
"Dokter aku mau mengundurkan diri,, aku mohon maaf Dokter tapi mulai besok aku akan bekerja di Puskesmas sini saja, jaraknya lebih dekat juga dengan kontrakanku dan aku juga bisa memiliki banyak waktu untuk anakku," ucap Nayla kepada Alex.
Nayla sudah berpikir keputusan yang tepat adalah berhenti bekerja menjadi asisten Dokter Alex,, karena dengan begitu dirinya tidak akan bertemu lagi dengan Devan jika di rumah sakit seperti biasanya. Nayla sudah tidak ingin terus berada dalam lingkungan di mana Devan juga berada, kejadian kemarin sungguh membuatnya malu untuk kembali bekerja di rumah sakit.
Saat ini kebetulan Dokter Alex datang menemui dirinya,, hari libur begini memang Dokter Alex selalu datang dan meluangkan waktunya untuk datang berkunjung ke kontrakan Nayla sekedar bermain dengan Felix,, Alex memang sangat menyukai anak kecil.
Nayla bukan bermaksud tidak sopan,, akan tetapi menurutnya ini adalah keputusan terbaik untuk mengutarakan keinginannya tersebut kepada Dokter Alex.
Sedangkan Dokter Alex hanya mampu menarik nafas panjang, terasa sangat berat untuk mengizinkan Nayla berhenti bekerja untuknya. Namun gosip mengenai ungkapan cinta yang diutarakan oleh Dokter Devan secara terang-terangan sudah sampai ke telinga Dokter Alex juga.
"Ya sudah nggak apa-apa Nay,, gimana baiknya kamu," ucap Dokter Alex yang menyetujui keinginan Nayla, karena mengerti dengan perasaan Nayla yang tentunya ingin hidup tenang.
"Terima kasih Dokter," ucap Nayla sambil tersenyum senang, apalagi dirinya sudah mendapatkan tawaran untuk bekerja di puskesmas yang lumayan dekat dari tempat tinggalnya.
Dokter Alex tersenyum sambil mengangguk.
"Felix sudah makan?" tanya Alex pada Felix sambil mencium pipi tembem bayi tampan itu berkali-kali, Alex benar-benar gemas pada kelucuan bayi tampan itu.
Tidak lama berselang Denis juga datang dengan membawa buah tangan. Nayla langsung tersenyum menatap kedatangan Denis,, Alex bisa melihat ada rona kebahagiaan di wajah Nayla begitu melihat Denis datang.
"Hai," sapa Denis begitu sudah berdiri di hadapan Nayla.
"Mas duduklah,, aku bikinin teh dulu," ucap Nayla lalu cepat-cepat masuk untuk membuatkan secangkir teh untuk Denis.
Denis tahu yang kini tengah bermain dengan Felix adalah Dokter Alex, seorang Dokter hebat yang tampaknya tertarik juga pada Nayla. Tak berselang lama secangkir teh hangat pun dibawa Nayla.
"Minum Mas," ucap Nayla.
"Iya terima kasih, ini mainan buat Felix," ucap Denis.
Nayla terlihat begitu bahagia dan langsung menerima buah tangan yang diberikan oleh Denis. Dan tidak berselang lama Nanda juga ikutan datang,, tapi kali ini Nanda tidak membawa apapun, sebab Nanda sudah rencana ingin membawa Felix jalan-jalan dan membawanya ke toko mainan lalu Felix memilih mainan sendiri yang dia inginkan.
"Nanda" ucap Nayla sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Nayla tidak mengerti mengapa banyak sekali tamunya hari ini. Ini tentu sangat di luar dugaan Nayla,, ada apa dengan para pria-pria tersebut.
"Jalan yuk Nayla cantik," ucap Nanda seakan tidak melihat Alex dan Denis,, dengan santai Nanda langsung mengajak Nayla untuk pergi bersamanya.
Bersamaan dengan itu Devan pun juga datang, laki-laki yang sudah mencetak Felix tersebut bisa melihat dengan jelas ada tiga pria yang kini tengah berada di depan teras rumah kontrakan Nayla. Tidak peduli sama sekali, Devan langsung turun dari mobilnya serta berjalan menuju rumah kontrakan Nayla. Seketika Devan langsung mengambil alih Felix dari tangan Alex tanpa berbicara sepatah katapun.
