
Tenda pun sudah terpasang di halaman rumah, walaupun banyak drama sebelumnya.
Tidak lupa juga api unggun menyala dengan besarnya, terlihat cantik dan menghangatkan tubuh.
"Nanda, apa kau punya gitar?" Tanya Alex sambil membalikkan beberapa jagung bakar yang hampir matang.
"Tidak, aku hanya punya senjata," jawab Nanda dengan serius.
"Senjata apa? Dasar gila!" Alex tertawa kecil saat mendengar jawaban Nanda.
"Adik ipar tidak ada otak!"
Tidak menyangka jika ternyata Nanda juga seorang pria humoris, sesuai dengan adiknya yang suka bersikap sesukanya.
Reyna pun mencubit perut Nanda, kesal sekali saat mendengar jawaban Nanda barusan.
"Sakit cantik!" Nanda pun menguap perutnya seakan meringis menahan sakit.
"Makanya nggak usah aneh-aneh!" Reyna pun mengerucutkan bibirnya kesal sampai di ubun-ubun pada Nanda.
"Aneh?" Nanda berpura-pura bodoh, seakan tidak mengerti sama sekali.
"Maksudnya?" Nanda kembali bertanya.
"Apanya yang punya senjata?" Kini Reyna yang bertanya, dengan suara pelan sambil mengeratkan giginya.
"Maunya kamu apa?" Nanda pun kembali melontarkan pertanyaan sambil terkekeh geli, sudah pasti otak Reyna berpikir hal yang lainnya.
"Mereka ini aneh, pembahasannya juga soal senjata," Alex menimpali sambil tertawa kecil, walaupun duduk sedikit berjauhan dari Nanda dan Reyna tetapi telinganya masih mendengar dengan jelas.
"Aku kok geli yah dengan pembahasannya" Jessica yang masih baru merasakan keindahan di hargai sebagai seorang istri malah merasa tidak nyaman, walaupun sudah dewasa tetapi masih terdengar aneh di telinganya. Tapi juga Jessica takut jika salah dalam menyimpulkan, artinya otaknya juga sudah tidak waras.
Memalukan!
"Tadi aku bertanya gitar, Nanda menjawab senjata! Senjata apa? Nggak nyambung!" Kesal Alex.
"Senjata keramat," jelas Reyna tanpa sadar.
Satu detik, dua detik pun masih senyap saja. Tiga detik, akhirnya tawa Jessica dan Nayla pecah seketika itu.
Alex dan Devan pun tersenyum, sungguh Reyna melupakan jika ada yang lainnya selain Nanda.
Ternyata otak Reyna kembali pada mode lemot, sehingga mulutnya bisa bicara tanpa berpikir terlebih dahulu.
__ADS_1
"Hehe." Reyna cengengesan sambil menggaruk kepalanya, merutuki kebodohannya yang begitu hakiki.
"Maaf, maksudnya nggak gitu," Reyna pun mengusap wajahnya hingga beberapa kali.
Malu tidak bisa dikatakan oleh bibirnya, dirinya juga berusaha menepis pikiran miring yang lainnya.
"Nanda, istri mu ini sepertinya kebayakan di kasih pegang senjata keramat," kata Alex diiringi tawa kecil.
"Atau mungkin sebaliknya, mungkin juga karena sudah lama tidak di berikan makanya oleng." Nayla bertanya sambil tertawa lebar, bahkan sampai mengeluarkan air mata.
"Apa benar begitu?" Kini Nanda yang bertanya pada Reyna.
Wajah Reyna memerah seketika itu juga, kenapa Nanda malah semakin menggodanya.
Sialan! Ini sudah sangat memalukan sampai ke langit, gunung Himalaya pun kalah tinggi dengan rasa malunya kini.
Kenapa bisa bersikap ceroboh dalam berbicara.
"Nanda," Reyna pun mencubit lengan Nanda, dirinya sudah malu malah di buat semakin tersudutkan.
