
Nanda pun masuk dengan perlahan, berdiri di samping brankar melihat tangan Reyna yang terpasang selang infus, kemudian menatap wajah istrinya.
"Kamu sakit apa?" Nanda pun bertanya untuk memecahkan keheningan diantara keduanya.
"Demam," jawab Reyna dengan cuek.
"Oh," Nanda pun duduk di kursi, kemudian dia diam sambil melihat wajah Reyna.
Ada rasa sedih menyadari dirinya sebagai seorang suami tetapi malah mengetahui keadaan istrinya paling akhir.
Sedangkan Reyna memilih menutup matanya, kesal pada Nanda yang tidak memeluknya sama sekali.
Dirinya juga tidak mengerti, tetapi dekapan hangat dan aroma tubuh Nanda sangat dirindukannya semenjak Nanda tugas dan meninggalkan dirinya di rumah sendirian.
Andai saja Nanda tau setiap malam Reyna ridur dengan memeluk foto Nanda, demi mengobati sedikit kerinduan yang mendalam. Atau mungkin saja Nanda sudah memiliki wanita lain di luar sana.
Pikiran Reyna semakin bercabang saja.
Perlahan Reyna pun bergerak dan memunggungi Nanda, tidak ingin dekatan sama sekali.
"Kamu nggak kangen sama aku?" Tanya Nanda dengan hati-hati. Reyna tidak menjawab sama sekali, memilih tetap berada di tempatnya dengan memunggungi Nanda.
Menunggu beberapa saat tetapi, tidak ada respon dari Reyna membuat Nanda bingung dan bertanya-tanya.
Apakah dirinya melakukan kesalahan?
Tetapi, kesalahan apa?
Mengingat beberapa hari yang lalu Reyna tersenyum padanya saat berpamitan pergi untuk tugas.
"Reyna, aku kangen banget tau. Kamu nggak kangen ya, sama aku?" Nanda masih menatap Reyna, berharap berbalik badan dan membalas tatapan matanya.
Reyna mendadak tersenyum, melupakan rasa kesal saat barusan Nanda tidak langsung memeluknya.
Bodohnya, bukankah dirinya sudah berjanji mogok bicara sebelum di peluk?
Reyna pun bingung dengan dirinya yang kini tidak berpendirian.
Akan tetapi, Reyna masih diam dan memilih menyembunyikan wajahnya dengan bibir yang tersenyum lebar.
"Reyna," panggil Nanda lagi, sebenarnya Nanda pun merasa bersalah.
__ADS_1
Merasa menjadi suami tidak bertanggung jawab karena istrinya sakit tetapi tidak bisa merawat. Bahkan, sampai di rawat di rumah sakit tanpa tahu apapun.
Reyna memilih diam dalam mode kesal. Karena, sampai saat ini pun Nanda tidak memeluk dirinya.
Sedangkan dirinya sedang hamil anak Nanda, Reyna mengira Nanda sudah diberitahu sebelumnya oleh Nayla, tepatnya saat panggilan telepon berlangsung pagi tadi.
Padahal Nayla, tidak memberitahukan pada Nanda, agar Reyna yang mengatakan sendiri.
"Sayang......" Panggil Nanda dengan ragu-ragu, jarang sekali dirinya memangil Reyna dengan panggilan tersebut.
Mungkin selama beberapa tahun menikah panggilan itu baru terucap dua sampai tiga kali, sebab Nanda yang memilih terlihat biasa saja walaupun dalam hati penuh cinta untuk Reyna.
Wajah Reyna merah padam, sekalipan sudah menikah lama tapi tidak lantas membuat gelora api cinta padam begitu saja. Berpacaran setelah menikah itu memang luar biasa. Bahkan sampai saat ini pun masih membara dengan panasnya.
Hanya saja masih dalam mode kesal, jadi harus diam. Dirinya akan tersenyum di hadapan Nanda dan mau berbicara setelah di peluk.
Sejak kapan Reyna menjadi lebay?
Ah, buang jauh-jauh pertanyaan tersebut, karena Reyna pun tidak tahu sejak kapan.
