
Acara resepsi pernikahan pun selesai, Devan dan Nayla masuk ke dalam kamar. Kamar pengantin dihiasi dengan bunga-bunga hingga terkesan sangat romantis, lilin yang tersusun rapi semakin menambah keindahan. Nayla masih berdiri di depan pintu, menangkap dekorasi kamar pengantin yang begitu indah.
"Mas? kita udah tua!" ucap Nayla sambil tersenyum kikuk menatap Devan.
"Memangnya kalau sudah tua tidak bisa?" Devan menaik turunkan alis matanya.
"Ishhh... apa sih, genit banget deh," ucap Nayla.
Devan menarik Nayla untuk masuk sepenuhnya, seketika melempar dengan kasar ke atas ranjang. Nayla terkejut saat tubuhnya melayang dan terlentang di atas ranjang, tidak lama kemudian Devan ikut naik ke atas tubuhnya. Tatapan mata Devan mengarah pada manik mata Nayla, seketika turun menatap bibir merah merekah yang sudah menjadi candunya selama ini. Menyadari tatapan mata Devan membuat Nayla merasa malu, jika dulu Devan membutuhkan tubuhnya, kini terlihat berbeda, terbukti saat melihat tatapan Devan penuh cinta. Devan menatapnya begitu dalam, seakan mengatakan bahwa dirinya adalah seorang wanita yang sangat dicintainya.
Perlahan tangan Devan bergerak membelai mesra wajah Nayla, mengusap bibir istrinya dengan penuh kelembutan.
"Aku mencintaimu," bisik Devan.
Tubuh Nayla berubah menegang,, rasanya sangat manis kalimat yang dibisikan oleh Devan di telinganya, cukup dengan kata cinta mampu membuat tubuhnya seketika meremang, merasa terjebak dalam kehangatan belaian hangat tangan Devan.
Devan mengangkat dagu Nayla, hingga keduanya saling menatap kembali, sekalipun berusaha menghindari tatapan mata Devan karena malu, tetapi Devan tetap menatap manik mata Nayla.
Perlahan wajah Devan semakin mendekati wajah Nayla hingga menyentuh bibir dan mencium dengan penuh nafsu. Perlahan namun pasti semakin lama ciuman Devan semakin kasar dan menuntut seiring dengan tangannya yang mulai bergerak di dua benda kenyal Nayla dengan perlahan. Nayla perlahan membalas ciuman panas yang dimulai Devan,, tubuh yang sudah lama tak dijamah mulai terbuai akan belaian hangat Devan.
Hingga memberikan lidah Devan masuk untuk melilitkan lidahnya, mengajaknya seakan menari bersama. Nayla pun tidak mungkin menolak sebab Devan berhak atas tubuhnya, sehingga memilih untuk menikmati setiap sentuhan hangat Devan.
"Mas..." tidak sadar Nayla malah merintih menahan gejolak aneh yang kian terasa semakin menginginkan lebih dari sekedar belaian.
Devan pun mulai mencium tengkuk Nayla menggigit kecil hingga meninggalkan tanda gigitan cinta darinya, sejenak Devan memandangi karyanya di bawah penerangan lilin yang menambah kesan remang-remang, bibirnya tersenyum dan kembali menambahkan tanda ditengkuk Nayla hingga perlahan tangan Devan melepaskan gaun di tubuh Nayla, menampakan dua benda kenyal yang selama ini adalah mainan kesayangannya.
Devan pun tidak ingin hanya memandangi saja, seketika dirinya melakukan apa yang ingin dilakukan, kini dia terlihat seperti bayi kehausan, apalagi ASI yang keluar membuatnya semakin menggeliat.
Tok... Tok... Tok... Tok
Terdengar suara ketukan pintu seketika Nayla mendorong dada Devan.
__ADS_1
"Sayang?" Devan tampaknya tak mendengar suara ketukan pintu.
Nayla menunjuk arah pintu,, terdengar kembali suara ketukan pintu untuk kesekian kalinya.
"Ya ampun,," Devan mendesus sambil mengusap wajah, tak mengerti mengapa masih ada yang berani mengetuk pintu kamarnya padahal tahu jika ini adalah malam yang sangat ditunggu-tunggu bagi setiap pasangan pengantin baru,, sekalipun sudah basi seperti dirinya.
Menduda selama beberapa bulan cukup membuatnya tersiksa hingga ingin menyalurkan malam ini juga.
"Mas tolong buka pintu,, aku mau pakaian dulu," Nayla bergegas turun dari ranjang menatap kopernya dan segera mengambil sebuah piyama setelah itu masuk ke dalam kamar mandi untuk memakainya.
