasan ketika bersama dengan Nayla.
Nayla pun mengangguk merasa tidak enak hati telah menuduh Devan yang bukan-bukan,, padahal ternyata tadi Devan ingin membangunkan dirinya,, Nayla juga seperti itu karena dia takut dengan Devan yang sangat mesum itu,, makanya Nayla berpikir sampai ke situ apalagi posisi Devan tadi sangat dekat dengan dirinya.
__ADS_1
"Oh begitu,, aku turun yah Mas," ucap Nayla.
Devan mencium pipi Felix sebelum akhirnya turun bersama dengan Nayla. Tidak apa!!! gagal mencium ibunya ada anaknya, walaupun rasanya tidak sama. Tapi ingat tidak akan lepas setelah....