"Udah-udah," Nanda pun menarik Reyna ke dalam pelukannya.
Reyna menyimpan wajahnya pada dada bidang Nanda, berharap dengan begitu bisa mengurangi rasa malunya.
"Udah, nanti aku kasih pegang senjata keramat nya. Jangan bersedih lagi," seloroh Nanda.
"Nanda!" Seru Reyna sambil menjauhkan dirinya dari suami laknatnya tersebut.
"Bercanda," Nanda pun kembali menarik Reyna untuk menyimpan wajahnya pada dada bidangnya.
"Ya ampun, Reyna! Kalian berdua sangat tidak sopan menunjukkan kemesraan di hadapan Kakak sendiri!" Kesal Alex yang merasa tidak di hargai.
"Jessica, ayo kita romatis-romantisan saja di dalam tenda," seloroh Alex sambil bangkit dari duduknya seakan ingin membawa Jessica masuk ke dalam tenda.
"Alex, apaan sih!" Jessica pun melepaskan tangannya yang dipegang erat, bukan dirinya menolak hanya saja masih merasa malu.
"Kalian berdua sama saja, ayo Nayla," Devan pun menimpali.
"Kemana?" Tanya Nayla dengan polosnya.
"Lebih baik kita duluan masuk ke dalam tenda, sebelum mereka. Apa jadinya kalau mereka masuk dan kita mendengar suara-suara aneh," jelas Devan sambil terkekeh geli.
"Ahahahaha," tawa Nayla pecah seketika, bersama Devan yang juga ikut tertular tawa Nayla yang menggelegar.
__ADS_1
"Ternyata kau juga sama saja," Alex pun mengambil jagung bakar yang dirasa sudah matang, memberikan pada Jessica yang meminta jagung bakar sejak tenda terpasang.
"Ini seperti cinta aku ke kamu," bisik Alex.
Jessica pun tersenyum sambil kebingungan dari maksud perkataan Alex.
"Panas membara," lanjut Alex lagi masih dengan suara pelan agar hanya keduanya saja yang dapat mendengar.
Jessica pun berdehem, lama berteman membuat dirinya merasa lucu dengan gombalan receh Alex.
"Kok, senyum-senyum sendiri?" Alex bingung dan bertanya-tanya apakah salah dalam berbicara.
"Lihat langit," Jessica menujuk ke atas.
Alex pun mengikutinya.
"Kenapa?" Tanya Alex yang merasa belum menemukan jawaban dari maksud Jessica.
"Kayak gombalan kamu, gelap!" Jelas Jessica.
Alex pun tersenyum, dirinya yang ingin menciptakan suasana romantis malah berbalik menjadi candaan yang cukup menggelitik perut.
"Gimana kalau kita main jawab atau tantangan, ini ada botol bekas," Nayla meletakkan sebuah botol kaca bekas minuman di atas meja yang berada di sampingnya.
"Ada yang berani? Aku penasaran juga dengan isi hati kita semua di sini," Nayla menggerakkan kedua alis matanya, berharap ada yang menyetujui.
"Setuju," Jessica menjawab dengan cepat, dirinya ingin tahu seperti apa perasaan Alex padanya.
"Aku nggak mau," tolak Nanda.
"Mana mau! Kamu kan tukang bohong!" Kesal Reyna. Padahal Reyna ingin ikut dalam permainan tersebut.
"Apa hubungannya lampir!" Nanda pun menjitak kepala Reyna, dan itu sudah biasa terjadi sehingga bukan masalah besar lagi.
"Kamu takut!"
"Takut apanya?"
"Sudah! Semua main, tidak ada yang bisa menolak!" Tegas Nayla.
"Hay semuanya?" Terdengar suara dari arah lainya, membuat ke empat orang yang tengah berdebat pun berbalik.
"Rima?" Nayla tersenyum saat melihat kedatangan seorang sahabatnya lagi. Tentu saja liburan ini akan sangat menyenangkan.
__ADS_1