
Ini tidak bisa dibiarkan aku kan udah bilang sama ibu di kampung halaman kalau calon suami aku itu seorang Dokter, ibu juga pasti sudah cerita ke tetangga soal ini semua, secara ibu kan suka pamer sama tetangga batin Zaskia.
Kepalanya benar-benar ingin pecah menimbang semua itu, bagaimana nasibnya jika saja batal mendapatkan suami seorang Dokter, habis sudah dirinya!
"Di kampung sudah berkoar-koar dengan bangga nanti pasti ditagih kalau aku pulang kampung," gumam Zaskia pelan sambil memijat dahinya yang benar-benar tidak karuan.
Malu sekampung sudah pasti dan nantinya akan dicincang oleh ibunya juga.
Tidak!
Tapi sejenak Zaskia menyadari sebuah keanehan terasa di antara Alex dan Jessica.
Pernikahan terkesan dingin dan juga tertutup tanpa ada sepengetahuan siapapun terkecuali orang terdekat saja. Lalu bagaimana hubungan mereka yang sebenarnya? rasanya cukup menimbulkan pertanyaan besar. Yakin dan percaya ada yang tidak beres jika begitu artinya masih ada kesempatan menjadi istri Alex. Sedikit berusaha tentu akan membuahkan hasil yang maksimal.
"Tapi..."
"Pekerjaanmu bukan menyelidiki tentang kehidupan pribadiku," timpal Alex.
Ah! Zaskia pun mengangguk lemah.
Tapi melihat reaksi Alex yang dingin dan terkesan tak suka membahas pernikahannya membuat Zaskia yakin masih memiliki kesempatan besar untuk bisa memiliki Alex.
Zaskia pun tersenyum dan mengepalkan tangannya lalu menarik ke belakang kegirangan.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Alex.
Zaskia pun tersenyum kecut saat tertangkap basah tengah tersenyum bahagia, kemudian menggeleng walaupun dalam hati bahagia bukan main.
"Periksa data-data pasien ini," perintah Alex.
"Iya Dok," ucap Zaskia.
Alex pun keluar dari ruangannya meninggalkan Zaskia bekerja.
"Dokter Alex mau ke mana yah? kok aku penasaran, susul nggak yah?" ucap Zaskia.
#############
"Hai apa kabar?" sapa Dokter Aditya.
"Baik," Jessica tersenyum ramah dan membalas uluran tangan Dokter Aditya.
"Apa ada yang sakit atau Ibu Jessica yang perlu diperiksa?" tanya Dokter Aditya.
"Panggil Jessica saja Dok, itu terlalu formal lagi pula saya bukan lagi istri pemilik rumah sakit ini," Jessica menyadari posisinya bukan lagi Nyonya Devan, dirinya pun ingin dikenal sebagai dirinya sendiri. Ingin mencari jati diri kembali setelah menjadi istri Devan yang sudah tinggal kenangan.
"Iya," Dokter Aditya mengangguk.
"Kalau begitu panggil Aditya saja, agar tak terlalu formal juga," ucap! Dokter Aditya lagi.
Keduanya tersenyum kecil dan saling menyetujui permintaan masing-masingnya.
"Ah! tadi belum menjawab pertanyaan saya, sedang sakit atau...?"
"Nggak cuma..." Jessica memegang kepalanya karena terasa pusing.
__ADS_1
Semalam dirinya tidak tidur, apa lagi makan juga dengan porsi yang sedikit, terlalu stres membuat tenaganya cukup terkuras juga.
"Jessica," Aditya menahan pundak Jessica agar tak berakhir di lantai.
Jessica pun berusaha berdiri tegak di atas kakinya sendiri, sayangnya tak bisa terlalu sulit untuk menahan tubuhnya saja.
"Tidak apa-apa, biar saya bantu," dengan perlahan Aditya memapah tubuh Jessica berbaring di atas brankar.
