
"Aduh,, Devan mama bingung sekali kemana perginya Nayla,," ucap Ana yang masih sangat panik,, sebelum Ana menemukan Nayla dirinya belum bisa merasa tenang.
Entah mengapa Ana sangat menyayangi Nayla,, mungkin karena Nayla telah menyayangi kedua cucunya dengan sangat tulus. Sehingga ada rasa iba apabila Nayla seperti sekarang ini tidak ada kabar sama sekali.
"Kenapa mama malah bingung,,, tanyakan saja pada dia," ucap Devan sambil menatap Rian.
Devan terlihat menatap tajam Rian,, seakan melimpahkan kehilangan Nayla pada Rian.
Rian merasa tidak bersalah sama sekali apalagi dituduh sebagai penyebab Nayla menghilang.
"Maaf Tuan Devan tapi aku sama sekali tidak tau apa-apa,, bahkan sampai saat ini orang-orang ku masih mencari tau tentang keberadaan Nayla,," ucap Rian yang membela diri karena memang dia tidak tau apa-apa,, malahan sekarang sangat mengkhawatirkan keadaan Nayla,, teringat terakhir dia bersama Nayla,, wanita itu sedang sakit.
"Bukankah Nayla bersama kamu malam itu?" tanya Devan lagi.
Semua langsung menatap Rian,, dan yang lainnya ada yang membenarkan ucapan Devan,, karena malam itu memang Rian bersama dengan Nayla.
"Iya malam itu aku memang bersama dengan Nayla,, kami duduk di bangku taman Vila,, lalu tiba-tiba Nayla mengeluh sakit pada perutnya,, aku langsung menawarkan untuk mengantar nya ke puskesmas,, kebetulan malam itu sedang ada acara di puskesmas terdekat disitu,, tapi Nayla menolak katanya dia punya obat,, aku tidak tega membiarkan dia berjalan sendiri ke kamarnya dengan kesakitan seperti itu,, jadi aku bantu dia, aku tidak tega kalau dia sampai terjatuh. Setelah aku memastikan kalau Nayla sudah aman,, aku buru-buru keluar dari dalam kamar Nayla karena takut akan terjadi kesalahpahaman apabila ada yang lihat,, dan begitu keluar aku bertemu dengan Tuan Devan di depan pintu kamar Nayla,," ucap Rian.
Kini semua mata kembali menatap pada Devan,, mereka semua butuh penjelasan,, mengapa Devan berada di depan pintu kamar Nayla.
"Kamu ngapain ke kamar Nayla?" tanya Jessica yang mewakili semua pertanyaan dari anggota keluarga lainnya.
"Aku hanya melewati saja bukan ke kamarnya,," ucap Devan berbohong.
Karena kenyataan yang sebenarnya bukan seperti yang dijawab oleh bibirnya.
Tapi satu hal yang dia sadari bahwa apa yang telah dipikirkannya ternyata salah besar.
Nayla dan Rian tidak melakukan hal kotor di dalam kamar Nayla,, melainkan Rian hanya membantu Nayla ke kamar karena Nayla menolak di bawa ke dokter.
Devan terlihat menimbang kata-kata dari Rian barusan.
__ADS_1
Flashback on...
Beberapa hari yang lalu tepatnya saat keluarga Devan berada di puncak untuk meresmikan vila baru milik Andini Bima Putra.
Nayla berdandan dengan sangat cantik,, dress mahal dipadukan dengan heels yang begitu cantik hingga membuat siapapun yang memandang Nayla akan kagum.
Dan saat itu Devan tidak bisa melakukan apapun,, Devan hanya bisa diam dan membiarkan istri keduanya jalan dengan seorang pria yang dijodohkan oleh keluarga Devan sendiri.
Gelap mata membuat Devan sangat marah,, bahkan Devan salah memahami gerak-gerik dari Nayla dan Rian hingga Devan mengambil kesimpulan bahwa Nayla adalah wanita murahan.
Sampai akhirnya perdebatan antara dirinya dan Nayla terjadi,, kata-kata kasar pun lolos dengan lancar dari bibir Devan untuk Nayla, lalu setelah Nayla pendarahan dan jatuh pingsan,, Devan melihat ada sebuah mobil yang akan melintas,, Devan dengan segera menghentikan mobil itu.
Setelah memberhentikan mobil tersebut,, Devan sudah tau kalau itu adalah Pak Asep,, seorang satpam di rumah kedua orang tua Devan,, sekaligus yang menjadi sopir untuk mengantarkan kedua orang tuanya hari itu menuju Bogor. Devan bisa melihat mobil itu dari jauh.
