
"Salah!"
"Salahnya di mana?"
Reyna melipat kedua tangannya di dada, membuang pandangannya kearah lainya.
"Adek, istri Abang. Kok sekarang ngambek kan?" Nanda pun mencoba bertanya mengingat selama ini mereka tidak pernah tertutup, bahkan tanpa kode-kode.
Jika ada yang membutuhkan salah satunya akan berbicara langsung. Tetapi ada apa dengan Reyna saat ini? Reyna sangat berbeda dengan sebelumnya.
"Makan ya, Abang suapin. Belum makan kan?"
"Nggak lapar?"
Nanda pun menarik napas berat, kemudian memilih meneguk mineral milik Reyna yang diletakkan di atas meja nakas demi meredam sedikit perasaan dan haus.
Demi tetap tenang juga menghadapi tingkah baru Reyna.
"Aku kan pengen di peluk, masa iya kamu nggak mau manjain istri kamu yang lagi hamil anak kamu," kesal Reyna.
Byur!!!
Air di mulut Nanda tidak dapat di teguk, mendengar penjelasan Reyna membuatnya menjadi terkejut.
"Nanda!" Seru Reyna saat Nanda menyemburkan air pada wajahnya.
Kesal sekali pada Nanda yang menjengkelkan, bukan perlakuan romantis yang di dapatkan oleh istri yang sedang hamil muda malahan semburan air.
"Kamu bilang apa tadi?" Nanda pun cepat-cepat meletakan gelas di tangannya pada meja nakas kembali.
Rasa hausnya menghilang bergantian dengan perasaan penasaran yang luar biasa. Sekalipun Reyna sedang marah tidak perduli sama sekali, saat ini dirinya tidak ingin salah mendengar kata-kata hingga ingin mendengar lagi.
"Apaan sih!" Reyna masih menepuk-nepuk air di wajah dan bajunya karena Nanda.
Nanda tahu dirinya salah, itupun karena shock.
"Reyna, coba ulangi yang kamu ucapkan tadi?" Nanda tidak sabaran ingin mendengar lagi.
"Apanya? Yang mana?" Tanya Reyna kembali dengan wajah cemberut.
"Reyna, coba bicara yang benar!"
"Yang mana?" Reyna tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Nanda.
"Aku dengar kamu bilang hamil, itu benar atau aku yang salah mendengar?" Nanda terus menatap wajah Reyna, menunggu penjelasan secara langsung dengan cepat detik ini juga.
"Kamu apaan sih? Udah bikin khawatir, pulang-pulang cuek, sekarang nyembur aku gini!" Reyna memilih mengomel, dari pada menjawab pertanyaan Nanda.
"Cepat ulangi yang kamu katakan barusan!" Kali ini Nanda memasang wajah dingin, sebelum Reyna berbicara dengan jelas dirinya tidak akan bisa tenang.
"Apaan, coba? Kamu sok-sokan nggak tahu aku hamil!" Papar Reyna dengan malas.
Nanda pun mematung seketika di tempatnya, seakan sejenak dunianya berhenti berputar.
Pernyataan Reyna barusan seperti bom waktu yang meledak.
__ADS_1
"Nanda, kamu kenapa?" Reyna kini bingung melihat ekspresi wajah Nanda begitu tegang.
Reyna pun bertanya-tanya apakah Nanda belum mengetahui sama sekali. Kalau Nanda sudah tahu sebelumnya tentu ekspresi wajah nya tidak akan setegang ini.
"Kamu belum tahu? Nayla nggak bilang ke kamu?" Tanya Reyna bertubi-tubi.
Nanda pun menggeleng lemah, sesaat kemudian dirinya kembali bernapas dengan baik.
Bibir Nanda pun tersenyum seketika beberapa kali mengusap wajahnya, mengucapkan kalimat syukur yang tiada hentinya.
Berloncat-loncat dengan riangnya, tidak tahu harus bagaimana mengetahui dirinya akan menjadi seorang Ayah. Melupakan sejenak rasa sakit pada tangannya yang masih berbalut perban.
"Reyna kamu serius kan?" Tanya Nanda dengan wajah berseri-seri.
"Iya," Reyna mengangguk cepat dengan bibir yang tersenyum.
Awalnya berpikir jika Nanda sudah tahu ternyata salah, menyesal rasanya barusan mengacuhkan Nanda yang baru pulang.
"Ah, aku senang sekali," Nanda meninju udara dengan kedua tangannya.
"Aduh," Nanda pun meringis menahan sakit, dirinya terlalu bahagia hingga lupa sedang dalam proses penyembuhan.
"Hati-hati," Reyna panik melihat Nanda kesakitan.