Entah sengaja atau tidak, tapi tepat saat itu Alex pun sampai di UGD, tepat Jessica dan Dokter Aditya bertemu tanpa sengaja.
"Apa kamu tidak sarapan pagi? sepertinya kamu juga begitu kelelahan," Dokter Aditya memberikan beberapa butir obat untuk ditelan oleh Jessica.
"Hati-hati loh Dok, karena ada lagu kalau sudah tiada baru terasa," ucap Rima yang tiba-tiba muncul di samping Alex.
Alex pun menatap ke samping wajahnya begitu dingin hingga Rima tersenyum canggung. Alex pun mengibaskan tangannya dan pergi begitu saja.
Sedangkan Zaskia menyusul keluar setelah Alex, tersenyum melihat dari kejauhan, tampaknya ini adalah kesempatan emas untuknya, apalagi dengan adanya kedekatan antara Aditya dan juga Jessica.
"Hehehe," wajah Alex yang dingin cukup membuat Rima merasa horor, sesaat kemudian tanpa sengaja Aditya melihat dirinya.
Rima pun tersenyum menggoda Aditya, setelahnya segera berbalik dan berniat ingin berlari, tapi siapa sangka ternyata dirinya malah menabrak tembok, seketika mengusap kepalanya dan memukuli dinding, tunggu dulu Rima pun mengingat barusan Dokter Aditya melihatnya, bagaimana dengan sekarang?
Perlahan Rima berbalik dan kembali menutup matanya.
"Malu banget," Rima mendesus merasa malu karena ternyata Dokter Aditya masih melihatnya, pastinya juga melihatnya saat terbentur dinding.
"Sejak kapan dinding ini di sini, aku harus minta tolong pada Nayla untuk memindahkan dinding ini," ucap Rima setelah meluapkan kesalnya pada dinding, dirinya segera pergi harus mencari makanan dan menghilangkan rasa malu barusan.
Dokter Aditya mengerutkan keningnya melihat Rima yang aneh, entah apa yang kini dipikirannya saat melihat wanita aneh tersebut.
"Bagaimana sekarang sudah lebih baik?" Aditya kembali fokus pada Jessica.
Sekalipun Aditya masih menahannya, menurutnya beristirahat di rumah lebih nyaman daripada di rumah sakit, karena Jessica terus memaksa pulang, Aditya pun menawarkan tumpangan, awalnya Jessica menolak tapi Aditya terus memaksa hingga merasa tak enak hati.
"Kamu yakin aku nggak ngerepotin?" tanya Jessica.
"Nggak dong, ayo aku bantuin," Aditya membantu Jessica berjalan menuju mobil dan hingga akhirnya duduk manis di samping Aditya.
Jessica pun mengangguk sambil memegang dahinya yang masih saja terasa pusing.
"Alamat kamu di mana? sekarang sudah menjanda dan tentunya sudah tidak tinggal di rumah keluarga Dokter Devan pastinya, aku pun tidak tahu alamat mu," ucap Aditya.
Janda?
Jessica tersenyum ingin tertawa mendengar pertanyaan Aditya.
"Kok ketawa?" Aditya malah bingung melihat reaksi Jessica.
Awalnya ragu menyebutkan kata janda, namun siapa sangka ternyata Jessica terlihat baik-baik saja.
"Nggak apa-apa sih," Jessica kembali tersenyum.
Dalam hati berbicara janda dari mana? semalam saja dirinya ditiduri oleh suami gilanya.
Entah sampai kapan hubungan akan terus terasa dingin.
__ADS_1
Dinginnya melebihi salju hingga selimut pun masih belum cukup untuk menghangatkan tubuhnya yang butuh kehangatan.
"Kenapa diam?" tanya Dokter Aditya lagi.
"Nggak apa-apa juga! ya udah jalan saja nanti aku kasih tahu alamatnya," ucap Jessica.
"Baiklah," ucap Dokter Aditya.
