Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Kita berteman saja!!!


__ADS_3

Sore harinya Devan kedatangan tamu,, Alex dan Jessica datang menjenguknya, sekaligus mengatakan pada Devan bahwa mereka berdua telah menikah. Devan cukup merasa terkejut dengan semua itu, tapi bukan berarti dirinya marah mengenai pernikahan Jessica dan Alex. Tidak ada lagi cinta sedikitpun untuk Jessica sehingga dia benar-benar ikhlas melepaskan Jessica. Justru dia senang jika Jessica dan Alex menikah.


"Selamat yah" ucap Devan sambil mengulurkan tangannya dengan tulus.


"Terima kasih," ucap Alex.


"Terus kalian gimana?" tanya Jessica yang membuat Nayla hanya melihat pada Devan begitupun juga dengan Devan.


"Oh!!! aku ngerti mereka sama-sama malu, maklumlah privasi gitu kan?" ucap Jessica lagi.


Nayla kembali menatap Felix yang tengah duduk di pangkuannya sambil memegang jari-jarinya,, matanya menatap Devan yang duduk di atas brankar. Sesekali Felix tersenyum karena sang ayah tersenyum padanya.


"Ya ampun kamu ini gemes banget sih," ucap Jessica lalu mengambil alih Felix dan menciumi pipi tembem bocah imut itu.


"Yah!!!" teriak Felix.


Dengan lantang mulut Felix memanggil Devan, sedangkan Nayla tidak pernah mendengar Felix memanggilnya. Mungkin pernah satu bulan sebelumnya, setelah itu tidak pernah lagi. Sesaat kemudian tangan Felix terangkat sambil menatap Devan. Seketika Devan mengulurkan tangannya dan dalam sekejap Felix berpindah ke pelukan Devan.


"Yah!!!" ucap Felix lagi.


"Iya, anak Ayah," ucap Devan sambil menciumi pipi dan leher Felix hingga bayi itu tertawa terbahak-bahak.


jika tidak menyangka bahwa apa yang dia lakukan adalah keputusan yang sangat tepat,, Felix sangat membutuhkan ayahnya.


"Kami pamit pulang dulu yah," ucap Jessica lalu Nayla dan Jessica saling melekatkan pipinya sebelum akhirnya Jessica dan Alex benar-benar keluar dari dalam ruangan Devan.


"Nayla, Mas mau kita balikan yah? demi Felix," ucap Devan dengan penuh harap sambil melihat Nayla.


Nayla memutar bola matanya malas, mengapa Dokter satu ini masih saja gengsinya besar sebesar badannya. Kenapa tidak mengatakan langsung juga bahwa dirinya ingin memiliki Nayla kembali.


Melihat diamnya Nayla,, Devan jadi bingung dan bertanya-tanya, mungkinkah Nayla masih belum bisa menerima dirinya kembali?


"Nayla," ucap Devan.


"Kita berteman saja!!!" ucap Nayla.


Devan mendengus, meskipun begitu dia tetap tetap bahagia, paling tidak Nayla tidak lagi sulit untuk diajak bicara ataupun sekedar berjumpa.


"Dok saya pulang dulu yah,, sudah sore," ucap Nayla lagi.


"Katanya kita teman,, kok panggil Dok sih? Dok yang kamu maksud itu apa? Dok sama dengan Doktor atau Dok sama dengan anjing?" ucap Devan.


"Ya udah deh Bapak Devan," ucap Nayla.


"Kapan aku menikah dengan Ibumu? panggil Mas aja lebih manis gitu," ucap Devan sambil tersenyum menunjukkan giginya.


"Iya Mas," ucap Nayla yang menurut saja, lagi pula dirinya sudah memilih berdamai dengan Devan.


"Bye,, besok jenguk Ayah lagi yah," ucap Devan sambil melihat Felix.


"Iya Ayah," ucap Nayla sambil melambaikan tangan Felix pada Devan, senyum Felix kembali terpancar hingga membuat siapapun pasti gemas melihatnya.


Nayla melihat Nanda masih setia menunggu dirinya, ya ampun hampir saja Nayla melupakan Nanda.


"Nan, maaf aku kelamaan yah?" ucap Nayla tidak enak hati pada Nanda.

__ADS_1


"Nggak apa-apa Nay, masuk aja lagi, aku nangkring di sini aja nunggu cicak lewat," ucap Nanda.


