
"Jessica apa yang sedang kamu lakukan," ucap Devan.
Devan terus mencoba membantu Jessica untuk bangkit dari tempatnya, apapun alasannya saat ini Jessica tidak pantas untuk berlutut di bawah kaki Alex, sayangnya Jessica enggan berdiri dirinya hanya ingin anaknya terselamatkan dan itu hanya dengan Alex, apapun akan dilakukan demi sang buah hati terselamatkan.
Apapun!
"Alex aku mohon tolong bantu anakku," suara Jessica bergetar hebat memohon kepada Alex semoga saja tidak ada penolakan.
Dalam hati cemas dan gelisah akan kemungkinan terburuknya.
"Kau bicara apa?" tanya Alex yang tidak mengerti.
Alex pun ikut berjongkok di hadapan Jessica penasaran akan apa selanjutnya dikatakan oleh mantan istrinya tersebut.
Jessica mengusap air matanya hingga beberapa kali, sekalipun demikian air matanya tak pernah bisa kering, tangisannya tidak bisa tertahan menggambarkan betapa hatinya begitu terluka, batin pun sangat tersiksa meratapi keadaan anaknya, takut kehilangan Cahaya hidupnya. Cahaya adalah penerang saat dalam kegelapan tiada arah dan tujuan melanda.
"Jessica katakan ada apa?" tanya Alex lagi.
"Cahaya kecelakaan dia butuh donor darah golongan darahnya sama denganmu, aku mohon," Jessica menunduk pilu, sakit sekali rasanya berada di posisi ini.
Untuk kali ini dirinya harus memohon pada Alex demi anaknya, andai ada cara lain mungkin dia tidak akan melakukan ini, hanya saja tidak ada pilihan melainkan keharusan.
Alex terdiam belum mengerti sama sekali, otaknya masih terlalu lama untuk menyimpulkan inti dari perkataan Jessica.
"Aku mohon Alex," suara Jessica terbata-bata saat menyebut nama Ayah dari anaknya itu, sampai saat ini pun dada masih terasa sesak.
Mungkinkah Alex masih sekejam dulu? apakah Alex tega melihat anaknya sekarat.
"Jessica maksudnya bagaimana?" tanya Alex kebingungan.
"Coba jelaskan ini sebenarnya ada apa? aku belum mengerti sama sekali," ucap Alex.
"Cahaya anakmu sekarang dia kritis dan membutuhkan donor darah, sedangkan golongan darahnya sama dengan mu bukan dengan ku," jelas Jessica dengan suara bergetar dan hampir menghilang.
Degh!!!
"Anak ku?"
Dada Alex seakan terhimpit oleh benda berat dari dua sisi yang berbeda-beda, apa yang dikatakan oleh Jessica terlalu mengejutkan dirinya saat ini, Jessica mengatakan bahwa mereka memiliki seorang anak, apakah itu mungkin? sungguh ini adalah kejutan yang begitu luar biasa.
Alex yang tak tahu akan hal ini bisa dibuat hampir mati berdiri, sejenak jiwa seakan terpisah dengan raga, ini sungguh kejutan yang begitu luar biasa.
Jessica mengatakan anak?
Apa ini?
"Alex" Jessica menggerakkan tubuh Alex hingga berulang-ulang memanggil-manggil agar segera menolong Cahaya.
__ADS_1
"Aku mohon tolong anak ku," ucap Jessica lagi.
Perlahan Alex menatap wajah Jessica, menyaksikan wajah putih pucat penuh dengan air mata, mengemis demi kelangsungan hidup putrinya padahal sudah jelas dirinya juga memiliki hak dan kewajiban sebagaimana seorang Ayah.
Tidak! Jessica tidak harus memohon, dirinya menggeleng dan seakan menganggap ini adalah sebuah mimpi yang mungkin saja tengah mengganggu tidurnya, tapi lagi-lagi tubuhnya terguncang karena Jessica, wanita rapi itu sangat tidak sabar untuk segera menolong putrinya, takut kehilangan cahaya hidupnya.
"Alex, cahaya tidak bisa menunggu lebih lama lagi," pinta Jessica untuk yang kesekian kalinya.
Kali ini suara Jessica mampu menyadarkannya, dengan arti keadaan putrinya tengah dalam bahaya.
Degh! Degh! Degh!
Ini nyata dan bukan mimpi.
Dan siapa nama anaknya barusan?
Anaknya perempuan?
"Ca... Cahaya, namanya Cahaya?" tanya Alex terbata-bata.
Alex memang sempat mendengar nama itu dari Felix dan Adnan hanya saja saat itu masih abu-abu dan belum pasti, Jessica mengangguk cepat tidak sabar dirinya melihat anaknya segera tertolong, membuka matanya kembali tersenyum padanya dan banyak bertanya seperti sedia kala, Jessica tak ingin anaknya menjadi kenangan dirinya ingin bersama selamanya.
"Tolong dia aku mohon," ucap Jessica.
"Aku punya anak dan namanya Cahaya?" tanya Alex lagi dan lagi, sekarang dia ada di mana sungguh Alex masih terjebak dalam keterkejutan yang begitu luar biasa.
