
Dan akhirnya sebelum berangkat ke Kota tujuan,, Jessica meminum ramuan herbal buatan Bik Ina terlebih dahulu.
Jauh di dalam lubuk hatinya Jessica benar-benar merasa sedih karena sudah hampir tiga bulan menikah dengan Devan namun belum ada tanda-tanda dirinya akan segera mengandung.
"Jessica ayo diminum," ucap Ana berusaha menyadarkan Jessica dari lamunannya,, Ana mengerti dengan perasaan wanita itu saat ini.
"Maaf banget yah ma, kalau sampai saat ini Jessica belum hamil juga," ucap Jessica dengan ekspresi wajah sedih.
Mendengar ucapan Jessica seketika itu Ana memeluk menantunya itu,, lalu mengusap beberapa kali punggung Jessica mencoba memberikan semangat pada Jessica.
"Sudah jangan sedih,, tidak ada yang perlu kamu pikirkan saat ini,, karena mama juga dulu seperti ini,, hampir satu tahun menikah barulah mama mengandung Andini,, jadi tidak usah sedih yah," ucap Ana sambil tersenyum lembut pada Jessica.
Jessica seketika tersenyum begitu mendengar ucapan Ana,, karena ucapan Ana berhasil membuat perasaannya sedikit merasa lebih baik.
"Ma, baunya sangat menyengat," ucap Jessica ketika meminum ramuan herbal itu,, tetapi Jessica tetap berusaha meminum ramuan itu karena ramuan itu hasil jerih payah mama mertuanya dan juga Bik Ina yang telah membuatkan untuknya. Jessica benar-benar ingin muntah namun ditahannya.
"Devan ayo kamu juga minum ramuan herbal ini," ucap Ana setelah memastikan Jessica telah meminum nya sampai habis,, Ana kemudian menyuruh Devan juga untuk minum.
"Ma, nggak usah," ucap Devan yang ingin sekali menolak,, karena Devan tau masalahnya bukan pada dirinya tapi pada Jessica,, Devan seorang dokter dan terlebih lagi buktinya Nayla hanya sekali tembak sudah berhasil membuatnya mengandung.
Devan tentu tau penyebab Jessica susah hamil itu karena apa, tapi Devan terlalu mencintai Jessica sehingga membuat Devan bisa menerimanya dan diam seakan tidak tau apa-apa sampai saat ini.
Jessica saat ini juga tengah menjalankan beberapa program kehamilan dan Devan lah yang menjadi dokternya langsung.
"Devan,, ayo minum ini juga," ucap Ana lagi dengan mata melotot menatap Devan,, berbeda ketika menatap Jessica dengan penuh kelembutan.
Ekspresi wajah Ana ketika menatap Devan seperti harimau yang ingin memakan Devan hidup-hidup.
Dengan terpaksa Devan meminum ramuan herbal itu yang rasanya sungguh aneh di lidah Devan.
"Nah begini kan bagus," ucap Ana sambil tersenyum bahagia begitu sudah memastikan Devan dan Jessica telah meminum ramuan herbal itu.
__ADS_1
Hingga tak lama Andini pun ikut bergabung bersama mereka,, Andini melihat sepertinya tinggal dirinya lah yang ditunggu.
"Maaf yah semuanya aku lama,, tadi aku muntah-muntah,," ucap Andini merasa tidak enak hati telah membuat yang lain menunggu dirinya.
"Tapi aku punya sesuatu untuk kamu Jessica," ucap Andini dengan senyum mengembang sambil berjalan mendekati tubuh Jessica dengan membawa sebuah paperbag.
"Hah ini buat aku kak?" tanya Jessica sambil tersenyum begitu menerima paperbag dari Andini,, Jessica segera melihat isi paperbag dari Andini dan Jessica langsung tersenyum malu-malu begitu melihat lingerie berwarna merah yang berada di dalam paperbag itu.
"Kamu harus pakai yah," goda Andini yang semakin membuat Jessica tersenyum malu lalu kembali menaruh lingerie itu ke dalam paperbag.
Semuanya langsung tersenyum begitu melihat senyum malu-malu dari Jessica.
"Kak Andini jangan gitu," ucap Jessica yang benar-benar malu sambil menutupi wajahnya dengan paperbag yang saat ini tengah dipegangnya.
