
Devan harus keluar kota untuk pekerjaan sedangkan Nayla tak bisa ikut selain mengingat Felix yang masih terlalu kecil, kini Nayla juga sedang mengandung anak kedua, kandungannya sudah berusia tujuh bulan, Ana pun tak lagi memberikan izin bagi menantunya tersebut untuk bepergian jauh, Nayla pun mengerti tentu demi kebaikan diri dan anak-anaknya.
"Mas jangan nakal ya, jangan lirik-lirik perempuan di sana, ini masih di perut juga," Nella mengerucutkan bibirnya, menunjuk perutnya yang membuncit.
Devan mengelus perut Nayla, berjongkok agar lebih mudah untuk menciumnya.
"Karena kalau Mas main serong, nanti Mas berhadapan sama dua orang anak laki-laki Mas sendiri, jadi hati-hati!" ucap Nayla lagi
"Ayah berangkat kerja dulu, kamu jangan nakal selama Ayah pergi kalau pengen ditengok sabar dulu, tunggu sampai Ayah pulang," Devan seakan berbicara pada anaknya.
Janin yang masih berusia tujuh bulan itu seakan mengerti, terasa ada gerakan membuat Devan tertawa bahagia.
"Sayang dia respon," Devan begitu bangga sekali sambil memeluk perut Nayla.
Betapa hati rindu tak terkira saat Devan akan bepergian ke luar kota, sejatinya hanya untuk pekerjaan tetapi cukup membuat perih di kalbu.
"Responnya pasti, ayah aku gobloknya nggak ketulungan," ucap Nayla.
Kesal pada Devan yang terus berbicara aneh pada janinnya, Nayla pun mengeluarkan pikiran, kenapa bisa dibalik tubuh gagah, wajah tampan dan kepintaran yang luar biasa, masih saja ada kekurangan? mungkin itulah maksud dari kata 'tak ada yang sempurna di dunia kecuali sang penciptanya'
"Sayang kamu kok gitu sih, Mas kan cuma bilang apa adanya," ucap Devan.
"Apa adanya dari mana? ini anak masih di perut sudah diajak ngomong yang bukan-bukan, udah lahir mau jadi apa?" ucap Nayla lagi.
Nayla yang tengah memasukkan baju Devan ke dalam koper malah dibuat semakin kesal, antara khawatir dan tak ingin ditinggal pergi namun memilih menutupinya dengan kemarahan.
"Ah... itu Mas lebih tahu, selain Mas Dokter kandungan Mas juga yang cetak dan ini hasilnya jadi Mas tahu apa yang terbaik buat anak-anak Mas," Devan menunjukkan perut Nayla dengan bangga.
"Ayah," Felix masuk ke dalam kamar.
Devan tersenyum dan langsung menggendong anaknya yang baru saja genap dua tahun tapi kini akan mendapatkan adik.
"Nah ini buktinya, satu kali cetak jadi artinya cetakan Mas luar biasa," Devan menciumi pipi Felix dengan penuh kebanggaan.
Akhirnya tangan Nayla sampai juga pada telinga Devan.
"Sayang sakit!" keluh Devan mengusap telinganya.
"Biarin abis ngeselin," ucap Nayla.
Akhirnya selesai juga menyediakan pakaian ganti untuk Devan pada koper, Nayla sendiri yang menginginkan melakukan tersebut dirinya tak ingin suaminya itu malah merasa haus perhatian hingga mudah terjebak dalam perhatian wanita-wanita cantik di luar sana, Nayla tidak mau Devan mencari wanita lain karena alasan dirinya yang tak bisa mengurus suami, itu adalah pikiran sensitif seorang istri terhadap sang suami saat berjauhan darinya.
Nayla kenapa kamu bisa begitu posesif?
"Tapi juga ngangenin kan?" Devan mencolek dagu Nayla sambil menggoda dengan senyuman manis.
Siapa yang dapat menandinginya? senyum dewan begitu indah bagaikan racun yang bisa membuat orang menjadi gila.
"Apaan sih nggak jelas banget," Nayla ingin menepis tangan Devan.
__ADS_1
Ingin marah tapi tak bisa, sulit sekali rasanya saat Devan sudah memasang senyum manisnya, bibir menahan senyum yang sebenarnya sedang dirasakannya sulit mengakui ketampanan Devan langsung.
Ya.
Tapi dalam hati memuji tanpa jeda.
"Bunda cie... cie," Devan seakan bertingkah seperti anak kecil mengarahkan tangan Felix pada wajah istrinya yang cantik itu.
Felix tersenyum bahagia, bocah itu tidak mengerti sama sekali maksud pembicaraan kedua orang tuanya. Yang dia tahu bahagia saat mereka tengah bersama.