Reyna yang melewati Nayla dan Nanda mendengar kata cicak yang dikatakan Nanda,, ketika dirinya berada tepat di depan Nanda. Seketika kesalahpahaman lagi terjadi, Reyna mengira Nanda mengatakan dirinya cicak.


"Kamu ngatain aku cicak? maksud kamu apa?" ucap Reyna sambil melihat Nanda,, dan Nanda pun melihat penampilan Reyna, baju perawat dengan heels yang cukup tinggi, sebenarnya dilarang memakai heels tapi bukan Reyna namanya kalau tidak bisa membuat peraturan baru.


"Apa lihat-lihat?" ucap Reyna lagi sambil menatap Nanda.


"Aku rasa wanita ini lahir di dukun beranak,, kalau lahir di rumah sakit di tolong bidan pasti punya etika," gerutu Nanda.


"Kamu ngomong apa barusan?" ucap Reyna sambil membusungkan dua benda kenyal miliknya menantang Nanda dengan berani.


Nanda sampai dibuat melongo,, apa mungkin Reyna tidak sadar jika dua benda kenyal miliknya sedang mengarah padanya. Otak Nanda mulai berkeliaran ke mana-mana,, bagaimanapun juga dirinya adalah lelaki normal meskipun jomblo. Selain memiliki senjata api, dirinya juga masih memiliki senjata lainnya yang bisa menegang secara tiba-tiba.


"Kamu ngeliatin apa?" tanya Reyna.


"Kamu gatal banget kayaknya,, ini susu ngapain di kasih ke aku?" ucap Nanda sambil menunjuk ke arah dua benda kenyal milik Reyna.


"Kurang ajar!!! ternyata kamu memperhatikan itu dari tadi!!!" ucap Reyna yang seketika menginjak kaki Nanda membuat Nanda sampai mengadu kesakitan, Nanda berusaha menahan sakit ingin berteriak tidak mungkin karena bisa rusak citranya sebagai lelaki tulen.


Tidak berteriak juga tapi Reyna sangat menjengkelkan,, akhirnya Nanda hanya bisa menahan sakit yang dirasanya.


"Udah!!! kalian apaan coba? tiap ketemu pasti ribut melulu," ucap Nayla.


Nanda terlihat memutar tubuhnya meninju udara meluapkan rasa sakit pada kakinya. Sesaat kemudian dia berbalik menatap Reyna.


"Kamu itu kalau mau melakukan apa-apa ditanya dulu, barusan Nanda bilang cicak bukan ke kamu tapi ke aku, kebetulan pas kamu lewat," ucap Nayla marah pada Reyna.


"Nah dengarkan!!!" ucap Nanda sambil tersenyum penuh kemenangan melihat wajah Reyna yang mendadak pucat.


"Yah tentu bukanlah!!! minta maaf sekarang," ucap Nanda.


Reyna tersenyum miring.


"Ogah," ucap Reyna.


"Dasar wanita tidak punya akhlak," ucap Nanda lalu melengos pergi, percuma berdebat dengan Reyna tidak akan menghasilkan apa-apa.


Reyna mendengar apa yang dikatakan oleh Nanda seketika dia mengejar Nanda hingga memasuki lift.


"Ya ampun mereka itu maunya apa?" ucap Nayla sambil menepuk dahinya, Nayla tidak mengerti mengapa Reyna dan Nanda tidak pernah akur.


"Semoga saja liftnya mati!!! mampus kalian berdua terkurung di sana," ucap Nayla.


Doa Nayla sepertinya tidak sia-sia bahkan langsung dikabulkan sedetik kemudian.


"Aahhhh," teriak Reyna saat kini lift mati dan menjadi gelap.


"Kenapa setiap ada kamu nasib tidak baik selalu saja menimpaku!!!" ucap Nanda yang merasa bila berdekatan dengan Reyna adalah suatu musibah besar.


"Kamu bilang aku pembawa nasib tidak baik?" ucap Reyna yang tidak terima dan lagi-lagi dia menantang Nanda.


Benar-benar kurang ajar!!! wanita ini selain cerewet ternyata dia juga seksi, adikku bisa saja bangun kalau lebih lama lagi dengan posisi seperti ini batin Nanda meronta-ronta ingin mengatakan ampun,, karena Reyna lagi-lagi membusungkan dua benda kenyal di hadapannya, bahkan hanya berjarak beberapa senti saja.