Tawa keluarga Devan benar-benar pecah melihat Jessica yang malu-malu seperti itu.
Nayla hanya berdiri di bagian sudut menatap keluarga Devan yang sangat bahagia.
Nayla hanya tersenyum melihat semua itu,, Nayla tau keluarga Devan benar-benar sangat baik.
"Nayla,, ayo kita berangkat," ucap Andini yang menyadarkan Nayla.
Dengan segera Nayla masuk ke dalam mobil yang sama dengan Andini,,, suami Andini dan juga dua bocah imut Andini.
Sepanjang perjalanan Rani terus saja bernyanyi dan terlihat sangat bersemangat,, sesekali Rani menyuruh Nayla untuk membuka kaca mobil,, Rani ingin menghirup udara dari luar. Dan tak jarang kedua bocah itu ribut hanya karena memperebutkan pelukan dari Nayla. Hingga membuat Nayla harus menjadi penengah diantara kedua bocah imut itu.
Hingga sampai pada akhirnya kedua bocah itu tidur terlelap dengan Nayla yang berada ditengah-tengah,, dan mereka yang bersandar pada Nayla.
"Nayla terima kasih yah," ucap Andini tiba-tiba pada Nayla.
Andini saat ini duduk di jok depan bersama Angga suaminya,, dan Nayla duduk di belakang bersama dua bocah imut itu.
__ADS_1
"Terima kasih atas kasih sayang yang telah kamu berikan selama ini pada mereka," ucap Andini lagi sambil melihat ke belakang lalu kembali melihat ke depan.
"Aku kan memang dibayar untuk menjaga mereka Nyonya,, menyayangi mereka,, merawat mereka," ucap Nayla sambil tersenyum melihat kedua bocah imut yang sangat disayangnya itu.
"Tidak Nayla,, aku menganggap kamu sudah seperti adik aku sendiri dan kamu juga sudah menyayangi anak-anak aku dengan tulus sehingga mereka benar-benar sangat menyayangi mu juga," ucap Andini.
Seketika menjadi hening,, kemudian Andini kembali memulai pembicaraan lagi.
"Nayla,, sebenarnya dulu aku dan mama sudah berniat menjodohkan kamu dengan Devan," ucap Andini.
Degh!!!
Nayla menjadi menegang begitu mendengar ucapan Andini.
Di jodohkan dengan Devan? tapi Nayla tidak pernah tau mengenai hal itu.
"Dulu aku dan mama itu mengira bahwa Devan tidak memiliki kekasih karena Devan yang sangat tertutup mengenai kisah percintaan nya,, tetapi tiba-tiba dia membawa Jessica sebagai calon istrinya,, Jessica juga sangat baik dan semoga kamu mendapatkan jodoh yang terbaik juga yah Nayla,," ucap Andini sambil tersenyum melihat Nayla.
Nayla tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dengan pasti berharap apa yang dikatakan Andini benar.
Jika dia bukan milikku tolong Ya Allah jangan ada rasa berat untuk aku melepaskan dia,, dan tolong Ya Allah pertemukan aku dengan jodoh sebenarnya agar aku juga dapat bahagia,, batin Nayla.
"Nayla,, kalau kamu,, aku jodohkan dengan salah satu CEO di anak perusahaan ku,, kamu mau yah?" tanya Andini lagi meskipun sebelumnya Nayla sudah menolak.
Nayla terdiam sambil berpikir bahwa sebenarnya apa yang ditawarkan Andini pada dirinya itu tidak menarik,, tapi Nayla harus menjaga perasaan majikannya tersebut yang sudah sangat baik pada dirinya.
"Atau gini aja Nayla,, kalau kamu juga tidak mau sama dia itu tidak apa-apa,, tapi lebih baik kamu kenal dulu dengan dia,, ke depannya terserah kalian aja,, gimana Nayla?" ucap Andini lagi sambil melihat ke belakang berharap Nayla akan mau.
Nayla yang benar-benar tidak tega menolak keinginan Andini akhirnya menganggukkan kepalanya.
"Nah gitu dong Nayla,, oh yah kebetulan nanti malam dia juga datang,, ingat yah Nay,," ucap Andini sambil tersenyum bahagia.
__ADS_1