
Setelah beberapa saat Dokter Alex meninggalkan pasiennya kini Dokter Alex kembali ke ruangan Nayla,, tapi kedua mata Dokter Alex tidak melihat lagi wanita yang sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit tadi.
"Wanita tadi sudah pergi,, dia mengatakan bahwa dia tidak mau kehilangan anaknya,," ucap Devan yang kini berada di ambang pintu menatap Alex yang sedang kebingungan mencari Nayla.
Mendengar suara Devan,, Dokter Alex segera menoleh sambil melihat Devan dengan tatapan mata bingung,, Dokter Alex sangat yakin wanita tadi untuk berjalan saja sudah tidak mampu lalu apa mungkin wanita itu melarikan diri saat ini sungguh tidak masuk akal.
Dokter Alex masih belum menerima jawaban dari Devan yang tidak mungkin menurut Dokter Alex.
"Dokter keadaan wanita tadi itu benar-benar sangat lemah,, apa mungkin dia bisa berjalan bahkan menghilang sampai secepat itu?" ucap Dokter Alex sambil memijat pelipisnya,, rasanya itu sangat tidak mungkin.
Devan hanya mengangkat bahu saja seakan tidak perduli lalu dengan segera pergi meninggalkan Dokter Alex yang masih kebingungan sampai saat ini.
Hingga akhirnya Devan sampai ke parkiran khusus direktur,, dengan segera Devan masuk ke dalam mobil lalu menyalakan mobilnya untuk segera meninggalkan rumah sakit itu.
Sejenak Devan menatap Nayla yang saat ini sedang tidak sadarkan diri berada di jok belakang mobil Devan,, Devan jelas-jelas melihat wajah pucat Nayla, sangat lemah dan harus segera ditangani.
Yang sebenarnya terjadi adalah Devan sengaja membius Nayla,, lalu diam-diam Devan membawa pergi Nayla ke mobilnya menggunakan kursi roda rumah sakit.
Setelah ini Devan pasti akan meminta rekaman CCTV agar tidak ada yang tau mengenai apa yang dia lakukan tadi,, terutama Dokter Alex.
Karena jika Dokter Alex tau tentu akan menimbulkan pertanyaan di dalam pikiran Dokter Alex dan sudah pasti Jessica juga akan tau.
Secepat mungkin Devan mengemudikan mobil membawa Nayla ke rumah yang telah dibelikan untuk Nayla waktu itu,, begitu sampai Devan segera membawa masuk Nayla ke dalam rumah.
Setelah memasukkan Nayla ke dalam rumah,, Devan segera membawa Nayla ke dalam kamar,, membaringkan Nayla di tempat tidur lalu dengan segera memasangkan alat medis yang sudah disiapkan tadi.
Apapun yang terjadi janin yang berada di dalam kandungan Nayla tidak boleh di angkat,, Nayla tidak boleh pergi darinya.
Sadar atau tidak tapi ada perasaan takut yang luar biasa yang Devan rasakan begitu Nayla mengatakan bahwa mereka akan berakhir.
__ADS_1
Setelah selesai,, Devan menatap wajah pucat Nayla,, Devan lalu duduk di atas kursi berdekatan dengan Nayla.
Devan mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang untuk segera menghapus rekaman CCTV yang ada di rumah sakit tadi,, setelah selesai Devan mulai mencari tau mengenai seorang wanita yang Nayla katakan mereka bersahabat.
"Reyna,"
Devan lalu meminta seseorang lagi untuk mencari tau nomor ponsel wanita itu,, Nayla sendiri yang mengatakan pada Devan bahwa Reyna adalah satu-satunya orang yang mengetahui mengenai pernikahan mereka bahkan mengenai Nayla yang sedang mengandung saat ini. Yang berarti Devan bisa menjadikan wanita itu sebagai orang yang merawat Nayla nanti.
Sambil menunggu ponselnya berdering Devan kembali menatap wajah pucat Nayla.
Hingga tidak lama ponsel Devan kembali berdering,, dengan segera Devan melihat lalu Devan tersenyum begitu mengetahui nomor ponsel Reyna.
