
Suara adzan subuh terdengar berkumandang, Nayla segera bangun menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah selesai dengan rutinitas paginya,, tubuh Nayla benar-benar merasa sangat segar.
Tiba-tiba tangan Nayla menyentuh bibirnya teringat tadi malam bagaimana Devan menyentuhnya dengan sangat lembut dan juga penuh gairah.
Nayla lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sudah,, sudah jangan dipikirkan lagi,, bisa-bisa aku jadi gila kalau kepikiran yang tadi malam,, batin Nayla.
Dengan perlahan Nayla keluar dari kamar,, Nayla segera berjalan menuju kamar Rani yang berada dilantai dua.
"Nayla," belum sempat Nayla menginjak anak tangga,, terdengar ada suara yang sedang memanggil dirinya.
Nayla langsung menghentikan langkahnya lalu segera melihat ke arah panggilan suara tersebut,, dan ternyata Jessica yang sedang memanggil dirinya.
"Iya Nyonya,, ada yang bisa aku bantu?" tanya Nayla sambil melihat Jessica yang sedang berjalan mendekat kepada dirinya.
"Gimana keadaan lengan mu Nayla, apa sudah baik-baik saja sekarang?" tanya Jessica sambil melihat lengan Nayla yang masih diperban.
"Oh sekarang sudah lebih baik Nyonya daripada kemarin-kemarin,," jawab Nayla.
"Oh baguslah,, kapan perbannya bisa dilepas?" tanya Jessica lagi.
"Mungkin nanti Nyonya,, aku harus mengantar Rani dan Raka dulu ke sekolah,, setelah mengantar mereka barulah aku akan ke rumah sakit," jawab Nayla.
Jessica angguk-angguk kan kepalanya sambil tampak berpikir.
"Nayla,, kamu tidak usah ke rumah sakit,, biar suamiku saja yang membuka perbannya yah,, dia kan juga dokter," ucap Jessica.
Degh!!!!
SUAMIKU!!!
Kata-kata Jessica barusan seakan menyadarkan Nayla dari rasa bahagianya.
Devan adalah suami Jessica yang ditau oleh semua orang,, sampai waktunya tiba Nayla harus pergi meninggalkan dan melupakan Devan,, tidak apa,, saat ini Nayla hanya ingin menikmati indahnya bersama suami sementaranya itu,, tidak perduli segala hal untuk sesaat,, setelah semalam Nayla akan memanfaatkan sisa waktu bersama Devan sebaik-baiknya lalu bila waktunya telah tiba,, Nayla akan pergi meninggalkan dan melepaskan Devan dengan ikhlas. Itulah pernikahan yang dijalani Nayla saat ini. Perpisahan sudah ditetapkan.
"Hei Nayla, kamu mikirin apa?" ucap Jessica sambil menggerakkan bahu Nayla yang tampak sedang larut dalam lamunannya sendiri.
"Emm tidak ada Nyonya,, aku harus ke kamar Rani dan Raka dulu,, Nyonya,,," ucap Nayla.
Jessica pun mengangguk lalu Nayla segera berjalan dengan cepat menuju kamar Rani dan Raka.
"Rani,, Raka ayo bangun!! ini sudah pagi nanti kalian telat ke sekolah nya,," ucap Nayla sambil membangunkan kedua bocah itu.
__ADS_1
Nayla sudah beberapa hari ini tidak mengurus kedua anak imut itu hingga membuat Nayla merasakan rindu pada kedua anak imut itu.
"Mbak Nayla,, lima menit lagi yah, ku mohon aku masih sangat mengantuk," ucap Rani yang mencoba tawar-menawar dengan Nayla.
Nayla langsung terkekeh melihat tingkah bocah dengan pipi tembem itu,, Nayla sangat gemas pada Rani.
"Nggak boleh yah,, ayo bangun sayang," ucap Nayla yang terus membangunkan Rani.
"Mbak Nayla,, gendong aku yah?" ucap Rani lagi.