"Baiklah Ayah berangkat dulu, doakan pekerjaan ayah lekas selesai, agar cepat pulang," Devan mencium kening Nayla kemudian memeluk istrinya dengan erat.
"Jangan nakal ya Mas, nanti aku potong si Otong," Nayla menunjukkan gunting seakan bersiap memotong bila Devan nakal.
"Sayang kamu kenapa sih begini? buat apa kamu motong kamu juga yang rugi," Devan merangkul pundak Nayla dan berusaha menghilangkan pikiran negatif istrinya yang cantik tersebut.
"Buat gantungan kunci, biar Mas nggak aneh-aneh," ucap Nayla.
"Aw!" Devan meringis.
"Kenapa?" tanya Nayla.
"Ngilu," Devan memegang kepala berusaha melindungi adiknya yang diberi nama Otong.
"Sayang jangan! janji nggak nakal," Devan menunjuk jari telunjuk dan jari tengah hingga membentuk huruf v demi berdamai dengan Nayla.
#########
"Nayla, kamu kok nggak keluar dari kamar? Mama perhatikan dari pagi tadi kamu mengurung diri terus," Ana menyuguhkan rentetan pertanyaan pada menantunya.
Mengingat tidak baik jika Nayla hanya duduk tanpa bergerak sedikitpun di usia kandungan yang mulai memasuki trimester ketiga.
Nayla melihat Ana semakin berjalan ke arahnya, memegang dahinya merasakan suhu tubuhnya yang panas sedangkan Andini hanya berdiri di ambang pintu melihat adik iparnya sambil menggendong Felix.
"Kamu sakit? muka kamu pucat begini?" ucap Ana.
Ana pun ikut duduk, dirinya masih menunggu jawaban dari Nayla.
Nayla mengusap dahinya, keringat dingin mulai bercucuran seiring rasa sakit.
"Sedikit Ma," jawab Nayla.
Ana melihat baju Nayla yang basah pada bagian dada seketika kembali bertanya.
"ASI kamu udah keluar? kamu masih hamil tujuh bulan, Mama dulu setelah melahirkan barulah ASI keluar," ucap Ana.
"Bukan ASI nya yang udah keluar Ma, tapi yang minum ASI nya udah jauh," Andini seketika menimpali, dirinya sudah paham betul perihal itu sebab suaminya juga demikian.
Wajah Nayla yang pucat malah semakin pucat setelah mendengar Andini berbicara sekalipun sudah menikah tapi masih ada rasa segan untuk mengumbar hal pribadi pada kakak ipar dan mertuanya yang baik tersebut.
__ADS_1
Ana masih melihat dada Nayla yang membesar mungkin saja membengkak karena airnya yang sudah penuh.
Nayla menopang kepalanya tidak tahu bagaimana cara untuk menjawab pertanyaan Ana, haruskah Nayla mengatakan bahwa yang dikatakan Andini benar, sejak Felix tidak minum ASI berganti dengan Devan?
Rasanya tidak mungkin!
Kapan suaminya itu akan pulang? pikiran Nayla benar-benar kacau balau karena Devan.
"Kenapa diam?" tanya Ana.
"Nggak apa-apa Ma," jawab Nayla.
Nayla memilih menutup mata dan menyandarkan tubuhnya pada sofa.
Menikmati sensasi sakit yang luar biasa andai Devan tak terus minum ASI seperti bayi tentunya ini tidak akan terjadi.
"Ya udah Mama keluar dulu, mau beli pompa ASI," ucap Ana.
Ana pun keluar dan membiarkan Nayla untuk beristirahat.
Sesaat kemudian Ana kembali dengan alat pemompa ASI.
"Pakai ini agar lebih baik," ucap Ana.
Nayla menatap dengan sendu, mengapa bukan Devan saja yang menyedotnya, pikiran Nayla benar-benar kacau.
"Kalau mau yang enak tunggu Devan pulang," goda Ana.
Ya ampun bagaimana Devan tidak aneh, lihat saja Ana, belum lagi Andini.
Huffftt...
Rindu!
Rindunya pada suami tampan dan gagah dengan otot yang membesar membuat Nayla juga takut jika Devan sedang diincar oleh wanita.
"Sulit sekali mempunyai suami tampan," ujar Nayla tanpa sadar.
"Kenapa sulit?" celetuk Ana sambil tersenyum bahagia.
Ya ampun ternyata mertuanya masih di sana bolehkah Nayla meminta untuk keluar, tak tahan mendengar godaan terus-menerus. Lambaikan tangan bolehkah untuk menyerah?
"Tidak apa! artinya cinta, Mama keluar dulu," ucap Ana.
Ponsel Nayla berdering, Devan menghubungi dirinya.
"Em," jawab Nayla dengan malas dirinya ingin dipeluk, bisakah peluk secara online?
Ini gila!
__ADS_1
Rindu ini menyiksa diri!