Dengan segera Devan menghubungi nomor ponsel itu,, dan sepertinya Devan sedang bernasib baik saat ini karena pada dering pertama,, Reyna langsung mengangkat panggilan telepon dari dirinya,, bahkan Reyna tau jika saat ini yang meneleponnya adalah Direktur rumah sakit tempatnya dia bekerja saat ini,, itu sungguh suatu kehormatan untuk Reyna ditelepon oleh sang Direktur.
"Halo selamat malam Dokter,, ada yang bisa aku bantu dok?" tanya Reyna dari balik telepon dengan nada bicara yang sangat sopan.
"Nayla!," ucap Devan,, hanya satu nama itu yang disebutkan oleh Devan.
"Ada apa dengan Nayla dok?" tanya Reyna yang tidak bisa tenang sebelum mendapatkan jawaban pasti dari Devan.
"Datang ke alamat yang aku kirimkan sebentar," ucap Devan lalu segera menutup panggilan telepon secara sepihak,, setelah itu segera mengirimkan alamat tempat Nayla berada saat ini kepada Reyna.
Reyna menatap jam tangan yang tengah melingkar di pergelangan tangannya saat ini,,, waktu sudah menunjukkan dini hari. Tapi itu bukan halangan buat Reyna, Reyna segera mengambil tas tangan miliknya lalu segera berjalan keluar dari apartemen nya.
Dengan langkah kaki yang terburu-buru,, Reyna memasuki lift dan akhirnya sampai di lobi.
Setelah itu Reyna masih harus berlari menuju baseman kemudian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang,, karena Reyna sangat tidak pandai jika harus membawa mobil dengan kecepatan tinggi.
Sampai di alamat yang dikirimkan Devan padanya,, Reyna segera turun dari dalam mobilnya setelah memarkirkan mobilnya,, Reyna melihat rumah itu yang tampak minimalis namun terlihat modern.
__ADS_1
Ponsel Reyna tiba-tiba berdering,, lalu dengan segera Reyna melihatnya.
Langsung masuk, isi ****pesan**** dari Devan.
Setelah membaca pesan dari Devan, Reyna segera berjalan menaiki tangga sedikit lalu akhirnya Reyna sampai di depan pintu utama.
Perlahan tangan Reyna
mendorong pintu yang tidak terkunci itu,, mata Reyna mulai menatap bagian sudut rumah,, rumah itu terlihat sepi seperti tidak berpenghuni.
Sejenak Reyna ragu untuk masuk ke dalam rumah itu,, Reyna takut akan mendapatkan tindakan kejahatan.
Akan tetapi tiba-tiba Devan keluar dari dalam suatu ruangan,, membuat perasaan Reyna benar-benar lega seketika begitu melihat Devan.
"Nayla ada di dalam kamar itu," ucap Devan sambil menunjuk pintu yang tertutup rapat,, rumah itu hanya memiliki satu lantai namun cukup luas.
Reyna mengangguk dan mulai memasuki kamar itu.
Kedua bola mata Reyna membulat sempurna begitu melihat keadaan Nayla sahabatnya yang sangat memprihatinkan bahkan tidak sadarkan diri saat ini.
"Nayla," ucap Reyna sambil berjalan mendekati Nayla lalu segera memeluk erat sahabatnya itu.
Devan berdiri di dekat pintu dan melihat Reyna yang sangat menyayangi Nayla.
"Kamu tau aku siapa! kamu juga tau apa hubungan ku dengan dia,, jadi aku harap kamu bisa menjadi perawat untuk dia,, sampai dia benar-benar sembuh,," ucap Devan.
Perlahan Reyna menoleh pada Devan,, lalu mengangguk lemah,, Reyna tau maksud dari perintah Devan. Walaupun sebenarnya Reyna benar-benar ingin tau apa penyebab Nayla bisa terbaring lemah seperti ini.
"Janinnya harus tetap hidup!!" tegas Devan.
__ADS_1
Lagi-lagi Reyna masih menganggukkan kepalanya lemah,, melihat kondisi Nayla saat ini yang sangat memprihatinkan membuat Reyna menyetujui semuanya untuk merawat Nayla.
"Kenapa Nayla tidak di rawat di rumah sakit saja dok?" tanya Reyna.