Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Aku juga takut melakukan kesalahan,,,


__ADS_3

Siang harinya Cahaya pulang dari sekolah di jemput oleh Puput, kini Cahaya begitu bahagia bisa berkumpul dengan keluarga Daddy nya.


Bahkan hari ini Puput mengajaknya untuk mengunjungi Reyna, setelah itu berlanjut malamnya mengikuti acara perayaan ulang tahun teman Puput dan Cahaya masih di bawa juga.


Seharian penuh Jessica hanya di rumah saja, sibuk dalam pekerjaan rumah untuk melupakan traumanya tinggal kembali di dalam rumah tersebut.


Setelah tidak ada lagi yang bisa di kerjakan Jessica pun membersihkan diri, sejak pagi tadi baru sore menjelang malam dirinya membersikan tubuhnya.


Setelah selesai mandi, Jessica memilih berdiam diri di sudut kamar. Memeluk lututnya sambil menatap keluar.


Sebenarnya tidak masalah jika menyalakan lampu, hanya saja saat semua tampak jelas Jessica kembali mengingat kejadian kasar saat bersama Alex dulu di tempat tersebut.


Sehingga gelap adalah pilihan yang tepat, hingga tanpa sadar terlelap dalam duduknya sambil bersandar pada dinding.


Sedangkan di lantai dasar Alex menuruni mobilnya, kakinya mulai memasuki pintu utama.


"Jessica, di mana?" Tanya Alex pada Art.


"Di kamar Tuan, sepertinya hari ini Ibu Jessica sangat lelah. Semua dia yang mengerjakan tugas rumah, sendiri tanpa ingin di bantu," jelas Art tersebut.


Alex terdiam kemudian segera melangkah menaiki anak tangga, sampai di lantai dua Alex pun berdiri di depan pintu kamar nya dan memutar gagang pintu secara perlahan.


Alex tidak ingin mengganggu Jessica di dalam sana, mungkin saja sudah terlelap pikirnya mengingat hari sudah malam walaupun belum terlalu larut.


"Gelap?" Alex melihat kamarnya yang gelap, tampak seperti tidak ada penghuninya hingga membuat Alex semakin bertanya-tanya.


Perlahan menyalakan lampu hingga akhirnya menampakkan sekitarnya, mata Alex terus mengedar mencari keberadaan Jessica.


Saat akhirnya mata Alex melihat Jessica yang duduk di sudut ruangan, matanya terpejam mungkin terlelap di sana.


Dengan segera Alex mendekati dan berniat memindahkan Jessica ke atas ranjang.

__ADS_1


Saat tubuhnya di angkat Jessica pun terbangun dari tidurnya.


Hingga akhirnya menurunkan dirinya dari gendongan Alex.


"Air hangat buat mandi udah aku siapin," ujar Jessica.


Alex mengangguk lemah.


"Maaf, tadi aku ganggu tidur kamu. Aku cuma mau memindahkan ke ranjang."


Jessica mengangguk dan tersenyum kecil, setelah itu naik ke atas ranjang dan berbaring di sana.


Sesaat kemudian kembali terlelap dalam tidur, tubuhnya yang kelelahan membuatnya terlelap begitu saja.


Alex menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya, setelah itu ikut naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Jessica.


Sampai saat ini Alex tidak tahu apakah sebenarnya Jessica mau tidur satu ranjang dengan nya, jika tidak maka Alex memilih mengalah agar Jessica merasa nyaman.


Mengapa bisa kini Jessica demikian? Sepertinya pengalaman masa lalu benar- benar membuatnya terasingkan dari hidup Alex sendiri.


Jam menunjukkan pukul sebelas malam, Alex tidak bisa memejamkan mata, pikirannya terus menerawang menembus langit malam.


Hingga akhirnya mendudukkan tubuhnya dan mengusap wajahnya hingga beberapa kali.


Akhirnya Alex memutuskan untuk mencari solusi dari semua permasalahan rumah tangganya, mungkin saja Devan dapat memecahkan masalah nya saat ini juga.


Dengan segera Alex menyambar kunci mobilnya, menuju kediaman Devan saat ini juga. Sekalipun sebenarnya tidak wajar untuk bertamu tengah malam begini.


Sampai di rumah Devan seketika Alex masuk, kemudian Devan keluar dari kamarnya dengan wajah kusut.


Mungkin saja Ayah dua orang anak itu baru saja akan tidur, tetapi harus bangun kembali karena ada tamu yang tidak di undang menunggunya di ruang tamu.

__ADS_1


"Apa?" Tanya Devan dengan wajah tidak suka.


"Ayolah Devan, jangan pikirkan kebahagiaan mu saja. Aku juga ingin bahagia, tolong bantu aku," ujar Alex.


Devan pun mulai menatap Alex dengan serius, kemudian membawa Alex menunju ruang kerjanya.


Di sana berbicara jauh lebih leluasa dari pada berada diruang tamu.


"Kau bertengkar lagi?" Tebak Devan, mengenai tujuan Alex menemuinya malam ini.


"Tidak!"


"Lalu?"


"Dia sudah berbeda Devan, dia memposisikan dirinya sebagai orang asing. Aku harus apa?" Tanya Alex putus asa.


"Orang asing bagaimana?"


"Entahlah. Tetapi, dia tidak seperti berada di posisi tinggal bersama seorang suaminya sendiri, melainkan seperti dengan majikannya. Atau pun dia seakan hanya orang asing yang menumpang tinggal di rumah ku, dia itu istri ku. Sebenarnya dia kenapa?" Tanya Alex ingin mendapatkan solusi dari masalah nya.


Devan menepuk pundak Alex, mengerti dengan keadaan sahabatnya tersebut.


Mungkin apa yang terjadi di masa lalu masih terbawa hingga kini, membuat Jessica tidak merasa di cintai sehingga dirinya mencari posisinya sendiri, pikir Devan.


Dan itu wajar, setiap wanita tentu merasa asing saat tidak pernah di anggap ada oleh orang terdekatnya.


"Aku takut kehilangannya Devan, aku mencintai nya," Alex mengusap wajahnya hingga beberapa kali, pikirannya benar-benar kacau balau.


"Menurutku, kamu harus menunjukkan bahwa kamu mencintainya. Mungkin memberikan perhatian kecil, kamu harus memulai dari awal lagi. Dulu kamu terlalu kasar, jadi dia takut melakukan hal yang tidak kamu sukai yang dapat mengundang pertengkaran. Atau mungkin dia merasa tidak berarti apa-apa sampai akhirnya dia begitu, coba dekati dia kembali," usul Devan.


"Aku tidak tahu harus bagaimana Devan, aku juga takut melakukan kesalahan," ucap Alex lagi dengan putus asa.

__ADS_1


__ADS_2