Seketika para pria itu beralih menatap Devan dengan penuh tanya, Denis tidak tahu mengapa pemilik rumah sakit tempatnya bekerja itu langsung mengambil alih Felix begitu saja, memang Denis belum tahu bahwa Devan adalah ayah kandung Felix, pernah sempat bertemu dengan Devan di bandara tapi dia tidak kepikiran jika pria itu adalah ayah dari janin yang dikandung Nayla.
"Hari ini kita bawa Felix jalan-jalan," ucap Devan sambil menatap Nayla.
__ADS_1
Tiga pria yang sudah datang lebih dulu dibandingkan Devan tentu saja tidak terima, mereka sudah datang lebih awal tetapi malah Devan yang datang terakhir ingin membawa Felix dan Nayla.
"Maaf yah, tadi aku sudah lebih dulu di sini," ucap Alex.
"Aku juga sudah menunggu," ucap Nanda tak mau kalah tentunya.
"Nayla, Mas ke sini juga untuk mengajak kamu jalan-jalan," ucap Denis yang mengutarakan keinginannya juga, karena takut jika nantinya Nayla pergi bersama dengan Devan,, Alex ataupun Nanda.
Nayla langsung melongo tidak percaya keempat pria itu ternyata datang dengan tujuan yang sama,, akan tetapi tidak mungkin juga menerima ajakan mereka. Nayla juga tidak mungkin memilih salah satunya nantinya bisa saja menimbulkan dendam di antara yang lainnya.
"Nayla ayo pergi sama Mas,, kita jalan-jalan bersama dengan Felix, membahagiakan anak kita,,," ucap Devan sambil memegang lengan Nayla,, berharap tidak akan mendapatkan penolakan untuk kali ini saja. Denis sudah sangat yakin bahwa ayah Felix adalah Devan,, dia cukup terkejut tapi bagi Denis,, Devan sudah mantan suami saja.
Nayla melepaskan pegangan tangan Devan kemudian mengambil alih Felix.
"Kalian semua lebih baik pergi saja dari sini,, aku dan anakku mau istirahat," ucap Nayla yang merasa itu adalah keputusan yang tepat bagi semuanya.
"Nayla aku sudah menunggumu dari tadi," ucap Alex yang berusaha untuk membuat Nayla tetap berada di tempatnya.
"Nay,, kita udah janjian loh," ucap Nanda berusaha untuk memanas-manasi keadaan,, Nanda ingin sekali tertawa melihat ekspresi wajah Alex,, Devan dan Denis karena mereka begitu sangat menginginkan Nayla.
"Nayla,, Mas ingin Felix merasakan kebersamaan dengan kedua orang tuanya," ucap Devan,, saran yang diutarakan Devan pun memang cukup masuk akal.
Namun bagaimana dengan Nayla?
Hingga tiba-tiba tanpa sengaja sebuah benda berbentuk love berwarna merah terjatuh dari tangan Denis. Semua langsung menatap benda tersebut. Itu sebuah kotak perhiasan kemungkinan isinya cincin. Mereka langsung menatap Denis dengan penuh tanya,, sesaat kemudian Denis mengambilnya dan membukanya,, itu sebuah cincin sederhana tetapi dia beli dengan hasil keringatnya sendiri.
"Nayla sebenarnya Mas ingin bicara sesuatu," ucap Denis tidak perduli sekalipun banyak pria lain di sana, menurut Denis lebih cepat lebih baik. Lagipula Denis juga sangat takut jika nantinya Nayla lebih dulu menerima cincin dari pria lain.
"Itu cincin murahan,, kalau kamu mau,, Mas bisa belikan sekaligus dengan tokonya," ucap Devan yang sudah panik bukan kepalang hingga tidak mampu berpikiran jernih lagi.
Denis memang terlahir dari keluarga menengah ke bawah ,, membeli cincin sederhana saja dia sudah sangat bersyukur tapi tampaknya Devan tidak mengerti akan hal itu.
Rasa cemburu yang menggebu membuat Devan tidak karuan, membuat dia berbicara sesukanya tanpa memikirkan perasaan orang lain.
"Iya ini memang murahan tapi aku beli ini dengan hasil keringatku sendiri dan aku ingin kamu menerimanya Nayla," ucap Denis dengan hati yang tak gentar sekalipun kesal pada Devan, bagi Denis cinta harus diperjuangkan begitupun dengan saat ini.
"Nayla?" ucap Alex dengan ekspresi wajah lesu, bagaimana jika nantinya Nayla menerima cincin tersebut? artinya Nayla juga menerima cinta Denis, dan mulai saat itu Denis lah yang berhak atas Nayla.