Devan berjalan ke arah pintu merasa geram pada siapapun yang mengetuk pintu kamarnya,, setelah pintu terbuka terlihat Ana yang menggendong Felix.
"Anak kamu menangis terus mungkin karena hari ini dari pagi sampai malam begini terus sama Mama," Ana memberikan Felix pada Devan.
Devan menggendong Felix sekalipun dirinya masih kesal tidak lama kemudian Nayla datang dengan piyama tidur di tubuhnya.
"Anak bunda," Nayla mengambil Felix dari gendongan Devan.
"Felix rewel terus mungkin karena pengen sama kamu," ucap Ana.
"Mama balik ke kamar dulu," ucap Ana dan Nayla mengangguk, setelah itu membawa Felix tidur di atas ranjang dengan bunga yang bertaburan di atasnya.
Devan menutup pintu dan ikut naik ke atas ranjang, dirinya ingin sekali mengajak Felix adu tinju karena sudah mengambil alih perhatian istrinya Nayla.
"Felix kangen bunda yah," Nayla berbaring miring dan memberikan ASI pada Felix.
"Sayang Mas juga pengen," Devan berbaring di belakang Nayla, tangannya memegang satu benda kenyal yang sebelahnya menganggur.
"Mas," Nayla melepaskan tangan Devan yang suka sekali berkeliaran dengan bebas tersebut.
"Sayang kamu nggak ngerti apa gimana sih!" Devan menekankan pisang keramatnya pada Nayla mengeras sempurna dan ingin dimanja juga.
__ADS_1
Nayla memilih diam jika terus bergerak kasihan pada Felix yang tengah asik menikmati ASI. Sekalipun dirinya sudah tidak kuat dengan bisikan Devan yang penuh dengan kemesraan. Ternyata Dokter Devan sangat mesum parah, malam ini Nayla baru mengetahuinya, bicara sesukanya tanpa ada yang di filter.
"Sayang Mas nggak tahan!!!" bisik Devan untuk yang keseribu kalinya.
"Mas nggak baik begini! ada anak!" ucap Nayla.
"Mas nggak tahan!" bisik Devan lagi.
Ya ampun! entah bagaimana mengatakan pada Devan untuk berbicara dengan bahasa yang baik,, Dokter mesum tersebut semakin menjadi-jadi saja tanpa bisa berpikir jernih.
Felix menangis kencang membuat Nayla memutuskan turun dari atas ranjang dan memilih menggendong anaknya sambil memberikan ASI demi menghindari Devan, sayangnya Devan juga ikut berdiri memeluk tubuhnya dari belakang. Tidak ingin membuat Felix terganggu saat hampir tidur kembali,, Nayla membiarkan Devan untuk tetap memeluknya sekalipun merasa tidak nyaman karena ada yang lain terasa mengeras yang menempel pada bagian belakangnya.
"Sayang," nafas Devan begitu terasa ditengkuk Nayla,, sesekali menggigitnya hingga menimbulkan sensasi yang luar biasa.
"Mas,," Nayla menunjukkan wajah melas,, berharap Devan mengasihaninya.
Nayla tidak menolak Devan jika membutuhkan kehangatan tubuhnya tapi tidak saat bersama dengan Felix, Devan mengerti dan menahan hasratnya,, seketika itu dirinya menghentikan aktivitasnya dan melingkarkan tangannya di pinggang Nayla. Begitu lebih baik, Nayla pun merasa sedikit lebih tenang,, Devan menatap wajah Felix mulutnya masih menyedot ASI dengan lahapnya walaupun matanya sudah tertutup rapat.
"Sayang dia mirip banget sama Mas," ucap Devan.
"Iya padahal aku yang hamil dan ngelahirin," Nayla membenarkan apa yang dikatakan Devan.
"Benihnya dari Mas," ucap Devan.
"Mas apa sih! kok aku perhatikan mulut Mas ngomong enak banget, sesukanya banget!" ucap Nayla.
"Namanya sama istri,, istri itu tempatnya suami bermanja-manja,, bermesraan," ucap Devan dan Nayla mengangguk mengerti, mungkin dirinya harus banyak belajar untuk mengenali sikap suaminya, agar menjadi istri impian seperti yang diinginkan oleh Devan.
"Sayang, Felix sudah tidur balikin ke Mama aja," ucap Devan.
"Tapi Mas..."
__ADS_1
"Kasihanilah Mas yang sudah lama menduda ini!" ucap Devan.
"Mas apa sih!!!" Nayla terkekeh melihat wajah melas Devan.