Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang
Sedikit bersabar...


__ADS_3

Keesokan harinya Nayla mulai sadarkan diri, mata Nayla perlahan terbuka dan sadar bahwa dirinya saat ini berada di rumah sakit. Hati Nayla begitu sangat was-was dan takut akan kemungkinan terburuk yang terjadi pada anaknya. Dengan gerakan cepat Nayla memegang perutnya dan berharap bahwa anaknya masih berada di dalam perutnya. Tapi tunggu Nayla merasa perutnya telah mengempis,, yang berarti anaknya sudah tidak berada di dalam perutnya lagi. Pikiran buruk sudah mulai menghantui Nayla seketika itu juga. Nayla menangis tersedu-sedu karena merasa bersalah telah gagal, menjaga anaknya yang tidak bersalah itu. Padahal hanya janin itulah yang menjadi alasannya untuk tetap hidup di dunia ini. alasan untuk dirinya tetap berpijak di dunia ini,, dunia yang sangat kejam ini untuk dirinya,, berharap dirinya bisa hidup bahagia berdua dengan anaknya saja. Nayla benar-benar tidak kuasa menahan kesedihannya.


Devan tersadar dari lamunannya, segera dia bangun dari sofa sebelumnya yang menjadi tempat duduknya,, lalu berjalan mendekati brankar tempat Nayla baring saat ini.


"Syukurlah,, kamu sudah bangun sekarang," ucap Devan benar-benar merasa sangat lega,, begitu melihat Nayla yang sudah sadar.


Sejak operasi selesai dilakukan tadi malam,, Devan benar-benar tidak bisa merasa tenang,, melihat Nayla yang belum sadar juga karena jika dalam beberapa jam ke depannya,, Nayla masih tidak sadar juga,, maka kemungkinan besar Nayla akan koma,, karena keadaan tubuh Nayla sangat lemah dan juga Nayla telah banyak mengeluarkan darah sebelumnya.


"Mana anakku!!! anakku di mana?" ucap Nayla histeris,, takut akan kenyataan buruk yang akan dihadapinya.


Devan langsung memeluk erat tubuh istri keduanya itu,, mencoba menenangkan istri keduanya agar tidak membahayakan dirinya sendiri.


"Dia sudah lahir dan dia baik-baik saja," ucap Devan sambil memeluk Nayla.


Mendengar ucapan Devan,, Nayla langsung berhenti bergerak,, lalu menatap Devan dengan tetapan mata penuh tanya dan penuh selidik. Begitu merasa Nayla sudah agak tenang,, Devan menatap Nayla, terlihat jelas Nayla saat ini sangat takut kehilangan anaknya.


"Anak kita masih hidup tapi dia terlahir prematur,, jadi saat ini dia berada di dalam inkubator,, tapi dia baik-baik saja," ucap Devan menjelaskan tentang keadaan anak mereka.


"Apa itu benar?" tanya Nayla dengan tatapan mata penuh selidik melihat Devan.


Nayla benar-benar tidak ingin dibohongi,, dia hanya ingin anaknya saja tanpa Devan pun Nayla tidak masalah sama sekali.


Devan menganggukkan kepalanya.


"Papa memberikan nama anak kita, Felix Bima Putra," ucap Devan lagi.


Nayla benar-benar merasa lega begitu mendengar penjelasan dari Devan yang terdengar sangat meyakinkan dirinya.

__ADS_1


Perlahan tubuh Nayla yang tadi sedang duduk berbaring kembali,, tubuhnya masih sangat lemah sekarang dan dirinya harus banyak beristirahat.


"Aku ingin melihat anakku," ucap Nayla.


"Iya tunggu sampai keadaanmu membaik lalu kamu bisa melihatnya," ucap Devan.


Nayla mengangguk menurut apa kata Devan, saat ini dirinya tidak ingin keras kepala mengingat dirinya hanya sebatang kara, jika dia sakit siapa yang akan mengurus anaknya


"Kamu makan dulu yah,, Mas yang akan menyuapi kamu," ucap Devan.


Nayla hanya mengangguk tidak membantah ucapan Devan,, keinginannya saat ini adalah hanya ingin sembuh dan bisa merawat anaknya dengan baik.


##########


Jessica terbangun dari tidurnya,, dia tidak melihat Devan berada di sampingnya menimbulkan tanda tanya di otak Jessica. Kemana perginya Devan?