Tiga puluh menit perjalanan, mobil Aditya terparkir di depan sebuah rumah mewah dan cukup megah, Aditya membuka kaca mobilnya menatap rumah tersebut.
"Kamu tinggal bersama siapa di sini? kedua orang tua?" tanya Aditya.
"Ini rumah orang tua aku, bukan punya aku, aku nggak punya rumah," jawab Jessica apa adanya.
Jessica memang berniat mengunjungi rumah kedua orang tuanya, tampaknya dirinya tak membutuhkan izin dari Alex.
Tetapi Jessica sudah mengatakan pada Puput bahwa sepulang dari rumah sakit akan singgah sebentar ke rumah kedua orang tuanya, Puput pun mengizinkan tanpa memberikan batasan waktu, saat Aditya menanyakan alamatnya seketika itu memberitahu alamat kedua orang tuanya.
"Makasih yah," ucap Jessica.
"Iya, hati-hati! kamu itu sepertinya sedang stres makanya lemah banget keadaannya," ucap Dokter Aditya.
Jessica urung melangkah turun dari mobil Aditya, sejenak kembali berbalik dan menatap Aditya.
"Bukan maksud menyinggung, aku sudah terbiasa terbuka dengan keadaan pasien, agar lebih mudah ditangani, kamu tahu kan aku seorang psikiater," Dokter Aditya berusaha untuk tidak membuat Jessica tersinggung.
Sedangkan dari dalam hati pun Aditya tidak ingin membuat Jessica tersinggung.
Jessica pun mengangguk lemah kemudian turun dari mobil.
"Makasih tumpangannya," ucap Jessica lagi.
"Iya tidak masalah," Dokter Aditya pun segera memacu laju mobilnya.
Jessica meminta dibukakan pintu gerbang pada satpam, kemudian masuk dan langsung mencari keberadaan Inggit.
"Mama," Jessica memeluk Inggit dari belakang saat melihat sang Mama.
Inggit secepat mungkin berbalik dan melihat Jessica.
"Jessica kamu kenapa nggak pernah jenguk Mama, Mama kangen banget," Inggit memeluk Jessica dengan cepat.
Jessica pun membalas pelukan sama Mama tidak kalah eratnya, dalam hati dirinya ingin menangis tersedu-sedu dipelukan sang Mama untuk melepaskan sakit di hati.
Akan tetapi tak memiliki keberanian, sebab sang Mama menganggap dirinya sudah sangat bahagia, tidak tega menghancurkan kebahagiaan Inggit begitu saja.
"Alex mana kalian menginap di rumah Mama kan?" tanya Inggit antusias, pertama kalinya Jessica mengunjunginya setelah berbulan-bulan menikah, ada kerinduan yang begitu hebat dalam relung hatinya.
"Maaf ya Ma, aku datang sendiri dan cuma sebentar karena Alex sedang banyak kerjaan," ucap Jessica.
Wajah Inggit terlihat kecewa padahal dirinya barusan sangat bahagia.
"Tapi lain waktu Alex pasti sama Jessica nginap di rumah Mama, terus Alex juga barusan nitip salam ke Mama," bohong Jessica memberikan alibi agar tidak membuat Inggit merasa kecewa.
"Benarkah?" Inggit tersenyum dan mencium Jessica dengan bahagia, sebab apa yang dikatakan oleh Jessica cukup membuatnya bahagia.
__ADS_1
"Mama sedang apa barusan?" Jessica berusaha mengalihkan pembicaraan agar tidak membahas perihal Alex lagi.
"Ya ampun Mama lupa barusan sedang video call dengan kakak kamu, nah itu ponsel Mama kejatuhan di lantai," cepat-cepat Inggit mengambilnya dan kembali melanjutkan pembicaraan dengan putri sulungnya, berikut Jessica juga yang tak kalah antusias berbicara dengan sang kakak yang tinggal di Malaysia.