Sopir itu tidak tau sama sekali jika Devan membawa Nayla, karena dia tidak melihat Nayla,, sopir itu pikir Devan memberhentikan dirinya karena sedang terburu-buru ke rumah sakit,, bahkan Devan juga mengatakan seperti itu jadi tidak ada kecurigaan sedikit pun dari sopir itu,, Pak Asep malah langsung memberikan kunci mobil pada Devan lalu segera berjalan kaki menuju Vila yang tidak terlalu jauh lagi,, Devan dengan segera memasukkan Nayla ke dalam mobil,, Devan ingin melarikan Nayla ke rumah sakit terdekat secepatnya.
Begitu sampai di depan puskesmas,, Devan melihat sangat banyak anggota medis yang tengah asik duduk berkumpul sambil menyalakan api unggun.
Devan segera membawa Nayla ke puskesmas itu untuk segera diperiksa,, sebenarnya Devan bisa menolong Nayla tapi Devan tidak membawa alat-alat medisnya,, alat-alat medisnya ada di rumah sakitnya.
Setelah diperiksa,, Nayla lalu di bawa oleh ambulance menuju ke rumah sakit yang alat medisnya lebih lengkap.
Flashback off...
"Sayang,," ucap Jessica mencoba menyadarkan Devan dari lamunannya.
"Ada apa sih?" tanya Jessica.
"Kamu lagi mikirin apa Devan?" tanya Jessica lagi karena melihat ekspresi wajah Devan yang tampak langsung berubah seperti sedang memikirkan sesuatu.
Sial,, batin Devan.
__ADS_1
Devan mengusap wajahnya hingga beberapa kali,, begitu Devan menyadari betapa bodohnya dia,, karena semuanya tidak seperti apa yang dipikirkan oleh Devan.
"Aku harus ke rumah sakit sekarang,," ucap Devan lalu segera berdiri dari duduknya,, Devan bahkan tidak perduli pada Jessica sedikit pun.
"Devan,," panggil Jessica tapi Devan tidak menjawab sama sekali bahkan menghentikan langkahnya untuk berbalik pada Jessica pun tidak,, suara mobil Devan pun bahkan sudah kedengaran di telinga Jessica. Devan tampak sangat terburu-buru hingga tidak perduli pada siapapun.
"Ma,, Devan itu sebenarnya kenapa yah? dia sepertinya berubah ketika habis menikah,, tapi perubahan nya itu aneh," ucap Andini yang memang merasa aneh pada perubahan adiknya itu.
"Nggak tau, dia memang akhir-akhir ini semakin banyak keanehan,, semakin banyak berubah,," ucap Ana yang juga merasa aneh dengan putra bungsunya itu.
"Iya Ma,, Jessica juga merasa seperti itu,, dia sekarang datang dan pergi sesuka hati dia, Jessica bingung ma,, dia selalu pamit ke rumah sakit tapi begitu Jessica telepon ke rumah sakit katanya Devan tidak datang ke rumah sakit,," ucap Jessica kesal begitu mengutarakan semuanya.
Ana langsung berpindah duduk ke samping menantunya,, mengusap lembut punggung menantunya.
Ana mengerti dengan perasaan Jessica,, karena dia juga bingung dengan perubahan sikap Devan akhir-akhir ini.
Devan terlihat sangat berbeda dari biasanya.
"Semoga kamu cepat hamil yah,, biar Devan bisa lebih betah di rumah,," ucap Ana sambil menatap Jessica dengan perasaan iba.
Jessica langsung memeluk Ana,, rasanya Jessica ingin sekali cepat hamil namun nyatanya sampai saat ini pun belum ada tanda-tanda kehamilan yang terlihat.
Jessica menangis meratapi diri,, Jessica sangat menginginkan anak hasil dari pernikahannya dengan Devan.
Terkadang Jessica sangat takut kehilangan suami yang sangat dicintainya itu,, dengan adanya anak ada kemungkinan ketakutan nya itu bisa berkurang sedikit.
"Kamu sabar saja yah sayang,, terus berusaha dan berdoa,," ucap Ana lagi.
Ana mencium dahi menantunya itu dengan penuh kasih sayang,, layaknya seorang ibu kandung kepada anak kandung nya.
"Gimana kalau Jessica tidak bisa hamil ma?" ucap Jessica.
__ADS_1
"Jangan bicara seperti itu,," ucap Ana lalu memeluk erat menantunya itu.