Lift bergerak Reyna berteriak kembali bahkan dengan cepat memeluk Nanda. Nanda hanya diam saja merasakan dua benda kenyal Reyna yang besar menyentuh dadanya, kurang ajar sekali kenapa tiba-tiba otaknya mendadak koslet.

__ADS_1


"Kamu mau ambil kesempatan?" ucap Reyna yang menjauh setelah melihat posisi mereka yang saling berdekatan.


"Enak saja!!! kamu yang memeluk aku," ucap Nanda tak mau kalah.


Reyna seketika melihat posisi mereka dengan jelas, seketika dia menjadi malu sendiri dan cepat-cepat mundur beberapa langkah.


"Tolong!!!" teriak Reyna,, berharap ada orang dari luar sana mau menolong dirinya.


"Berisik!!! sabar dulu orang di sini tidak mungkin bodoh, mereka pasti sedang berusaha untuk membuka pintunya," ucap Nanda.


"Diam!!!" ucap Reyna yang mencoba menendang Nanda tapi dengan cepat Nanda menangkap kaki Reyna,,, Reyna menjadi panik dan tubuhnya kini bersandar pada dinding dihimpit tubuh kekar Nanda.


"Kamu mau apa?" tanya Reyna.


"Mau kamu apa?" tantang Nanda.


Dua benda kenyal milik Reyna melekat sempurna di dada Nanda,, sejenak Nanda menutup kedua matanya merasa benda itu cukup kenyal dan nyaman.


"He.... menjauh dariku," ucap Reyna.


"Masih tidak mau minta maaf?" tanya Nanda yang makin menghimpit Reyna, sebelah kaki Reyna masih dipegang Nanda dengan melingkar sempurna di pinggangnya.


Reyna merasa posisi mereka saat ini cukup dekat,, ada rasa takut saat melihat wajah sangar Nanda.


"Maaf tolong lepaskan aku," ucap Reyna lirih.


Kenapa wajahnya mendadak menggemaskan? batin Nanda dengan tangan yang kini memegang paha Reyna.


"Aku minta maaf," ucap Reyna yang mengulangi permintaan maafnya sekali lagi.


Lampu lift menyala dan pintunya terbuka, Nanda pun melepaskan Reyna dan segera keluar dari dalam lift. Nayla menunggu di depan pintu lift,, belum lama Nanda keluar,, Reyna pun ikut keluar juga.


"Nayla, lift yang ini tadi sempat mati,, benar-benar nasibku tidak bagus banget," ucap Reyna yang ingin menendang lift tersebut, beruntung dia masih sadar kalau itu bisa melukai kakinya sendiri.


"Kamu sama Nanda terkurung di dalam?" tanya Nayla.


"Iya," jawab Reyna sambil mangguk-mangguk.


Tawa Nayla langsung pecah tersadar bahwa doanya dikabulkan.


"He? kenapa sih kok malah tertawa?" tanya Reyna.


"Nggak apa-apa,, aku balik dulu yah," ucap Nayla sambil menahan tawanya,, takut jika dia kembali tertawa lepas Felix kembali terbangun padahal Felix baru tidur beberapa menit yang lalu.


"Aku juga mau pulang,, kamu kenapa sih?" tanya Reyna sambil menyusul Nayla dengan langkah kaki yang lebar, Reyna masih bingung apa yang terjadi pada sahabatnya tersebut.


Sampai di depan rumah sakit Reyna kembali melihat Nanda, segera dia berlari masuk dan mencari tempat persembunyian sampai Nanda benar-benar pergi.


"Ada apa dengan anak itu?" ucap Nayla sambil kebingungan melihat sikap Reyna, bukankah Reyna tidak takut pada pria manapun.


Apa yang terjadi di dalam lift barusan sehingga membuat Reyna menghindari Nanda.


"Nayla," ucap Reyna yang hampir saja membuat jantung Nayla copot karena datang dan pergi dengan sesuka hatinya, bahkan mengejutkan dirinya.


"Ya ampun Reyna!!!!" ucap Nayla gemas.

__ADS_1


"Hehehe... maaf Nay," ucap Reyna.


__ADS_2