"Hehe," Nanda cengengesan seperti anak kecil yang diberikan permen.
"Kamu sih, nggak bilang dari tadi!" Nanda pun mengacak rambut Reyna penuh cinta.
"Kamu nggak mau peluk aku?" Tanya Reyna dengan suara pelan, bahkan suaranya hampir menghilang.
"Memangnya kamu mau di peluk aku?" Nanda mencolek dagu Reyna dengan gemas.
Nanda semakin gemas melihat kelucuan istrinya, secepat mungkin memeluk Reyna dengan eratnya.
Reyna pun begitu bahagia saat berada dalam dekapan hangat Nanda, sudah berhari-hari tidak bertemu rasanya begitu menyiksa keduanya.
"Aku senang sekali," tutur Nanda semakin memeluk Reyna dengan eratnya.
"Akhirnya cetakan aku jadi juga," imbuh Nanda dengan bangga.
Reyna pun mencubit lengan Nanda, suaminya itu memang aneh. Tetapi menurutnya kali ini lebih aneh lagi, hanya saja Reyna juga suka dan bisa dibuat melayang ke awan dengan mudahnya.
"Sakit!" Kesal Nanda.
"Biarin, kamu juga kalau ngomong begitu banget!"
"Kan, bener. Aku yang cetak!"
"Itu apa?" Reyna menunjuk wajah Nanda.
"Apa?" Nanda bingung dan meraba wajahnya, sebab tidak merasakan ada sesuatu yang hinggap.
"Coba," Reyna mengerakkan tangannya memberi isyarat kepada Nanda untuk sedikit condong padanya.
Tanpa berpikir panjang Nanda pun nurut, mencondongkan tubuhnya pada Reyna. Sedetik kemudian Reyna mencium pipi Nanda.
__ADS_1
Nanda pun tersentak.
Pertama kalinya Reyna mencium wajahnya, rasanya begitu mengejutkan dan bisa membuat tubuh kejang-kejang seketika itu.
"Kamu nakal ya," goda Nanda.
"Kalau mau cium jangan begitu!" Kata Nanda.
"Terus?"
"Begini!" Nanda pun menarik tengkuk Reyna dan mencium bibir Reyna dengan kasar, sungguh dirinya begitu gemas pada tingkah baru Reyna.
Alex membuka pintu tanpa permisi, dirinya ingin memeriksa keadaan adiknya. Bahkan Alex belum mengetahui Nanda yang sudah kembali.
Sampai akhirnya Alex memergokinya.
"Kak Alex!" Reyna dengan cepat mendorong Nanda.
Nanda pun menjauh dengan perasaan menegang, sebab dirinya memang sudah dalam keadaan tegangan tinggi.
Alex tidak berbicara sama sekali, memilih urung untuk masuk.
"Kenapa?" Tanya Jessica yang juga ikut menjenguk Reyna.
"Mereka sedang bermesraan, dan aku kesal. Ayo!" Alex menarik tangan Jessica dengan cepat hingga terhuyung-huyung.
"Kemana?"
"Ke ruangan aku, kita juga bisa mesra-mesraan!"
"Alex!" Jessica terkejut mendengar kata-kata suaminya barusan, semalam juga begitu awalnya menghibur dirinya. Kemudian lebih dekat dan memeluk nya yang baru di tinggalkan oleh mendiang sang Mama, namun pada akhirnya berakhir juga di bawah kungkungan.
Apa mungkin sekarang juga begitu?
"Alex, aku lelah!"
"Justru itu, biar aku pijat!" Alex menarik Jessica ikut masuk ke dalam ruangannya.
"Tidak perlu!" Tolak Jessica dengan cepat.
"Pijatan ku enak! Tidak usah khawatir!"
"Ahahahhaha," Jessica tertawa terbahak-bahak mendengar kata enak.
"Otak mesum!" Alex menaikkan Jessica untuk duduk di atas mejanya, mengetuk kepala Jessica dengan gemas.
"Kamu yang mesum!" Jessica pun tidak mau kalah dan memilih untuk menjawab.
"Tidak! Mana yang lelah, letih? Aku siap memijatnya?" Alex mengangkat kedua tangannya bersiap-siap untuk memijat Jessica.
"Nggak mau!" Seru Jessica dengan tawa, kedua tangannya menyilang di dada sedang tidak ingin merasakan pijatan Alex yang katanya enak tersebut.
"Ini pijatannya hanya untuk mu, menghilangkan lelah dan letih!" Goda Alex.
"Mana ada, yang ada abis kamu pijat aku malah lelah dan letih!"
__ADS_1
"Ayo di coba!"
"Nggak! Ahahahhaha......"