Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Bertemu lagi!


__ADS_3

Sekembalinya ke rumah, Nayla bergegas menuju kamar mandi, membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, dengan pakaian bersih.


"Dasar jorok!" Ejek Rima saat Nayla mulai bergabung bersama mereka yang duduk di teras rumah.


Nayla pun tersenyum sambil mengusap wajahnya beberapa kali, pertama kalinya peristiwa itu terjadi.


Sungguh hamil kali ini benar-benar berbeda dari sebelumnya, dirinya selalu ceria, mudah tertawa hanya karena hal yang terbilang biasa saja.


Mungkin hormon kehamilan yang membuat nya menjadi demikian.


"Apa kabar!" Sapa Nanda saat melihat seorang pria bersepeda motor melewati jalan tepat berada didepan rumah Bobby.


Melihat Nanda seketika pria itu memarkirkan sepeda motornya, kemudian turun dan berjalan ke arah Nanda.


Nanda pun berdiri dari duduknya, berjalan dan bersalaman ala pria dengan pria tersebut.


"Aku baik, kau apa kabar?" Tanya Pria itu sambil sebelah tangannya menepuk pundak Nanda layaknya teman dekat.


"Aku baik juga," Nanda menjawab tidak kalah antusias, lama tidak bertemu membuat banyak yang berbeda dari keduanya.


"Aku dengar kau sudah menikah?" Tanya Robin.


Robin adalah salah satu teman Nanda, tetapi selama ini Robin tetap berada di desa sedangkan Nanda tidak.


"Itu istri ku," Nanda tersenyum bangga menatap Reyna yang duduk di kursi bambu.


Robin pun menoleh dan tersenyum pada Reyna sebagai sapaan.


Tiba-tiba saja matanya menatap wajah yang juga cukup dikenalinya.


"Nayla?" Robin dengan refleks menunjuk Nayla.


Lama tidak bertemu membuat Robin memastikan bahwa matanya tidak salah melihat seseorang.


Nayla pun berdiri dan mengulurkan tangannya pada Robin.


"Aku kira kamu lupa sama aku," ujar Nayla dengan senyum ramahnya.


Robin pun membalas uluran tangan Nayla, sejenak terdiam menatap wajah Nayla kini dan dulu banyak yang berubah.


"Aku sampai pangling, kamu sekarang cantikan ya?" Ujar Robin tanpa sadar.


"Ah maaf, maksudku tidak begitu," Robin salah tingkah, berusaha menutupi dirinya yang sedang terkagum-kagum melihat Nayla yang sekarang.

__ADS_1


"Tapi iya sih, kamu lebih cantik," lanjut Robin lagi membenarkan.


"Ehem," Devan pun berdehem melihat pria yang belum juga melepaskan tangan istrinya.


"Tangan aku," Nayla berusaha untuk melepaskan tangannya, tetapi cengkraman Robin terlalu kuat tidak sebanding dengan tenaganya.


"Maaf," Nayla pun menunjuk tangannya, minta di lepaskan secara tidak langsung.


"Maaf" Robin pun melepaskan tangan Nayla, walaupun setelahnya merasa begitu malu. Mengusap lehernya beberapa kali untuk mengurangi kegugupannya.


Nanda pun berpindah ke samping Devan dan berbisik.


"Itu pria yang pernah di taksir Nayla," kata Nanda dengan tersenyum agar Devan semakin kebakaran jenggot.


Nanda tahu Devan sedang menahan kesal, hanya saja masih berusaha untuk menahan diri.


Namun kita pun harus melihatnya, apakah masih bisa tersenyum setelah ini.


Benar saja, Devan pun bangkit dari duduknya. Kemudian berdiri di samping Nayla, tidak lupa tangannya melingkar di pinggang Nayla dengan eratnya.


"Aku suaminya," Devan pun mengulurkan tangannya pada Robin. Memperkenalkan dirinya yang jauh lebih tampan dan lebih segalanya dari Robin yang pernah menolak Nayla.


Robin tercengang sambil membalas tangan Devan dengan ragu-ragu.


Mungkinkah wanita cantik dihadapan nya tersebut sudah menikah?


Tubuh Nayla bahkan masih terlihat ramping, tidak seperti wanita yang sudah menikah pada umumnya.


"Anak kami sudah dua, dan sekarang istri ku sedang mengandung anak ke tiga," jelas Devan menimpali.


Robin pun refleks melihat perut Nayla yang masih rata dengan penuh tanya, kecantikan Nayla yang begitu luar biasa sungguh membuatnya terkagum-kagum.


"O, begitu?" Robin masih melihat Nayla dengan penuh tanya.


"Iya," jawab Devan dengan wajah datarnya.


"Mas," Nayla pun menegur Devan, tidak tahu mengapa sepertinya ada yang berubah dari suaminya tersebut.


Devan tidak perduli dirinya hanya berdiri di samping Nayla dengan wajah dinginnya.


"Kapan menikah?" Tanya Robin dengan penasaran.


"Apa harus kami melapor pada mu?" Ketus Devan.

__ADS_1


Huuuufff!


Nayla menepuk dahinya, sepertinya suaminya sedang dalam mode sensitif.


Yang lainnya menahan tawa melihat reaksi Devan yang begitu berlebihan, tidak salah lagi jika Dokter Arrogant itu tengah dilanda kecemburuan tingkat akut.


"Tidak, tapi..." Robin terdiam melihat wajah Devan.


"Apa?"


"Tidak ada, kau suaminya," Robin pun menatap penampilan Devan dari atas sampai ujung kaki.


"Aku hanya teman lamanya."


Melihat pakaian Devan yang sederhana membuatnya yakin tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan dirinya yang sudah memiliki banyak sawah di desa.


Belum lagi banyak wanita yang ingin menjadi istrinya, dirinya pun yakin jika Nayla pasti rela meninggalkan suaminya bila sudah melihat dirinya.


"Lalu kenapa?" Tantang Devan, menyadari Robin sedang menatapnya remeh.


"Mas, udah!" Nayla pun menjauhkan Devan, berdiri di depan suaminya, agar tidak ada baku hantam yang terjadi.


"Baiklah Nayla, sebaiknya aku pergi," pamit Robin, namun sambil mengulurkan tangannya pada Devan sebagai suami Nayla.


Devan pun melempar pandangan kearah lain, tidak ingin melihat Robin.


Robin tersenyum sinis dan menurunkan tangannya, kemudian berpamitan pada Nanda.


"Aku permisi."


"Hati-hati!" Nanda menepuk punggung Robin ala-ala teman lama.


Robin pun mengangguk mengiyakan, kemudian menaiki sepeda motornya yang terparkir di sisi jalan. Sebelum benar- benar pergi Robin kembali menoleh melihat Nayla.


Sesaat kemudian sepeda motor Robin melaju, hingga akhirnya Nayla bernapas lega


"Senang kamu ketemu dia?" Tanya Devan kesal.


Nayla terkejut mendengar pertanyaan Devan.


"Ada yang panas, tapi bukan kompor meleduk," celetuk Alex.


"Ahahahhaha....."

__ADS_1


__ADS_2