Jessica segera turun dari ranjang menuju kamar mandi, Jessica akan menyusul Devan yang saat ini sedang mandi menurutnya. Tapi sayangnya Devan juga tidak ada di dalam kamar mandi.


"Devan," teriak Jessica berkali-kali, namun tidak ada jawaban dari Devan sama sekali.


Perasaan Jessica mulai tidak karuan karena tidak ada sahutan dari Devan,, Jessica masih berharap bahwa Devan tidak pergi menemui Nayla.


Seketika itu Jessica berlari keluar untuk mencari Devan di luar,, karena kemungkinan saja Devan berada di luar mengingat hari ini adalah hari libur. Begitu sampai di depan kamar, Jessica tidak sengaja berpapasan dengan Andini.


"Kak," ucap Jessica menghentikan langkah kaki Andini.


Andini lalu menatap Jessica dengan senyum lembut seperti biasanya.

__ADS_1


"Kakak lihat Devan?" tanya Jessica.


"Devan berada di rumah sakit saat ini," jawab Andini sambil melihat Jessica.


"Rumah sakit?" ucap Jessica heran dan Jessica merasa penasaran mengapa Devan berada di rumah sakit saat hari libur seperti ini,, tapi Jessica berpikir kemungkinan mertuanya yang berada di rumah sakit makanya Devan ke rumah sakit di hari libur.


Dan lagi pula Devan adalah seorang dokter,, yang di mana rumah sakit sudah seperti tempatnya.


"Nayla saat ini sedang berada di rumah sakit,, tadi malam dia pendarahan, dia terpaksa dioperasi dan beruntung janinnya masih bisa diselamatkan," ucap Andini lagi.


"Hah Nayla," ucap Jessica sambil mengepalkan kedua tangannya yang menggantung saat ini. Jadi alasan Devan ke rumah sakit saat ini adalah Nayla,, apa yang dilakukan oleh Devan disana dihari libur begini, padahal dokter lain juga sangat banyak di rumah sakit itu,, kenapa harus suaminya yang turun tangan sendiri. Jessica tidak suka itu.


"Kakak tidak bermaksud sama sekali untuk ikut campur dengan urusan rumah tangga kalian, tapi tolong untuk kali ini saja cobalah mengerti, mungkin hanya karena anaknya jika bukan karena Nayla," ucap Andini sambil mengelus lengan atas Jessica, mengerti dengan perasaan Jessica saat ini.


Tetapi anak Nayla dan Devan juga tidak bersalah dalam hal ini, anak itu juga korban yang bahkan sudah ikut merasakan penderitaan semenjak masih di dalam kandungan.


Jessica hanya diam sambil menatap Andini dengan mata yang sudah berkaca-kaca,, seketika itu Andini memeluk tubuh Jessica menguatkan hati Jessica untuk tetap tenang demi janin yang juga saat ini dikandungnya.


Tangis Jessica seketika itu pecah,, kenyataan ini sungguh sulit untuk diterima Jessica,, suaminya saat ini sudah memiliki anak dari wanita lain.


Jessica sama sekali tidak pernah menyangka semua ini akan terjadi, bagaimana bisa dirinya tetap kuat di atas kerapuhan memaksa dirinya untuk tetap terpuruk padahal sudah melawan dengan sekuat tenaga.


"Kamu sabar,, semuanya pasti ada jalan keluarnya, Kakak mohon kamu jangan terlalu memikirkan hal ini, bawa bahagia ingat kandungan kamu sangat lemah," ucap Andini.


Jessica menganggukan kepalanya dan mengusap air matanya, jika ingin mempertahankan Devan maka janin itu adalah alasannya sekaligus pengikat agar Devan tidak bisa pergi darinya. Baiklah! Jessica menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya membawa diri agar tetap bahagia sekalipun hati benar-benar merasa terluka.


"Kakak ke rumah sakit dulu," ucap Andini.

__ADS_1


Jessica menatap punggung Andini yang perlahan menjauh darinya,, tidak apa-apa tidak masalah jika Devan saat ini berada di samping Nayla dulu. Dan Jessica pun tidak akan meminta Devan pulang sebelum Nayla sembuh,, karena semakin cepat Nayla sembuh,, maka Devan akan semakin cepat untuk membuktikan ucapannya menceraikan Nayla. Hanya perlu sedikit bersabar,, biarkan saja dulu Devan bersama Nayla beberapa hari ini,, Jessica memilih diam dulu dan pergi ke salon untuk memanjakan dirinya agar lebih tenang.


__ADS_2