Tidak mungkin,, itu akan sangat berpengaruh pada kandungan ku,, maaf sayang,, Mbak tidak bisa menuruti keinginan mu untuk kali ini,, batin Nayla sambil memikirkan alasan lain agar bisa menolak secara halus keinginan Rani.
"Rani sayang,, Mbak tidak bisa,, kan lengan Mbak sedang diperban sekarang," ucap Nayla yang akhirnya menemukan alasan yang tepat untuk menghindari keinginan Rani.
"Huuufff baiklah Mbak Nayla cantik," ucap Rani yang mengerti dengan keadaan Nayla saat ini,, tidak mungkin dirinya tetap memaksa meminta hal yang aneh-aneh meskipun sebenarnya dulu tidak ingin lagi meminta gendong tapi otak anak kecil memang belum terlalu bisa diandalkan untuk mengingat sesuatu seperti itu.
Nayla bernafas lega karena Rani mau menerima alasannya,,, untuk saat ini Nayla bisa lolos tapi tidak tau nantinya akan seperti apa,, semakin hari perutnya tentu akan semakin membesar dan tanpa menjelaskan pun tentu mereka akan tau bahwa dirinya saat ini sedang hamil. Tapi Nayla tidak mau memikirkan hal-hal itu dulu,, Nayla sedang bahagia saat ini tidak mau merusaknya dengan beban pikiran,, Nayla ingin hidup bahagia dulu.
Bukankah sekarang Devan telah membuat dirinya bahagia,, Devan juga memperlakukan dirinya layaknya sebagai istri.
Nayla kemudian memandikan Rani dan Raka secara bergantian,, memakaikan seragam sekolah untuk Rani dan Raka,, kemudian tas mereka masing-masing,, Rani dan Raka mengikuti semua yang dikatakan oleh Nayla dengan senang hati menganggap Nayla adalah ibu kedua bagi mereka karena sudah sangat dekat dengan mereka,, Nayla sangat baik kepada kedua bocah imut itu.
"Mbak Nayla cantik,, aku mau sarapan pagi disuapin Mbak yah," ucap Rani yang kemungkinan merindukan saat-saat Nayla menyuapi dirinya mengingat akhir-akhir ini selama lengan Nayla sakit,, Jessica lah yang menyuapi mereka.
Semua sudah duduk di kursi meja makan.
"Mbak Nayla ayo duduk,, dan suapi aku,," ucap Rani yang sudah sangat lapar sambil melihat Nayla.
"Ma,, Raka disuapi mama aja yah,, abis tadi Rani udah minta duluan disuapi oleh Mbak Nayla,, aku kan juga mau,," ucap Raka mengerucutkan bibirnya.
Andini tersenyum melihat ekspresi Raka.
"Ayo sini mama suapin,, buka mulutnya ayo," ucap Andini dan Raka pun menurut.
"Mbak Nayla," teriak Rani lagi dengan air liur yang sudah hampir keluar melihat makanan di depannya.
"Rani jangan teriak-teriak,, anak cewek tidak boleh begitu,," tegur Andini yang membuat Rani langsung nyengir kuda.
Tangan Rani lalu menunjuk kursi meja makan. Tidak ada yang salah selama ini memang keluarga Devan selalu memperlakukan semua pekerja dengan baik menganggap mereka layaknya keluarga,, bahkan Nayla selalu duduk bersama mereka untuk menyuapi Rani dan Raka. Meskipun dulu sering duduk makan bersama,, tapi dulu Devan tidak pernah sama sekali memperhatikan Nayla. Devan terlalu dingin dan cuek. Hingga akhirnya Devan harus memperhatikan Nayla disaat Nayla mengandung anaknya,, disitulah Devan sadari bahwa ada wanita cantik yang tinggal di rumahnya selama bertahun-tahun.