"Kamu pilih cincin murahan itu? seleramu rendah sekali," ucap Devan sambil tersenyum miring,, merasa dirinya lah yang paling bisa memberikan apa saja yang diinginkan oleh Nayla.
"Ya ampun," ucap Nayla yang benar-benar sudah tidak mengerti mengapa Devan, Alex dan juga Denis bisa berpikir sama untuk menikahi dirinya
__ADS_1
Nayla sadar dirinya hanyalah orang miskin dan memiliki kecantikan di bawah rata-rata. Tetapi mengapa para pria-pria di hadapannya saat ini seakan sedang bersaing mempromosikan diri mereka sendiri demi menarik perhatiannya.
"Pergi dari sini!!!" ucap Devan sambil menarik tangan Denis agar segera pergi dari kontrakan Nayla.
"Dokter Devan," ucap Nayla yang tak suka dengan cara Devan memperlakukan Denis,, biar bagaimanapun Denis juga seorang manusia.
Devan langsung membuang wajahnya sebenarnya dia ingin sekali menghajar Denis saat ini. Sebab saat ini Denis tengah tersenyum penuh kemenangan saat dia mendapatkan pembelaan dari Nayla.
Seketika Nayla menatap Nanda.
"Nan,, antarkan aku dan Felix ke supermarket depan," ucap Nayla sambil menarik lengan Nanda.
Nanda pun tersenyum mengejek kepada ketiga pria itu, lalu keduanya pun langsung naik ke motor dan pergi, Nayla berharap setelah dia pulang tidak ada lagi ketiga pria itu di teras rumah kontrakannya.
"Nayla!!!" teriak ketiganya bersamaan tanpa sadar.
"Kenapa kamu mengikuti apa yang aku ucapkan?" ucap Devan geram pada Alex.
"Kamu yang mengikuti aku," ucap Alex juga yang merasa benar dan tentunya tidak ingin disalahkan oleh Devan.
"Hei,, kamu pergi dari sini,, cincin murahanmu itu tidak akan diterima oleh Nayla," ucap Devan sambil melihat Denis.
Reyna dari tadi terus mendengarkan keributan di teras, tadi pagi Reyna baru saja kembali setelah piket malam. Reyna ingin beristirahat tapi tidak bisa karena ketiga pria yang sedang ribut di teras, Reyna langsung mengambil air satu ember penuh dan langsung menyiram pada tiga pria tersebut.
Nayla baru saja kembali karena Felix ingin minum susu, tetapi saat baru turun dari motor, dia malah melihat kejadian yang cukup mencengangkan.
Suasana seakan menegangkan dengan air yang sudah membasahi ketiga pria di depan teras rumahnya, Nayla sangat yakin pasti Reyna sudah tidak tahan mendengar keributan perdebatan ketiga pria tersebut.
"Reyna?" ucap Alex sambil melihat Reyna dengan penuh kemarahan, Adik kampretnya itu di ibaratkan sedang mengibarkan bendera perang saja.
"Pergi dari sini!!!" ucap Reyna sambil melemparkan ember hingga ember itu pecah.
Ketiga pria tersebut langsung pergi, Nayla pun merasa horor melihat wajah Reyna yang begitu mengerikan. Akan tetapi Nayla juga merasa bersyukur sebab ketiga pria itu sudah berhamburan pergi dari rumahnya.
"Apa mereka semua benar-benar pergi?" gumam Nayla yang merasa tidak yakin.
"Lama-lama aku bisa gila,, aku butuh istirahat,, besok-besok kalau mereka ribut begitu, kamu lapor sama Pak RT saja," ucap Reyna yang sudah tersulut emosi.
Nayla hanya mengangguk sekalipun Nayla ingin sekali tertawa terbahak-bahak.
"Apa?" ucap Reyna kesal karena melihat Nanda terus menatap dirinya.
__ADS_1
"Dia ini wanita atau apa Nayla? temanmu itu sangat butuh rumah sakit jiwa, nanti aku yang akan bantu mencarikan rumah sakit jiwa yang bagus untuk dia," ucap Nanda dan sesaat kemudian menyalakan motornya lalu menarik gas dan pergi.
Jika empat detik lagi dia masih berada di sana mungkin juga Nanda akan merasakan batu yang melayang di udara dan mendarat di kepalanya.