Alex tidak mengerti mengapa bisa semua begitu mengejutkan seperti ini, terdengar aneh dan sangat lucu, dengan segera menuju ruangan di mana anaknya dirawat Alex berbaring di atas brankar, bersebelahan dengan Cahaya yang belum sadarkan diri, bersiap mendonorkan darahnya untuk sang putri.
Mata Alex terus menatap anak dengan usia empat tahun itu, wajahnya begitu cantik dan meneduhkan, teringat saat siang tadi bertemu Cahaya melambaikan tangan padanya jangan lupa panggilan Cahaya.
"Babay Om ganteng," teriak Cahaya melalui jendela kaca mobil yang terbuka setengahnya.
"Om?" Alex tersenyum getir.
Anak kandungnya memanggilnya dengan sebutan Om?
Ini sangat luar biasa sekali!
Hari ini begitu penuh kejutan, tak di sangka ternyata Jessica masih mengandung anaknya saat itu.
"Dok sudah selesai," Dokter pun menyadarkan Alex dari lamunannya.
Alex mengangguk lalu bangkit berdiri di depan brankar Cahaya menatap wajah anaknya tanpa berkedip sedetikpun, tangannya bergerak dan mengelus pipi lembut Cahaya.
"Ternyata aku punya anak," Alex mengusap setitik air mata yang tumpah, ternyata perasaan saat melihat Cahaya itu adalah ikatan antara Ayah dan anak, di depan daun pintu kaca transparan Jessica melihat Alex berdiri menatap Cahaya, sulit dimengerti oleh akal tentang kejadian itu.
"Mama tidak mau dia mengambil Cahaya, dia memang Ayahnya tapi tidak ada haknya," ujar Inggit.
__ADS_1
Berharap setelah mengetahui semua itu, apa yang ditakutkan tidak akan terjadi.
Jessica mendudukkan tubuhnya di lantai, bersandar pada dinding dengan wajah menunduk, air matanya terus menetes sebab belum ada kabar kemajuan perkembangan apa-apa dari Cahaya.
"Kenapa kamu menyembunyikan ini dariku?" tanya Alex.
Suara Alex menyadarkan Jessica dari lamunannya, begitupun dengan Inggit yang beralih menatap Alex.
"Kenapa kalian mengatakan bahwa saat itu sudah keguguran?" Alex kembali mengulangi kalimat tanya.
Hatinya begitu kecewa pada Jessica dan juga Inggit, saat itu Alex sendiri yang menghampiri kediaman Jessica, dan Inggit mengatakan bahwa Jessica sudah keguguran.
"Karena kamu tidak menginginkan anak itu," jawab Inggit dengan lantang.
"Aku tidak pernah berusaha menutupinya, aku pun tidak pernah memberitahukan padamu karena kamu tidak pernah berniat bertanya padaku," Jessica ikut menimpali.
"Tapi aku sudah bertanya pada Mama saat itu, tetapi mengapa Mama mengatakan bahwa kamu sudah tidak mengandung anakku lagi," Alex pun berusaha untuk menjelaskan merasa dirinya sudah dibohongi habis-habisan.
Sungguh menyakitkan sekali saat tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya memiliki seorang putri dengan cara seperti ini, anaknya lemah tidak berdaya di dalam sana, ini luar biasa kejutan di atas kejutan yang begitu istimewa.
Jessica membuang pandangannya ke arah lain, menyeka air mata yang terus membasahi pipinya.
"Karena seperti ini, seperti ini kamu, hanya bisa menyalahkan aku saja, kamu tidak mau tahu sulitnya aku mempertahankan Cahaya di rahimku, yang kamu tahu aku bersalah tanpa tahu alasannya apa," suara bergetar Jessica tak pernah bisa berubah menjadi indah sampai saat ini pun.
Alex meninju udara mengacak rambut dengan kesal.
Bagaimana bisa dirinya begitu bodoh.
"Apakah ada perjuangan mu saat itu?" tanya Jessica lagi.
"Tidak!" jawab Jessica sendiri.
"Dua kali aku mengandung anakmu, tidak satu kali pun kamu bertanggung jawab, pantaskah aku mengenalkanmu pada anakku sebagai Ayahnya?" suara Jessica hampir menghilang, deru penuh luka di dada terdengar lemah.
Agar Alex tahu tak seharusnya menyalahkan dirinya terus-menerus.
Sampai kapan?
Kapan Alex bisa sadar bahwa dirinya pun manusia yang ingin dihargai.
"Aku minta maaf," Alex beralih menatap Jessica dengan wajah penuh harap mungkin sepenuhnya menyadari bahwa kesalahannya dulu begitu melukai Jessica.
"Terima kasih tapi maaf juga aku sudah tidak membutuhkannya lagi, maaf mu sudah terlambat, aku yang mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu," ucap Jessica.
"Dia anak ku," Alex menegaskan bahwa dirinya juga memiliki hak untuk membahagiakan Cahaya, sebagai seorang Ayah tentu tak akan keberatan memberikan apa saja untuk putrinya, begitupun dengan Alex.
Alex akan memberikan apapun asalkan putrinya bisa terselamatkan lebih dari sekedar darah pun Alex siap.
__ADS_1
Anggap saja sebagai penebus dosa sudah pernah menelantarkan anaknya tersebut, penebus saat-saat dirinya tak di sisi mendampingi setiap pertumbuhan Cahaya.