
"Ahahahaha," Nayla dan Jessica tertawa melihat keusilan Rima.
"Senyum Dok, diam mulu, dingin amat, lagian Dokter normal nggak sih?" tanya Rima penuh selidik.
"Bego banget sih pertanyaan," Nayla menyentil kepala Rima.
Rima pun menjauh.
"Wajar dong aku ini bertanya, dipegang juga diam aja, mungkin ya gitu" Rima menatap sekitarnya, tidak ingin melihat Aditya.
Aditya hanya diam tanpa kata, menatap Rima pun seakan tidak ingin.
"Lihat nih!" Rima kembali menunjuk Aditya.
"Lihat perempuan aja nggak selera," ucap Rima lagi.
"Itu karena kamu jelek," jawab Aditya tiba-tiba.
Ucapan Aditya membuat Rima kesal bukan main, baru kali ini ada yang mengatakan dirinya jelek di depan matanya sendiri.
"Jangan gitu dong Dok, gini-gini aku udah punya pacar tahu," kesal Rima sambil berkacak pinggang.
"Kamu udah punya pacar?" tanya Nayla penasaran.
__ADS_1
Biasanya Rima akan sangat antusias menceritakan pacarnya, tapi kali ini sepertinya tidak.
"Udah dong, dua minggu jadian," Rima tersenyum bangga mengejek Aditya.
"Aku itu cantik Dok, mata Dokter Aditya aja yang rusak dan ngatain saya nggak cantik, dasar jomblo!" ejek Rima.
Aditya diam seakan tidak peduli sama sekali dengan ucapan Rima.
"Bukannya kamu kemarin itu baru putus?" tanya Nayla bingung.
Beberapa hari yang lalu Rima sendiri curhat bahwa baru saja dirinya diputuskan oleh sang kekasih.
"Maaf ya aku tuh cantik, nggak sempat tuh jomblo!" kata Rima dengan bangga.
"Udah-udah ayo diminum dulu," Jessica menunjukkan gelas yang berisi jus yang baru saja diantarkan oleh Art.
Sekalipun pembahasan tidak ada yang penting, tetapi cukup bermakna dengan kebersamaan yang menciptakan kehangatan seakan menjadi keluarga.
##########
Hari ini keadaan Cahaya semakin membaik, setelah kemarin berkumpul bersama Devan, Nayla dan yang lainnya seakan semakin membuat Cahaya bersemangat untuk proses penyembuhan.
Hari ini Jessica sudah kembali bekerja, beberapa hari ini pekerjaannya terlantar, sebab fokus mengurus anaknya.
__ADS_1
Namun saat dirinya tengah disibukkan dengan pekerjaan, tiba-tiba seorang sekretaris datang dan memberitahu ada seseorang yang ingin bertemu.
"Siapa?" sejenak Jessica beralih menatap sekretarisnya, menepikan pekerjaan yang kini begitu banyak di hadapan.
"Bapak Alex, Bu" jelas sekretaris itu lagi.
"Alex?" Jessica tidak tahu untuk apa Alex datang menemui dirinya, biasanya jika bertamu langsung di rumahnya dengan tujuan menjenguk Cahaya.
"Iya Bu, boleh masuk atau?"
Jessica mengangguk mempersilahkan. Dalam hidup Jessica tidak pernah menghindari masalahnya, dirinya adalah wanita yang siap menghadapi apapun masalahnya agar segera terselesaikan baik seberat apapun juga.
Setelah sekretaris keluar dan mempersilahkan seorang tamu untuk masuk, Alex pun masuk dan melihat Jessica menatapnya yang masih berdiri di ambang pintu ruangan CEO.
"Masuk," Jessica menunjukkan kursi di hadapannya, dalam arti mempersilahkan Alex untuk duduk.
Alex mengangguk dan duduk saling berhadapan dengan Jessica, meja kerja sebagai pembatas di antara keduanya.
Sejenak Alex terdiam dalam duduknya posisinya saat ini benar-benar terasa begitu berat.
"Ada apa?" tanya Jessica dengan suara pelan, melihat Alex yang belum juga berbicara.
"Dua hari lagi apa benar Cahaya ulang tahun?" tanya Alex secara langsung.
__ADS_1
Jessica pun mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Alex.
"Aku tahu aku mempunyai banyak kesalahan padamu, pada Cahaya yang paling utama, bolehkah aku mengabulkan permintaan putriku sebagai penebus maaf?" tanya Alex lagi.