Pagi-pagi sebelumnya,, Nayla pasti duduk di samping Andini tapi pagi ini benar-benar berbeda,, kursi yang kosong hanya tinggal di samping Devan saja. Membuat Nayla bingung seketika harus bagaimana.
"Rani sayang,, kita makan di luar saja gimana? mau nggak cantik?" tawar Nayla berharap Rani mau mengikuti keinginannya,, Nayla tidak mau duduk di samping Devan.
"Enggak Mbak cantik," tolak Rani cepat.
__ADS_1
Wajah Nayla menjadi pucat. Nayla benar-benar tidak mau duduk di samping Devan.
"Nayla ayo duduk saja disitu nggak apa-apa kok,,," ucap Jessica yang mengerti dengan Nayla pasti merasa tidak enak jika harus duduk di samping Devan.
Nayla terdiam sambil berpikir.
"Mbak Nayla ayo dong duduk,, Rani udah mau mati kelaparan nih,, Mbak tega lihat Rani mati kelaparan?" ucap Rani sambil melihat Nayla.
"Tidak!!,," Nayla langsung pergi duduk seketika membuat Rani nyengir dan yang lainnya tersenyum,, hanya Devan lah yang tetap datar. Meskipun sebenarnya dalam hati sudah ingin mencubit gemas pipi istri keduanya itu begitu melihat tingkahnya.
Nayla menarik nafas terlebih dahulu,, merasa sangat canggung berada diposisi seperti ini.
"Rani sayang mau makan apa? makan nasi goreng atau ro...,"
Degh!!!
Tangan Devan tengah mengelus pahanya di bawah sana.
"Emm Rani mau makan,, ayam goreng dan nasi goreng Mbak cantik," ucap Rani cepat.
"Oh,, i..i..iya sayang,," ucap Nayla berusaha terlihat santai meskipun di bawah sana tidak santai karena Devan terus mengelus pahanya.
Kuat Nayla kuat kamu pasti bisa,, ya ampun kenapa dengan tangannya itu? batin Nayla karena tangan Devan di bawah sana mengelusnya dengan sensual membuat Nayla benar-benar menegang,, namun tetap berusaha terlihat biasa saja, sungguh penyiksaan dipagi hari.
Nayla tetap berusaha menyuapi Rani seperti tidak terjadi apa-apa,, meskipun saat ini Nayla merasakan sensasi yang sangat mengerikan karena tangan Devan yang masih setia di bawah sana,, Nayla benar-benar merasa ngeri-ngeri sedap.
Sementara Devan terlihat biasa saja makan dengan santainya,, dengan satu tangan bereaksi di bawah sana,, tidakkah Devan memikirkan Nayla yang saat ini sedang tersiksa akibat gerakan tangannya itu,, Nayla bahkan sudah bercucuran keringat menahan sensasi yang dirasakannya saat ini.
"Mbak Nayla,, ayo suapi lagi," ucap Rani,, Nayla pun kembali menyuapi Rani,, mencoba menahan sensasi dibawah sana akibat kelakuan tangan Devan yang masih setia melakukan semuanya di bawah meja itu.
Nayla ingin berteriak sekencang mungkin tapi itu tidak mungkin juga.
"Devan,, apa kamu buru-buru ke rumah sakit hari ini?" tanya Jessica.
Nayla mendengar dengan jelas pertanyaan Jessica,, sedikit melirik ke Devan,, wajah Devan terlihat sangat datar dan dingin saat ini,, padahal tangannya yang satu sedang sibuk dibawah sana.
"Tidak juga,," jawab Devan dengan santai serta tangan yang semakin liar di bawah sana.
"Bisa dong kamu membuka perban Nayla hari ini?" tanya Jessica lagi.
Devan tidak menjawab sama sekali,, terlihat Devan sangat cuek dan tidak perduli sama sekali.
"Devan,," panggil Jessica lagi karena Devan tidak menggubris pertanyaan dirinya tadi.
Devan melihat Jessica sambil mengangkat sebelah alisnya.
__ADS_1