"Aduh, sakit banget...." Nanda pun meringis menahan sakit pada lengannya yang masih di perban.
Mata Reyna melebar, tetapi masih berusaha untuk terus keras kepala. Ingat janji di awal, dirinya tidak akan merespon sampai Nanda memeluknya.
Dengan refleks Reyna pun berbalik, bahkan langsung duduk demi melihat lengan Nanda.
Tetapi Reyna tidak melihat ada darah sama sekali seperti apa yang di dengarnya, apakah Nanda menipunya?
"Kamu bohong ya?" Tanya Reyna dengan pandangan berapi-api.
"Aku bohongin kamu?" Nanda pun menggeleng.
"Emangnya aku bohong apa?" Nanda pun berpura-pura bingung seakan tidak mengerti dengan ucapan Reyna.
"Barusan ngomong kalau tangan nya sakit, berdarah!" Terang Reyna merasa telinganya masih baik dalam mendengar.
Nanda memasang wajah bingung, seakan tidak mengerti sama sekali.
"Apa iya, sepertinya aku bilang kalau aku cinta kamu," Nanda pun menunjukkan jari telunjuk dan ibu jari yang seakan membentuk love pada Reyna.
Reyna pun terdiam sambil tersenyum, sekejap saja sudah lupa akan kemarahan barusan.
__ADS_1
Tidak sampai tiga detik pun, perasaan Reyna sudah melayang di awan.
"Lebay!" Seru Reyna dengan bibir menahan senyum, padahal hati sudah serasa melayang ke awan biru.
"Kok lebay?"
Nanda tersenyum dan mendekatkan wajahnya pada Reyna.
Hingga tangan Reyna memegang wajah Nanda dan mendorongnya agar menjauh, ketika berdekatan begitu tentu hanya membuat jantung Reyna berdegup kencang dan terasa sulit untuk bernapas.
"Apaan sih!" Reyna pun memukul pelan tangan Nanda yang sedang di perban.
"Aduh sakit banget Reyna," rintihan Nanda begitu dalam karena rasa sakit yang luar biasa, dengan penuh kebohongan demi mencari perhatian Reyna.
Padahal hanya ujung jari yang menyentuh, Reyna tidak mungkin bodoh dengan memukul kencang. Pada dasarnya saja Nanda ingin mencari perhatian Reyna.
"Nanda maaf," Reyna benar-benar merasa tidak enak hati. Kenapa bisa dirinya sebodoh itu, memukul Nanda hingga meringis.
"Tapi boong," seru Nanda sambil tersenyum bahagia melihat wajah panik Reyna.
"Kamu jahat banget sih!" Reyna kesal kali ini benar-benar tangan Reyna memukul tangan Nanda.
"Sakit Adek!"
"Makanya, jangan boong!" Reyna pun mengerucutkan bibirnya.
"Kamu nggak kangen sama Abang? Abang kangen banget, nggak mau peluk Abang?" Tanya Nanda dengan penuh harap.
"Emang mau di peluk Adek?"
"Mau lah, masa enggak! Kangen tau, Adek kan pengobat lelah Abang," Nanda pun membuka tangannya lebar-lebar ingin memeluk Reyna.
Reyna pun tersenyum dan memeluk Nanda dengan cepat.
"Dari tadi kek, aku kan kangen pengen di peluk!" Gerutu Reyna kesal akhirnya tersampaikan.
"Kamu dari tadi ngambek, karena pengen di peluk?" Nanda baru sadar ternyata Reyna ingin di peluk tetapi malah berpura -pura marah.
"He'um! Kamu payah ish..... Nggak ngerti banget sih!" Omel Reyna kesal sampai di langit ke tujuh.
"Biasanya kamu 'kan ngomong, kamu itu tidak pernah ngasih kode, kalau mau peluk langsung minta sendiri kan?" ucap Nanda.
__ADS_1
"Ish..... Nggak romantis banget sih!" Reyna pun menjauh kesal pada Nanda yang seperti itu.
"Apa Abang salah lagi?" ucap Nanda.